Sana hanya ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya sekaligus ibu yang baik baik anak tirinya.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pernikahan itu akan mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya.
Seseorang yang ternyata belum benar-benar melupakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manusia, kan?
...#••...
Sebut saja Jay pengecut, pecundang, atau sebutan buruk lainnya karena ia baru berani menemui perempuan yang dicintainya setelah seminggu mendengar fakta yang “mengejutkan” darinya.
Oh, ayolah, saat ini kepalanya benar-benar pening. Kegiatan sekolahnya sudah dipenuhi dengan berbagai ujian akhir tahun, ditambah 3 bulan lagi ia akan mengikuti seleksi masuk universitas.
Sepulang sekolah tadi, tepatnya pukul 4 sore setelah mengikuti try out, Jay langsung bergegas ke gereja tanpa menghiraukan ajakan nongkrong teman-teman sekelasnya.
Saking jarangnya berkumpul dengan mereka, ia sampai di cap tidak solid. Menurut teman-temannya, tahun terakhir di SMA seharusnya menjadi waktu bagi mereka untuk semakin akrab karena sebentar lagi akan berpisah.
Cih, mengingat itu, Jay rasanya ingin tertawa saja. Kenapa harus menunggu kelas 12 untuk mulai mengakrabkan diri? Kenapa tidak dari awal saja?
Jay menghela napas panjang sembari menatap secarik kertas yang diberikan oleh petugas gereja tadi. Ternyata, perempuan itu sudah bekerja di rumah pendeta sejak seminggu yang lalu. Saat dirinya masih bergulat dengan pikirannya sendiri, perempuan itu justru memilih untuk melanjutkan kehidupannya seperti biasa.
“Gini nih, kalau nggak punya hp, susah komunikasinya!” gerutu Jay seorang diri.
Ia kemudian berjalan menghampiri motornya sambil memasukan secarik kertas berisi alamat rumah itu ke saku jaketnya.
“Nanti gue beliin dia hp deh,” gumamnya lagi setelah mengirim pesan kepada ayahnya.
Meskipun ayahnya jarang berada di rumah dan hanya pulang sekitar 4 kali seminggu, hubungan mereka tetap baik. Keduanya sering berkomunikasi lewat telepon, jadi Jay tidak merasa kehilangan sosok ayah hanya karena mereka jarang bertemu langsung.
Jay juga sadar diri. Meskipun dirinya jauh dari pantauan ayahnya, ia tidak pernah berpikir untuk menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan kepadanya apalagi sampai melakukan hal yang tidak seharusnya.
Mungkin karena ayahnya tidak terlalu mengekang ataupun membebaninya dengan berbagai ekpektasi, Jay merasa kehidupan yang dijalaninya sekarang sudah lebih dari cukup. Ia punya kebebasan, kebutuhan hidupnya terpenuhi, dan ayahnya memberinya kepercayaan untuk menjalani hidup sendiri tanpa harus terus-menerus berada di bawah pengawasan. Lantas, untuk apa mencari masalah?
Yang jelas, ia merasa sangat beruntung memiliki ayah seperti papanya sekarang.
Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam 30 menit, akhirnya Jay tiba di alamat yang dicarinya. Namun, alih-alih melihat rumah yang dituju, ia justru disambut pagar hitam tinggi yang menutupi seluruh bangunan di baliknya.
Jay turun dari motor, lalu melepaskan helmnya. Pandangannya berkeliling, mencari bel atau celah apa pun yang bisa ia gunakan untuk masuk, tapi tak satu pun berhasil ia temukan.
Ingin bertanya kepada orang sekitar, tapi mau bertanya kepada siapa? Kompleks perumahan itu begitu sepi. Masa iya harus bertanya kepada angin?!
“Batu banget, sih, Kak, jadi orang,” lirih Jay saat kembali menatap pagar hitam yang menjulang di hadapannya.
Entah kenapa, ia merasa tidak nyaman melihatnya. Pagar setinggi itu membuatnya merasa seolah-olah rumah di baliknya sengaja dikurung agar tak ada yang bisa keluar masuk dengan mudah.
“PERMISI!!!” teriak Jay, meskipun ia sendiri tak yakin suaranya akan terdengar sampai ke dalam.
“PERMISI!!!” serunya sekali lagi sebelum mengembuskan napas kesal. “Anjirlah! Suram banget nih aura rumah.”
Jay mundur beberapa langkah dari pagar, lalu mendongak menatap langit yang mulai kelabu. Entah sebentar lagi akan turun hujan atau hari memang sudah beranjak malam.
“Ini orang-orang pada kemana dah? Berasa cuma gue yang tinggal di bumi,” gerutunya.
Perasaan kesal dan takut bercampur aduk. Ia khawatir sesuatu terjadi pada perempuan itu, tetapi juga kesal karena perempuan tersebut selalu menolak bantuannya.
Akhirnya, Jay kembali menaiki motornya. Kalau ada apa-apa, ya, gampang. Tinggal gas!
Untuk mengusir rasa tidak nyaman sembari menunggu penghuni rumah itu keluar atau seseorang melintas, Jay membuka sosial media di ponselnya untuk mengusir kebosanan.
“Cari siapa, Dek?”
“Anjing!”
Jay tersentak hingga bahunya terangkat. Ponsel di tangannya nyaris terlepas saat suara itu tiba-tiba terdengar tepat di sampingnya. Jantungnya berdegup kencang.
Sialan, sejak kapan ada orang di situ?!
“Aduh, ngagetin, ya?”
Jay buru-buru menoleh. Seorang pria berpakaian serba hitam berdiri tak jauh darinya dengan kalung salib yang tergantung di lehernya.
“Cari siapa, Dek?” tanya pria itu sekali lagi.
Jay tidak langsung menjawab. Matanya justru turun, mengamati kaki pria itu. Memastikan apakah orang yang berdiri di sampingnya ini benar-benar manusia atau jangan-jangan…
“Saya manusia, Dek, bukan hantu.” Pria itu terkekeh, mungkin menyadari tatapan curiga dan wajah pucat Jay.
Masih belum sepenuhnya yakin, Jay melongok ke belakang pria itu. Di sana terparkir sebuah mobil hitam.
“Kok gue nggak denger deru mobilnya, ya?” gumam Jay, lebih kepada dirinya sendiri.
Tadi ia memang asyik bermain ponsel. Namun, kompleks itu begitu sepi hingga suara sekecil apa pun seharusnya terdengar. Setidaknya samar-samar. Masa iya mobil bisa datang tanpa suara sama sekali?
Mendengar gumaman itu, pria tersebut kembali terkekeh. “Mungkin Adek terlalu fokus main hp, jadi nggak denger suara mobil saya.”
Jay menelan ludah. Penjelasan itu masuk akal.
Setelah memastikan pria itu memiliki bayangan dan kedua kakinya menapak tanah, Jay akhirnya turun dari jok motornya.
“Jadi, Adek cari siapa sampai nunggu di depan rumah saya?” tanya pria itu lagi.
“Gue cari Kak Sua.”
“Oh, kamu adiknya Sua?”
Kening Jay mengerut. “Adik?”
“Kasihan banget. Kamu pasti udah nunggu lama, ya?” Kata pria itu, lalu berjalan mendekati pagar.
Jay memperhatikan dari belakang. Ia tak melihat pria itu mengeluarkan kunci ataupun menekan tombol apa pun. Namun, beberapa saat kemudian, pagar tersebut perlahan terbuka.
Anjir. Tadi buka pagarnya pakai apa?
“Ayo, masuk, masuk,” ajak pria itu sambil menoleh kepada Jay.
...[...]...
#•• masa lalu
••• masa sekarang
SAY HI, DONGGG