Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25
Bao'er terpaku. Dadanya bergemuruh hebat seiring ritme jantungnya yang berpacu liar. Lolongan yang terputus mendadak itu seolah mencengkeram jalannya napas Bao'er.
Yu'er... batin Bao'er pilu, membayangkan keselamatan majikan sekaligus sahabatnya yang kini sendirian di kegelapan Hutan Selatan.
Tanpa memedulikan tatapan membeku kedua pengawal, Bao'er membasahi bibirnya yang mendadak kering dan maju satu langkah mendesak.
"Tolong..." pintanya dengan suara bergetar namun sarat keputusasaan yang nyata. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Bilang pada Pangeran bahwa Nona kami tersesat di dalam hutan! Suara lolongan itu pasti berasal dari hutan... Nona kami dalam bahaya!"
Kedua pengawal itu tidak lagi tertawa. Salah satu dari mereka bahkan menurunkan tombaknya beberapa sentimeter tanpa sadar. Mereka bimbang. Merasa kedua pelayan ini tidak berbohong.
Tepat saat kebingungan melanda para penjaga, kain tebal pintu tenda jamuan terkuak dari dalam.
"Ada apa ini?" tanya Feng Chuan rendah namun sarat wibawa. Semua menoleh cepat mendengar suara itu.
"Tuan Feng Chuan!" Para pengawal langsung menunduk hormat serentak.
"Tuan Feng Chuan!" panggil Bao'er seraya menegakkan kepala. Ia memberanikan diri langsung bicara pada pengawal pangeran itu. Menatap lurus tanpa rasa takut lagi. "Tolong kami! Nona Yu dan Selir Lan hilang di Hutan Selatan sejak sore tadi!"
Feng Chuan mengerutkan alisnya. Tatapannya menajam. "Selir Lan dan Nona Yu? Bukankah Selir Kui baru saja melapor di dalam bahwa mereka sedang istirahat di tenda karena lelah?"
"Itu tidak benar, Tuan!" sela A-chui cepat, air matanya menetes namun suaranya terdengar makin tegas.
"Ya. Tenda mereka kosong! Kami sudah mencarinya ke mana-mana dan hanya menemukan jejak gaun Nona yang mengarah ke pinggir hutan! Lolongan serigala tadi sangat menakutkan. Kami takut nona kami dalam bahaya," imbuh Bao'er.
Kata-kata Bao'er membuat dua pengawal pintu tenda hanya bisa saling pandang dengan wajah makin pucat, tak berani menyela.
Feng Chuan menatap Bao'er beberapa detik, menilai kesungguhan dan kepanikan di mata pelayan itu. Pengalamannya bertahun-tahun mendampingi pangeran membuatnya paham beda antara kebohongan pelayan ceroboh dan keputusasaan seorang bawahan yang setia. Ditambah lolongan ganjil yang baru saja terdengar, insting militernya langsung membunyikan tanda bahaya.
"Ikut aku ke dalam," perintah Feng Chuan dingin namun tegas. "Kalian sendiri yang katakan ini di hadapan Pangeran." Feng Chuan membalikkan badan dan menyibak kain pintu tenda utama makin lebar. Mereka mengikuti dari belakang.
*
*
*
Di meja utama perjamuan.
Pangeran Zhang Li memegang cangkirnya menyimak penuturan Tabib Shen Mo yang berdiri agak membungkuk di samping meja.
"Kandungan akar herba ini hanya bisa tumbuh di tanah basah lereng Hutan Selatan, Pangeran," ujar Tabib Shen Mo dengan suara halus dan teratur. Wajahnya menjaga tata krama istana dengan sangat sempurna.
"Herba yang hamba racik untuk ramuan hangat malam ini dipetik langsung dari lereng Hutan Selatan, Pangeran," ujar Tabib Shen Mo dengan suara halus dan teratur. Wajahnya menjaga tata krama perjamuan dengan sangat sempurna.
Tapi fisik Selir Lan sama sekali tidak kuat menahan dingin pekat malam ini, batin Shen Mo gelisah.
Desir angin malam yang menggoyangkan tirai tenda terus mengalihkan perhatiannya.
Selir Lan tidak tahan dingin, batin Shen Mo. Jika dia di luar perkemahan malam ini, tubuhnya bisa pingsan.
"Tabib Shen?" suara berat Pangeran Zhang Li memecah ketegangan tersembunyi itu. Sang Pangeran mengetuk jemarinya di atas meja perak. "Kau tampak menggebu-gebu membahas herba ini, tapi pikiranmu sepertinya melayang ke tempat lain."
Tabib Shen Mo terperanjat pelan, lalu dengan cepat menundukkan kepala untuk menyembunyikan riak gelisah di matanya.
"Ampunkan hamba, Pangeran," tutur Shen Mo diplomatis, menjaga perkataannya tetap profesional. "Hamba hanya... memperhatikan cuaca Hutan Selatan malam ini. Suhu udara di luar turun sangat drastis dibanding kemarin. Siapa pun yang berada di luar area perkemahan tanpa perlindungan yang cukup akan sangat kesulitan menghadapi dinginnya malam."
Pangeran Zhang Li mengangguk. "Ya."
Tepat saat sang Pangeran hendak menanggapinya, tirai pintu tenda jamuan terkuak lebar dari luar. Feng Chuan melangkah masuk dengan tergesa, membawa serta Bao'er dan A-Chui.
"Yang Mulia..." bisik Mei Lin sangat pelan di balik kibatan kipas Selir Kui. "Bao'er dan A-Chui datang."
Selir Kui menoleh cepat ke arah dua pelayan itu. Tangannya yang memegang kipas sutra mendadak kaku, sementara dadanya berdesir hebat diliputi rasa cemas.
"Mau apa mereka?" desis Selir Kui berusaha keras menjaga raut wajahnya tetap anggun di depan para tamu lain.
Apakah mereka datang untuk melaporkan perbuatanku pada Zhang Li? batin Selir Kui penuh gelisah.
"Semoga mereka tidak melaporkan kita, Nona ...," bisik Mei Lin sangat lirih. Selir Kui melirik tajam agar Mei Lin menutup mulutnya.
Di meja sebelahnya, A-Cai membungkuk pelan mendekati telinga Selir Huo.
"Yang Mulia," bisik A-Cai cemas. "Lihat ke depan. A-Chui dan Bao'er ada di hadapan Pangeran."
Selir Huo tersentak kaku. Pegangan tangannya pada cangkir teh terhenti seketika, lalu pandangannya melirik gelisah ke arah Selir Kui.
Jangan-jangan... dugaanku benar? Selir Huo tampak tegang dan cemas. Apakah Selir Kui benar-benar merencanakan sesuatu pada mereka berdua?
"Lapor Pangeran. Hamba membawa dua pelayan selir."
Zhang Li menatap mereka dengan heran. Pandangannya beralih dari sosok Feng Chuan ke dua pelayan yang berdiri membungkuk hormat di samping panggung utama—Bao'er dan A-Chui.
"Pelayan Selir Lan dan Selir Xiao Yu?" tanya Pangeran yang mengenali mereka.
"Benar, Yang Mulia," Feng Chuan menjawab singkat seraya memberi isyarat pada kedua pelayan untuk maju setapak.
"Ada apa? Bicaralah," tanya Zhang Li pada Bao'er.
"Hamba Bao'er melapor, Yang Mulia," sahut Bao'er dengan suara pelan namun gemetar menahan cemas. "Nona kami berdua, Selir Lan dan Selir Xiao Yu, kemungkinan tersesat ke dalam hutan."
Dahi Zhang Li berkerut dalam. "Tersesat? Bukannya mereka beristirahat di dalam tenda?" Dia ingat apa yang dikatakan selir Kui tadi. Ada ketidakcocokan dari yang ia dengar.
"Tidak, Yang Mulia," sahut Bao'er cepat seraya makin menundukkan kepala. "Kami sejak tadi ada di tenda menunggu kedatangan nona kami. Tapi mereka belum datang... padahal ini sudah malam."
Mendengar ucapan Bao'er, Tabib Shen Mo tersentak hebat. Napasnya tertahan seketika, dan cangkir herba di dalam pegangannya bergetar hingga sedikit airnya beriak keluar. Wajah Shen Mo yang semula tenang kini mendadak pucat pasi.
Selir Lan di dalam hutan... pada malam ini? batin Shen Mo panik.