NovelToon NovelToon
Dukun Gadungan

Dukun Gadungan

Status: tamat
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Al-Ashar

Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cahaya Baru di Pegunungan Mamasa

Fajar menyingsing di balik kabut tebal yang menyelimuti lereng-lereng terjal Pegunungan Mamasa. Aroma biji kopi sangrai dan asap kayu bakar dari dapur tongkonan menyatu dengan udara dingin pegunungan. Keberhasilan menembus barikade Daeng Sangkala semalam tidak hanya menyelamatkan puluhan ton biji kopi milik Koperasi Balla, tetapi juga meruntuhkan dinding ketakutan yang selama belasan tahun mengurung mental para petani lokal.

Pagi itu, puluhan petani dari desa-desa tetangga mulai berdatangan ke Desa Balla. Mereka membawa karung-karung sampel kopi mereka sendiri, berjalan kaki menembus rimbunnya hutan untuk bertemu langsung dengan Mamat dan tim pendamping Brajamukti.

Mamat duduk bersila di teras kayu tongkonan, dikelilingi oleh para ketua kelompok tani. Di sampingnya, dua alumni akademi muda sibuk mencatat data kadar air dan varietas kopi yang dibawa oleh para warga.

"Pak Eko..." kata seorang petani tua dari Desa Osango dengan tangan yang bergetar memegang karung goni kecilnya. "Apakah kopi dari desa kami yang terpencil ini juga bisa dijual dengan harga adil lewat koperasi seperti kopi Desa Balla?"

Mamat mengambil segenggam biji kopi beras (green bean) dari karung petani tersebut, mengamatinya dengan cermat di bawah sinar matahari pagi.

"Kopi dari desa Bapak punya kualitas varietas Arabika super," kata Mamat dengan senyum hangat. "Selama ini harganya murah bukan karena kopinya jelek, Pak, tapi karena Bapak tidak punya akses informasi pasar dan tidak punya timbang digital yang jujur. Mulai minggu depan, tim akademi kami akan datang ke desa Bapak. Kita buat unit pengolahan bersama di sana."

Mata petani tua itu berkaca-kaca. Ia berkali-kali menjabat tangan Mamat dengan penuh rasa syukur.

Darto dan Bowo yang memantau dari tepi teras menyenggol lengan satu sama lain.

"Mat," bisik Darto seraya menyerahkan segelas kopi hangat. "Berita tentang peristiwa semalam sudah sampai ke Gubernur Sulawesi Barat. Beliau mengapresiasi keberanian tim kita dan siap menurunkan personel Satpol PP dan Kepolisian buat mengawal seluruh jalur distribusi kopi dari Mamasa ke Pelabuhan Makassar."

Mamat menyesap kopinya perlahan. "Pengawalan itu bagus, To. Tapi yang paling penting adalah memastikan para alumni akademi kita di sini tidak jumawa. Kepercayaan warga Mamasa ini mahal sekali nilainya. Sekali ada staf kita yang main mata sama pembeli besar atau memotong timbangan warga, seluruh bangunan kepercayaan ini bakal hancur."

"Tenang, Mat," sahut Bowo mantap. "Anak-anak akademi di sini sudah teruji. Mereka tidak memikirkan komisi perorangan, seluruh deviasi harga dikembalikan seratus persen ke kas koperasi warga."

Setelah empat hari mendampingi konsolidasi koperasi di Mamasa, Mamat, Darto, dan Bowo kembali ke Makassar sebelum terbang menuju Surabaya. Di dalam penerbangan, Mamat tidak tidur. Jemarinya sibuk mencoret-coret draf rencana besar di dalam buku catatannya.

Pengalaman di Mamasa makin meyakinkan Mamat bahwa tantangan terbesar ekonomi kerakyatan di Indonesia bukan cuma soal keterbatasan modal, melainkan krisis pendamping berkepribadian kuat.

"Darto, Bowo," panggil Mamat seraya menunjukkan draf catatannya saat pesawat telah mendarat di Bandara Juanda, Surabaya.

"Ada apa, Mat?" tanya Darto seraya merapikan tas dokumennya.

"Kapasitas Brajamukti Center di Umalas sudah tidak sanggup menampung gelombang pendaftar akademi yang tiap bulan tembus ribuan orang," jelas Mamat. "Kita tidak bisa lagi memusatkan seluruh pendidikan di Bali. Kita harus membangun Kampus Regional Akademi Pendamping Rakyat di empat pulau utama: Sumatra, Jawa, Sulawesi, dan Papua."

Bowo melotot kaget. "Empat kampus regional sekaligus, Mat?! Itu butuh investasi tempat, kurikulum, dan pengajar yang luar biasa banyak!"

"Tempat dan fasilitas bukan masalah, Wo," jawab Mamat penuh kepastian. "Banyak pemerintah daerah dan universitas negeri yang siap hibahkan lahan dan gedung tidak terpakai. Pengajarnya? Ya para alumni senior kita yang sudah teruji di lapangan seperti Rian, Anisa, dan tim Mamasa ini. Mereka yang paling tahu bau keringat rakyat dan seluk-beluk masalah jalanan."

Darto mengangguk-angguk paham, matanya berbinar melihat skala gerakan yang makin meluas. "Kalau empat kampus regional ini berdiri, kita bisa melatih sepuluh ribu pendamping jujur tiap tahunnya!"

"Bukan cuma melatih," tambah Mamat seraya melangkah menyusuri garbarata bandara. "Kita sedang mencetak generasi baru pimpinan masyarakat yang punya otak cerdas dan hati yang tidak bisa dibeli dengan uang."

Setibanya di Surabaya, Mamat dan timnya dijadwalkan menghadiri pertemuan tingkat tinggi di sebuah hotel berbintang di kawasan Jalan Pemuda. Pertemuan tersebut digagas oleh PT Nusantara Mega Corpora, sebuah konsorsium konglomerasi multinasional yang bergerak di bidang ritel, perkebunan, dan jaringan logistik terbesar di Indonesia.

Di dalam ruang rapat eksklusif yang mewah, Mamat duduk berhadapan dengan pimpinan puncak konsorsium tersebut, Bapak Irwan Wijaya—seorang pengusaha senior berwibawa yang menguasai jaringan distribusi bahan pokok di puluhan kota besar.

Irwan Wijaya menyodorkan draf dokumen kerja sama tebal bersampul kulit emas di atas meja.

"Pak Eko Prasetyo..." buka Irwan Wijaya dengan suara bernada mantap dan ramah. "Kami sangat mengagumi jaringan pendampingan Brajamukti yang menjangkau ribuan koperasi desa di seluruh Indonesia. Perusahaan kami ingin mengucurkan dana investasi sebesar Satu Triliun Rupiah untuk membiayai seluruh operasional Akademi Anda dan menyerap seluruh hasil tani binaan Anda secara eksklusif."

Darto yang duduk di samping Mamat sempat tertahan napasnya mendengar angka fantastis tersebut: Satu Triliun Rupiah! Sebuah angka yang bisa membuat lembaga mana pun menjadi raksasa dalam semalam.

Namun Mamat tidak terpesona. Ia tidak terburu-buru membuka dokumen bersampul emas tersebut. Jemarinya mengetuk meja kayu jati dengan irama lambat.

"Satu triliun rupiah adalah angka yang sangat besar, Pak Irwan," kata Mamat tenang. "Tapi saya ingin tahu: apa arti kata 'eksklusif' di dalam draf perjanjian ini?"

Irwan Wijaya tersenyum tipis, menyandarkan punggungnya ke kursi kulitnya. "Sederhana, Pak Eko. Seluruh hasil panen kopi, kakao, beras, dan rumput laut dari desa-desa binaan Brajamukti harus dijual seratus persen ke jaringan perusahaan kami. Kami yang menentukan patokan harga beli tahunan, dan Koperasi Anda tidak boleh menjual ke pihak lain atau mengekspor secara mandiri."

Mamat menyunggingkan senyum khasnya—senyum dingin yang mengisyaratkan bahwa otaknya yang terasah di jalanan telah menangkap udang di balik batu.

"Pak Irwan..." kata Mamat pelan seraya menggeser kembali dokumen tebal itu ke hadapan sang konglomerat. "Jika seluruh hasil panen warga harus dijual eksklusif ke perusahaan Bapak dan harganya ditentukan tunggal oleh pihak Bapak... itu namanya bukan 'kemitraan'."

Irwan Wijaya mengerutkan dahi. "Lalu Anda menyebutnya apa?"

"Itu namanya monopoli terstruktur berkedok investasi," jawab Mamat tanpa keraguan sedikit pun. "Bapak cuma ingin memakai nama bersih Brajamukti untuk menggantikan posisi tengkulak-tengkulak kecil di desa dengan tengkulak raksasa berjas rapi."

Suasana ruang rapat mewah itu seketika berubah menjadi sangat dingin dan tegang! para direksi PT Nusantara Mega Corpora yang duduk di belakang Irwan Wijaya melotot kaget atas keberanian Mamat menolak mentah-mentah tawaran dana satu triliun rupiah!

Irwan Wijaya menatap Mamat dengan tatapan mata yang tajam, raut ramahnya perlahan sirna digantikan oleh ketegasan seorang penguasa pasar.

"Pak Eko," kata Irwan Wijaya dengan suara diperberat. "Jangan emosional. Di dunia bisnis modern, skala ekonomi adalah segalanya. Tanpa jaringan modal dan logistik raksasa seperti milik kami, koperasi-koperasi kecil binaan Anda bakal kesulitan bersaing saat pasar global bergejolak. Anda menolak dana satu triliun ini demi kesombongan?"

Mamat berdiri dari kursinya, merapikan kemeja batiknya dengan sangat anggun. Darto dan Bowo ikut berdiri di sampingnya dengan posisi tegap.

"Ini bukan soal kesombongan, Pak Irwan," tegas Mamat, menatap lurus ke dalam mata sang konglomerat. "Ini soal kedaulatan rakyat kecil. Brajamukti didirikan bukan untuk menjual keringat petani ke satu korporasi besar. Kami mendidik warga agar mereka punya daya tawar, agar mereka bisa menentukan harga produk mereka sendiri secara adil di pasar bebas."

Mamat melangkah satu tindak menuju pintu keluar, lalu membalikkan badan sejenak.

"Jika kami menerima uang satu triliun Bapak dengan syarat mengikat leher petani binaan kami... maka saya tidak ada bedanya dengan Mamat sang penipu gadungan di masa lalu," pungkas Mamat santun namun menohok. "Terima kasih atas tawaran minum tehnya, Pak Irwan. Selamat sore."

Mamat, Darto, dan Bowo melangkah keluar dari ruang rapat mewah tersebut dengan kepala tegak, meninggalkan para direksi konglomerasi yang terpaku membisu di dalam ruangan.

Di dalam mobil yang membawa mereka menuju bandara, Darto menghela napas panjang seraya tersenyum lega.

"Mat..." kata Darto. "Jujur, tadi pas dengar kata 'satu triliun', lututku sempat gemetar. Tapi pas kamu tolak... rasanya dadaku plong banget."

Bowo terbahak-bahak dari kursi depan. "Itulah bedanya Mamatya kita yang sekarang, To! Dulu uang lima puluh ribu saja dikejar sampai ke semak-semak, sekarang uang satu triliun ditolak di depan mukanya konglomerat!"

Mamat tertawa renyah bersama dua sahabatnya. "Uang satu triliun itu kalau didapat dari mengorbankan kedaulatan petani cuma bakal jadi racun buat jiwa kita, To. Kita memang butuh modal, tapi modal yang datang dari kemitraan yang setara dan jujur, bukan dari penyerahan diri."

Tiga bulan kemudian, keputusan Mamat menolak monopoli korporasi raksasa membuahkan hasil yang jauh lebih mengagumkan.

Sebagai gantinya, Brajamukti Center meluncurkan Konsorsium Koperasi Mandiri Nusantara—sebuah jaringan konsolidasi pasar yang menghubungkan lima ratus koperasi desa binaan secara langsung dengan ratusan pembeli etis (fair-trade) di dalam dan luar negeri, tanpa perantara tunggal.

Sore itu, di halaman Kampus Regional Akademi Pendamping Rakyat Jawa Timur yang baru saja diresmikan di Malang, Mamat berdiri di depan ratusan mahasiswa akademi angkatan baru.

Di sampingnya, sebuah prasasti batu alam sederhana telah berdiri tegak. Di atas permukaan batu hitam tersebut, terukir tiga kalimat sederhana yang ditulis langsung oleh jemari Mamat:

> "Jangan Pernah Membohongi Rakyat Kecil.

> Jangan Pernah Menjual Kedaulatan Jiwamu.

> Kejujuran adalah Satu-satunya Keberkahan yang Tak Akan Pernah Bangkrut."

>

Mamat memandangi pemandangan sore yang indah di lereng Pegunungan Bromo. Di sisinya, Darto, Bowo, Rian, Pak Bintoro, hingga perwakilan alumni dari berbagai pelosok pulau berdiri bersama dalam ikatan perjuangan yang makin kokoh dan tak tergoyahkan.

Perjalanan panjang Mamat dari seorang penipu jalanan yang merana di Kampung Kalisari telah melampaui babak-babak tergelapnya. Dari kebohongan menuju pencerahan, dari keputusasaan menuju pengabdian yang murni.

Gerakan Brajamukti telah tumbuh menjadi pohon raksasa yang mengayungi jutaan jiwa rakyat Nusantara—sebuah warisan kejujuran dan kemandirian yang akan terus mengalir, tumbuh, dan tak akan pernah padam menembus lorong waktu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!