Ujian dalam rumah tangga Aini dan Andra dimulai saat Andra mendapat kenaikan jabatan di perusahaan tempatnya bekerja
Ekonomi yang membaik, membuat Andra mulai merasa bosan dengan istrinya yang menurutnya tidak bisa merawat diri, hingga membuatnya terjerat pesona rekan kerjanya sendiri
Aini begitu terluka, saat suaminya membawa seorang wanita yang tengah berbadan dua yang ia perkenalkan sebagai istri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Aini menunggu hingga tengah malam namun suaminya itu tidak kunjung sampai dirumah. Sejak tadi ia menelepon namun Andra tidak menjawabnya
Hingga pukul dua pagi barulah terdengar suara mesin mobil yang memasuki pekarangan rumah
Andra memutuskan untuk tetap kembali kerumah membiarkan Sarah menghabiskan malam dihotel itu sendiri
Ini dilakukan agar Aini tidak curiga, Andra juga masih belum memiliki cukup keberanian untuk mengungkapkan semuanya pada istrinya
Saat membuka pintu kamar, Andra terkejut karena istrinya berdiri dengan tatapan penuh curiga
"Dari mana aja kamu mas? Kok bisa jam segini baru pulang?" Tanya Aini menatap penuh selidik
"Kenapa kamu belum tidur? Ini udah mau pagi" Andra melenggang masuk lalu menutup pintu kamar dengan rapat
"Aku dari tadi teleponnin kamu, tapi Hp kamu mati"
"Hp mas lowbat dek" Jawab Andra
"Tadi ibu kesini"
Andra membeku, sepertinya Aini memang telah mengetahui kebohongannya perihal uang yang Andra berikan
"Mau apa ibu kesini?"
"Ibu marah dan nuduh aku. Katanya kamu belum kirim uang ke ibu" Aini mendekat, mencari kebohongan dari pria yang telah menikahi nya itu
"Kemana uang bulanan untuk ibu?" Tanyanya dengan mata yang menatap langsung kedalam manik hitam itu
"Maksud kamu apaan sih? Mas emang mau kasih uangnya ke ibu, cuma emang belum sempet aja" Ujar Andra lalu mengalihkan pandangannya kearah lain
"Secepatnya! Faris butuh untuk biaya kuliahnya, aku juga gak mau terus-terusan dianggap matre sama ibu"
"Iya, kamu tuh kenapa sih? Kamu pasti mikirnya yang macem-macem! Kamu pasti nuduh mas selingkuh kan?"
Aini mengerutkan keningnya, kenapa ucapan suaminya terkesan mengada-ada
"Aku gak bilang kalau kamu selingkuh, apa kamu beneran selingkuh, mas?"
Andra terdiam, ia asal bicara. Aini tidak menyebut kata selingkuh, lalu kenapa ia membongkar borok sendiri
"Apaan sih kamu! Udahlah, mas capek banget loh. Mas itu habis lembur! Tapi kamu malah ngomong yang enggak-enggak"
Andra berlalu menuju kamar mandi, sementara Aini mulai menaruh curiga pada suaminya
Semua ini tidak seperti biasanya. Beberapa bulan ini suaminya itu telah banyak berubah, Aini tidak bisa membayangkan jika suami yang ia cintai benar-benar telah mendua
Pagi-pagi sekali Aini sudah bangun, sementara suaminya masih terlelap karena ini adalah hari libur jadi ia biarkan saja Andra tidur
Aini turun kebawah sambil membawa pakaian kotor dari kamar. Hari ini ia akan mencuci pakaian sebelum membuat sarapan
Saat tengah memasukkan kemeja milik Andra kedalam mesin cuci, tiba-tiba saja pandangan Aini tertuju pada kerah kemeja putih itu
Aini melihatnya dengan seksama, bahkan ia menyentuhnya. Jantungnya berdetak kencang, ia tidak ingin curiga tapi ini jelas membuat hati ini ragu
Bagaimana bisa terdapat noda lipstik di kerah kemeja suaminya, Aini juga menghirup aromanya dan ini jelas parfum seorang wanita
"Apa mas Andra benar-benar selingkuh?" Aini menggeleng, ia tidak akan sanggup jika mengetahui pria yang dicintai membagi hatinya
"Tapi kenapa mas Andra melakukan ini? Apa mas Andra sudah tidak mencintai aku lagi?"
Aini memilih menyimpan kecurigaan ini dalam hati, ia akan mencari kebenarannya nanti
Jika bertanya pada suaminya, jelas Andra akan mengelak dan membuat mereka semakin berhati-hati
Aini bersikap seperti biasa, ia menyapa saat Andra terlihat menghampiri meja makan. Karena weekend, maka mereka sedikit bersantai
Andra tengah bermain bersama putrinya usai sarapan. Hari libur memang ia manfaatkan untuk bersama keluarga kecilnya ini. Untuk Sarah, mereka masih memiliki banyak waktu
"Kopinya mas!" Aini meletakkan segelas kopi susu diatas meja sementara Andra masih bermain bersama putrinya yang semakin hari semakin menggemaskan
"Putri Ayah ini makin berat aja!" Andra mengangkat tubuh putrinya membuat bayi kecil itu tertawa
Aini memaksakan dirinya untuk terlihat baik-baik saja, walaupun mulut ini rasanya terlalu gatal untuk bertanya
"Ada apa dek? Kamu keliatan banyak pikiran" Andra bertanya karena sejak tadi istrinya itu diam saja
"Gak apa-apa kok mas, aku cuma gak enak badan aja" Jawab Aini sambil memaksakan senyumnya
"Makanya kamu itu kalau capek ya istirahat! Jangan kerja terus" Andra mengingatkan istrinya itu
"Oh iya mas, soal tawaran mas waktu itu gimana?"
Andra mengernyit, mencoba mengingat lagi apa tawaran yang pernah ia berikan pada istrinya
"Tawaran apa?"
"Waktu itu kan mas Andra bilang kalau kita sebaiknya pake jasa pembantu, gimana menurut kamu?"
Andra diam, saat itu memang dirinya pernah mengatakan agar mereka menggunakan jasa asisten rumah tangga
Tapi keadaan sekarang sedikit rumit, pengeluaran akan bertambah jika menggunakan jasa asisten rumah tangga dan itu akan mengurangi jatah yang harus ia berikan pada Sarah
Jangan lupakan jika saat ini ia memiliki dua orang wanita yang harus dibiayai. Ini saja ia kekurangan uang, karena Sarah yang minta macam-macam
"Sebaiknya jangan sekarang dek, gaji mas juga belum banyak! Lagian rumah kita kan kecil" Andra berucap, mencoba memberi alasan agar istrinya itu percaya
"Kita gak perlu pake yang tinggal, mas! Kita sewa aja yang masuk pagi pulang sore, gimana?"
"Udahlah! Kemarin kan kamu bilang sendiri kalau kita belum perlu, udahlah. Mending uangnya ditabung aja buat masa depan Kasih"
Mendengar itu membuat kecurigaan Aini semakin mendalam, apa yang Andra katakan kemarin dan hari ini jauh berbeda
"Ya udah kalau menurut mas itu yang terbaik" Aini tersenyum lalu kembali sibuk bermain bersama buah hatinya
"Makasih yaa dek, kamu emang istri terbaik"
nunggu aini kerja gajian anakmu dah mati, di tinggal ke kantor suami mu, kl gk di kasih susu ma Sarah seharian gimana. kok gk mikir to aini ini. saking miskin dah oon nya.