Dean Justin Lee, seorang sutradara muda terkenal yang digilai oleh fans dan para aktris itu membuat skandal yang paling gila. Ia menikahi seorang petugas laundry bernama Jessy Julian yang memiliki paras cantik dengan mata berwarna hazel dan rambut pirang paling indah.
Jessy Julian merupakan seorang wanita mandiri yang sejak kecil ditemukan oleh seorang wanita pemilik yayasan. Ia pindah ke New York untuk mengadu nasib sebagai petugas laundry.
Pertemuan pertama Jessy dan Dean justru membuat mereka harus mengarah pada suatu proses pernikahan. Namun, Apakah perbedaan status keduanya dapat membuat pernikahan mereka berlangsung lama? Lalu bagaimanakah Jessy menjaga hatinya karena pesona Dean yang membuat wanita lain terpesona?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nipi Nupu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan pertama
"See? Pemilihan aktor yang salah akan mempengaruhi film ini. Kita mengejar award bergengsi tahun depan. Film ini bukan mainan. Kau harus memikirkannya." ucap Harris kesal.
Dean duduk dengan mengangkat kedua kakinya keatas meja. Ia menggigit kukunya. "Apakah kita bisa menghentikan berita itu?"
"Jangan bodoh, Dean. Masalah Pedro bukan masalah biasa. Ada negara yang ikut campur. Kita harus mencari aktor baru secepatnya. Aku tidak mau ada penyesalan. Aku tidak mau film kita tercoreng. Biaya produksi kita tidak murah. Aku akan mencari aktor baru. Terserah kau menyukainya atau tidak." ungkap Harris sambil berjalan keluar dari ruang meeting.
Dean berfikir keras. Pertemuan dengan perusahaan yang berinvestasi pada film terbarunya membuatnya tidak bisa tenang. Mereka menyorot skandal aktornya. Baru saja tadi pagi ia berfikir mengenai pergantian aktor, Harris telah memintanya. Ia melihat layar didepannya.
"Aku pikir kau harus mencari aktor baru. Aktor yang benar-benar baru. Bukankah ini tantangan untukmu?" ucap Jeremy ketika ia berada dibelakangnya.
"Aktor muda maksudmu?" tanya Dean sambil berbalik.
"Tepat sekali. Naskahku tidak menyebutkan berapa usia si aktor. Karena ini film menegangkan, bukan hanya tempat tapi skill para aktor akan disorot. Jika kau memiliki calon pengganti Pedro dengan aktor baru, aku rasa intuisi mu akan berjalan dengan sempurna. Kau harus ingat ucapan mu padaku. Semua film yang kau buat akan menjadi box office."
Dean kembali terdiam. Kemudian ia berfikir. "Aktor baru..." ucapnya.
"Satu lagi. Istrimu menghubungimu." ucap Jeremy sambil berjalan keluar.
Dean melirik handphonenya. Nomor rumah yang menghubunginya. Tidak mungkin jika ayahnya yang menghubunginya. "Halo.."
"Dean, kemana kau akan mengajakku malam ini?" tanya Jessy manja.
Dean menghela nafas. "Kau mau kemana?" tanya Dean. Tidak mungkin ia menolak permintaan Jessy. Waktu untuk menemaninya telah terganggu gara-gara pertemuan ini.
"Bagaimana jika kita ke bioskop. Aku belum pernah menonton film Death. Tapi, dimana kita harus menontonnya? Bukankah bioskop besar sudah menggantinya dengan film baru?" tanya Jessy dengan sedikit sedih.
"Aku memiliki salinannya. Kita bisa menonton di apartemen. Kau bisa ke apartemen sendiri? Aku akan menemui mu disana ketika semuanya telah selesai."
"Apakah aku harus menyiapkan sesuatu?" tanya Jessy.
"Tidak. aku hanya memerlukan mu. Bukan yang lain." goda Dean sambil tersenyum
Jika Dean ada didepannya, ia pasti tertawa melihat wajahnya memerah karena malu. "Jangan menggodaku.." bisiknya.
"Ucapan mu yang menggodaku, sayang." ucap Dean. "Aku akan segera ke apartemen. Jika kau tiba terlebih dahulu, siapkan sesuatu yang enak. Aku akan makan dirumah."
"Baiklah. Aku akan bersiap-siap sekarang." ucap Jessy bersemangat.
Ketika Dean menyimpan kembali ponselnya, ia kembali terdiam. Otaknya kembali berputar. Dimanakah ia harus mencari aktor muda yang kemungkinan berusia tiga puluhan? Ia kembali melihat layar. Selama ini stok aktornya berusia lumayan berumur . Ia tidak memiliki calon aktor muda.
Ia kemudian membuka sebuah situs film. Beberapa nama yang tercantum disana, Ia tidak yakin akan cepat mendapatkan kandidat. Iapun berdiri dan berjalan keluar. Ia melihat dari luar jika Harris tengah sibuk menghubungi setiap agensi. Iapun melangkah keluar. Ia akan memikirkannya nanti.
...***...
Jessy bernyanyi ketika keluar kamar. Ia sudah siap untuk pergi ke apartemennya. Ia melangkah dengan pasti dengan mengayunkan dress-nya. Ia melihat ke ruang tamu, tidak ada siapapun. Ia kemudian berjalan ke belakang rumah. Ia harus menemui kedua orangtua Dean untuk berpamitan.
Ia tidak melihat siapapun di belakang. Tapi ia mendengar suara tawa Anastasia di ruangan khusus milik ayahnya. Iapun setengah berlari untuk sampai kesana.
"Dad.." panggil Jessy
Lee menoleh begitupun dengan Anastasia.
"Kau sudah cantik sekali. Kau hendak kemana?" tanya Anastasia.
Jessy tersenyum pada Anastasia. "Aku memiliki janji dengan Dean untuk bertemu diluar, mom."
"Baiklah. Bersenang-senanglah mumpung kalian masih muda. Jika kalian sudah memiliki anak, akan sangat sulit." seru Lee.
Jessy pintu rumah namun terkejut ketika beberapa paparazzi tengah menantikannya diluar. Blitz kamera membuatnya tidak bisa melihat ke depan dengan nyaman. Walaupun rumah itu dibatas oleh pagar, tapi mobil milik Dean terparkir dulu. Ia pernah melihat di televisi, beberapa selebriti maupun orang terkenal didampingi oleh bodyguard agar dirinya merasa aman. Tapi dirinya bukan selebriti, jadi ia tidak perlu membutuhkan seorang bodyguard.
Ketika ia keluar pagar, beberapa paparazzi berlari ke arahnya, namun ia ditahan oleh seseorang. Ia berjalan tanpa melihat siapa yang menolongnya. Ketika sampai didepan mobil, ia melirik sekilas. Ia tidak mengenalnya.
"Kau aman sekarang.." ucapnya.
"Terimakasih. Kau sangat berjasa karena membantuku." ucap Jessy sambil masuk kedalam mobil. Ketika kaca ditutup, ia melihat siapa yang membantunya. Ia terkejut melihat siapa pria itu. Ia bahkan melambaikan tangannya ketika mobilnya mulai berjalan meninggalkan kediaman orangtuanya.
"Paparazzi itu baik sekali karena membantumu." ucap supir
"Ya." jawab Jessy sambil sesekali menoleh kebelakang.
"Kemana kita sekarang?"
"Kau bisa mengantarku ke supermarket sebentar. Kemudian kau antar aku ke apartemen Dean. Kau bisa pergi setelah itu."
"Baiklah."
Jessy bingung ketika mereka telah tiba di sebuah supermarket. Dean mengatakan akan makan di apartemen. Itu berarti ia harus memasak. Ia belum pernah memasak untuk pria manapun selain suaminya. Ini kali pertama ia memasak. Walaupun sulit, tapi ia akan belajar.
Menurut ibunya, Dean sangat menyukai steak. Ia pernah belajar dari Mrs Patty cara membuat steak. Ia pikir tidak akan sulit. Ia mengambil dua potong daging segar dengan ukuran sempurna. Ia melihat seseorang sedang berbincang sambil melihatnya. Seperti yang sudah ia lakukan berulang kali, ia tidak peduli. Apa salahnya menjadi seorang istri pria terkenal? Siapa yang tidak mengenal Dean ketika filmnya sangat meledak di seluruh dunia?
"Apakah kau istri sutradara Dean Justin Lee?" tanya seseorang yang menghampirinya.
Jessy tersenyum ramah. "Ada yang bisa aku bantu?"
"Jika kau tidak keberatan, aku ingin meminta foto." ucapnya dengan nada bergetar karena gugup.
Jessy tersenyum. " Tidak masalah."
Jessy merangkul bahu wanita itu dan berfoto bersama.
"Kau cantik sekali ketika upacara pernikahan. Aku melihat kalian berdua begitu serasi." ucapnya.
Jessy teringat ketika ia menikah dengan Dean saat itu, badai sedang datang. Banyak sekali wartawan yang mengabadikan pernikahan mereka. Dan keesokan paginya, mereka menjadi buah bibir. Ia telah melihat foto-foto itu. Mereka memang tidak terlihat seperti sepasang pengantin yang memiliki masalah masing-masing. Tapi berita positif mengenai dirinya terus berkembang.
Rasanya memalukan , seorang petugas laundry kini menjadi terkenal. Setelah melakukan foto dengan wanita itu, ia berjalan dengan cepat ke kasir dan membayar belanjaannya. Ia berlari menuju mobil dimana supir sudah menunggunya.
"Ada apa?"
"Mereka mengenalku." ucap Jessy.
Pria itu tersenyum. "Tentu saja, kau sudah terkenal sekarang. Pakaianmu terlalu mencolok. Kau tidak memakai pelindung wajah dan siapapun pasti akan mengenalmu."
Jessy terdiam. "Berapa lama kau bekerja untuk keluarga Lee?" tanyanya kemudian
"Lima belas tahun. Aku cukup mengenal keluarga Lee. Jangankan memiliki keluarga baru, memiliki hewan peliharaan baru pun mereka akan mengetahuinya.
Jessy tersenyum. "Itu tidak masalah untukku. Yang penting Dean selalu ada disamping ku."
"Baiklah, kemana lagi kita akan pergi?"
"Kau harus membawaku untuk membelikan wine untuk Dean."
"Aku tahu tempat biasa Dean membelinya."
"Kau harus mengantarku!" seru Jessy senang.
Merekapun mulai meninggalkan supermarket untuk membeli satu botol wine. Ia dan Dean baru saja pulang dua hari yang lalu. Namun baru kali ini ia akan kencan dengan Dean. Apalagi lusa adalah hari ulangtahunnya. Dean tidak tahu dan ia akan memberitahunya malam ini. Ia bersemangat sekali dan berharap segera bertemu dengan Dean.
mudah dimengerti...
enak dibaca