Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.
Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.
Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA PULUH SATU
Seharian penuh Amara mengurung diri di dalam kamarnya. Ia berbaring telentang menatap langit-langit kamar yang putih polos, membiarkan pikirannya terus berputar pada potongan gema suara batin Zain yang tak sengaja ia dengar.
Maksudnya apa, ya? Kak Bara yang merencanakan segalanya empat tahun lalu? Masa Kak Bara tega menjebak adik kandungnya sendiri?
Amara meremas ujung selimutnya. Rasa janggal itu menggerogoti dadanya hingga terasa sesak.
Tapi yang kudengar itu kan suara hati Kak Zain. Nggak mungkin batinnya berbohong, kan? Amara menggelengkan kepala keras-keras, gusar. Aku tidak bisa terus-terusan menduga-duga seperti ini. Aku harus bertanya langsung kepada Kak Bara!
Dengan gerakan cepat, Amara meraih ponsel di atas meja nakas. Ia menggeser layar dan mendial nomor telepon kakak kandungnya, Arbara Sanjaya.
Nada dering bersahut-sahutan panjang, namun tak ada tanda-tanda panggilan itu ditanggapi.
"Ckckck, dasar orang sibuk!" gumam Amara jengkel.
Ia menekan tombol panggil ulang. Panggilan kedua bergulir sama persis. Hanya bunyi tut-tut-tut yang dingin membalas usahanya.
"Astaga... Susah sekali menghubungi Kak Bara!" omel Amara seraya melemparkan pandangannya ke jendela. "Kalau klien yang menelpon, pasti belum sempat berdering dua kali sudah diangkat. Nasib punya kakak kandung pengacara terkenal!"
Amara menghela napas panjang, hendak mencoba menelpon untuk ketiga kalinya.
Ting!
Layar ponselnya mendadak menyala memunculkan notifikasi aplikasi perbankan.
[Diterima transfer masuk sebesar Rp25.000.000,00 dari Arbara Putra Sanjaya.]
Amara terperanjat, matanya membelalak tak percaya menatap angka yang tertera di layar. "Apa-apaan ini Kak Bara! Ditelepon susah, malah main kirim uang!"
Belum sempat amarahnya mereda, sebuah notifikasi pesan WhatsApp dari Arbara muncul di baris atas.
[Mara, Kakak sedang meeting penting dengan klien kasus perceraian korban KDRT. Jangan menelepon dulu, ya. Nanti Kakak telepon balik kalau sudah luang.]
Amara mendengkus keras. Ia mematikan layar ponselnya lalu melempar benda pipih itu ke ujung ranjang dengan asal. Kesal luar biasa pada sosok Arbara yang seolah tak pernah punya waktu untuk adiknya, bahkan di hari libur seperti ini.
"Sok sibuk sekali!" gerutu Amara kesal.
Ia kemudian meraih sebuah bantal boneka berbentuk Keropi berwarna hijau lembut, memeluknya erat-erat ke dalam dada. Bantal itu adalah hadiah dari Zain saat Amara berulang tahun ke-18, hadiah pertama yang diberikan suaminya tepat di usia pernikahan mereka yang menginjak satu tahun. Dengan rasa bosan dan lelah batin yang menumpuk, Amara akhirnya memejamkan mata dan tertinggal lelap.
Suasana kamar perlahan berubah temaram saat sore merambat naik. Amara berada di ambang antara sadar dan lelap ketika merakan sentuhan halus menelusuri wajahnya.
Seseorang sedang mengelus pipi dan punggung hidungnya dengan sangat perlahan dan penuh kehati-hatian.
"Cantik sekali kalau sedang tidur begini..."
Suara bisikan itu bukan berasal dari telinganya, melainkan gema jernih yang meledak tepat di dalam benaknya. Suara hati Kaellan Zain Alfatih!
Amara membeku. Seluruh sarafnya mendadak tegang. Ia berusaha sekuat tenaga mempertahankan napas yang teratur, berpura-pura tidur lelap di balik selimutnya.
’Dilihat dari dekat begini, bibir mungilnya terlihat sangat merah dan menggiurkan... Rasanya aku ingin mencium bibirnya sekarang juga. Boleh tidak, ya? Tapi kalau dia terbangun dan marah bagaimana?’
Gema suara batin Zain membuat dada Amara berdebar kencang bagai dihantam palu. Namun di saat yang sama, Amara menggerutu sengit di dalam hatinya sendiri. Kenapa sih Kak Zain selalu bersikap dingin dan kaku di luar, padahal di dalam hatinya penuh dengan keinginan-keinginan seperti ini? Kenapa tidak tunjukkan saja dari dulu!
Keheningan kamar makin mencekam saat Amara merasakan hembusan napas hangat Zain kian mendekat ke permukaan wajahnya. Pria itu benar-benar nekat menundukkan kepala, berniat mendaratkan ciuman di atas bibirnya.
Panik menyergap Amara. Ia takut setengah mati jika sandiwaranya terbongkar kalau Zain menyadari matanya berkedip atau napasnya tersendat.
Secara refleks, Amara melenguh pelan, berpura-pura mengigau dalam tidurnya. Kedua lengannya bergerak cepat ke atas, melingkar rapat di leher tegap Zain, lalu menarik tubuh suaminya hingga menempel padanya. Amara menjadikan Zain bagaikan sebuah guling raksasa yang dipeluknya erat-erat.
Zain membeku seketika di atas tubuh Amara. Pria itu tak berani menggerakkan satu otot pun.
Di balik matanya yang terpejam rapat, dada Amara bergemuruh oleh rasa panik bercampur gembira yang membuncah. Panik karena takut aksinya ketahuan sebagai kepalsuan, namun gembira luar biasa karena akhirnya ia bisa memeluk tubuh tegap suaminya secara langsung tanpa rasa canggung. Aroma maskulin khas kayu cendana dan citrus yang amat Amara sukai menyeruak memenuhi indra penciumannya.
Zain mencoba menghela napas pelan, berusaha menetralkan jantungnya yang mendadak berdegup liar tak terkontrol di dalam dada bidangnya. Pria itu menyandarkan kepala di samping bantal Amara, membiarkan dirinya pasrah menjadi tawanan dalam dekapan hangat sang istri.
Akan tetapi, detik berikutnya, gema batin Zain kembali meledak liar di dalam kepala Amara, menyuarakan jeritan batin yang membuat Amara harus mati-matian menahan tawa dan rasa geli yang menggeliat di dalam perutnya.
’DEMI TUHAN! DIA MEMELUKKU! AMARA MEMELUK LEHERKU SANGAT ERAT! APA DIA SEDANG BERMIMPI DENGAN PRIA LAIN SAMPAI MEMELUKKU SEPERTI INI!’
...****************...