"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.
Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Tangis yang Lenyap di Kamar Bersalin (Keguguran Hana)
Bab 26: Tangis yang Lenyap di Kamar Bersalin (Keguguran Hana)
Aroma antiseptik yang tajam dan dinginnya udara dari pendingin ruangan rumah sakit menyambut kedatangan Adrian yang berjalan mondar-mandir di depan koridor kamar bersalin darurat. Pakaian kerjanya masih menyisakan noda darah kering berwarna kecokelatan di bagian lengan—sisa dari saat ia mengangkat tubuh lemas Hana masuk ke dalam mobil sejam yang lalu.
Di kursi tunggu besi tak jauh dari sana, Ibu Broto duduk dengan tubuh yang gelisah, sesekali meremas tas tangannya sembari melirik cemas ke arah pintu kaca yang tertutup rapat. Santi sendiri sengaja ditinggalkan di rumah untuk membersihkan sisa genangan darah di lantai marmer, sebuah tugas yang sengaja diberikan agar gadis itu tidak ikut menambah kecurigaan pihak rumah sakit.
Klek.
Pintu kamar bersalin terbuka. Seorang dokter pria paruh baya dengan gaun medis hijau keluar sembari melepaskan masker bedahnya. Wajah dokter itu tampak begitu tegang dan dipenuhi gurat kekecewaan yang mendalam.
Adrian langsung buru-buru mendekat, mencengkeram lengan dokter itu dengan kepanikan yang nyata. "Dokter! Bagaimana kondisi istri saya?! Bagaimana dengan anak saya?!"
Dokter itu menghela napas panjang, menatap Adrian dengan pandangan mata yang sarat akan kecaman terselubung. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Pak. Namun, mohon maaf... janin di dalam kandungan Ibu Hana tidak dapat kami selamatkan. Ibu Hana mengalami Abruptio Placentae atau plasenta yang terlepas prematur akibat trauma psikologis dan stres akut yang teramat parah. Tekanan batin yang menumpuk membuat rahimnya mengalami kontraksi hebat hingga memicu pendarahan masif yang merenggut nyawa bayinya."
BUM.
Kata-kata dokter itu bagai petir yang menyambar tepat di atas kepala Adrian, membuat seluruh persendiannya mendadak lemas. Janinnya tidak selamat... Anak laki-laki yang selama ini ia banggakan, penerus marga dan bisnisnya, telah lenyap bahkan sebelum sempat melihat dunia.
"I-istri saya... bagaimana dengan Hana, Dok?" tanya Adrian dengan suara yang mendadak parau dan bergetar hebat. Ada rasa bersalah yang teramat besar, yang selama ini ia redam dengan nafsu dan egonya, kini merayap naik seperti ular yang mencekik dadanya.
"Kondisi fisik Ibu Hana sudah stabil setelah kami lakukan tindakan kuretase dan transfusi darah," jawab dokter itu dingin. "Namun, kondisi psikologisnya saat ini sangat memprihatinkan. Beliau sudah sadar, tapi menolak untuk berbicara dengan siapa pun. Kami sarankan agar pasien tidak diberikan tekanan atau gangguan apa pun untuk saat ini."
Satu jam kemudian, setelah Ibu Broto pamit untuk pulang terlebih dahulu karena tidak tahan dengan atmosfer rumah sakit yang mencekam, Adrian memberanikan diri masuk ke dalam kamar perawatan VIP tempat Hana dipindahkan.
Suasana di dalam kamar itu begitu sunyi, hanya ada bunyi detak digital dari alat pemantau tanda vital yang berbunyi teratur. Hana berbaring di atas ranjang dengan posisi telentang, menatap lurus ke arah langit-langit kamar yang putih bersih. Wajahnya begitu tirus, bibirnya kering tak berdarah, dan selang infus menancap di punggung tangannya yang pucat.
Adrian melangkah mendekat dengan sangat perlahan, seolah takut langkah kakinya akan memecahkan kesunyian yang rapuh di ruangan itu. Ia duduk di kursi samping ranjang, mengulurkan tangannya yang gemetar untuk menyentuh jemari Hana.
"Hana..." panggil Adrian dengan suara yang tercekat di tenggorokan, air mata penyesalan yang semu mulai mengambang di sudut matanya. "Hana... maafkan aku... aku tidak bermaksud mengatakan kalimat kejam itu tadi malam... aku... aku hanya sedang stres memikirkan restoran kita... Maafkan aku, Han..."
Hana tidak menggerakkan jemarinya. Ia bahkan tidak memalingkan wajahnya untuk menatap Adrian. Sepasang matanya tetap menatap kosong ke langit-langit, membiarkan genggaman tangan Adrian terasa seperti angin lalu yang tidak memiliki arti apa pun lagi.
Di dalam kesunyian itu, air mata Hana mengalir pelan di sudut matanya, membasahi bantal rumah sakit yang dingin. Namun, itu adalah tangisan terakhir yang keluar dari matanya. Kesedihan yang teramat mendalam, rasa sakit karena kehilangan buah hatinya, dan kekecewaan yang telah mencapai batas absolut kini telah menguap sepenuhnya dari dalam dada Hana.
Tangisnya telah lenyap di dalam kamar bersalin itu, berganti menjadi sebuah ruang hampa yang teramat dingin, gelap, dan tanpa ampun. Jiwa Hana yang penuh kelembutan dan kepatuhan sebagai seorang istri telah mati bersama dengan janinnya yang gugur. Yang tersisa di atas ranjang itu kini hanyalah sosok Hana yang baru—seorang ratu yang telah kehilangan segalanya, yang tidak lagi memiliki rasa kasihan, dan siap meratakan siapa saja yang telah berani merampas kebahagiaannya.
Hana perlahan menarik tangannya dari genggaman Adrian, gerakan yang sangat pelan namun sarat akan penolakan mutlak. Ia memejamkan matanya, mengunci seluruh rencana pembalasan yang teramat rapi di dalam kepalanya, membiarkan Adrian duduk di sampingnya dalam ketakutan dan penyesalan semu yang terlambat, karena hitungan mundur menuju hari kehancuran total bagi Adrian, Ibu Broto, dan Santi baru saja dimulai dari kamar perawatan yang dingin ini.