Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.
Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.
Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.
Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.
Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.
Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Kisah bahagia
Airyn berdiri di tengah hamparan ruang serba putih yang hening. Ia memutar tubuhnya, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, tetapi tak menemukan ujung maupun pembatas.
Di dalam kesendirian yang menentramkan itu, langkah kakinya terayun menyusuri pendar cahaya, hingga dua bayangan yang melangkah menjauh di kejauhan menarik seluruh perhatiannya.
"Tunggu!" seru Airyn, mulai berlari mengejar kedua sosok tersebut.
Airyn terus memacu langkahnya, namun seberapa cepat pun ia berlari, jarak di antara mereka seolah tak pernah terkikis. Saat tenaganya mulai terkuras, Airyn menghentikan langkahnya seraya menghela napas panjang.
Secara perlahan, kedua sosok di depannya pun ikut berhenti. Mereka berbalik arah, menatap Airyn, lalu menyunggingkan senyuman paling hangat yang pernah Airyn rasakan.
Seorang pria bersurai perak berkilau dan seorang wanita anggun berambut biru gelap memandangnya penuh kasih sayang dari kejauhan.
"Hah... hah..."
Airyn tersentak bangun di atas ranjang raksasanya. Kelopak matanya terbuka pelan. Kali ini, tak ada lagi jeritan panik, tak ada peluh dingin, dan tak ada lagi ketakutan akibat adegan berdarah.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan, mimpi buruk itu berganti menjadi sebuah perjumpaan yang begitu damai dan menenangkan.
Jemari Airyn terangkat, menyentuh dadanya yang bergetar hangat. Sebuah senyuman tulus terukir di bibirnya. "Ayah... Ibu..." bisiknya pelan.
"Yang Mulia!"
Suara lantang yang khas itu seketika memutus lamunan Airyn. Bibi Lin melangkah masuk ke dalam kamar, mengenakan seragam kepala pelayan kerajaan yang rapi, diikuti oleh beberapa dayang muda di belakangnya.
"Waktunya bersiap-siap, Tuan Putri," ujar Bibi Lin tersenyum hangat.
Airyn menyunggingkan senyum canggung. "Kenapa harus bersiap sepagi ini, Bibi? Bukankah biasanya aku harus latihan dulu dengan Paman Kaelen?"
"Sesuai perintah Yang Mulia Raja Kaelen, hari ini akan diadakan upacara peringatan resmi. Anda tentu harus tampil cantik dan sempurna di hadapan seluruh tamu," terang Bibi Lin seraya menuntun Airyn turun dari tempat tidur.
Airyn menghembuskan napas pasrah. Ia mengikuti Bibi Lin menuju tempat mandi, berendam di dalam bak pualam berisi air hangat dan taburan kelopak mawar harum, sebuah kemewahan yang sungguh berbanding terbalik dari kebiasaannya mandi air dingin menggunakan gayung kayu di panti asuhan.
Para dayang membasuh dan merawat surai birunya dengan telaten. Genap seminggu sudah warna biru murni itu tak lagi dilapisi pasta arang pekat. Surainya kini tampak begitu lembut, halus, dan berkilau alami.
Usai mandi, Bibi Lin membantunya mengenakan gaun berwarna biru soft yang dipadukan dengan garis-garis sulaman emas dan renda putih elegan di sepanjang lengannya. Bibi Lin kemudian memilihkan beberapa perhiasan perak bernuansa biru yang memancar serasi pada paras Airyn.
"Dan jangan lupakan yang satu ini," gumam Bibi Lin seraya mengeluarkan sebuah kotak kayu berlapis beludru biru dari dalam lemari pakaian Airyn.
Airyn menatap kotak itu penasaran. Bibi Lin membukanya perlahan, memperlihatkan sebuah tiara perak berukir indah dengan tahta permata biru emerald di puncaknya.
"Yang Mulia... tiara ini adalah milik ibu Anda, Putri Ariel. Sekarang, mahkota ini resmi menjadi milik Anda," tutur Bibi Lin lembut sebelum menyematkan tiara tersebut dengan hati-hati di atas surai biru Airyn.
Airyn mematung menatap pantulan dirinya di dalam cermin pualam. Di mana gerangan sosok gadis pesisir berapron kusam yang dengan sabar mengadoni roti di kedai Paman Marco? Kini, seluruh keanggunan dan kemewahan darah bangsawan seolah menyelimuti tubuhnya secara utuh.
"Apakah ini... tidak terlalu berlebihan, Bibi?" tanya Airyn canggung.
"Sama sekali tidak, Tuan Putri. Anda terlihat sangat anggun dan memesona," puji Bibi Lin penuh kebanggaan.
Tok! Tok!
Tepat pukul delapan pagi, ketukan pintu menginterupsi mereka. Seorang pria bertubuh tegap dengan janggut dan kumis yang mulai memutih berdiri sigap di ambang pintu. Dialah Edgard.
"Hamba kemari untuk menjemput Yang Mulia Putri," ucap Edgard tegas.
"Tunggu sebentar, Edgard! Kau ini selalu saja terlalu cepat," gerutu Bibi Lin seraya merapikan lipatan terakhir gaun Airyn.
Edgard hanya berdiri patuh di samping meja rias, menunggu dengan sabar.
"Sudah cukup, Bibi Lin. Kasihan Paman Edgard menunggu lama, kita bisa terlambat nanti," potong Airyn menahan tawa.
Bibi Lin menyudahi tugasnya, lalu memegang jemari Airyn untuk membantunya berdiri. "Baiklah, Tuan Putri."
"Paman Edgard, mari kita pergi," ajak Airyn.
"Tentu, Yang Mulia. Anda terlihat sangat cantik hari ini," puji Edgard tulus seraya berlutut dan mengecup punggung tangan Airyn sebagai tanda hormat ksatria.
Dengan Edgard mengawal di sampingnya serta Bibi Lin dan para dayang mengekor di belakang, Airyn melangkah menelusuri lorong-lorong pualam istana menuju pelataran belakang.
Di sana, para prajurit veteran, warga yang tinggal berdekatan, dan seluruh pejabat tinggi Tidebay telah berkumpul rapi. Dari kejauhan, Airyn dapat melihat Paman Kaelen dalam balutan jubah agung raja sedang berbincang bersama para petinggi.
Edgard membimbing Airyn mendekat. Saat menyadari kehadiran keponakannya, Kaelen menoleh dan tersenyum bangga.
"Perkenalkan... ini adalah keponakanku, Putri Mahkota Airyn," ucap Kaelen seraya merangkul hangat pundak Airyn, memperkenalkannya secara resmi kepada para tamu yang serta-merta menunduk hormat.
Airyn merasa sedikit canggung saat para petinggi yang usianya jauh lebih tua darinya membungkuk penuh hormat, namun ia mencoba tersenyum seanggun mungkin.
"Putri sudah berada di sini, mari kita menuju area air terjun," ujar Kaelen.
Seorang prajurit sempat membawakan seekor kuda untuk ditunggangi sang raja, tetapi Kaelen menolaknya halus. Ia memilih berjalan kaki berdampingan bersama Airyn, diiringi oleh Edgard, Bibi Lin, dan seluruh rombongan pejabat yang mengekor di belakang mereka secara khidmat.
Mereka menyusuri jalan setapak batu menuju tebing air terjun. Gemuruh derasnya air makin menggetarkan udara saat mereka tiba di celah jurang.
Di sana, para tetua memimpin doa bersama, memanjatkan harapan bagi jiwa-jiwa prajurit dan keluarga kerajaan yang gugur delapan belas tahun lalu akibat kejahatan rezim lama.
Kaelen melangkah maju ke tepi tebing, memberikan pidato resminya.
"Terima kasih atas kehadiran kalian semua hari ini. Tepat delapan belas tahun yang lalu, di tempat inilah ibuku, kakakku, dan kakak iparku dibantai dan dijatuhkan ke dasar jurang."
Kaelen mengambil jeda, menatap lurus ke arah hadirin dengan penuh keteguhan.
"Aku memohon maaf yang sebesar-besarnya karena sempat lari dari tanggung jawab dan membiarkan Putri Mahkota kita tumbuh dalam kesulitan. Namun mulai hari ini, mari kita bangun masa depan yang baru bagi Tidebay. Sebagai raja, aku berjanji akan memimpin kerajaan ini menuju kedamaian dan menentang segala bentuk penindasan!"
Sorak-sorai dan tepuk tangan meriah memecah keheningan air terjun. Airyn mendekat, merangkul lengan pamannya dari samping dengan binar mata penuh kebanggaan.
Upacara peringatan itu berlangsung singkat dan khidmat. Kaelen sengaja tidak menggelar pesta mewah atau perayaan berlebihan atas tumbangnya Grance.
"Lebih baik aset kerajaan digunakan untuk kesejahteraan rakyat yang membutuhkan," tegas Kaelen, yang disetujui sepenuhnya oleh Airyn.
Atas permintaan Airyn, sebagian aset disalurkan untuk renovasi panti asuhan tempat tinggal Madam Ruby dan Eli, pembebasan biaya sekolah bagi anak-anak kurang mampu, serta pemotongan pajak para pedagang kecil secara drastis.
Airyn juga sempat mengirimkan sejumlah uang dan bantuan kepada Paman Marco, namun pria tua itu menolaknya mentah-mentah dalam balasan suratnya.
Aku tahu aku ini tua dan miskin, Airyn, tapi aku masih sanggup mencari nafkah sendiri dari kedai roti ini. Simpan uangmu untuk rakyat yang lebih membutuhkan. Tulis Paman Marco penuh harga diri.
Airyn hanya bisa tertawa membaca balasan surat tersebut dan berjanji akan sesekali mengunjunginya.
Kehidupan Airyn di istana berjalan makin selaras. Meski terkadang rasa rindu pada kesederhanaan pesisir menyergap, ia mulai menikmati perannya sebagai penopang harapan baru bagi Tidebay.
Sementara itu, ratusan mil jauhnya dari batas wilayah Tidebay...
Di atas puncakan tebing batu raksasa yang menerjang tingginya awan, berdiri sesosok pemuda berselubung jubah tebal. Angin bertiup kencang menghempaskan tepian jubahnya saat ia menatap hamparan horizon benua yang begitu luas.
Wuuush!
"Tuan! Ada kabar baru dari wilayah Tenggara!" seru seorang pria berlari dari belakang, berjuang menahan terpaan angin untuk mendekati puncak tebing.
"Tidebay telah merdeka. Aetherist Air dikabarkan telah kembali!"
Pemuda itu tidak serta-merta berbalik. Ia hanya menengadah sedikit, menatap pusaran angin yang berembus lembut di sekeliling lengannya.
Sebuah senyum tipis yang tak tertebak terukir di parasnya.
"Begitukah?" gumamnya pelan, suaranya hampir menyatu dengan deru angin.
"Kepingan yang hilang... akhirnya telah ditemukan."
[ Tidebay Arc - SELESAI ]