Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.
Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Jangan Cerai!
Ucapan polos itu membuat Nadira seketika kehilangan kata-kata. Ia menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca, sementara dadanya terasa semakin sesak. Ada rasa sakit yang sulit dijelaskan ketika menyadari bahwa anak sekecil Naya ternyata sudah mampu memahami ketidakadilan yang selama ini berusaha ia sembunyikan.
Nadira tidak pernah berniat membuat putrinya membenci Arhan. Bagaimanapun juga, pria itu tetaplah ayah kandung Naya. Ia selalu berusaha memberikan pengertian kepada putrinya setiap kali Arhan membatalkan janji, lupa menghadiri acara sekolahnya, atau lebih memilih menghabiskan waktu bersama keluarga besarnya daripada menemani mereka.
Nadira segera memeluk tubuh mungil itu, ia mengelus punggung putrinya. "Maaf... Maafin mama," ujarnya, pelan.
....
"Arhan, kenapa kamu pulang kesini? Dimana istri sama anakmu itu?" suara Imah terdengar saat melihat putra pertamanya itu masuk ke dalam rumahnya.
Arhan menghela napas, ia tidak bisa masuk ke dalam rumahnya karena rumah itu dikunci oleh sang istri dan sepertinya sang istrinya benar benar ingin bercerai dari dirinya.
" Biarkan Arhan tinggal disini dulu, Ma," ujarnya.
Imah dan Joko—ayah dari Arhan segera menatap putranya itu dengan tatapan bingung.
"Kenapa kamu tinggal disini, kamu kan sudah punya keluarga. Rumah ini sudah sempit sekali," tegas Imah.
Rania dan Jordi yang sejak tadi berada di ruang keluarga segera menoleh ke arah kakak laki-laki Jordi itu. Wajah keduanya menunjukkan keterkejutan sekaligus ketidaknyamanan melihat kedatangan Arhan.
Jordi mengernyitkan dahi. Ia tidak menyangka kakak kandungnya akan datang dan meminta tinggal di rumah orang tua mereka, padahal Arhan sudah memiliki rumah sendiri bersama Nadira dan Naya.
"Kak, kenapa malah tinggal di sini? Bukannya Kakak sudah punya rumah sendiri?terus mbak Nadira kemana? " tanya Jordi, berusaha memahami situasi yang sedang terjadi.
Arhan menghela napas panjang. Ia sudah menduga kedatangannya tidak akan disambut dengan antusias, tetapi ia juga tidak memiliki banyak pilihan untuk saat ini.
"Rumahku dikunci sama Nadira. Aku tidak bisa masuk," jawabnya singkat.
Rania yang duduk di samping suaminya langsung mengangkat alis.
"Dikunci? Maksudnya, Mbak Nadira mengunci rumahnya dan tidak membiarkan Kakak masuk?"
Arhan mengangguk malas. "Sepertinya dia benar-benar ingin bercerai dariku."
Jordi dan Rania saling bertukar pandang. Keduanya mengetahui bahwa hubungan Arhan dan Nadira memang tidak selalu berjalan mulus. Namun, mendengar bahwa Nadira sampai mengunci rumah dan tidak membiarkan suaminya masuk membuat mereka bertanya-tanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
"Memangnya Kakak sudah bicara baik-baik sama Mbak Nadira?" tanya Jordi.
Arhan tidak langsung menjawab. Ia justru mengalihkan pandangannya ke arah lain, membuat Jordi semakin yakin bahwa kakaknya belum benar-benar menyelesaikan masalah tersebut.
"Kalau belum, ya, coba bicara baik-baik dulu. Kalian sudah menikah dan punya anak. Jangan sampai masalah seperti ini malah berujung perceraian," lanjut Jordi.
Arhan mendengus pelan. "Aku juga tidak tahu kenapa dia tiba-tiba seperti itu. Dia sangat berubah setelah Naya jatuh."
Imah segera mengepalkan tangannya, "Makanya, kamu harus tegas sama istrimu itu! Pokoknya ibu ga setuju kalau kamu cerai, nanti yang bayar pensiunan ayahmu, bayar rumah ini, bayar sekolah Arhan sama lahiran Siska siapa!"
Rania segera mengangguk, "Iya mas, sebaiknya mas Arhan bujuk mbak Nadira jangan sampai kalian cerai. Kasihan Naya, kalau ga punya keluarga yang utuh."
Arhan terdiam mendengar perkataan ibunya. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menyandarkan punggung ke sofa. Kepalanya terasa semakin pening karena sejak tadi semua orang terus membicarakan perceraian, seolah-olah keputusan itu bisa ia cegah hanya dengan membujuk Nadira.
Padahal, ia sendiri tidak tahu harus mulai dari mana. Sejak kejadian Naya terjatuh, sikap Nadira memang berubah drastis. Wanita itu tidak lagi berusaha menyembunyikan kekecewaannya setiap kali Arhan membela keluarganya. Bahkan, Nadira yang biasanya selalu menghubunginya lebih dahulu kini memilih diam dan mengabaikan semua panggilannya.
"Aku sudah mencoba menghubunginya, Bu. Tapi, dia tidak mau mengangkat teleponku," jawab Arhan akhirnya.
"Ya, kamu datangi saja rumah orang tuanya!" sahut Imah cepat. "Masa kamu menyerah begitu saja? Kamu itu suaminya. Seharusnya kamu bisa membuat istrimu mengerti, bukan malah membiarkan dia bertindak semaunya."
Arhan mengembuskan napas panjang. "Aku juga berencana ke sana besok."
"Besok?" Imah langsung menatap putranya dengan tidak sabar. "Kenapa harus menunggu besok? Kalau memang kamu ingin menyelesaikan masalah, ya, selesaikan sekarang!
Jangan sampai Nadira semakin terpengaruh oleh orang tuanya."
Joko yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka akhirnya menggeleng pelan.
"Sudahlah, Bu. Arhan baru sampai. Biarkan dia beristirahat dulu. Besok juga masih bisa dibicarakan."
Imah menoleh kepada suaminya dengan ekspresi tidak senang. "Kamu selalu saja membela Arhan. Kalau nanti mereka benar-benar bercerai, bagaimana? Apa kamu tidak memikirkan akibatnya?"
Joko mengernyitkan dahi. "Memangnya kenapa kalau mereka bercerai? Kalau mereka tidak cocok ya biarkan saja."
"Ya, jelas saja ada akibatnya!" Imah meninggikan suaranya. "Arhan itu punya banyak tanggungan. Setiap bulan dia membantu membayar kebutuhan rumah ini, membayar cicilan dan keperluan lainnya. Kalau nanti dia bercerai, siapa yang akan membantu kita?"
Suasana ruang keluarga seketika hening. Arhan yang semula bersandar di sofa perlahan menegakkan tubuhnya. Ia menatap ibunya dengan ekspresi sulit diartikan, seolah-olah baru menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar ia pikirkan.
Ternyata, bukan hanya dirinya yang memikirkan perceraian itu. Ibunya juga memikirkannya, tetapi bukan karena khawatir akan kehancuran rumah tangganya atau masa depan Naya. Imah justru mengkhawatirkan uang yang selama ini diberikan Nadira kepada keluarga mereka.
"Bu," panggil Arhan pelan.
"Apa?"
"Jadi, ibu lebih mengkhawatirkan siapa yang akan membayar kebutuhan rumah ini daripada memikirkan masalah rumah tanggaku?"
Imah terdiam sesaat. Namun, bukannya merasa bersalah, wanita itu justru mendengus kesal.
"Bukan begitu maksud Ibu! Ibu hanya mengingatkan kamu supaya berpikir panjang. Kamu itu sudah punya tanggung jawab. Jangan sampai keputusanmu merugikan banyak orang."
Arhan tertawa hambar. "Memangnya selama ini aku tidak berpikir panjang?"
"Kalau kamu berpikir panjang, seharusnya kamu tidak membiarkan Nadira sampai meminta cerai!"
Ucapan itu membuat Arhan kembali terdiam. Ia ingin membantah, tetapi tidak tahu harus mengatakan apa.
Bagaimanapun juga, ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Nadira atas apa yang terjadi. Ia masih mengingat dengan jelas kejadian ketika Naya terjatuh dan menangis kesakitan. Ia juga mengingat bagaimana Nadira memandang dirinya saat itu, seolah-olah wanita tersebut sudah kehilangan kepercayaan kepadanya.
Namun, Arhan tetap merasa bahwa Nadira seharusnya tidak mengambil keputusan sebesar perceraian hanya karena kejadian tersebut.
Bukankah selama ini mereka selalu berhasil melewati berbagai pertengkaran? Mengapa kali ini Nadira justru memilih pergi?
orng2 ga tau diri ky mreka,emng pnts jd gmbel.....drpd bkin repot orng trs.....🙄🙄🙄
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡