Giwang gadis desa yang menikah dengan pujaan hatinya, tapi dia di tinggalkan suaminya setelah tujuh hari menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Rachman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Terima kasih yang sudah vote yang belum silahkan vote ya.
Maaf author hanya update satu bab tapi jika rangking naik sepuluh besar author akan update lebih.
🌻🌻🌻
Giwang membaca satu persatu bahan yang di tulisnya. Dan menjelaskan untuk menu apa bahan itu. Tapi Adlan tetap tidak mendengarkan dia hanya ingin mendengarkan suara merdu gadisnya dan menatap lekat wajah indah itu.
"Sudah Pak," ujar Giwang sembari melirik Adlan. Dari bibir pria itu tersungging senyuman yang di tujukan ke Giwang.
"Pak," ujar Giwang yang merasa aneh dengan pria di sampingnya.
"Eh iya," sahut Adlan gugup sembari menarik kertas yang ada di depan Giwang. Adlan berpura-pura membaca isi kertas itu padahal pikirannya terus membayangkan wajah gadis di sampingnya. Dia menyerahkan kembali kertas itu ke Giwang.
"Jelaskan yang nomor tujuh!" titah Adlan dan tetap memandang Giwang.
Giwang melihat tulisannya dengan sangat cermat. "Maaf Pak, saya tidak menuliskan nomor di setiap bahan," sahut Giwang.
Adlan menggaruk kepalanya.
Kenapa aku jadi bego begini.
"Yang ini," ujar Adlan sembari menunjuk bahan yang di tulis Giwang dengan asal.
"Ini bayam," sahut Giwang. Adlan pura-pura bingung. "Bayam itu seperti apa?" tanyanya pura-pura tidak tau.
Giwang merasa aneh dan bingung, karena yang dia dengar dari Chef Robi sepupunya Adlan sangat cermat dalam soal makanan bahkan sering mengkritik masakan Restoran Zero jika tidak sesuai di lidahnya.
Tapi dengan penuh kesabaran dia menjelaskan satu persatu bahan-bahan itu sampai suara ponsel Giwang berdering.
"Maaf Pak," Giwang ingin beranjak dari kursi tapi tangannya di pegang Adlan, dia melihat Adlan dengan tajam dan pria itu langsung melepaskan tangannya dari tangan Giwang.
"Jawab saja di sini," ujar Adlan.
Giwang kembali duduk dan mengambil ponselnya dari dalam tasnya. "Iya Chef," sahut Giwang. "Kamu di mana?" tanya Chef Robi dari ujung ponselnya. Mendengar kata Chef, Adlan langsung mengambil ponsel Giwang.
"Pak."
Adlan hanya meletakkan jari telunjuk di bibirnya memberi isyarat untuk Giwang diam. Pria itu membawa ponsel Giwang ke ruangan lain.
"Giwang kamu di mana?" tanya Chef Robi lagi dari ujung ponselnya. "Dia di rumahku," sahut Adlan.
"Adlan," ujar Chef Robi. "Jika kamu sudah selesai memarahi kokiku, kirim balik ke sini," ujar Chef Robi dari ujung ponselnya.
"Aku belum selesai," sahut Adlan sembari melirik ke Giwang.
"Adlan jangan seperti itu, Gigi punya alasan mengapa dia mengganti menu," Chef Robi membela.
"Iya aku sudah tau," sahut Adlan sembari melirik gadisnya.
"Ya sudah suruh Gigi balik ke Restoran, aku membutuhkannya di sini," ujar Chef Robi.
"Kokimu banyak kenapa harus dia," sahut Adlan menolak. "Dia spesial," sahut Chef Robi.
"Spesial? Maksudmu apa?" tanya Adlan curiga.
"Maksudku masakannya spesial berbeda dengan masakan dari kokiku yang lain," jelasnya. Chef Robi ingin mengatakan kalau spesial yang di maksud adalah perasaannya ke Giwang tapi dia belum mau mengatakan ke Adlan sampai Giwang menerima cintanya. Beda halnya jika sudah di terima maka dengan bangga Chef Robi memproklamirkan hubungannya ke Adlan.
Mendengar penuturan sepupunya membuat Adlan lega.
"Aku akan menghukumnya dengan memasak makan siang untukku," ujar Adlan dan langsung menutup panggilan secara sepihak.
Adlan ingin mengembalikan ponsel itu, tapi dia mencoba menghubungi nomor ponselnya dengan ponsel Giwang dan menyimpan nomor gadisnya di dalam daftar kontaknya. Dari layar ponsel itu terlihat foto bayi bersama dengan Giwang. Dia mencoba memperhatikan foto bayi itu.
"Mungkin keponakannya," gumamnya dan mengembalikan ponsel itu ke pemiliknya.
"Apa saya di suruh balik?" tanya Giwang ketika Adlan mengembalikan ponsel itu.
"Tidak malah dia menyuruh kamu menginap di sini," sahut Adlan bohong dan mengerjai Giwang.
Mendengar hal itu Giwang langsung menghubungi Chef Robi dan lagi-lagi Adlan menarik ponsel itu. "Bercanda," ujarnya singkat.
Giwang tersenyum lega, senyuman itu membuat Adlan semakin gila, dia memejamkan matanya sembari memegang dadanya.
"Bapak kenapa?" tanya Giwang panik.
"Hah?" Adlan membuka matanya tapi tangannya masih memegang dada.
"Apa Bapak kena serangan jantung?" tanya Giwang takut.
Adlan sadar jika perilakunya membuat Giwang berpikiran demikian. "Tidak saya sehat," Adlan melepaskan tangannya dari dadanya.
"Syukur kalau begitu," sahut Giwang lega.
Ponsel Giwang kembali berdering.
"Siapa itu?" tanya Adlan penasaran.
"Jeje," sahut Giwang dan langsung berlalu ke ruangan lain.
"Sehari saja dia di sini tingkahku sudah seperti orang gila, apalagi dia jadi istriku mungkin benar-benar terkena serangan jantung," gumam Adlan pelan.
"Iya Jeje," sahut Giwang.
"Aduh Gawang kamu di marahi Pak Adlan ya?" tanya Jeje dengan cara bicara yang mendayu-dayu.
"Enggak," sahut Giwang singkat.
"Hah enggak?" tanya Jeje tidak percaya.
"Pak Adlan baik, dia tidak marah sama sekali denganku malah aku tidak di izinkan pergi ke Restoran," jelas Giwang.
"Aneh, itu bukan sifat Pak Adlan biasanya tidak ada toleransi untuk siapa pun yang melakukan kesalahan," ujar Jeje.
"Mungkin Pak Adlan sudah insyaf," sahut Giwang.
"Mungkin juga, tapi seharusnya kamu mengatakan kepadaku satu hari sebelumnya kalau bahan di kulkas sudah kosong," ujar Jeje.
"Aku lupa dan tadi pagi mau mengabari kamu tapi berhubung waktu tidak memungkinkan jadi aku masak saja omlet dan syukurnya lagi Pak Adlan enggak marah," jelas Giwang.
Dari balik dinding Adlan coba mendengarkan percakapan gadisnya dengan sekretarisnya.
"Tapi jangan ulangi lagi, kamu kirim ke aku bahan yang mau di beli," ujar Jeje.
"Sebentar ya," Giwang kembali ke dapur dan Adlan buru-buru ke dapur lebih dulu. Karena kecerobohannya lututnya membentur kaki meja.
"Aw," gumamnya sembari meringis. Giwang melirik Adlan yang menyengir tidak jelas. Dia ingin memotret tulisannya.
"Kenapa di foto?" tanya Adlan masih menyengir kesakitan.
"Jeje yang mau beli bahan makanan," sahut Giwang.
"Tidak perlu, kita yang akan belanja," ujar Adlan sembari mengelus lututnya.
"Oh," Giwang menganggukkan kepalanya sembari tersenyum dan Adlan lagi-lagi bersikap aneh, dia menjedotkan kepalanya ke meja makan secara berulang.
"Bapak sakit kepala?" tanya Giwang heran.
"Enggak," sahut Adlan dengan kepala masih berada di atas meja.
Kenapa aku terus bersikap konyol.
"Jam berapa belanjanya?" tanya Giwang.
"Sekarang," sahut Adlan sembari beranjak dari kursi. Berjalan dengan kaki sedikit pincang dan semuanya di perhatikan Giwang. Dia merasa aneh dengan pria itu.
"Bapak ada asam urat?" tanya Giwang. Adlan langsung berhenti dan menoleh ke gadisnya.
"Apa saya terlalu tua di mata kamu sampai bisa mengatakan kalau saya ada asam urat," protes Adlan.
"Bu-bukan itu, kalau Bapak ada asam urat saya bisa mengganti bahan yang bisa memicu asam urat dengan yang lain," sahut Giwang gugup sembari menunjuk ke arah kaki Adlan.
Adlan melihat ke arah kakinya.
"Saya tidak ada penyakit asam urat," jelasnya.
"Oh syukur kalau begitu," sahut Giwang kembali tersenyum.
"Stop!" titah Adlan. "Jangan tersenyum please," ujar Adlan.
Giwang menganggukkan kepalanya tidak mengerti.
Bersambung...
Follow Instagram : anita_rachman83
seputar novel hanya di info di instagram tidak ada di grup.
🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014!