NovelToon NovelToon
MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:752
Nilai: 5
Nama Author: yurisii

Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Siang itu, sinar matahari menyinari halaman sekolah dengan teriknya, membuat sebagian besar siswa memilih untuk berlindung di dalam ruangan yang sejuk. Di antara tempat-tempat yang paling ramai dikunjungi saat jam istirahat adalah perpustakaan sekolah yang luas dan tenang. Udara di dalamnya terasa sejuk berkat penyejuk ruangan, berpadu dengan aroma kertas tua dan tinta yang khas, menciptakan suasana yang sangat cocok untuk membaca atau sekadar beristirahat sejenak dari kepenatan pelajaran.

Di salah satu pojok paling jauh, tersembunyi di balik deretan rak buku yang tinggi dan lebat, duduklah Alena sendirian. Ia memilih tempat itu karena jarang dilewati orang lain, sehingga bisa berkonsentrasi membaca buku novel kesukaannya tanpa gangguan. Rambutnya yang terurai sedikit tergerai menutupi sisi wajahnya, dan sesekali ia mengangkat tangan untuk menyisirnya ke belakang dengan gerakan lembut dan alami. Matanya menatap halaman buku dengan penuh perhatian, sesekali mengerutkan dahi atau tersenyum kecil mengikuti alur cerita yang sedang dibacanya.

Belum sampai sepuluh menit ia duduk dan membaca, suara langkah kaki yang tergesa namun tetap berusaha pelan terdengar mendekat. Alena mengangkat wajahnya sejenak, dan matanya langsung terbelalak melihat sosok yang baru saja datang berdiri di depannya.

Itu adalah Elio. Pria itu masih mengenakan kaos olahraga berwarna biru yang terlihat agak basah di bagian punggung dan lehernya, jelas tanda bahwa ia baru saja selesai berlatih basket yang cukup berat. Keringat masih menetes dari dahinya dan pelipisnya, membuat rambutnya terlihat sedikit basah dan berantakan, namun justru memberikan kesan yang lebih gagah dan maskulin. Napasnya terlihat sedikit memburu seolah ia berlari cepat untuk sampai ke tempat ini.

“Elio? Kamu baru saja selesai latihan? Kenapa tidak langsung ke kamar ganti untuk mandi dan berganti pakaian?” tanya Alena dengan suara pelan, tidak ingin mengganggu ketenangan di perpustakaan.

Elio hanya tersenyum tipis, lalu tanpa banyak bicara ia menarik kursi di samping Alena dan duduk dengan santai. Ia menyandarkan punggungnya sebentar, lalu mengusap keringat di dahinya menggunakan lengan bajunya.

“Tidak sabar ingin bertemu denganmu. Sudah setengah jam lebih aku tidak melihatmu sejak jam pelajaran terakhir, rasanya sudah seperti berhari-hari saja,” jawab Elio dengan nada lembut namun terdengar sangat jujur, membuat pipi Alena langsung terasa memerah.

Alena menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli, lalu menyerahkan sebotol air minum dingin yang ia siapkan di sampingnya. “Dasar kamu, bicara saja selalu bisa membuatku salah tingkah. Minumlah dulu, nanti kamu kehausan dan sakit karena banyak berkeringat.”

Elio menerima botol itu dengan senang hati, meneguknya hingga separuh isinya habis. Setelah itu, ia meletakkan botol itu kembali ke meja, lalu menatap Alena dengan pandangan yang lembut dan dalam.

“Kamu lanjutkan saja bacaanmu, jangan pedulikan aku. Aku hanya ingin duduk di sini saja, melihatmu sudah cukup membuatku tenang,” ujar Elio sambil menyandarkan siku di atas meja dan menopang dagunya dengan satu tangan.

Alena mengangguk, lalu kembali memusatkan perhatiannya pada buku yang terbuka di hadapannya. Namun, ia tidak bisa merasa tenang sepenuhnya. Ia bisa merasakan tatapan Elio yang terus terpaku pada dirinya, tidak beralih sedikit pun ke arah buku atau sekelilingnya. Rasa diperhatikan secara terus-menerus itu membuat jantungnya berdebar kencang dan tangannya mulai terasa sedikit gemetar.

Beberapa menit berlalu, Alena akhirnya tidak tahan lagi. Ia menutup bukunya perlahan, lalu menatap Elena dengan pandangan bingung. “Kenapa kamu tidak membaca juga? Bukankah kamu bilang ingin duduk di sini? Tapi hanya menatapku terus, rasanya aku jadi tidak nyaman dan tidak bisa membaca dengan baik.”

Elio justru tertawa pelan, suaranya terdengar rendah dan merdu di tengah keheningan ruangan. “Untuk apa aku membaca buku yang tulisannya hanya berisi cerita fiksi, sedangkan di hadapanku sudah ada pemandangan yang jauh lebih indah dan menarik untuk dilihat? Wajahmu lebih memikat daripada apa pun yang tertulis di halaman buku mana pun.”

Kata-kata itu membuat Alena tidak bisa membalas apa pun selain menundukkan wajah karena malu. Ia mencoba membuka bukunya lagi, namun belum sempat membaca satu kalimat pun, tangan Elio sudah bergerak perlahan dan mengambil buku itu dari genggamannya dengan lembut. Ia meletakkan buku itu di atas meja dan mendorongnya menjauh, sehingga tidak ada lagi penghalang di antara mereka.

Sebelum Alena sempat bertanya apa yang sedang dilakukan Elio, pria itu sudah mendekatkan wajahnya dengan cepat namun tetap lembut. Dengan satu tangan, Elio memegang lembut bagian belakang leher Alena, menarik wajah gadis itu sedikit mendekat, dan dalam sekejap bibir mereka sudah bersentuhan.

Ciuman itu awalnya hanya singkat dan lembut, namun begitu bibir mereka bertemu, rasa rindu yang terpendam sejak tadi siang langsung meluap. Alena terkejut seketika, matanya terbelalak lebar, dan tangannya secara refleks menekan dada Elio seolah ingin mendorongnya menjauh.

“Elio… jangan… ini di perpustakaan… bisa ada orang yang lewat…” bisik Alena dengan suara tergagap dan tertekan, napasnya sudah mulai memburu.

Namun, Elio tidak melepaskan ciumannya. Ia justru semakin mempererat genggamannya di leher Alena, sambil membuka sedikit bibirnya dan menggerakkan lidahnya perlahan untuk menyentuh bibir gadis itu, mengajaknya bermain dalam kelembutan yang terasa menggoda. Sikapnya terlihat sangat santai dan tenang, seolah tidak ada rasa takut atau khawatir sedikit pun akan ketahuan orang lain.

“Tempat ini tersembunyi, tidak ada yang akan melihat kita. Tenang saja, sayang,” bisik Elio di sela-sela ciuman, suaranya terdengar berat dan menggema lembut.

Alena yang awalnya merasa panik dan gelisah, perlahan mulai terhanyut oleh sensasi yang diberikan Elio. Rasa takutnya perlahan berganti dengan rasa ingin membalas, dan tangannya yang tadinya mendorong, kini bergerak naik melingkar di bahu Elio, menarik tubuh pria itu lebih dekat lagi. Mulutnya sedikit terbuka, memberikan kesempatan bagi lidah Elio untuk masuk dan menjelajahi rongga mulutnya, saling bertaut dan bergerak lembut menciptakan sensasi yang luar biasa.

Suasana di sekitar mereka seolah menghilang. Hanya ada suara napas yang memburu dan gerakan lembut bibir mereka yang terdengar jelas. Namun, rasa keterkejutan Alena kembali muncul ketika ia merasakan tangan Elio yang tadinya memegang lehernya, perlahan bergerak turun melewati bahu dan punggungnya, lalu meluncur turun ke arah pinggul dan terus bergerak ke bawah.

Jari-jari Elio menyentuh paha lembut Alena yang tertutupi kain seragam yang tipis. Ia mengusapnya dengan gerakan melingkar yang lembut namun pasti, membuat tubuh Alena langsung menggigil hebat dan meremas bahu Elio lebih erat. Sensasi sentuhan itu terasa sangat panas dan menyengat, menjalar ke seluruh tubuhnya hingga membuat lututnya terasa lemas.

Belum sampai Alena bisa menenangkan dirinya, tangan Elio terus bergerak naik sedikit demi sedikit, semakin mendekati bagian yang paling sensitif dan pribadi milik Alena. Gerakannya tetap lembut namun penuh rasa ingin tahu dan gairah, seolah mengetahui dengan tepat cara membuat gadis itu terhanyut sepenuhnya.

Sentuhan yang semakin berani itu membuat Alena mendesah pelan, suara yang tertahan di tenggorokannya. Matanya terpejam rapat, wajahnya memerah padam, dan seluruh tubuhnya terasa panas seolah terbakar. Ia mencoba mengerang pelan namun menahannya agar tidak terdengar keras, takut sekali ada petugas perpustakaan atau siswa lain yang lewat dan mendengarnya.

“Elio… jangan terlalu berani… kita bisa ketahuan…” bisik Alena dengan suara yang bergetar, matanya sedikit terbuka menatap wajah Elio yang terlihat semakin terhanyut dalam gairah.

Elio melepaskan ciuman bibirnya sejenak, lalu mencium pipi dan leher Alena sambil tetap melanjutkan usapan tangannya yang terasa begitu menggoda. Napasnya terasa panas menerpa kulit leher Alena, membuat gadis itu semakin menggigil.

“Tenang saja, aku menjaga setiap gerakanku. Kita hanya berdua saja di sini. Rasanya kamu juga menyukainya, bukan? Tubuhmu menjawab lebih jujur daripada kata-katamu,” bisik Elio dengan nada rendah dan sedikit menggoda, membuat wajah Alena semakin memerah hingga ke telinga.

Alena tidak bisa menyangkalnya. Setiap sentuhan, setiap usapan, dan setiap ciuman itu memberikan sensasi yang luar biasa, membuatnya merasa lemah dan ingin menyerah sepenuhnya pada pria di hadapannya. Ia hanya bisa memejamkan matanya kembali, membiarkan dirinya terbawa arus perasaan yang meluap-luap itu.

Selama beberapa menit yang terasa sangat panjang namun singkat sekaligus, mereka berdua terhanyut dalam keintiman yang tersembunyi di balik rak-rak buku itu. Elio terus memainkan sentuhannya dengan penuh perhatian, tidak terlalu kasar namun cukup untuk membangkitkan setiap rasa yang ada pada diri Alena. Sementara itu, Alena hanya bisa pasrah, sesekali mengerang pelan dan membalas ciuman Elio dengan segenap rasa cintanya.

Hingga akhirnya, Elio perlahan menghentikan gerakan tangannya. Ia menarik tubuh Alena masuk ke dalam pelukannya, memeluk gadis itu erat-erat sambil menempelkan dahinya di dahi Alena. Keduanya terengah-engah, dada mereka naik turun dengan cepat, jantung mereka berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari dada.

Suasana kembali hening, hanya suara napas mereka yang masih terasa tidak teratur yang terdengar jelas. Alena menyandarkan kepalanya di bahu Elio, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu liar. Ia merasa sedikit malu namun juga sangat nyaman dan aman berada dalam pelukan itu.

“Kamu benar-benar membuatku tidak bisa berpikir jernih lagi,” bisik Alena pelan, suaranya masih terdengar lemah dan bergetar.

Elio mencium puncak kepala Alena dengan lembut, lalu mengusap punggung gadis itu dengan gerakan menenangkan. “Maafkan aku… tapi melihatmu duduk dengan tenang dan manis seperti itu, rasanya aku tidak bisa menahan diri. Apakah kamu marah padaku?”

Alena menggeleng pelan, lalu mengangkat wajahnya menatap mata Elio dengan pandangan yang masih sayu namun penuh kasih sayang. “Tidak marah… hanya saja rasanya jantungku mau copot saja tadi. Takut sekali kalau ada orang yang datang dan melihat kita seperti ini.”

Elio tersenyum lebar, lalu mencubit lembut pipi Alena yang masih terasa hangat dan memerah. “Tenang saja, tempat ini aman. Lagipula, meskipun ada yang melihat, mereka hanya akan mengira kita sedang mengobrol dekat saja. Tidak ada yang akan menyangka kita melakukan hal-hal manis seperti ini.”

Mendengar penjelasan itu, Alena hanya bisa mendengus kesal namun tidak berniat melarang lagi. Ia menyandarkan kepalanya kembali di bahu Elio, menikmati kehangatan tubuh pria itu yang masih terasa sedikit basah oleh keringat namun tetap terasa sangat nyaman.

“Kamu baru saja berlatih dan masih berkeringat, tapi tetap saja aku merasa nyaman dekat denganmu,” gumam Alena pelan.

“Itu tandanya kamu memang sudah sangat mencintaiku, sampai tidak memedulikan hal-hal sepele seperti itu,” jawab Elio sambil tertawa kecil.

Mereka berdua tetap duduk berpelukan selama beberapa menit lagi, membiarkan napas dan detak jantung mereka kembali teratur. Elio mengembalikan buku yang tadi diambilnya ke depan Alena, lalu mengusap rambut gadis itu dengan lembut.

“Sudah waktunya kita kembali ke kelas. Bel tanda masuk sebentar lagi akan berbunyi. Nanti kalau terlambat, kita bisa dapat teguran dari guru,” kata Elio lembut.

Alena mengangguk setuju, lalu merapikan sedikit pakaian dan rambutnya yang sedikit berantakan akibat keintiman tadi. Ia memastikan tidak ada yang terlihat mencurigakan, sementara Elio juga menata kembali posisi duduknya agar terlihat seperti biasa.

Saat mereka berjalan keluar dari pojok itu menuju pintu perpustakaan, Alena berjalan sedikit di depan sambil menunduk, wajahnya masih terlihat memerah. Elio berjalan di sampingnya dengan santai, sesekali melirik gadis itu dengan senyum nakal yang tidak bisa disembunyikan.

“Jangan menunduk terus, nanti orang lain malah curiga melihat wajahmu yang merah seperti itu,” bisik Elio sambil menyenggol lengan Alena pelan.

Alena menoleh dan menjewer lengan Elio dengan lembut, membuat pria itu hanya tertawa terbahak-bahak pelan. “Ini semua salahmu! Mulai sekarang jangan berani-berani lagi melakukan hal sembarangan di tempat umum seperti ini, mengerti?”

“Siap, Nyonya. Aku akan berusaha menahan diri… tapi tidak janji kalau godaannya terlalu kuat,” jawab Elio dengan nada bercanda, membuat Alena hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum malu.

Meskipun kejadian itu membuat jantung mereka berdebar dan Alena sempat merasa panik, namun di dalam hatinya ia merasa sangat bahagia. Momen itu menjadi bukti semakin kuatnya rasa cinta dan keinginan mereka satu sama lain, yang membuat hubungan mereka terasa semakin dekat dan tak terpisahkan. Mereka berdua tahu, selama saling menjaga dan saling mencintai, setiap momen yang mereka lalui akan selalu terasa indah dan berkesan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!