Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 - Perang Batin
Tawa renyah, namun sarat akan nada tak percaya, lolos begitu saja dari bibir Tristan. Kepalanya menggeleng pelan, menatap wanita di hadapannya seolah Nayla baru saja menjelma menjadi sosok asing yang tak pernah dia kenal. Selama ini, Tristan mengenal Nayla sebagai sekretaris yang tenang, penurut, dan cenderung defensif jika disinggung masalah pribadi. Namun kini, wanita itu dengan berani mengajukan sebuah "penawaran" yang secara tidak langsung menjual batas diri demi imbalan tertentu.
Tristan tak menyangka Nayla akan secepat itu memanfaatkan situasi dan celah dari kecerdasannya. Pria itu menyandarkan pinggulnya di tepi meja, melipat kedua tangan di dada, lalu membuka mulut untuk memberikan tanggapan sinis atas keberanian sekretarisnya.
Namun, belum sempat sepatah kata pun keluar dari tenggorokan Tristan, Nayla sudah lebih dulu memotongnya.
"Ya sudah kalau Bapak tidak mau," ucap Nayla santai, memotong telak respon yang hendak dilontarkan atasannya. Senyum tipis yang penuh misteri masih terpatri manis di wajahnya. "Saya akan kembali ke meja. Tapi kalau lain kali Anda menyentuh saya, sebaiknya minta izin dulu."
Tanpa menunggu balasan, Nayla berbalik arah dengan gerakan anggun. Langkah kakinya terdengar teratur dan ringan saat meninggalkan ruangan, meninggalkan aroma parfum lembut yang beradu dengan sisa ketegangan di udara.
Tristan terpaku di tempatnya. Bibirnya yang sempat ternganga kecil langsung terkatup rapat. Darah berdesir hangat membanjiri wajah dan lehernya. Pria yang disegani di dunia bisnis itu kini merasa malu setengah mati. Ia merasa ditelanjangi oleh sikap santai Nayla yang justru memegang kendali atas situasi rumit tersebut.
Rasa gengsi dan harga dirinya sebagai pimpinan seperti dilemparkan kembali ke wajahnya sendiri. Tristan mengepalkan tangannya, menatap pintu kaca yang kembali tertutup rapat dengan napas memburu.
Mendekati jam makan siang, ketegangan personal itu terpaksa dilipat rapat-rapat. Sebuah rapat direksi darurat digelar di ruang pertemuan utama. Agendanya sangat krusial, divisi produksi lini fesyen mewah mereka mengalami krisis bahan baku kulit berkualitas tinggi akibat kendala impor dan regulasi lingkungan yang makin ketat. Tim riset dan pengadaan bahan tampak saling melempar salah, sementara tenggat waktu peluncuran koleksi musim depan makin mendesak.
Tristan duduk di kepala meja, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Suasana rapat memanas dengan berbagai usulan yang dinilai tidak efisien dan memakan biaya fantastis.
Di tengah perdebatan yang menemui jalan buntu, Nayla yang berdiri tak jauh dari Tristan untuk mencatat jalannya rapat, akhirnya mengangkat tangan dan meminta izin untuk berbicara.
"Permisi, Pak Tristan dan Bapak-Bapak jajaran direksi," suara Nayla membelah keributan kecil di ruangan tersebut. Semua mata tertuju padanya. Nayla melangkah mendekati layar proyeksi dengan tenang, membawa sebuah tablet di tangannya.
"Jika masalah utama kita adalah kelangkaan kulit hewani impor dan tuntutan keberlanjutan lingkungan, saya menyarankan kita mempertimbangkan bahan alternatif berbahan dasar kaktus. Baru-baru ini, sekelompok petani lokal di daerah Jawa Barat berhasil membudidayakan dan mengolah serat kaktus menjadi material berbahan dasar kulit sintetis berkualitas tinggi. Lembut, tahan lama, dan memiliki tekstur yang sangat mirip dengan calfskin premium."
Nayla menekan tombol di tabletnya, menampilkan slide berisi data teknis, hasil uji ketahanan, serta estimasi biaya produksi yang jauh lebih menekan anggaran perusahaan dibanding harus memaksakan impor kulit hewani. Penjelasannya begitu lugas, terstruktur, dan memperlihatkan betapa matangnya persiapan yang ia lakukan tanpa diminta secara spesifik.
Tristan menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya tak lepas dari sosok Nayla yang sedang memaparkan presentasinya dengan begitu percaya diri. Cahaya dari layar proyeksi memantul di wajah wanita itu, menonjolkan keindahan alami dan kecerdasan yang selama ini tersembunyi di balik sikap pendiamnya.
Tiba-tiba, dada Tristan bergemuruh hebat. Jantungnya berdegup kencang, memukul rongga dadanya dengan irama yang tak beraturan. Ketertarikan yang coba dia tekan mati-matian sejak insiden ciuman tadi pagi kembali mencuat, kali ini berlipat ganda.
Tristan sadar, rasa tertarik ini bukan lagi sekadar dorongan impulsif atau luapan emosi sesaat karena masalah rumah tangganya, melainkan sebuah pesona nyata dari sosok Nayla yang cerdas dan penuh kejutan.
'Aku tidak bisa begini terus,' batin Tristan panik, berusaha mengalihkan pandangannya ke berkas di meja meski fokusnya sudah hancur lebur. Pria itu sadar betul betapa berbahayanya situasi ini. Ia memiliki istri, dan Nayla adalah bawahannya. Bermain-main dengan perasaan dan godaan ini sama saja dengan melangkahkan kaki ke dalam api terlarang yang siap membakar habis karier dan reputasinya.
Sementara Tristan bergelut dengan konflik batin dan perasaan bersalah yang makin menghimpitnya di ruang rapat, di tempat lain, Olivia justru sedang melangkah riang menembus area keberangkatan internasional Bandara Soekarno-Hatta.
Sisa kekesalannya pada Tristan menguap begitu saja begitu saldo rekeningnya bertambah ratusan juta rupiah. Dengan kacamata hitam berbingkai emas melingkar di wajahnya dan pakaian haute couture yang membalut tubuhnya, Olivia melangkah dengan keangkuhan yang biasa.
Namun, wanita itu sama sekali tidak bergabung dengan rombongan teman-teman sosialitanya seperti yang dia klaim pada Tristan.
Di dalam ruang tunggu eksekutif yang eksklusif, seorang pria berjas santai namun elegan sudah menunggunya dengan segelas sampanye di tangan. Pria itu menyunggingkan senyum menawan saat melihat kedatangan Olivia.
Dia adalah Zay. Wakil Direktur Nebula, sekaligus orang kepercayaan Tristan di perusahaannya sendiri. Zay hari itu mengajukan cuti selama beberapa hari pada Tristan karena mengaku ada urusan keluarga.
"Kamu lama sekali, Sayang," bisik Zay mesra begitu Olivia duduk di sampingnya. Tangannya tanpa ragu merengkuh pinggang Olivia dan mendaratkan kecupan hangat di pipi wanita itu.
Olivia tertawa manja, menyandarkan kepalanya di bahu Zay tanpa peduli status hukumnya. "Harus akting sedikit di kantor Tristan tadi. Tapi tenang saja, uang jajanku untuk di Paris sudah aman dari dia."
Zay mengelus rambut Olivia dengan tatapan penuh intrik. "Baguslah. Biarkan Tristan sibuk memikirkan masalah kantornya. Sementara itu, kita menikmati Paris sepuasnya."