Dulu Tiara berbohong pada mantan suaminya jika bayi yang dilahirkannya telah meninggal dunia. Itu semua dilakukannya karena kecewa pada pria tersebut yang mengabaikannya saat akan melahirkan.
Namun kini dia harus kembali berurusan dengan mantan suaminya tersebut, karena putra mereka membutuhkan bantuan donor sumsum tulang belakang.
Lalu bagaimana dengan reaksi Tom saat mengetahui jika anaknya yang lain masih hidup, dan dalam keadaan sekarat karena penyakit yang yang dideritanya?
"Menikahlah denganku lagi, Tiara." Tom.
"Baiklah tapi setelah aku hamil dan melahirkan, kita berpisah." Tiara.
Follow Ig : mom_tree_17
Tik Tok : Mommytree17
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy tree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Setelah semalaman menemani Julia yang kini di rawat di rumah sakit, akhirnya Tom bisa pulang juga setelah menghubungi salah satu kerabat wanita itu yang ada di Jakarta untuk menemani Julia.
Rencananya setelah sampai di rumah, Tom ingin beristirahat sebentar sebelum kembali ke kantor walaupun hari sudah siang. Karena seingatnya hari ini pukul tiga sore, ada pertemuan dengan pemilik perusahaan Light.
"Tiara..." panggil Tom dengan langkah gontai memasuki ruangan yang terlihat sepi seperti tak berpenghuni. "Gio, Daddy pulang," panggilnya lagi sembari merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan kedua mata tertutup.
Jujur saja Tom merasa sangat lelah karena semalaman harus menjaga Julia yang tidak mau di tinggal barang sedetik pun. Dan yang lebih parahnya lagi, Julia terus-menerus mengancam akan bertindak nekat jika Tom pergi meninggalkan wanita itu.
Untung saja tadi kerabat Julia mau datang, dan membantunya lepas dari mantan kekasihnya itu. Kalau tidak, saat ini Tom pasti masih tertahan di rumah sakit untuk menemani Julia.
"Tiara, Gio...!" panggil Tom kembali karena tak ada satu pun yang datang menghampiri.
Merasa ada yang aneh dengan situasi rumahnya yang terasa sangat sepi, terlebih anak dan istrinya tak ada satu pun yang menyahut panggilnya. Tom pun membuka kedua matanya, lalu berjalan menuju kamar Gio yang tenyata kosong. Ia pun berjalan menuju kamar pribadinya dengan harapan menemukan anak dan istrinya di sana. Namun harapan itu langsung pupus seketika saat tak menemukan siapapun di dalam kamar tersebut.
"Kemana mereka?" tanya Tom dengan perasaan mulai cemas sembari mengambil ponselnya untuk menghubungi Tiara. "Sial!" umpatnya saat menyadari ponselnya ternyata mati.
Tom pun segera menyalakan benda pintar dan canggih tersebut, dan langsung terkejut saat melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Tiara. Namun yang membuatnya lebih terkejut lagi, adalah isi pesan singkat yang dikirim oleh Tiara pagi tadi.
"Gio...." pekiknya dengan panik sembari berlari keluar ruangan menuju mobilnya.
Tak ia pedulikan rasa lelah pada tubuhnya, saat mengetahui jika putranya saat ini di rawat di rumah sakit. Sungguh Tom sangat menyesal tak ada di samping Tiara saat putra mereka kembali drop.
Dengan kecepatan tinggi Tom pun mengendari kendaraan pribadinya, sambil berusaha menghubungi ponsel Tiara yang sejak tadi tidak diangkat.
*
*
"Bagaimana keadaan Gio?" tanya Tom dengan panik setelah masuk ke dalam ruang rawat putranya.
Ya, setelah menempuh perjalanan selama sepuluh menit, akhirnya mobil yang dikendarai Tom sampai di rumah sakit yang disebut Tiara di dalam pesan singkatnya.
Tiara yang tengah menunggu Gio, hanya menatap sekilas pada Tom tanpa ada niatan untuk menjawab pertanyaan pria itu. Karena ia masih merasa kesal pada suaminya yang tidak pulang semalaman tanpa kabar berita sama sekali. Padahal Tiara begitu membutuhkan Tom, di saat Gio kembali drop dan kini harus di rawat dengan intensif.
"Tiara, bagaimana keadaan Gio?" Tom kembali bertanya dengan menyentuh bahu istrinya.
"Lebih baik kita bicara di luar!"
Tiara memutuskan keluar dari ruangan, karena tidak ingin berdebat di depan putra mereka yang terbaring lemah di atas ranjang.
Tom pun mengikuti Tiara, setelah menatap dengan intens wajah putranya yang terlihat pucat dengan selang di kedua hidung kecilnya.
"Sayang, bagaimana keadaan putra kita?" tanya Tom yang sejak tadi tak mendapatkan jawaban dari istrinya.
"Keadaan Gio sudah lebih baik," jawab Tiara dengan menahan kekesalannya saat melihat wajah Tom. Rasanya setiap melihat wajah pria itu, ia teringat kembali dengan Julia dan perselingkuhan mereka dulu yang sudah membuat hatinya terluka. "Semalam kau kemana? kenapa ponselmu mati?"
"Aku..." Tom terdiam karena bingung harus menjawab apa. Karena jika sampai Tiara tahu kalau semalam ia bersama Julia, maka wanitanya itu pasti akan salah paham kembali. "Semalam aku —"
"Sudah lupakan saja pertanyaanku tadi,"sela Tiara kembali karena sudah dapat menebak jika suaminya itu semalaman bersama Julia. "Pulanglah! Kau pasti lelah, biar aku yang menjaga Gio."
"Tidak, aku akan tetap di sini menemanimu dan putra kita."
Tiara menatap suaminya lalu menghela napas dengan kasar. "Bukankah kau harus bekerja?"
Tom terdiam sesaat. "Aku akan menyuruh Zack untuk menghandle semua pekerjaan kantor."
Ya, meskipun sore ini ada pertemuan penting dengan pemilik perusahaan Light. Tapi Tom tidak akan pergi meninggalkan Tiara dan Gio, karena baginya istri dan putranya jauh lebih penting dari apapun. Lagi pula pertemuan itu masih bisa di wakili oleh Zack, dan mudah-mudahan saja pemilik Light tidak merasa kecewa dengan ketidakhadirannya.
"Terserah kau saja," ucap Tiara dengan beranjak dari tempat tersebut, namun langkahnya terhenti saat mengingat sesuatu yang penting yang ingin diberikannya pada Tom. "Bacalah!" ia menyerahkan secarik kertas yang disimpannya tadi.
"Apa ini?" Tom membuka kertas tersebut lalu membacanya. "Tiara, ini?" ia menatap sang istri dengan tak percaya. "Kau hamil?"
Tiara menganggukkan kepalanya. Ia juga sebenarnya baru tahu tadi kalau dirinya tengah hamil, setelah memberanikan diri periksa ke dokter kandungan saat menyadari sudah terlambat datang bulan.
"Ya Tuhan, terima kasih." Tom memeluk Tiara dengan perasaan bahagia, karena akhirnya sang istri kembali mengandung keturunannya dan itu artinya Gio bisa diselamatkan. "Terima kasih sayang," ucapnya hendak mencium sang istri.
Namun Tiara menolak, dengan mendorong dada bidangnya hingga perlukan mereka terlepas.
"Aku harap mulai saat ini kau dan Julia bisa lebih bersabar, menahan diri untuk bertemu sampai urusan kita selesai. Setelah bayi ini lahir dan Gio selamat, kalian bisa bebas melakukan apa pun. Tapi untuk saat ini mengertilah, kalau Gio membutuhkanmu," pintanya dengan penuh emosi.
Bagaimana tidak emosi. Ketika ia membutuhkan sosok Tom, pria itu justru tak ada dan sulit untuk dihubungi. Padahal pagi tadi Tiara benar-benar ketakutan saat melihat Gio tak sadarkan diri, dengan darah yang keluar dari kedua hidungnya.
"Tidak Tiara, kau salah paham. Aku dan Julia sudah tidak memiliki hubungan apa pun," jelas Tom dengan perasaan sedih saat melihat tatapan Tiara yang terluka. "Percayalah padaku."
"Percaya padamu?" sinis Tiara dengan senyum mengejek. "Percaya pada pria yang semalaman tak pulang demi menemani wanita lain!"
Tom menggelengkan kepalanya tanpa membalas ucapan Tiara.
"Kenapa diam? Bukankah apa yang aku katakan benar, kalau semalam kau bersama Julia?" desak Tiara dengan menuntut.
Entah mengapa ia ingin sekali mendengar jawaban dari Tom. Padahal seharusnya Tiara tidak perlu melakukan hal tersebut, mengingat hubungan mereka yang hanya sebatas kerjasama untuk membuat anak demi menyelamatkan Gio.
"Ya, semalam aku bersama Julia," jawab Tom pada akhirnya. "Tapi kau jangan salah paham, aku menemuinya untuk memutuskan hubungan kami. Tapi saat aku pulang —"
"Stop! Aku tidak mau tahu," sela Tiara dengan cepat sembari beranjak dari tempat tersebut.
Meninggalkan Tom yang kini berdiri seorang diri di tempat tersebut.
"Kenapa jadi begini?" ucap Tom dengan menghela napas lelah sembari menatap hasil kehamilan Tiara. "Kenapa begitu susah untuk memperbaiki hubungan kita, Tiara? Kenapa?"
Dengan langkah gontai, Tom pun menyusul Tiara masuk ke dalam ruang rawat putranya. Ia ingin berusaha kembali memperbaiki hubungan mereka, apalagi saat ini Tiara tengah mengandung buah cintanya.