Dua tahun menjalani hubungan rahasia (backstreet) dengan Dimas—pria matang keturunan darah biru—Kirana rela mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia melepaskan masa lalu, melawan restu keluarganya sendiri, hingga meruntuhkan tembok perbedaan besar demi menyamakan arah masa depan dan bersiap melangkah ke jalan yang sama dengan sang kekasih.
Namun, tepat di hari saat ia siap menyerahkan seluruh hidupnya, takdir menghempaskannya tanpa belas kasihan. Di sebuah gedung pesta yang megah, dunia Kirana seolah runtuh. Di atas pelaminan mewah, Dimas justru bersanding dengan wanita lain yang merupakan atasannya sendiri. Tanpa ada kata putus, tanpa perpisahan hangat. Kirana ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan oleh pria yang berjanji menjadi kompas hidupnya.
Sanggupkah Kirana bertahan dan menemukan kembali jati dirinya setelah pengorbanan tulusnya diinjak-injak? Dan bagaimanakah takdir menjemput penyesalan terdalam sang lelaki darah biru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benturan Netra yang Menghancurkan: Harusnya Aku Yang Disana
Dunia di sekeliling Kirana terasa seolah-olah runtuh berantakan menjadi serpihan debu tak berharga. Di tengah gemerlap lampu kristal gedung yang berkilauan dan harum semerbak bunga melati yang mengudara, raganya berdiri mematung layaknya sebuah hiasan mati yang tak lagi bernyawa. Sepasang matanya yang telah basah oleh air mata, masih benar-benar menatap lurus ke arah panggung pelaminan megah di ujung aula.
Di atas sana, Dimas—pria yang menjadi alasan dari setiap embusan napas cintanya selama dua tahun ini—tampak begitu bersinar, tersenyum lebar menyalami satu per satu tamu undangan yang mengular tanpa tahu bahwa wanita yang dicampakkannya sedang menyaksikan kehancurannya sendiri dari kejauhan.
"Kirana? Kamu dengar aku tidak, sih? Ayo, antreannya sudah mulai bergerak maju. Kita ikut barisan di depan biar bisa menyalami pengantinnya lebih cepat," suara Aisyah terdengar samar-samar menyusup ke dalam indra pendengaran Kirana yang sedang berdengung hebat.
Aisyah yang sama sekali tidak tahu-menahu tentang badai luka yang sedang mengoyak dada sahabat barunya, langsung menggenggam erat jemari tangan Kirana yang sudah mendingin layaknya es. Dengan langkah riang, Aisyah menarik lembut tubuh Kirana untuk masuk ke dalam barisan antrean tamu undangan yang hendak naik ke atas panggung pelaminan mewah tersebut.
Tubuh Kirana bergerak maju bukan karena kehendak jiwanya, melainkan karena terseret oleh tarikan tangan Aisyah yang begitu bersemangat. Setiap kali telapak kakinya yang terbalut sepatu sederhana itu melangkah maju satu demi satu jengkal di atas karpet merah, Kirana merasa seperti sedang dipaksa berjalan di atas hamparan bara api yang menyala-nyala. Setiap langkah terasa begitu berat, bagai dirantai oleh bongkahan besi seberat ratusan ton yang menahan pergerakannya. Dadanya terasa kian menyempit, berdegup dengan ritme yang teramat kacau hingga menimbulkan rasa sakit yang nyata secara fisik di bagian rusuknya.
Di dalam benaknya yang mulai berputar liar, untaian ingatan tentang kebohongan Dimas selama beberapa bulan terakhir kembali berkelebat tanpa bisa dicegah. Kalimat-kalimat manis bernada lelah yang selalu diketik Dimas di dalam pesan singkatnya, seolah menjelma menjadi suara-suara gaib yang menertawakan kebodohannya di dalam kepala.
"Jadi ini alasan kamu menghilang tanpa kabar, Mas? Ini alasan kamu selalu bilang lelah karena urusan pekerjaan kantor? Kamu sedang menyiapkan sebuah istana megah untuk bersanding dengan wanita kaya pilihanmu, sementara aku di sini kamu biarkan mati perlahan dalam penantian sepi yang menyiksa?!" jerit Kirana di dalam jeruji batinnya, sebuah jeritan yang teramat perih namun tertahan rapat di dalam tenggorokannya yang mendadak terasa kering kerontang.
Jarak antara posisi berdirinya Kirana dan panggung pelaminan tinggi itu kian dekat. Kini, dia dan Aisyah sudah berada di barisan tengah, tepat di jalur lurus jalan utama menuju singgasana pengantin. Kirana bisa melihat dengan sangat benderang setiap detail ukiran pakaian beludru hitam bermotif benang emas murni yang melekat gagah di tubuh Dimas. Pria itu tampak begitu sempurna, begitu bahagia, seolah tidak pernah ada beban dosa apa pun yang mengganjal di dalam benaknya setelah menelantarkan satu hati yang tulus.
Tepat pada detik yang teramat sangat krusial, dramatis, dan menegangkan tersebut, Dimas yang baru saja selesai melepaskan jabat tangan dari seorang tamu undangan penting, perlahan-lahan memutar posisi tubuhnya. Tanpa ada rencana apa pun, pria itu secara tidak sengaja mengalihkan pandangan sepasang matanya lurus ke arah jalur tengah barisan para tamu yang sedang mengantri.
Dan pada satu helaan napas itulah... sepasang manik mata Dimas dan mata Kirana berbenturan secara langsung di udara bebas!
Deg!
Waktu di dalam aula gedung pertemuan yang luar biasa mewah itu seolah-olah mendadak berhenti berputar dalam seketika. Seluruh hiruk-pikuk alunan musik gamelan dan instrumen modern yang menggema indah, langsung lenyap total dari indra pendengaran mereka berdua. Senyuman kebahagiaan yang semula merekah penuh keangkuhan dan wibawa di wajah tampan Dimas, seketika langsung luntur, hilang, dan menguap tak berbekas hanya dalam hitungan milidetik saja.
Raut wajah gagah sang pengantin pria langsung berubah drastis menjadi putih pucat pasi, seputih kain kafan yang membungkus mayat. Sepasang kornea matanya membelalak lebar dengan sempurna, menyiratkan sebuah rasa syok yang luar biasa hebat, ketakutan yang teramat mendalam, serta rasa bersalah yang langsung menghantam ulu hatinya hingga mencekik jalur pernapasannya seketika pada detik itu juga.
Tubuh Dimas mendadak membeku kaku di atas singgasananya. Jemari tangannya yang semula hendak menyambut tamu berikutnya, mendadak bergetar hebat tak terkendali. Dimas terkejut setengah mati, tidak pernah menyangka dalam sejuta tahun pun bahwa wanita yang selama ini dia gantung statusnya di kota asal, kini bisa berdiri di hadapan panggung pernikahannya dan menyaksikan seluruh kebusukan topengnya.
Sementara itu, Kirana tetap berdiri tegak di tempatnya berpijak meskipun seluruh persendian tubuhnya sudah terasa lemas tak bertulang. Dia tidak melangkah maju untuk berteriak histeris, dia tidak memaki-maki untuk membuat keributan besar, dan dia tidak mengeluarkan satu patah kata pun dari sela bibirnya yang bergetar. Kirana hanya memilih untuk menatap lurus tepat menghujam ke dalam bola mata Dimas dengan sepasang mata yang sudah banjir oleh air mata duka yang terus mengalir membasahi pipi.
Tatapan bisu, tajam, namun sarat akan rasa sakit batin yang teramat sangat mendalam itu, seolah menyuarakan ribuan kalimat tanya yang langsung menampar keras dinding nurani Dimas yang paling dalam: "Kenapa, Mas? Kenapa kamu tega melakukan ini padaku? Apa salahku dan apa kurangnya ketulusanku selama dua tahun ini sampai kamu membalas seluruh pengorbananku dengan pengkhianatan sekeji ini di belakangku?! Harusnya aku yang di sana, dampingimu dan bukan dia, harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia! Harusnya kau tahu bahwa cintaku lebih darinya, harusnya aku yang kau pilih bukan dia."
Dimas terkunci mati di tempatnya berdiri, napasnya mendadak memburu pendek-pendek karena rasa panik yang luar biasa hebat. Dia tidak mampu memalingkan wajahnya dari sorot mata penuh air mata milik Kirana. Ketakutan jika Kirana akan maju dan membongkar hubungan rahasia mereka di hadapan keluarga besar Ibu Ratna dan para pejabat yang hadir, benar-benar membuat nyali Dimas menciut drastis hingga diliputi rasa malu yang teramat sangat menyiksa di atas pelaminannya yang mewah.
Ibu Ratna yang berdiri anggun di samping Dimas, perlahan-lahan mulai menyadari adanya perubahan sikap yang sangat drastis dan janggal pada suaminya. Merasa heran mengapa tubuh Dimas mendadak menegang kaku dan berwajah pucat pasi, Ibu Ratna mulai menggerakkan kepalanya, berniat ikut menengok ke arah pandangan mata Dimas untuk mencari tahu siapa yang sedang ditatap oleh suaminya tersebut.
Namun, sebelum sepasang mata Ibu Ratna sempat menangkap dan mengenali sosok Kirana yang berdiri di tengah kerumunan jalur antrean, Kirana sudah sampai pada batas akhir kekuatannya. Pertahanan jiwanya sudah habis tak tersisa. Keberaniannya untuk terus menatap pria pengkhianat itu telah runtuh total rata dengan lantai marmer gedung.
Dengan satu sentakan tangan yang cepat dan bertenaga, Kirana langsung melepaskan paksa genggaman tangan Aisyah yang sejak tadi memegangnya. Tanpa memedulikan suara panggilan Aisyah yang terdengar sangat terkejut dan kebingungan memanggil namanya, Kirana langsung memutar tubuh ringkih nya dengan cepat.
Berbalik arah membelakangi pelaminan, berlari sekencang-kencangnya membelah barisan kerumunan ratusan tamu undangan yang menatapnya dengan pandangan heran bercampur bingung. Kirana berlari dengan air mata yang berderai bebas membasahi penutup kepalanya, membawa pergi seluruh luka batin yang menganga sangat lebar, meninggalkan gedung pertemuan mewah tersebut yang kini telah resmi menjelma menjadi kuburan paling mengerikan bagi seluruh impian cinta searah sujud yang selama ini dia agungkan.
Kirana terus berlari keluar menembus pintu aula utama, melewati meja penerima tamu, hingga akhirnya kakinya melangkah keluar dari area halaman gedung mewah itu. Sinar matahari siang yang terik menyengat kulitnya, namun seluruh tubuh Kirana terasa dingin membeku. Dia terus berlari menyusuri trotoar jalanan kota asing itu tanpa arah tujuan yang benderang, tidak memedulikan lagi tatapan aneh dari orang-orang yang berpapasan dengannya. Pikirannya benar-benar kosong, menyisakan rasa sakit yang teramat sangat menghimpit rongga dadanya.
Hingga akhirnya, di sebuah sudut taman kota yang sepi dari hiruk-pikuk manusia, kedua kaki Kirana kehilangan seluruh kekuatannya. Tubuhnya ambruk begitu saja di atas rerumputan di bawah sebuah pohon besar. Di sudut sunyi itulah, pertahanan Kirana pecah sepecah-pecahnya. Mendekap dadanya yang terasa robek berguguran, lalu menangis sejadi-jadinya, menumpahkan seluruh rasa sesak, terhina, dan hancur yang sudah menembus sampai ke tulang sumsumnya.
Bukan hanya karena dikhianati, namun Kirana merasa sangat berdosa kepada ibunya di rumah. Dia merasa telah mengkhianati ketulusan doa ibunya demi mengejar seorang pria yang ternyata adalah seorang penipu ulung yang kejam. Tangisnya pecah berbaur dengan angin sore kota asing yang menjadi saksi bisu runtuhnya seluruh harapan hidup seorang Kirana.
pasti ada kekecewaan disitu ,wajar sih kalau mereka marah
malahan Ratna lebih peduli kehilangan Dimas,kalau ayahnya Dimas koid,Dimas bebas haha,dsar otak nya 😄
dia yang salah tapi tidak mau disalahkan
hasil merebut itu ga awet bu, inget umur
kamu wanita kaya ,mandiri knp harus merebut hak orang lain. percuma hartamu😄
udah merebut malahan dia merasa korban😄
kan bisa dibicarakan baik" ,kalian sudah mendzolimi kirana
rasakan akibatnya sendiri
setidaknya harus ada omongan, Ratna juga ksian hasil merampas itu ga akan tenang
kalau kamu itu seorang yang tau agama
tidak akua menawarkan nikah siri ,padahal baru 3hari
ayo tetap semangat
tapi semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu iya
cinta beda agama apakah mereka akan bahagia