Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Maka jadikanlah mereka sebagai musuh mu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam-diam
Di atas kapal laut
Di antara para penumpang yang duduk di bangku-bangku panjang.
Dua orang ini tampil begitu dingin.
Pasangan laki-laki dan perempuan dewasa.
Mereka sama sekali tidak bereaksi kepada interaksi yang diberikan oleh orang-orang di sekitar.
Kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut ke mulut, mereka tanggapi dengan sorot mata yang tidak tertarik.
Perjalanan menyeberangi lautan air asin selama berjam-jam mereka lakukan dengan diam.
Begitu pula ketika kapal berlabuh dan semua manusia berduyun-duyun turun.
Mereka berdua berjalan dengan kecepatan penuh menembus riuh keramaian.
Selanjutnya mereka memilih angkutan umum beroda enam yang besar dan panjang.
Di antara deret orang-orang yang duduk sambil berceloteh.
Bibir mereka berdua senantiasa mengatup.
Terkunci bisu.
Selang beberapa jam kemudian mereka meminta berhenti.
Mereka berdua turun di pinggir jalan raya yang sepi.
Tidak ada jalan lain yang memotong.
Selain masuk ke dalam kebun demi kebun.
Di tempat kerja
Sabdo menemui Samuel di awal pagi.
"Apakah sudah dilakukan?",
Ia bertanya untuk memastikan perihal kesepakatan yang mereka bicarakan pada pertemuan kemarin.
"Ya tentu saja",
"Pagi ini aku sudah berangkat dari rumah Mama",
"Baguslah",
"Mereka sudah datang",
Atas permintaan Sabdo. Untuk sementara waktu ini Samuel bersama anak dan istrinya diungsikan ke rumah Mama.
Sampai semuanya benar-benar aman terkendali.
Setelah pulang kerja. Sabdo pergi ke Pentok.
Malam ini ia akan menginap di rumah yang kosong karena sedang ditinggal oleh sang pemilik.
Sabdo tidak sendiri.
Ia mengajak Gombloh dan Bokir untuk menemaninya menjaga mata terbuka supaya tetap waspada sampai pagi.
Rumah Samuel
"Apa kita boleh untuk memakan semuanya?",
Gombloh melihat isi kulkas yang menggiurkan.
"Sewajarnya saja Mbloh",
"Jangan rakus",
"Bokir kemana?",
Senja ini Bokir sedang jalan-jalan keluar di komplek perumahan asri.
Bukan karena alasan apa-apa. Pohon rambutan yang ada di seberang jalan sedang berbuah lebat.
Sayang kalau mubazir.
Rimbun hijau berhias bulat-bulat merah yang terang.
"Puih... ",
"Pantas saja dibiarkan",
"Tidak ada yang mau mengambil",
Bokir yang sudah terlanjur berangan-angan manis.
Kecewa karena rasanya kecut. Teramat asam.
Kulitnya saja yang merona. Dalamnya pahit.
Sebentar lagi magrib. Bokir bergegas kembali ke rumah.
"Ingat",
"Begitu gelap, kita semua sudah harus ada di dalam rumah",
Pesan Sabdo kepada dua kawannya yang suka melawak.
Malam
Sabdo, Gombloh dan Bokir bermain catur secara bergantian.
"Skak mat",
"Skak mat",
"Skak mat",
"Skak mat",
Untuk urusan permainan ala tongkrongan. Bokir jagonya.
Sudah empat kali secara beruntun Bokir dengan satu gigi palsu emasnya belum tergeser dari kursi panas.
"Kapan mereka akan datang?",
"Tidak lama lagi",
Sabdo bisa mencium bau menyengat mereka dari jarak jauh.
"Ingat betul apa yang harus kita lakukan begitu saatnya tiba",
"Jalankan sesuai dengan rencanaku",
"Kami mengerti",
Pertandingan untuk ketiga kalinya Bokir berhadapan dengan Sabdo.
Di tengah kejar-kejaran kuda dan benteng yang seru.
Dan separuh pion-pion mereka yang sudah gugur. Tergeletak di luar papan kotak hitam putih.
"Ayo... ",
Sekarang giliran Sabdo.
Tapi Sabdo belum juga bergerak. Lama sekali ia berpikir menentukan arah.
Jari telunjuk dan jari tengah Sabdo tidak jadi menyentuh menteri.
Jempol dan jari telunjuknya batal menggeser sang ratu.
Sabdo menegakkan telapak tangan.
Seketika Gombloh dan Bokir moodnya berubah.
Inilah waktunya.
Tanda permainan harus dihentikan.
Karena, "mereka datang",
Ketiganya lalu segera menuju ke posisi masing-masing.
Memainkan lakonnya sendiri.
Dan benar saja.
Di balik pintu rumah sudah ada yang mengetuk.
Gombloh yang bertugas untuk membukakan pintu.
"Silahkan masuk",
Sapa Gombloh kepada sepasang tamu laki-laki dan perempuan dewasa.
Gombloh langsung menutup pintu begitu dua sosok asing yang berkunjung malam-malam itu masuk ke dalam.
Sesuai rencana.
"Mau apa kalian?",
Di ruang tamu Bokir menyambut mereka dengan pertanyaan.
"Kami mencari Wina",
Dari balik kegelapan karena sebagian lampu yang tidak dinyalakan.
Sabdo pun menjawab,
"Wina?",
"Maksud kalian Artanti?",
"Dia tidak ada di sini",
"Adanya aku",