NovelToon NovelToon
Di Selingkuhi Tanpa Rasa Bersalah

Di Selingkuhi Tanpa Rasa Bersalah

Status: tamat
Genre:Pelakor / Poligami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:251.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Maple_Latte

Malam bahagia bagi Dila dan Arga adalah malam penuh luka bagi Lara, perempuan yang harus menelan kenyataan bahwa suami yang dicintainya kini menjadi milik adiknya sendiri.
Dalam rumah yang dulu penuh doa, Lara kehilangan arah dan bertanya pada Tuhan, di mana letak kebahagiaan untuk orang yang selalu mengalah?

Pada akhirnya, Lara pergi, meninggalkan tanah kelahirannya, meninggalkan nama, kenangan, dan cinta yang telah mati.
Tiga tahun berlalu, di antara musim dingin Prancis yang sunyi, ia belajar berdamai dengan takdir.
Dan di sanalah, di kota yang asing namun lembut, Lara bertemu Liam, pria berdarah Indonesia-Prancis yang datang seperti cahaya senja, tenang, tidak terburu-buru, dan perlahan menuntunnya kembali mengenal arti mencintai tanpa luka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab: 23

Sudah seminggu sejak hari itu, sejak pengakuan Liam meluncur pelan dari bibirnya di tengah taman bersalju. Sejak kalimat itu menggema di udara dingin, membuat jantung Lara berdebar tanpa ritme yang jelas.

Dan selama seminggu itu pula, Liam menghilang.

Tidak ada kehadiran tenangnya di pintu kafe.

Tidak ada sapa “bonjour” miliknya yang selalu terdengar seperti sebuah senyum yang berubah menjadi suara.

Tidak ada tatapan lembut yang biasanya mengikuti Lara tanpa pernah membuatnya tertekan.

Lara mencoba meyakinkan dirinya, bahwa ini baik. Bahwa ini yang ia inginkan.

Liam membutuhkan jawaban, dan ia sudah memberikannya, walau terasa seperti mengiris dirinya sendiri.

Lara menolak Liam bukan karena tidak suka.

Bukan karena tidak menangkap ketulusan itu.

Tetapi karena kehidupannya yang lama meninggalkan luka terlalu dalam, luka yang masih membuatnya takut membayangkan kata “hubungan,” apalagi “pernikahan.”

Penolakan itu seharusnya menjadi penutup, bukan awal kegelisahan.

Namun diam Liam justru membuat hatinya guncang.

Setiap kali pintu kafe berdenting, Lara menoleh. Lalu kecewa.

Setiap kali seseorang duduk di kursi yang biasa Liam pilih, dadanya menegang tanpa alasan.

Dan setiap malam, ia terus berpikir:

Apa Liam marah? Apa lelaki itu tersinggung karena ia menolak? Apa pria tenang itu ternyata tersakiti lebih dari yang ia kira?

Gundah itu menjadi bayangan yang tidak mau pergi.

Tapi semua itu hanya pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.

Hingga sore itu.

Pintu kafe terbuka.

Lonceng kecil berdenting.

Dan masuklah, bukan Liam, melainkan badai manusia yang bernama Adrian.

Adrian Muncul Dengan Gaya Khasnya

“Bonjour, mesdames!” seru Adrian sambil mendorong pintu dengan sikap yang terlalu dramatis untuk ukuran orang hanya ingin memesan kopi.

Syal oranye terang melilit lehernya, dan beanie biru lautnya miring seperti ia baru melawan badai.

“Atau lebih tepatnya, tolong sambut aku sebelum aku membeku seperti es serut di festival musim panas!” lanjutnya sambil mendekat ke bar.

Bella mengangkat alis. “Kau masih hidup. Itu saja sudah cukup mengejutkan.”

“Aku hidup, tapi hanya secara fisik.” Adrian menepuk dada. “Secara emosional? Tidak. Hatiku membeku. Lihat ini.” Ia menunjuk beanie-nya. “Topi ini satu-satunya yang menyangga kehidupanku yang rapuh.”

“Astaga, baru masuk sudah drama.” ujar Bella lagi.

Adrian mengacungkan jari. “Drama menyelamatkan dunia, Bella. Dan terkadang menyelamatkan harga diri.”

Lara mengerjap, menahan tawa. “Pesan apa, Adrian?”

“Ah!” Adrian mengusap kedua tangannya, lalu mencondongkan tubuh. “Dua kopi. Satu latte panas. Satu espresso. Kalau bisa ditambah harapan dan ketenangan batin sekalian. Untuk dibawa pulang, jelas.”

“Kau butuh banyak ketenangan batin?” gumam Lara.

“Aku? Non, non.” Adrian menggeleng kuat. “Ini untuk seseorang yang jauh lebih butuh dariku.”

Nada suaranya berubah sedikit lebih dramatis.

Lara menangkap perubahan itu.

Kilatan serius yang jarang muncul.

Ia mencoba casual, tapi nada khawatirnya sulit disembunyikan.

“Adrian, kau tahu kenapa Liam tidak pernah datang lagi?” tanya Bella, yang sangat tahu jika pertanyaan itu sangat ingin Lara tanyakan. Namun, mungkin karena gengsi atau takut jadi dia hanya menyimpan pertanyaan itu tanpa mengeluarkan suara, jadi dia mewakilinya.

Adrian terdiam sepersekian detik.

Sementara Lara sibuk dengan mesin kopi namun tetap memasang telinga ingin mendengar jawaban Adrian atas pertanyaan Bella.

Adrian tidak menatap Bella, melainkan Lara, tatapan yang, untuk sekali ini, tidak lagi penuh lelucon.

“Apa kalian belum tahu?”

Bella mengangkat wajah. “Tahu apa?”

Adrian menarik napas panjang. “Liam sibuk. Dia menjaga ibunya di rumah sakit.”

"Ibunya? Ibunya sakit?" Tanya Bella.

"Minggu lalu dia jatuh sakit." Kata Adrian.

Lara terlihat terkejut, Liam tidak pernah cerita jika ibunya berkunjung ke Annecy.

Adrian mengangguk. “Sudah beberapa hari. Dia hampir tidak tidur. Itu sebabnya aku ambil kopi. Dia jaga malam.”

Lara terpaku.

“Kenapa dia tidak bilang apa-apa?” suaranya terdengar seperti seseorang yang baru kehilangan pijakan.

“Karena Liam tidak ingin membuat orang lain khawatir,” jawab Adrian lembut. “Dia pikir cukup kalau dia tanggung sendiri.”

Lara menggigit bibir.

Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyengat kulitnya.

“Adrian, kenapa ibunya ada di sini? Aku pikir keluarga Liam tinggal jauh.” tanya Bella.

Adrian mengangguk. “Iya. Tapi dua minggu lalu ibunya datang berkunjung. Liburan kecil katanya.”

Lara mendengarkan dengan tubuh kaku.

“Tapi nasib buruk tidak pernah mengetuk pintu,” lanjut Adrian. “Seminggu lalu ibunya tiba-tiba jatuh sakit. Harus dibawa ke rumah sakit. Sejak itu, Liam tidak pulang.”

Suara mesin espresso terdengar jauh.

Gemerisik kertas, denting gelas, semua memudar.

Lara merasa dadanya diremas.

Secara brutal.

Secara tiba-tiba.

Ia mengira Liam menyingkir karena tersinggung.

Ia mengira Liam pergi karena ia menolak.

Nyatanya.

Liam sedang menjaga seseorang yang ia cintai.

Lara menelan ludah dengan susah payah. “Bagaimana keadaannya?”

“Dokter belum pastikan apa-apa,” jawab Adrian. “Tapi Liam, dia terlihat sangat lelah.”

Lara menggenggam apron-nya kuat.

Sebelum pergi, Adrian menatapnya dan berkata pelan,

“Kalau kau ingin menjenguk, aku rasa Liam tidak akan menolak.”

Lara tidak menjawab.

Tidak bisa.

Adrian hanya tersenyum kecil, senyum memahami, lalu keluar dari kafe, meninggalkan aroma kopi dan udara dingin di belakangnya.

Pintu tertutup.

Lara tetap berdiri.

Hening.

Tatapan kosong ke arah pintu.

Di dalam dadanya, ada sesuatu yang bergerak.

Pelan.

Tidak nyaman.

Namun hangat sekaligus menyakitkan.

Lara bersandar pada rak kecil, menunduk.

Dalam pikirannya, wajah Liam muncul, tenang, tulus, dan selalu menjaga jarak yang sopan. Tidak pernah mendesak, tidak pernah memaksa. Bahkan saat ia menyatakan perasaan minggu lalu, Liam melakukannya tanpa tekanan. Hanya sebuah kalimat jujur yang diletakkan dengan hati-hati, seolah ia takut menyakiti Lara.

Dan sekarang, pria itu sedang tidur berdiri di rumah sakit.

Sambil khawatir akan kehilangan ibunya.

Sambil menghadapi malam-malam panjang yang sunyi.

Sendirian.

 “Mengapa aku tidak tahu…?”

Bella menghampiri pelan, menatap sahabatnya itu tanpa banyak bicara. Ia tahu Lara sedang berperang dengan dirinya sendiri.

“Kau ingin pergi menengoknya?” tanya Bella lembut.

Lara tertegun. “Aku, tidak tahu.”

“Tapi kau memikirkannya,” Bella tersenyum kecil. “Dan itu cukup sebagai jawaban.”

Lara tidak membalas. Ia hanya menunduk, merasakan sesuatu yang merembes pelan ke dalam dirinya,rasa peduli yang selama ini ia tahan, tetapi kini mulai mencair.

Seperti salju tipis yang menyerah pada matahari.

Seperti hatinya yang diam-diam mulai bergerak, meski ia masih takut melihat ke arah mana gerakan itu akan membawanya.

“Lara,” ujar Bella perlahan, suaranya lembut namun mantap. “Aku memang tidak punya banyak pengalaman soal cinta ataupun hubungan… tapi ibuku pernah bilang satu hal yang selalu kuingat.”

Lara mengangkat wajah, menatap Bella dengan mata yang sedikit bergetar.

“Tidak ada gengsi dalam cinta,” lanjut Bella. “Kalau kau peduli pada seseorang, kau pergi. Kau hadir. Kau ada di sana. Bukan menunggu siapa lebih dulu menghubungi, atau siapa yang harus mengambil langkah pertama.”

Ia menyentuh lengan Lara, memberi tekanan kecil yang hangat.

“Kadang keberanian bukan tentang mengakui perasaan,” bisik Bella. “Tapi tentang memilih untuk tidak membiarkan seseorang menanggung semuanya sendirian.”

Lara menunduk, napasnya goyah.

Kata-kata Bella tidak menekan, justru membuka ruang kecil dalam hatinya yang selama ini ia kunci rapat.

“Cinta tidak butuh gengsi, Lar,” tambah Bella pelan. “Hanya butuh hati yang cukup berani untuk peduli.”

********

Untuk readers selamat datang di karya baru author, untuk yang sudah membaca. Terima kasih banyak, jangan lupa support author dengan like, komen dan vote cerita ini ya biar author semangat up-nya. Terima kasih😘😘😘

1
Lita Pujiastuti
Arga bodoh berkali kali gara2 Dilan . dulu kepincut Dila dan nyesel. Eh.. diajak jahat sama Dila mau juga . bodoh sampe akhir. Karis bagus jd hancur...
Ririn Nursisminingsih
mertuanya👍👍👍
Lita Pujiastuti
Hanya orang tuanya yg mudah terhanyut dg omongan Dila...
Lita Pujiastuti
Duuhh... Ratu drama😁
Lita Pujiastuti
Makin parah aja Dila
Lita Pujiastuti
Madam Dayana... lope you pul.. 😁
Lita Pujiastuti
Dia yg salah . masih nyalahin orang lain
Lita Pujiastuti
Dari dulu selalu memilih jalan yg salah... akhibatnya tambah menderita... Dila... Dila ...
Lita Pujiastuti
Bu Sintia ini sebenernya sama saja dg Dila... nyebelin
Lita Pujiastuti
Arga jg egois... bgmn pun kamu dulu yg memilih Dila, skrg kamu campakkan Dila sprti kamu campakkan Lara dulu .. beruntung Lara skrg punya suami Liam yg tdk plin plan dan sayang sm istri
Lita Pujiastuti
Nah lho.. Dila... tindakan dramamu . mlh bikin dpt talak 1 kan.. mknya jgn suka fitnah orang... kamu skrg kena imbas dr wadulanmu ke ortumu ..
Lita Pujiastuti
Lara itu mbok ya belajar dari madame dayana . tegas dan akurat kalau bicara.. jgn lemah...
Lita Pujiastuti
Untung ada Madam di rmh yg bs belain Lara
Lita Pujiastuti
Dila drama banget... melebih lebihkan cerita.. fitnah Lara
Lita Pujiastuti
itulah jika bahagia dg menginjak kebahagiaan orang lain . kamu dan Arga, sama² menderita batin skrg .. puas kan.. hemmhh...
Ririn Nursisminingsih
salah sendiri ngrebut suami. kakakmu ya ginilah
Lita Pujiastuti
Sejak kapan Arga merasakan kehilangan Lara? sejak ditinggal dulu . atau sejak melihat Lara bahagia dg laki² lain yg memperlakukannya dg baik? is too late...
Ririn Nursisminingsih
sikurin mkanya jg selingkuh rasain noh...
Ririn Nursisminingsih
lara lupakan masa lalu.. biar mereka mnyesal telah hancurin kmu
Lita Pujiastuti
Satu hal Arga, Lara benar² sdh tdk cinta kamu lagi. Salah sendiri dulu kau sia²kan saat dia cinta tulus padamu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!