NovelToon NovelToon
Suami Bayaran

Suami Bayaran

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Yeni Eka

Kisah tentang Cahaya atau Aya (30) seorang pengusaha wanita muda yang sudah menjalin hubungan kasih selama lebih dari 10 tahun dengan kekasihnya yang bernama Rudi. Mereka sudah merencanakan acara lamaran namun tiba-tiba Rudi membatalkan dan memutuskan hubungan dengan Aya tanpa alasan yang jelas. Aya yang tidak ingin membuat ibunya bersedih karena kegagalan acara lamarannya berusaha untuk mencari pengganti Rudi.

Kemudian ia bertemu dengan Rizal (23) seorang OB berwajah tampan. Pertemuan karena salah paham itu membuat mereka semakin dekat. Aya dan Rizal akhirnya sepakat untuk melangsungkan pernikahan istimewa dengan perjanjian tertentu.

Pada akhirnya mereka saling jatuh cinta di dalam ikatan pernikahan istimewa tersebut. Apa yang membuat mereka saling jatuh cinta? Dan bagaimana mereka menyikapi konflik karena kehadiran orang ketiga yaitu orang-orang yang pernah hadir di masa lalu Aya dan Rizal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Analisa Wulan

Sebelum azan subuh berkumandang, Rizal sudah terbangun dan langsung mandi. Sesuai pesan Aya, ia pun berkeramas membuat rambutnya terlihat basah. Saat Aya membuka mata, Rizal sudah bersiap hendak berangkat ke masjid.

"Teh..."

"Husssh... tuh kan panggil Teteh lagi."

"Ma--maksudnya Istri... saya mau ke masjid dulu."

"Hemmm."

"Ja--jangan lupa sebelum salat mandi dulu dan keramas." Rizal mengingatkan.

"Hemmm."

"Assalamualaikum."

"Waalaikum salam."

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Hari ini semua kakak sudah bersiap untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Rizal sedang membantu kakak-kakak iparnya berkemas. Aya sedari tadi memperhatikan Rizal yang membantu berkemas sambil berbincang-bincang dengan kakak atau ibunya.

"Zal... nitip Nong, yah!" ucap Kang Guntur sebelum berpamitan pulang.

"Iya Kang... insyaallah saya akan menjaga istri saya sebaik-baiknya."

"Nanti kapan-kapan kamu maen yah ke rumah Kakang sama Nong juga, nginep biar tahu rumah Kakang."

"Iya Kang, insyaallah."

Sejak subuh tadi Aya memperhatikan Rizal. Ketika berbicara dengan yang lain, Rizal lancar-lancar saja berbicara seperti biasa. Mengapa jika berbicara dengannya, malah jadi gagap.

"Is--istri... a--apa kita jadi ikut ke rumah Teh Wulan?" tanya Rizal.

"Jadi dong," jawab Aya singkat.

"Jam be--berapa berangkatnya?"

"Coba kamu tanya sendiri sama Teh Wulan... soalnya aku juga belum tahu."

Kemudian Rizal menghampiri Wulan hendak bertanya. Aya diam-diam mengikuti Rizal, dia penasaran bagaimana jika Rizal berbicara dengan Wulan apakah akan gagap juga atau tidak.

"Teh... jam berapa berangkatnya?" tanya Rizal kepada Wulan.

"Siang aja habis zuhur... kamu sama Nong ikut kan Zal?"

"Iya Teh ... tapi saya mau ijin pulang dulu, soalnya ga bawa baju salin, kemarin hanya bawa dua kaos saja."

"Oh, ya udah pulang dulu aja ambil baju, tapi jangan lama-lama, sebelum zuhur harus sudah di sini ya," ujar Wulan

"Iya Teh," jawab Rizal.

"Teh... Eh... is--istri sa--saya mau pulang dulu ambil baju," ujar Rizal kepada Aya yang baru saja datang.

"Oh gitu, kalau gitu kamu pakai motor aku aja... salam aja yah sama keluargamu, maaf yah aku belum bisa ikut ke sana," ujar Aya.

"I-iya istri, insyaallah nanti disalamin."

"Suami... nih kunci motornya!"

"I-iya istri... assalamualaikum." Rizal berpamitan.

"Waalaikum salam," jawab Aya.

"Suami... Istri... apaan sih? Aneh dengernya!" ledek Wulan pada Aya usai Rizal pergi.

"Hehehe... itu kan panggilan sayang kita," jawab Aya sambil cengengesan.

"Ih ga so sweet amat."

"So sweet lah ga ada yang nyamain, kan?!" jawab Aya dengan menampilkan senyum manisnya.

"Teh, sini geh!" sahut Aya sambil menarik tangan Wulan dan menggiringnya ke kamar Aya.

"Teh... tadi Teteh denger ga, Rizal kalau ngomong sama Nong ko gagap ya? tapi kalau ngomong sama yang lain mah enggak, normal-notmal aja," tutur Aya. Ia merasa butuh teman curhat untuk menjawab kebingungannya tentang Rizal yang mendadak jadi gagap.

"Masa sih... tapi iya tadi gue denger ngomongnya gagap gitu... memangnya kenapa??" tanya Wulan.

"Ih, justru Nong mau tanya kira-kira kenapa ya? Aneh soalnya."

"Tapi tadi ngobrol sama gue engga gagap ah."

"Iya, makanya dia ngomong gagap sama Nong doang sama yang lain mah engga."

"Mari kita analisa," ujar Wulan dengan wajah serius tapi lucu. Aya hanya tersenyum melihat ekspresi Wulan.

"Sejak kapan dia bicaranya gagap?"

"Sejak kemarin."

"Emmm... apa elo udah begitu-begitu sama dia?" tanya Wulan setengah berbisik.

"Begitu-begitu gimana maksudnya?"

"Jangan pura-pura oon deh... begitu-begitu... kegiatan yes yes!"

"Iya udah," jawab Aya asal tentu saja ia berbohong.

"Menurut analisa gue kemungkinannya dua. Pertama elo terlalu agresif dan dia ga suka atau yang kedua elo kurang agresif dan dia ga suka karena malah suka elo yang agresif. Sekarang tinggal elo nya aja kira-kira elo tuh kemarin terlalu agresif atau malah ga agresif ... tapi menurut gue nih, si Rizal kan orangnya diem, kayaknya kalau cowok diem kaya gitu maunya ceweknya yang agresif." Analisa Wulan panjang kali lebar sama dengan luas.

"Terima kasih banyak atas analisa ngawurnya... dan obrolan unfaedah ini!" seru Aya dengan geram gemas lalu pergi meninggalkan Wulan.

"Wkwkwkwk." Wulan tertawa cekikikan.

Sepertinya percuma curhat ama Teh Wulan,,, omongannya selalu unfaedah. Gumam Aya.

Siang hari setelah zuhur dan makan siang, keluarga besar Aya pun pergi meninggalkan rumah penuh kenangan ini ke tujuan masing-masing, mengendarai mobil masing-masing. Tidak lupa berpamitan pada tetangga di belakang rumah.

Karena Rumah Bu Aisyah ini terletak di sisi jalan raya, jadi sudah tidak punya tetangga kanan kiri seperti dulu, mereka sudah menjual rumahnya kepada orang-orang cina. Tetangga sebelah kanan dan kiri rumah Bu Aisyah kini adalah hanya jajaran pertokoan.

Rumah Bu Aisyah pun sudah banyak yang menawar untuk membelinya dengan harga miliaran rupiah, namun Bu Aisyah belum menginginkan untuk menjual rumahnya. Terlalu banyak kenangan indah di rumah ini. Selama Ibu masih hidup, jangan pernah menjual rumah ini seberapa besar pun harga yang ditawarkan. Rumah ini boleh dijual, jika ibu sudah tidak ada. Begitu pesan Bu Aisyah kepada anak-anaknya. Dan kini rumah ini akan di sewa kan kepada sebuah CV distributor sebuah produk kopi.

Selama dua malam Aya dan Rizal menginap di rumah Wulan. Dan Rizal masih tetap dengan kegagapannya jika berbicara dengan Aya. Aya berpikir untuk membahas masalah kegagapan Rizal nanti saja jika mereka sudah tinggal berdua di rumah Aya. Aya dan Rizal sudah bersiap untuk pulang.

"Nong, bukannya nanti saja pulangnya sebentar lagi, tunggu suamiku pulang kantor biar nanti kalian bisa diantar sampai terminal," ujar Wulan.

"Enggak usah lah... kesorean kalau nunggu Mas Angga pulang... nanti bisa kemalaman sampai rumah." Tolak Aya.

"Beneran kamu bisa pulang sendiri?" tanya Wulan meragukan.

"Eh, si Teteh biasanya juga pulang sendiri... udah gede gini masa ga berani pulang sendiri, apalagi sekarang sudah ada suami," tutur Aya.

"Zal, jaga Nong yah! karena di sana Nong sendirian ga ada keluarga, hanya punya kamu, suaminya." Bu Aisyah berpesan kepada Rizal.

"Insyaallah, saya akan selalu menjaga istri saya, Bu," ucap Rizal sambil mencium punggung tangan Bu Aisyah.

"Nong, kamu juga jadi istri yang baik dan solehah yah." Wejangan Bu Aisyah sambil memeluk dan mencium putri bungsunya.

"Iya Bu... ibu juga jaga kesehatan yah, jangan kecapean," balas Aya.

"Ya sudah Bu, kami berangkat sekarang yah,.. assalamualaikum." Pamit Aya.

"Waalaikum salam... hati-hati yah!" sahut Bu Aisyah dan Wulan.

Aya dan Rizal naik angkot menuju terminal.

"Suami... nanti kita turunnya pas sebelum terminal aja yah, soalnya aku kangen sama mie ayam pangsit yang mangkal di sana, biasanya aku selalu mampir ke situ kalau habis dari rumah Teh Wulan."

"I--iya istri, boleh."

Mereka turun dari angkot lalu berjalan sebentar menuju penjual mie ayam pangsit gerobak. Mereka memesan dua mangkok mie ayam. Walaupun ini hanya mie ayam gerobak tapi soal rasa tidak kalah dengan mie ayam di kedai. Aya dan Rizal duduk di sebuah bangku panjang yang disediakan oleh si penjual, menyantap mie ayam pangsit dan segelas teh manis.

Jalanan di sekitar sini tampak sepi karena memang ini bukan jalan utama yang dilalui angkot, hanya beberapa pengguna motor yang melintas.

"JAMBREEEEEET..... TOLONG!!!!" Terdengar teriakan orang minta tolong.

 

 

 

Bersambung......

 

 

Jangan lupa pijit jempolnya. Like, komen dan vote anda sangat berharga buatku loh. Terima kasih.

1
Puput Regina Putri
itu ..aa ijal nya jangn saya..saya ajh lah kan udah saling bucin gk usah pke bhsa formal gtu
Puput Regina Putri
kesiaaan deh loh🤭
Puput Regina Putri
semangat yah Thor 👍 lanjutkan karya mu bagus
Puput Regina Putri
mam mam tah s batu krikil 🤭😂
Puput Regina Putri
ngok 😂
Puput Regina Putri
gumushh ih 😂
Puput Regina Putri
dasar pelakor galil adab🤭
Puput Regina Putri
uhuk..uhuk..auto bucin
Puput Regina Putri
ea ..ea..ea ...😂
Puput Regina Putri
oh ayolah istri sadarlah klo udah ada prasaan Cinta atw syng gtu
Puput Regina Putri
lanjutkan Thor..mudah"udah tumbuh prasaan cinta nyah buat istri nya nyaman
Puput Regina Putri
emng ada yah penyakit gtu ya Thor 🤭
Puput Regina Putri
kecewa dengan jln fikiran s aya
Puput Regina Putri
SAMAWA yah pengantin 🙏
Puput Regina Putri
cumungut thor
Puput Regina Putri
ngakak thor 😂
Puput Regina Putri
cumungut thor... di tunggu undangan nyah
Puput Regina Putri
aamiin keun zal 😁
Puput Regina Putri
udah terbiasa di panggil nong klo di panggil nma brasa yg manggil nya itu marah yah 😂 sama keg aku gtu biasa di panggil nung klo di panggil nma langsung keg orang sewot 🤭
Puput Regina Putri
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!