NovelToon NovelToon
Terikat Oleh Perjodohan

Terikat Oleh Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: saphal_tha

#history Romantic
by : Saphal_tha

Anna adalah istri yang tidak pernah Xavier inginkan… sekaligus kelemahan yang tak pernah ia sangka.

Kekayaan, kekuasaan, dan kecerdasan. Xavier Romanov memiliki segala sesuatu yang diimpikan banyak orang. Sebagai seorang CEO muda yang disegani, hidupnya nyaris sempurna, kecuali satu hal yang tidak pernah ingin ia miliki, seorang istri.

Pernikahan tidak pernah ada dalam rencana hidup Xavier, sampai sebuah ancaman pemerasan memaksanya bertunangan dengan wanita yang hampir tidak ia kenal.

Annastasia Clifford ahli waris perusahaan perhiasan sekaligus putri dari musuh terbarunya.

Tidak peduli seberapa cantik atau menawannya wanita itu, Xavier akan melakukan segala cara untuk memusnahkan bukti ancaman tersebut dan membatalkan pertunangan mereka.

Namun satu hal yang tidak pernah ia predeksi akan terjadi, sekarang setelah mendapatkan Anna... ia tidak sanggup melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saphal_tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anna

Aku tidak bisa berhenti gemetar. Aku melangkah keluar dari kamar mandi, kulitku terasa sedingin es meskipun aku sudah mengenakan jubah mandi, lantai berpemanas menyala, dan aku telah berendam air hangat selama satu jam terakhir.

Hari sudah larut malam, beberapa jam setelah percobaan perampokan di toko Carrie & Keith, tetapi aku masih merasa terjebak di ruang pamer toko itu, dengan moncong senjata di bawah daguku dan penjahata yang menatap balik ke arahku.

Seluruh insiden itu sebenarnya berlangsung kurang dari sepuluh menit sebelum tim keamanan bantuan tiba dan menetralkan situasi.

Tidak ada yang terluka, tetapi aku tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.

Bagaimana jika bantuan datang terlambat satu menit?

Bagaimana jika perampok itu menembak terlebih dahulu baru bertanya kemudian?

Bagaimana jika aku mati? Apa yang kupunya untuk ditunjukkan selain lemari yang penuh dengan pakaian bagus dan hidup yang dihabiskan hanya untuk melakukan hal yang ku anggap benar.

Aku akan mati tanpa sempat mengunjungi Gurun Atacama untuk melihat rasi bintang, atau merasakan jatuh cinta lebih dari sekali.

Hal-hal yang selalu kupikir masih punya banyak waktu untuk kulakukan karena usiaku baru akhir dua puluhan, sialan, dan aku seharusnya merasa tak terkalahkan di usia seperti ini.

Suara dentuman pelan dari pintu depan menyelamatkanku dari pikiran-pikiran itu, tetapi jantungku melonjak karena rasa cemas.

Siapa yang datang? Xavier seharusnya baru pulang besok, dan para staf sudah berada di dalam kamar mereka. Bahkan jika itu mereka, mereka tidak akan membanting pintu seperti itu.

Kecemasanku makin meningkat saat suara langkah kaki terdengar makin keras dan pintu kamarku terbuka lebar.

Aku menyambar sebuah vas bunga dari atas meja rias, siap melemparkannya ke arah penyusup sampai aku mengenali rambut gelap dan wajah yang kaku tanpa kompromi itu.

“Xavier?” Detak jantungku perlahan melambat saat aku meletakkan vas itu kembali. “Kamu kan seharusnya baru pulang besok. Sedang apa kamu…”

Aku tidak mendapat kesempatan untuk menyelesaikan kalimatku sebelum dia melintasi ruangan dalam dua langkah lebar dan mencengkeram kedua lenganku.

“Apakah kamu terluka?” tuntutnya. Xavier memindaiku dari ujung kepala sampai ujung kaki, raut wajahnya tampak sangat tegang.

Apa… perampokan itu. Tentu saja. Dia adalah CEOnya. Seseorang pasti telah memberitahunya apa yang terjadi.

“Aku baik-baik saja. Sedikit terguncang, tapi baik-baik saja.” Aku memaksakan sebuah senyuman. “Kamu kan seharusnya di California sampai besok. Kenapa kamu pulang lebih cepat?”

“Ada percobaan perampokan di salah satu toko utamaku, Annastasia.” Otot di rahangnya berkedut. “Tentu saja aku langsung pulang.”

“Tapi kesepakatan Santeri…”

“Sudah selesai.” Cengkeraman tangannya tetap bertahan di lenganku, terasa kuat namun lembut.

“Oh.” Aku tidak bisa memikirkan hal lain untuk dikatakan. Hari ini terasa sangat tidak nyata, dan makin terasa tidak nyata dengan kehadiran Xavier yang mendadak.

Baru pada saat itulah aku menyadari kemejanya yang kusut dan rambutnya yang berantakan, seolah-olah dia terus-menerus menyisirnya dengan jari-jarinya.

Untuk beberapa alasan, pemandangan itu membuat mataku kabur oleh air mata. Itu terasa terlalu manusiawi, terlalu normal untuk hari seperti ini.

Jari-jari Dante makin mengencang di lenganku. “Jujurlah, Anna,” katanya, kata-katanya dan panggilan itu entah bagaimana terasa menenangkan sekaligus menuntut. “Apakah kamu baik-baik saja?”

Bukan apakah kamu terluka, melainkan apakah kamu baik-baik saja? Dua pertanyaan yang berbeda.

Tekanan membuncah di dalam dadaku, tetapi aku mengangguk.

Mata Xavier bagaikan badai yang gelap, wajahnya terukir garis-garis amarah dan kepanikan. Menanggapi jawabanku, rasa ragu bergabung dalam raut wajahnya, halus namun terlihat jelas.

“Dia menodongkan senjata ke arahmu,” katanya dengan suara yang lebih rendah. Lebih tegang dan Menjanjikan pembalasan.

Tekanan itu makin menghimpit gendang telingaku, sebuah kekuatan tak terlihat yang menyeretku jauh ke dasar samudera yang bergejolak.

Senyumku bergetar. “Ya. Yah, bukan…” Aku mengembuskan napas dalam-dalam melewati paru-paruku yang makin sesak. Jangan menangis. “Bukan momen terbaik dalam mingguku, harus kuakui.”

Tubuh Xavier bergetar oleh ketegangan. Ketegangan itu menggarisi rahangnya dan menggulung di bawah kulitnya, seperti ular beludak yang siap menerkam.

“Apakah dia melakukan hal lain?”

Aku menggelengkan kepala. Oksigen makin menipis di setiap detiknya, membuat setiap kata terasa sulit disampaikan, tetapi aku tetap memaksakan diri. “Keamanan tiba sebelum ada yang terluka. Aku baik-baik saja. Sungguh.” Kata terakhir itu terlontar dengan nada yang lebih tinggi dari sisanya.

Otot di rahang Xavier berkedut lagi. “Kamu gemetaran.”

Apakah aku gemetaran? Aku mengeceknya. Ya, benar.

Getaran-getaran kecil merambat di sekujur tubuhku. Lututku gemetar, bulu bergidik di lenganku. Jika bukan karena kehangatan dan kekuatan dari pegangan Xavier, aku mungkin sudah roboh ke lantai.

Aku mengamati hal-hal ini dengan rasa asing, seolah-olah aku sedang menonton diriku sendiri dalam sebuah film yang tidak begitu kupedulikan.

“Ini karena dingin,” kataku. Aku tidak tahu siapa yang menyalakan AC di bulan November, tapi kamarku terasa seperti ruangan pendingin daging.

Xavier mengusap kulitku dengan ibu jarinya. Rasa khawatir membendung di matanya. “Pemanas ruangannya menyala, mia cara,” katanya pelan.

Tekanan itu menyebar hingga ke tenggorokanku. “Kalau begitu, pemanasnya pasti rusak.” Aku terus berceloteh, rentetan kata-kataku yang tak berguna menjadi satu-satunya benang yang menahanku agar tidak hancur. “Kamu harus menyuruh orang memperbaikinya. Aku yakin kamu bisa mendatangkan seseorang ke sini dengan cepat. Kamu kan…” Sesuatu yang basah menetes menelusuri pipiku. “Kamu kan Xavier Romanov. Kamu bisa…” Aku tidak bisa bernapas dengan benar. Udara. Aku butuh udara. “Kamu bisa melakukan apa saja.”

Suaraku pecah. Satu retakan. Hanya itu yang dibutuhkan. Benang penahanku putus, dan pertahananku hancur total. Tangisan terisak mengguncang tubuhku saat emosi dan trauma itu meluap menguasai diriku.

Sensasi gembira dari berita Legacy Ball yang diikuti oleh teror perampokan. Hentakan sepatu boot yang berat di atas lantai marmer di ruangan yang dingin dan kaku itu. Logam dingin yang menempel di kulitku dan perasaan tak tergoyahkan bahwa jika aku mati hari ini, aku mati tanpa pernah benar-benar hidup. Bukan sebagai Annastasia Clifford. Bukan sebagai diriku sendiri.

Lengan Xavier melingkar di sekelilingku. Dia tidak berbicara, tetapi pelukannya begitu kuat dan menenangkan hingga mengikis rasa canggung atau malu yang mungkin kupunya.

Air laut yang bergejolak menutupi kepalaku, menenggelamkan cahaya. Gelombang itu melempar-lemparkanku hingga tubuhku berguncang hebat karena dahsyatnya tangisanku. Perutku sakit, mataku pedih, dan tenggorokanku begitu perih hingga terasa sakit hanya untuk bernapas.

Namun Xavier tetap memelukku. Aku menekan wajahku ke dadanya, bahuku naik turun terisak selagi dia mengusapkan tangannya di punggungku. Dia menggumamkan sesuatu dalam bahasa Italia, tetapi aku tidak bisa mencerna apa yang dikatakannya.

Yang kutahu hanyalah, di tengah dampak dingin pasca-perampokan itu, suara dan pelukannya adalah satu-satunya hal yang menjagaku tetap hangat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!