Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: KABUR
Sudah tiga hari Bintang mode perang dingin. Tidur di kamar tamu, makan dan berangkat kerja masing-masing.
“Tang, bareng?” sapa Angkasa saat pakaiannya sudah rapi akan berangkat ke kantor.
Bintang menggeleng.
“Di meja makan ada telor ceplok buat kamu. Biar makin kuat cuekin aku.” Ucap Angkasa lalu melengos pergi duluan.
Menurut Angkasa ia sudah sabar menunggu Bintang melunak. Keras sekali usaha Angkasa agar di kantor tidak nampak sedang perang dingin. Tetapi, tentu masih terlihat bagi seorang Jingga.
Dua hari setelah kena Maag akut Bintang tidak masuk kerja. Ia ijin sakit pada Jingga. Namun, pagi itu ia memutuskan untuk masuk ke kantor. Walau agak siang.
Pukul 10 pagi. Mejanya dan meja Jingga kosong.
Di dalam ruangan Angkasa.
Jingga masuk dengan beberapa dokumen yang harus Angkasa teliti.
“Kok banyak?” tanya Angkasa.
“Iya lumayan, belum di periksa semua.” Jawab Jingga akan meletakan di atas mejanya.
“Stop. Di situ saja. Bantu aku memilih skala prioritasnya dulu, Jing.” Pinta Angkasa. Sehingga tumpukan dokumen itu mendarat di meja sofa. Keduanya pun tenggelam dalam pekerjaan.
“Bintang sakit apa?” di sela mereka bekerja, Jingga tentu kepo dengan bosnya yang sudah dua hari tidak masuk.
“Kena maag.” Jawab Angkasa tidak melepas fokusnya dari dokumen di tangannya.
“Lu yakin dia sakit maag?”
“Iya, kami sudah ke dokter.” Jawab Angkasa datar.
“Lu udah jujur sama Bintang?” tanya Jingga lagi.
Angkasa menggeleng.
Kepala Jingga terangkat, melihat respon Angkasa.
“Lu kenapa nunda waktu. Sakit maag itu pemicunya stress, Kassa!”
“Aku udah coba, mau bicara. Tapi dia gak mau denger.”
"Baru mau bicara"
"Artinya belum." Simpul Jingga terdengar kesal."
"Belum aku bicara, dia sudah tidak mau dengar." Jawab Angkasa masih terlihat sibuk meneliti dokumen.
“”Kapan?”
“Kemarin lusa. Setelah ku jemput dari rumah mertuaku.”
“Rumah mertua? Bintang pergi ke rumah orang tuanya?” ulang Jingga lagi.
“Iya, sebelumnya dia mendapati aku sedang bermain dengan Damar di warung Bumi.” Akhirnya Angkasa melepas dokumen dari tangannya. Lalu menyandarkan tubuhnya seperti orang frustasi.
“Kassa, lu parah sih.” Jingga juga sudah tidak memegang dokumen. Dia berdiri mendekat dan berkacak pinggang menghadap Angkasa.
Tepat.
Bersamaan dengan itu, Bintang masukk setelah mengetuk sebentar pintu ruangan Angkasa.
Bintang tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.
Yang tertangkap matanya.
Angkasa bersandar di sofa dan Jingga berdiri tak jauh, bahkan berkacak pinggang. Posisi yang cukup dekat dan berani untuk ukuran pegawai baru yang selama ini terlihat hormat pada Angkasa.
“Wah … kalian lagi bahas apa?” tanya Bintang merasa aneh. Dokumen memang sedang banyak di meja sofa itu. Tetapi dia tidak melihat jika kedua orang itu sedang bekerja.
“Oh … tidak bu. Kami hanya sedang berselisih pendapat dengan isi beberapa dokumen ini.” Jawab Jingga. Sedangkan Angkasa sudah buru-buru berdiri. Baginya Bintang ke ruangannya Bagai Oasis. Karena di rumah ia bahkan tidak menampakan dirinya.
"Tang..."
“Eh, Pak Dirut. Saya mau info akan ke Sidoarjo. Ada masalah di sana. Permisi, silahkan di lanjutkan.” Ujarnya berbalik akan meninggalkan ruangan Angkasa.
“Tang, aku gak ijinkan kamu pergi.” Angkasa tidak peduli ada Jingga di dalam ruangannya. Pinggang Bintang sudah di rengkuhnya dari belakang. Bintang kini dalam pelukannya.
“Aku tidak meminta ijinmu, tadi hanya pemberitahuan.” Tegas Bintang berusaha melepas pelukan Angkasa.
“Aku ikut.” Tegas Angkasa makin mengerat pelukannya.
“Aku Bintang, yang apa-apa bisa sendiri. Bukan Bumi dan Damar yang selalu butuh kamu.” Bintang menginjak kaki Angkasa lalu berhasil kabur.
“Tang.” Teriak Angkasa.
“Stt … ini di kantor!” Bintang berbalik lalu menghardik Angkasa yang langsung terdiam. Juga menahan sakit kaki setelah kena hak Sepatu Bintang.
Sedapat mungkin Angkasa mengejar Bintang, tetapi langkan Bintang lebih cepat dari Angkasa. Kini tubuh itu hilang di balik kotak berjalan yang akan mengantarnya ke lantai dasar.
“Maaf, ijin menyampaikan bu. Pak Devan sudah 5 hari tidak turun bekerja. Kami tidak mendapat pesan arahan pekerjaan lagi.” Itu isi pesan teks yang masuk pada ponsel Bintang dari salah satu pekerja di Gudang yang di kepalai oleh Devan.
Bersambung …
Siapa yang setuju Bintang kabur lama aia?
bagus Tang......biarkan angkasa merasakan kesendiriaannya tanpa bintang......masihkah Bintang diperlukan atau semakin bebas dengan para wanitanya......
siapa tahu.....mah kamu awal kehamilan.....bulan depan ga datang tuh tamu bulanan mu......