Menceritakan seorang gadis anak yatim piatu , tinggal bersama paman dan bibinya , ibu dan ayahku meninggal di saat usia ku masih 8thn,
Sonya di jodohkan dengan fasya pamungkas anaknya pak bagaskara , oleh pamannya untuk membayarkan utang² mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha Nurlaela sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Seorang wanita dengan make up tebal dan mini dress berwarna hitam terlihat sedang berjalan memasuki sebuah ruangan,yang dimana terlihat seorang lelaki yang sedang duduk di bangku kebesaran miliknya dengan pandangan yang terfokus pada dokumen² yang berserakan di mejanya.
Wanita itu tersenyum lalu berjalan mendekati lelaki itu yang masih belum sadar akan kehadirannya. Ia pun mendudukkan bokongnya diatas pangkuan lelaki itu,membuat fasya --lelaki yang sibuk dengan dokumen tadi-- terkesiap dibuatnya. Refelk fasya mendorong bianca --wanita yang duduk di pangkuannya-- sedikit keras membuat bianca limbung dan hampir terjatuh jika saja ia tak cepat memegang pinggiran meja kerja fasya.
Bianca memandang fasya tak percaya,karena sungguh baru kali ini ia di perlakukan seperti itu. Biasanya jika fasya bertemu dengannya fasya akan bersikap manis dan manja kepadanya,namun sekarang?.
"Kenapa kamu mendorong ku? Kamu kenapa?" tanya bianca lembut walaupun dalam dirinya ia sedang menahan rasa kesal.
"Tak apa" jawabnya singkat,lalu kembali fokus mengerjakan dokumen² yang isinya membuat dirinya pusing tujuh keliling. Bianca yang melihat sikap fasya yang tiba² cuek kepadanya hanya bisa menggertakkan giginya kesal dengan otak yang terus berpikir apa ia berbuat kesalahan? Dan membuat fasya bersikap seperti ini kepadanya.
"Kamu mengabaikanku? Apa aku punya kesalahan yang tak aku sadari kepadamu?" tanyanya beruntun,sungguh ia tak suka di abaikan seperti ini. Ia lebih suka menjadi perhatian dari orang² di sekitarnya. Fasya menghela napasnya panjang lalu mengalihkan pandangannya kearah bianca yang sekarang ini sedang menatapnya tajam juga rahangnya yang mengeras.
"Maaf,tapi kamu lihat sendiri kan? Aku sedang sibuk sekarang ini" jelas fasya,sepertinya ia harus menambah kadar kesabaran nya untuk menghadapi seorang bianca sekarang ini.
"Kamu berubah,tak biasanya kamu lebih mentingin pekerjaan kamu dari pada aku" jawabnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
"Aku kerja juga kan buat bikin perusahaan ini maju,kalo aku terus²an bermalas-malasan bekerja bisa² perusahaan ini bangkrut terus jatuh miskin. Kamu mau kalo aku bangkrut terus nanti gak bisa belanjain kamu lagi,mau?" jelas dan tanya fasya seraya mengelus surai panjang bianca --yang memang di biarkan tergerai-- berniat untuk melunturkan amarahnya.
Bianca menggelengkan kepalanya cepat. Tidak! Ia tidak mau jika itu semua terjadi. Hey~ yang benar saja!? Mau ditaruh dimana mukanya nanti di hadapan teman²nya jika sampai fasya benar² bangkrut. "Tapikan kamu bisa luangin waktu kamu buat aku. Apalagi sekarang kamu udah punya istri yang kampungan itu,waktu kita buat berduaan jadi sedikit fasya!" ucapnya tak terima. Sedangkan fasya sedang berusaha menahan amarahnya untuk tidak menampar wanita yang dicintainya ini,saat seenaknya saja dia bilang bahwa istrinya kampungan.
"Baiklah~ aku minta maaf. Jadi,ada apa kamu kesini?" Ya,fasya lebih baik mengalah untuk saat ini. Ia sedang merasa pusing karena sedari tadi di hadapkan dengan dokumen² itu,dan sekarang ia harus menghadapi sikap egois dan keras kepala bianca,sungguh kepalanya serasa ingin meledak untuk sekarang.
"Temani aku shopping sekarang,dan aku akan memaafkan mu." ujarnya dengan senyuman penuh harap yang ia tunjukkan ke fasya. Fasya hanya bisa menghela napasnya 'lagi' lalu ia menganggukkan kepalanya tanda setuju. Ya,mau tak mau ia harus menemani pacarnya ini daripada membuat bianca marah dan berakhir melakukan hal² yang nekat.
...
Dan disinilah fasya sekarang,duduk di sofa yang memang di sediakan oleh salah satu toko di mall terbesar ini,dengan kedua tangan yang penuh dengan paper bag milik bianca. Yang dimana si empunya paper bag sedang mencoba salah satu lipstik berwarna merah darah di atas bibir tipisnya. Sudah setengah jam fasya mengekori bianca yang terus keluar masuk dari satu toko ke toko lain. Ia sangat lelah kedua tangannya pun terasa pegal karena terus²an menenteng paper bag yang tak bisa dibilang sedikit itu.
"Apa sudah selesai?" tanya fasya yang sekarang sedang berdiri di sebelah bianca yang saat ini sedang mencoba lipbam rasa strawberry.
"Apa ini bagus di bibirku?" bukannya menjawab bianca malah balik bertanya,membuat fasya kesal setengah mati.
"Ya,itu bagus. Beli saja" ucapnya cepat,ia hanya ingin cepat² pulang dan mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur empuknya sambil memeluk sonya,istri kecilnya. Bianca menganggukkan kepalanya lalu segera ke arah kasir untuk melakukan transaksi pembayaran.
"Sekarang pulang?" tanya fasya tak sabaran.
"Eumm~ kita makan dulu ya? Aku lapar" ucap bianca manja,dengan tangan kanan yang mengelus perut ratanya.
"Baiklah,kita makan di restoran bawah saja,agar tak jauh dari tempat kita parkir tadi" usulnya. Untuk yang ini ia sedikit semangat karena ya~ ia juga merasa lapar.
...
Sesampainya di restoran,sepasang kekasih itu segera mendudukkan dirinya di meja paling pojok dekat dengan dapur restoran itu. Tak lama datanglah seorang waiters di meja mereka seraya menyerahkan buku menu kehadapan keduanya.
"Kamu mau pesan apa sayang?" tanya fasya sambil melihat-lihat buku menu yang ada di tangannya.
"Emm~ aku mau chiken steak saus enoki 1,salad buah 1,sama blackcurrant tea nya 1" jawab bianca setelah melihat menu yang tertera di buku,lalu menyerahkan kembali bukunya ke sang waiters yang diterima baik oleh waiters itu.
"Kalo aku chiken yakiniku 1,sama lime citrus soda nya 1" ucap fasya.
"Baiklah pesanan akan siap 15 menit lagi" ucap waiters itu sambil tersenyum lalu berlalu pergi dari hadapan sepasang kekasih itu menuju ke arah dapur.
Seperginya waiters tadi,hening menyelimuti meja itu. Bianca yang sibuk dengan ponselnya karena membalas komentar² temannya di ig saat ia memposting belanjaannya yang memang di letakkan di sampingnya. Sedangkan fasya melihat sekeliling restoran itu yang terlihat sederhana namun indah. Hingga matanya tak sengaja melihat seseorang yang sangat ia kenali sedang makan bersama seorang lelaki dan satu perempuan,yang ia yakini sahabatnya.
Fasya mengepalkan tangannya erat saat melihat lelaki itu yang mengelap sudut bibir istrinya yang memang ada noda saus disana. Sontak saja fasya segera bangkit dari duduknya lalu berjalan tergesa menuju ke arah dimana tempat tiga orang anak sma itu duduk.
Bianca yang melihat fasya bangkit dari duduknya pun mendongakkan kepalanya,berniat untuk bertanya. Namun tak jadi karena fasya yang tiba² melangkah dengan tergesa dan muka yang memerah marah menuju ke suatu tempat,mau tak mau bianca mengikuti langkah lebar fasya untuk melihat ada apa sebenarnya sampai² membuat fasya seperti itu.
"Bajingan!!"
Bugh!!
Hening seketika,semua orang yang ada di restoran itu mengalihkan pandangannya ke arah mereka berlima tanpa ada yang bersuara sedikit pun.
Sonya menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut dengan fasya yang tiba² datang langsung meninju wajah fasya. Tak hanya sekali,fasya terus memukuli lelaki yang tak ia kenal yang sudah berani²nya menyentuh istrinya. Hingga datanglah dua orang satpam dan menjauhkan tubuh fasya yang terus memukuli Apriando yang sudah tergeletak tak berdaya di lantai restoran karena pukulan Fasya yang bertubi-tubi.
Fasya menatap Apriando dengan tatapan tajam,lalu segera menarik keras pergelangan tangan sonya. Membuat sonya merintih kesakitan karena tarikan itu. Fasya berlalu keluar menuju tempat mobilnya terparkir tadi meninggalkan keributan yang dibuatnya juga seseorang yang menatap keduanya dengan amat kesal dan amarah.
'Gadis itu! Lihat saja apa yang akan aku lakukan,karena kau telah bermain-main dengan seorang bianca' ~Batinnya.
Ia pun berbalik ke arah mejanya lalu mengambil paper bag belanjaannya dan menyelipkan beberapa lembar uang di bawah pot bunga hiasan. Dan melangkahkan kakinya keluar dari mall dengan senyuman miring yang menghiasi wajahnya.
'Permainan akan dimulai...'