Farra dan Barra adalah murid kelas 3 SMK Kesehatan Hewan dari dua keluarga penguasa industri kesehatan hewan Indonesia—keluarga Barra pemilik Saputra Pet Hospitals (rumah sakit hewan terbesar), sedangkan keluarga Farra pemilik Aurelie Vet Medicine (produsen obat hewan terbesar).
Dua bulan sebelum Ujian Nasional, hidup mereka berubah total saat dipaksa menikah demi memenuhi janji masa lalu Opa dan Oma mereka. Enggan memicu skandal dan demi fokus lulus UN, keduanya sepakat menikah diam-diam dengan dua aturan ketat: menjadi suami-istri di rumah, tetapi berpura-pura asing saat di sekolah.
Tinggal serumah sambil menyembunyikan status pernikahan dari teman-teman sekolah ternyata memicu berbagai canggung, kecemburuan, dan drama praktik lapangan. Di tengah tekanan Ujian Nasional dan ego masing-masing, persaingan dingin di antara mereka perlahan berganti menjadi benih cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inayusrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Langkah kaki Barra kembali memasuki ruang kelas dengan wajah tenang seperti biasa. Begitu ia duduk di kursinya, Farra langsung menoleh dengan raut muka cemberut, menyenggol pelan lengan suaminya.
"Lama banget sih ke toiletnya, Barra? Aku sampai bingung kamu ke mana," keluh Farra dengan nada agak bersungut-sungut.
Barra menyunggingkan senyum tipis, mengusap punggung tangan Farra dengan lembut. "Maaf ya, Sayang. Tadi di jalan nggak sengaja tertabrak kucing, jadi agak ketahan sebentar."
Farra hanya mengerutkan dahi mendengar alasan samar suaminya, namun tidak memperpanjang masalah karena dosen kembali melanjutkan materi.
Seusai perkuliahan usai, Farra langsung memegangi perut buncitnya sembari merengek pelan. "Barra, si kembar lapar banget... Aku mau makan soto ayam yang kuahnya gurih hangat di kantin."
Mendengar rengekan sang istri, Barra tentu tak punya alasan untuk menolak. Didampingi Ben dan Gabriella, mereka berempat bergerak menuju kantin fakultas. Farra menyantap semangkuk soto ayam hangat itu dengan sangat lahap, membuat Barra yang duduk di sampingnya telaten menyapukan tisu setiap kali ada sisa kuah di sudut bibir Farra.
Setelah selesai makan, Barra berniat mengajak mereka semua ke perpustakaan pusat untuk mencari beberapa buku referensi praktikum. Namun, Farra dan Gabriella kompak menggeleng.
"Aku sama Gabriella mau di kantin dulu deh, Bar. Masih mau menggosip sebentar," tolak Farra sambil tertawa renyah bersama Gabriella.
"Ya sudah, kalau begitu aku sama Ben ke perpustakaan duluan ya. Nanti kalian nyusul kalau sudah selesai," ujar Barra lembut, mengecup kening Farra sebelum melangkah pergi bersama Ben.
Sementara itu di perpustakaan pusat, Indira—yang merupakan mahasiswi Fakultas Hukum—sedang berdiri di antara deretan rak buku tebal. Saat matanya menangkap sosok Barra dan Ben masuk ke area perpustakaan, binar ambisi di matanya seketika menyala. Ini adalah kesempatan emas yang tak boleh dilewatkan.
Ketika Barra berjalan menyusuri lorong rak buku yang sepi, Indira sengaja berakting terkejut dan menjatuhkan tumpukan buku tebal di tangannya tepat di dekat kaki Barra. BRUK!
Bukannya mendapatkan simpati, Barra hanya melirik dingin buku-buku di lantai tanpa berniat memungutnya. Indira yang tak kehabisan akal langsung memasang raut wajah manis dan manja.
"Aduh, maaf... Boleh tolong bantu ambilkan buku yang di rak paling atas itu nggak? Tanganku nggak sampai," pinta Indira dengan suara yang dibuat-buat lembut, menunjuk sebuah buku hukum di rak paling atas.
Barra menghela napas pendek, lalu mengulurkan tangannya yang tinggi untuk mengambil buku tersebut. Saat Barra menjangkau rak atas, Indira justru sengaja memiringkan tubuhnya dan melangkah mundur rapat, membuat posisi mereka terlihat begitu dekat dan seolah Barra sedang menempel ketat pada tubuh Indira dari belakang.
Nahas bagi Indira, di ujung lorong rak buku, Farra dan Gabriella baru saja tiba untuk menyusul. Mata Farra seketika membelalak menangkap pemandangan wanita berambut pendek yang sengaja menempel pada tubuh suaminya.
Rasa cemburu dan emosi yang membakar seketika mendominasi dada Farra. Tanpa berpikir panjang, Farra langsung melangkah lebar mendatangi mereka. Ia dengan tegas menyelipkan tubuhnya di antara Barra dan Indira, lalu merangkul erat lengan Barra dengan tatapan mata yang sangat tajam dan dingin ke arah Indira.
"Barra, aku mau pulang sekarang. Nggak usah ke perpustakaan, kita ke apartemen aja," potong Farra tajam tanpa melirik Indira sedikit pun.
Barra yang tersentak melihat kedatangan Farra langsung mendekap jemari istrinya. "Oke, Sayang. Kita pulang sekarang." Barra melangkah pergi meninggalkan Indira yang terpaku kesal karena rencananya gagal total.
Setibanya di unit penthouse apartemen mereka, Farra langsung berjalan cepat menuju kamar tidur dan menutup pintunya. Barra yang cemas bergegas menyusul masuk, dan dadanya seketika sesak saat melihat air mata Farra sudah menetes deras membasahi pipinya. Farra menangis terisak-isak.
"Farra, Sayang... Kenapa menangis?" tanya Barra panik, mencoba mendekat.
Farra berdiri di depan cermin besar berbingkai emas. Ia menatap bayangan dirinya sendiri—perutnya yang membuncit di usia kehamilan enam bulan, pipinya yang makin berisi, serta tubuhnya yang tak semolek dulu. Rasa percaya dirinya runtuh seketika akibat ledakan hormon kehamilan.
"Lihat aku, Barra..." terisak Farra sambil meremas pinggiran bajunya. "Aku gemuk, perutku besar, aku nggak cantik lagi... Beda banget sama cewek berambut pendek di perpustakaan tadi yang badannya bagus dan tinggi! Kamu pasti lebih suka liat cewek kayak dia, kan?!"
Mendengar tuduhan dan rintihan pilu istrinya, rasa bersalah yang luar biasa menghantam dada Barra. Ia sadar betul bahwa ketidaktegasannya di perpustakaan tadi telah melukai perasaan sensitif sang istri.
Barra melangkah mendekat, memeluk tubuh Farra dari belakang dan membenamkan wajahnya di leher Farra. Tangan besarnya mengusap lembut perut buncit yang berisi calon anak kembar mereka.
"Maafkan aku, Sayang... Demi Tuhan, maafkan aku," bisik Barra dengan suara penuh penyesalan yang mendalam. "Aku bersumpah demi si kembar, di mata aku nggak ada cewek lain. Kamu itu istri aku, wanita paling cantik, paling sempurna, dan paling berharga di seluruh dunia."
Barra memutar tubuh Farra agar menghadapnya, menghapus bulir air mata di pipi Farra dengan ibu jarinya, lalu menatap manik mata istrinya dengan penuh kejujuran. "Perubahan tubuh kamu ini adalah bukti betapa hebatnya kamu mengandung dua jagoan kita. Jangan pernah merasa kurang, Farra. Buat Barra Saputra, cuma Farra Aurelie yang selamanya jadi pemenang di hati aku."
Mendengar bisikan tulus dan pujian penuh cinta dari suaminya, perlahan tangis Farra reda. Ia memeluk leher Barra erat-erat, meresapi kehangatan dekapan sang suami yang selalu berhasil mendamaikan seluruh gelisah di dadanya.