"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."
Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.
Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.
Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Penjelasan Annisa
"Tolong dengarkan saya baik-baik, dan simpan kata-kata saya ini di dalam ingatan Anda," lanjut Annisa. Setiap katanya terucap dengan penekanan yang menusuk ulu hati.
"Saya ... Annisa Septiani ... tidak pernah dan tidak akan pernah memiliki hubungan spesial apa pun dengan Pak Fandi Prasetyo."
Rissa tersentak pelan, tangisnya terhenti sejenak mendengarkan nada suara Annisa yang mendadak berubah keras.
"Hubungan saya dengan Pak Fandi murni seratus persen adalah hubungan bisnis antara Komisaris Utama Vantara Land dan investor Prasetyo Group," tegas Annisa dengan mata yang berkaca-kaca menahan emosi. "Pak Fandi ada di samping saya selama ini karena beliau mengawasi dana investasi dua ratus miliar milik perusahaannya! Bukan karena hal lain!"
Annisa melangkah satu tapak mendekati Rissa, menatap wanita itu tanpa ragu sedikit pun.
"Saya baru saja keluar dari ikatan pernikahan yang hancur karena perselingkuhan, Bu Rissa," lanjut Annisa dengan suara yang bergetar hebat oleh rasa perih di hatinya. "Saya tahu persis betapa hancurnya rasa sakit saat dikhianati. Dan demi Allah ... saya tidak akan pernah merendahkan harga diri saya untuk menjadi wanita jahat yang merusak rumah tangga wanita lain!"
Air mata Annisa menetes satu titik di pipinya yang pucat, namun ia menyapunya dengan cepat.
"Jika rumah tangga Anda dan Pak Fandi sedang bermasalah ... jika suami Anda terasa dingin dan tidak lagi memberikan perhatian–" Annisa menunjuk dada Rissa dengan lembut namun tegas. "...selesaikanlah hal itu secara internal antara Anda dan Pak Fandi! Bicara sebagai suami istri di rumah kalian! Jangan lari dari masalah dengan datang ke kantor saya dan menuduh saya sebagai biang keladinya!"
Rissa membeku. Kata-kata Annisa bagaikan tamparan keras yang membakar wajahnya. Rasa malu dan keterkejutan terpancar jelas dari matanya.
"Saya tidak akan sudi dijadikan kambing hitam atas ketidakmampuan kalian menyelesaikan masalah rumah tangga kalian sendiri," pungkasi Annisa dengan napas yang terengah-engah.
Ia berbalik menuju mejanya, menekan tombol interkom dengan jari yang gemetaran. "Mbak Emi ... tolong antarkan Bu Rissa keluar dari ruang kerja saya sekarang."
Rissa berdiri mematung di tengah ruangan. Bibirnya gemetaran, tak sanggup lagi membalas satu kata pun. Keangkuhan dan tuduhannya runtuh total di hadapan ketegasan dan kejujuran mutlak yang terpancar dari diri Annisa. Dengan tangis yang kembali pecah, Rissa membalikkan badan dan berlari keluar ruangan sambil menutup wajahnya.
Pintu ruangan tertutup rapat kembali.
Begitu wanita itu hilang dari pandangan, seluruh sisa kekuatan di tubuh Annisa mendadak meloloskan diri.
"Agh," ringis Annisa pelan.
Pandangannya mendadak gelap. Rasa pusing yang teramat sangat menghantam kepalanya bagaikan ledakan. Lutut Annisa melemas seketika. Tubuhnya rubuh ke atas lantai marmer di belakang meja kerjanya.
Annisa terbaring miring, memegangi perutnya yang terasa bergejolak dan nyeri luar biasa. Air mata kepedihan menetes deras membasahi pipinya yang pucat tanpa darah.
Di dalam keheningan ruang kerjanya yang luas, Annisa menangis terisak-isak seorang diri. Rasa lelah yang teramat sangat, tuduhan keji dari Rissa, dan kerapuhan fisiknya yang kian merosot menyatu menjadi satu badai emosi yang meremukkan dadanya.
Ia telah memenjarakan pengkhianatnya. Ia telah memenangkan hukumnya. Namun di dalam sunyi, Annisa merasa tubuh dan jiwanya sedang disiksa oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari apa yang sanggup ia pahami saat ini.
bersambung...
semoga kandunganmu baik2 saja Anisa