NovelToon NovelToon
Terikat Oleh Perjodohan

Terikat Oleh Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: saphal_tha

#history Romantic
by : Saphal_tha

Anna adalah istri yang tidak pernah Xavier inginkan… sekaligus kelemahan yang tak pernah ia sangka.

Kekayaan, kekuasaan, dan kecerdasan. Xavier Romanov memiliki segala sesuatu yang diimpikan banyak orang. Sebagai seorang CEO muda yang disegani, hidupnya nyaris sempurna, kecuali satu hal yang tidak pernah ingin ia miliki, seorang istri.

Pernikahan tidak pernah ada dalam rencana hidup Xavier, sampai sebuah ancaman pemerasan memaksanya bertunangan dengan wanita yang hampir tidak ia kenal.

Annastasia Clifford ahli waris perusahaan perhiasan sekaligus putri dari musuh terbarunya.

Tidak peduli seberapa cantik atau menawannya wanita itu, Xavier akan melakukan segala cara untuk memusnahkan bukti ancaman tersebut dan membatalkan pertunangan mereka.

Namun satu hal yang tidak pernah ia predeksi akan terjadi, sekarang setelah mendapatkan Anna... ia tidak sanggup melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saphal_tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Xavier

“Bajumu menodai kemejaku, Brant.” Aku menggulung lengan kemejaku, menyembunyikan noda darah yang ku maksud. “Ini sudah pelanggaran ketiga.”

Brant menatapku tajam, raut wajahnya tampak membangkang di balik lumuran darah dan memar. Tubuhnya terikat di kursi, tangan dan kakinya terbelenggu tali. Dia adalah satu-satunya perampok yang masih sadarkan diri.

Dua rekannya yang lain terkulai di kursi masing-masing, kepala mereka terkulai lemas dengan darah yang menetes ke lantai dalam pola teratur. Beberapa anggota tubuh mereka tertekuk pada sudut yang tidak wajar.

“Kau terlalu banyak cakap.” Brant menyemburkan segumpalan cairan merah pekat dari mulutnya.

Brant Relim. Mantan narapidana dengan catatan kriminal yang sangat panjang, nekat bukan main, tetapi punya otak sebesar kacang tanah.

Aku tersenyum, lalu memukulnya lagi. Kepalanya tersentak ke belakang, dan erangan kesakitan memenuhi udara.

Buku-buku jariku yang memar terasa perih. Ruangan yang secara bercanda dijuluki Sel Penahanan di markas besar keamanan pribadi milikku ini berbau tembaga, keringat, dan aroma ketakutan yang kental menyengat.

Ini adalah dua hari setelah percobaan perampokan di Carrie & Keith, lebih lama dari biasanya kami pernah menahan seseorang. Pengaruhku dengan kepolisian, membuat mereka menutup mata terhadap aktivitasku karena aku menghemat waktu dan tenaga mereka, lagipula aku tahu kapan harus menarik garis batasan. Aku tidak pernah membunuh orang.

Belum.

Tapi aku benar-benar sangat tergoda untuk melakukannya saat ini. “Jam pertama tadi adalah balasan karena mencoba merampok salah satu tokoku. Jam kedua ini…” Aku mengulurkan tangan. Gideon meletakkan sesuatu yang dingin dan berat di telapak tanganku, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. “…adalah balasan karena telah mengancam istriku.”

Cengkeraman tanganku mengatup rapat di sekeliling senjata itu. Biasanya aku membiarkan timku yang menangani urusan-urusan tidak menyenangkan seperti ini. Perampokan, pengrusakan, atau sikap tidak sopan. Semua itu tidak bisa diterima tetapi sifatnya tidak personal. Tidak lebih dari sekadar kejahatan yang harus dihukum dan dijadikan contoh peringatan dengan cara yang paling brutal dan paling efektif. Hal-hal itu tidak membutuhkan perhatian pribadiku.

Tapi hal yang satu ini? Apa yang dilakukan Brant terhadap Annastasia?

Ini sangat personal, sialan.

Gelombang amarah yang baru bergemuruh di dalam diriku saat membayangkan sampah di depanku ini menodongkan senjata ke arahnya.

Dia memang belum menjadi istriku, tapi dia adalah milikku.

Tidak ada satu orang pun yang boleh mengancam apa yang menjadi milikku.

“Jadi dia istri mu.” Brant terbatuk, kesombongannya sedikit goyah namun belum habis. “Aku paham kenapa kau sangat marah. Dia memang cantik, walau dia bakal kelihatan jauh lebih cantik kalau darah melumuri kulit mulusnya itu.” Cengirannya penuh ejekan berbalut warna merah darah, terlalu bodoh untuk menyadari kesalahannya sendiri.

Seperti yang kukatakan tadi, otaknya cuma sebesar kacang tanah.

Aku mengenakan knuckle besi, melangkah mendekat, dan menyentak kepalanya yang malang itu ke belakang. “Bukan aku yang terlalu banyak cakap.”

Sedetik kemudian, jeritan kesakitan yang hebat memecah udara. Suara jeritan itu sama sekali tidak meredakan amarah di dalam diriku, dan aku tidak berhenti sampai jeritan itu benar-benar terhenti sepenuhnya.

***

Aku membiarkan anak buahku membersihkan kekacauan di Sel Penahanan.

Aku hampir saja membunuh Brant, tetapi bajingan itu masih hidup, walau sekarat. Besok, dia dan rekan-rekannya akan menyerahkan diri ke polisi. Itu adalah pilihan yang jauh lebih menarik daripada harus terus berada bersama timku.

Penthouse berbau kuah sup dan ayam panggang menyambut saat aku pulang. Beatrice terus merawat Annastasia sejak insiden perampokan itu, yang dalam dunianya berarti memberi Annastasia makanan yang cukup untuk memberi makan seluruh kawasan midtown Manhattan saat jam makan siang.

Aku hampir tidak merasakan sengatan air panas saat mandi untuk membersihkan sisa-sisa darah dan keringat.

Annastasia bersikeras bahwa dia baik-baik saja, tetapi hanya sedikit orang yang bisa pulih secepat itu setelah ditodong senjata di kepalanya. Menurut Beatrice, dia sedang tidur siang saat ini, padahal dia tidak pernah tidur sesore ini. Atau tidak pernah tidur siang sama sekali, kalau aku mengingat-ingat lagi.

Aku mematikan keran air, pikiranku tampak kalut buram seperti cermin yang beruap.

Aku sudah melakukan bagianku. Aku sudah menghukum para pelakunya, secara pribadi menangani Brant, dan mengecek keadaan Alex dalam perjalanan pulang dari markas keamanan. Dia sudah pulih secepat yang kubayangkan; pria itu menjalani hidup seperti kapal berbahan Teflon, masalah tak pernah menempel padanya.

Namun bukan dia yang sempat ditodong senjata di depan wajahnya.

Sialan.

Dengan geraman kekesalan yang pelan, aku mengeringkan badan dengan handuk, berganti pakaian bersih, dan melangkah ke dapur, tempat di mana aku membujuk Beatrice untuk membagikan semangkuk sup berharganya.

“Nanti makan malamnya jadi tidak lahap,” peringatnya.

“Ini bukan untukku.”

Kerutan menghiasi bibirnya sebelum menyadari sesuatu, dan rasa tidak setujunya mencair menjadi senyuman gembira yang luar biasa. “Ah. Kalau begitu, ambil sup sebanyak yang kamu butuhkan! Ini.” Dia menyodorkan sepiring roti sourdough dan mentega kepadaku. “Bawa ini juga.”

“Lalu bagaimana dengan membuat makan malamnya tidak lahap?” gerutuku, tetapi aku tetap mengambil roti sialan itu.

Aku sampai di depan pintu kamar Annastasia saat aku ragu dengan keputusanku. Haruskah aku membangunkan tidur siangnya? Beatrice bilang dia bekerja dari rumah hari ini dan belum makan siang, tetapi mungkin dia memang butuh istirahat. Atau bisa saja dia sudah bangun dan sedang menghitung berliannya atau apa pun yang dilakukan pewaris perusahaan perhiasan di waktu luang mereka.

Haruskah aku mengetuk pintu atau pergi dan kembali lagi nanti?

Aku tidak mendapat kesempatan untuk memutuskan sebelum Annastasia yang memutuskannya untukku.

Pintu terbuka lebar, memperlihatkan mata gelap mengantuk yang mendadak melebar panik saat dia melihatku. Dia menjerit, membuatku terkejut dan hampir menjatuhkan supnya.

“Sialan!” Aku berhasil menyeimbangkannya di detik-detik terakhir, tetapi beberapa tetes cairan panas terpercik ke luar mangkuk dan mengenai lenganku.

“Xavier, Astaga.” Annastasia menekan telapak tangannya di atas dadanya yang naik turun. “Kamu mengejutkanku.”

“Aku baru saja mau mengetuk pintu,” kataku setengah berbohong.

Perhatiannya beralih ke makanan di tanganku. Dia terlihat sangat menggemaskan dengan rambutnya yang berantakan khas orang baru bangun tidur dan bekas guratan bantal di pipinya. Bahkan tanpa riasan wajah, kulitnya terlihat tanpa cela, dan aroma tipis buah apel membuat tepi-tepi pikiranku menjadi kabur berembun.

“Kamu membawakanku makanan?” Wajahnya melunak dengan cara yang semakin memperparah kebingungan di kepalaku.

“Tidak. Ya,” kataku, tidak bisa memutuskan apakah harus mengaku bahwa aku sedang mengecek keadaannya. Aku bisa saja bilang ini ide Beatrice. Membawakannya sup ayam atas inisiatifku sendiri terasa sangat intim dan berbahaya, seperti sesuatu yang dilakukan oleh tunangan sungguhan.

Annastasia memberiku tatapan aneh.

Astaga, Romanov, kuasai dirimu.

Satu jam yang lalu, aku sedang menghajar seorang kriminal setinggi 188 cm hingga babak belur. Sekarang, aku jadi tidak jelas hanya gara-gara sup ayam dan roti sialan.

“Beatrice bilang kamu belum makan siang. Kupikir kamu mungkin lapar.” Aku memilih jawaban yang paling samar.

“Terima kasih. Kamu sangat perhatian,” kata Annastasia, masih dengan ekspresi lembut yang membuat hal-hal aneh terjadi di pikiranku.

Jari-jarinya menyenggol jariku saat dia mengambil mangkuk dan piring tersebut. Arus listrik kecil mendesis di atas kulitku. Tubuhku mengencang menahan reaksi fisik, sebuah kejutan kecil yang membakar, sentuhan yang sengaja di antara tangan kami.

Annastasia berhenti sejenak seolah-olah dia juga merasakannya sebelum terburu-buru melanjutkan, “Waktunya sangat pas, karena aku memang mau mencari camilan. Panggilanku dengan panitia Legacy Ball berjalan terlalu lama, dan aku sampai lupa makan siang.”

Annastasia sudah memberitahuku sebelumnya bahwa dia menjadi tuan rumah pesta dansa tahun ini. Itu adalah hal yang besar, dan aku tidak bisa menahan kilatan rasa bangga yang menyala di dadaku.

“Kalau begitu, semuanya berjalan lancar.”

“Selancar apa pun yang bisa diusahakan dengan buku panduan setebal tiga ratus halaman,” candanya.

Keheningan melanda. Aku seharusnya pergi sekarang karena aku sudah memberikannya makanan dan memastikan dia berfungsi dengan baik-baik saja, tetapi tarikan aneh di dadaku mencegahku untuk pergi.

Aku menyalahkan kebingungan terkutuk di pikiranku atas apa yang kukatakan berikutnya. “Kalau kamu butuh teman, aku juga berencana mengambil camilan. Tidak terlalu lapar untuk makan malam penuh.”

Rasa terkejut menyapu wajah Annastasia, diikuti oleh sedikit rasa senang. “Tentu. Di ruang santai timur lima menit lagi?”

Aku mengangguk singkat.

Beruntung, Beatrice sedang tidak ada di dapur saat aku kembali. Aku mengambil semangkuk sup lagi dan bergabung dengan Vivian di ruang santai timur.

Kuah sup ayamnya terasa kaya rasa dan cukup mengenyangkan. Kami makan dalam keheningan sejenak sampai Annastasia berbicara lagi.

“Bagaimana kabar Alex? Setelah… kamu tahu.”

“Dia baik-baik saja. Dia pernah mengalami hal yang lebih buruk.” Walau aku harus mengecek keadaannya lagi untuk memastikan. “Dia pernah dirampok oleh seekor monyet di Bali. Hampir mati saat mencoba mengambil ponselnya kembali.”

Annastasia tertawa terbahak-bahak hingga tersedak. “Maaf, bagaimana?”

“Itu benar.” Mulutku melengkung tersenyum, baik karena ingatan akan kekesalan adikku atas kejahatan itu maupun karena melihat senyumannya. “Tentu saja, dia berhasil lolos dengan selamat, tetapi beberapa monyet candi di sana memang tidak punya belas kasihan.”

“Aku akan mengingat hal itu untuk perjalanan kita nanti.”

Kami akan pergi ke Bali dalam tiga minggu kedepan untuk menemui orang tuaku saat Thanksgiving. Aku sudah merasa enggan membayangkannya, tetapi aku mengesampingkan hal itu untuk saat ini.

“Dan kamu?” Aku mengabaikan semua kepura-puraan dan menatap lurus ke arah Annastasia. “Bagaimana kabarmu?”

Keceriaan di wajah Annastasia lenyap begitu pertanyaan itu terlontar. Udara di sekitar kami berubah dan memadat, mengikis suasana riang yang ada sebelumnya.

“Aku baik-baik saja,” katanya pelan. “Aku memang sedikit kesulitan tidur, makanya aku tidur siang, tapi ini lebih ke rasa terkejut daripada hal lain. Aku tidak terluka. Aku akan segera melaluinya.”

Mungkin dia benar. Dia jauh lebih tenang sekarang dibandingkan malam pertama, tetapi seutas benang kekhawatiran masih mengusik perutku. “Jika kamu ingin berbicara dengan seseorang, perusahaan punya tim yang siap membantu,” kataku dengan suara berat. Terapis yang bekerja sama dengan kami adalah beberapa praktisi teratas di kota ini. “Beri tahu aku saja.”

“Terima kasih.” Senyumnya kembali, kali ini lebih lembut. “Untuk malam itu, dan untuk yang ini.” Dia mengangguk ke arah mangkuk yang tersisa setengah di antara kami.

“Sama-sama,” kataku kaku, aku tidak yakin bagaimana cara menangani apa pun yang sedang terjadi di sini.

Aku tidak memiliki acuan untuk memahami kabut aneh yang menutupi otakku, atau rasa nyes di dadaku saat aku melihatnya.

Ini bukan amarah, seperti yang kurasakan pada Brant.

Ini bukan kebencian, seperti yang kurasakan pada Jarvis.

Ini bukan nafsu atau rasa tidak suka atau emosi lain yang pernah membentuk interaksiku sebelumnya dengan Annastasia.

Aku tidak tahu ini apa, tetapi hal ini benar-benar membuatku merasa sangat tidak tenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!