Beranjak dari takhtanya sebagai penguasa berdarah di perbatasan selatan.
Lin Xiao kini melangkahkan kaki ke dalam pusaran konspirasi mematikan Kota Awan Suci, tempat di mana eksistensi Jiwa Murni berkeliaran layaknya prajurit biasa dan Empat Sekte Suci mengendalikan langit.
Di musim kedua ini, tirai misteri Makam Para Raja perlahan ditarik lebih lebar melalui sebuah ekspedisi menegangkan ke dalam reruntuhan dimensi kuno yang tidak hanya menguji batas kekuatannya untuk menembus ranah Jiwa Murni, tetapi juga menguak luka, penyesalan, serta masa lalu dari para roh kaisar yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Ditemani oleh Xue Mingyue, raksasa setia Meng Shan, dan seorang gadis bercadar misterius yang menyimpan rahasia terdalam dari pusat benua, Lin Xiao harus menyeimbangkan ambisi penaklukannya dengan ikatan emosional yang semakin kuat, membuktikan bahwa di balik arogansi dan kekejaman seorang Kaisar Bayangan, terdapat jiwa manusiawi yang terus berjuang mendobrak takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Kriet.
Meng Shan melangkah masuk dengan hati-hati, diikuti oleh lima orang pria berjubah hitam yang wajahnya tertutup oleh tudung gelap.
"Tuan Lin Xiao, lima komandan divisi intelijen dan sabotase dari Paviliun Malam Kematian telah tiba seperti yang Anda perintahkan." lapor Meng Shan menyingkir ke samping.
Kelima pria itu langsung berlutut satu kaki secara serempak di hadapan Lin Xiao.
"Kami menghadap pada Penguasa Bayangan." ucap kelima komandan itu dengan nada yang dipenuhi rasa hormat dan ketakutan absolut.
"Berdirilah, anjing-anjingku." perintah Lin Xiao menyesap anggurnya dengan santai.
"Waktu kita tidak banyak, jadi aku akan langsung memberikan perintah eksekusi untuk rencana besar kita."
Kelima komandan itu segera berdiri, menundukkan kepala mereka menunggu instruksi dari pria yang telah menaklukkan seluruh distrik bawah tanah tersebut.
"Turnamen Empat Sekte Suci akan diselenggarakan di Arena Puncak Awan dua hari dari sekarang." buka Lin Xiao meletakkan gelasnya.
"Aku ingin separuh dari total pasukan Paviliun Malam Kematian disusupkan ke dalam wilayah inti mulai siang ini."
Salah satu komandan yang memiliki bekas luka sayatan di pipinya memberanikan diri untuk melangkah maju.
"Maafkan hamba, Tuan Penguasa." ucap komandan itu dengan suara bergetar.
"Namun menyusupkan ribuan kultivator ke distrik inti secara bersamaan pasti akan memicu alarm dari penjaga gerbang."
Lin Xiao menatap tajam komandan tersebut, membuat pria itu langsung berkeringat dingin.
"Siapa yang menyuruhmu membawa mereka masuk sambil membawa senjata terhunus didepan dada, idiot?" ejek Lin Xiao dengan suara bariton yang berat.
"Kalian akan masuk menggunakan jalur pasokan logistik turnamen." jelas Lin Xiao membeberkan strateginya.
"Sekte suci membutuhkan ribuan pelayan, koki, dan kuli angkut untuk melayani puluhan ribu tamu undangan di arena nanti."
Xue Mingyue tersenyum mengerti arah pemikiran licik dari tuannya tersebut.
"Kau ingin menyamarkan pasukan kita sebagai pekerja rendahan yang tidak akan pernah dicurigai oleh para petinggi sekte." simpul Xue Mingyue.
"Tepat sekali, Nona Es." jawab Lin Xiao mengangguk setuju.
"Gunakan kekayaan faksi kita untuk menyuap para penanggung jawab logistik, gantikan pekerja asli mereka dengan anggota kita yang sudah terlatih."
"Lalu apa tugas kami setelah berhasil menyusup ke dalam arena, Tuan?" tanya komandan lain yang bertubuh kurus kering.
"Kalian akan menanam formasi peledak spiritual tingkat tinggi di setiap pilar penyangga arena dan di gerbang keluar utama." perintah Lin Xiao tanpa belas kasihan.
"Begitu aku memberikan sinyal, aku ingin seluruh Arena Puncak Awan itu berubah menjadi lautan api dan darah."
Para komandan itu menelan ludah mendengar rencana pembantaian massal yang sangat gila tersebut.
Bahkan bagi mereka yang terbiasa hidup di dunia bawah tanah yang kejam, merencanakan serangan teroris berskala besar terhadap Empat Sekte Suci adalah tindakan bunuh diri.
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani membantah atau mempertanyakan perintah dari sang Kaisar Bayangan.
"Perintah Anda adalah hukum mutlak bagi kami, Tuan Penguasa." ucap komandan berwajah luka itu kembali menunduk.
"Kami akan memastikan setiap sudut arena ditanami oleh jebakan mematikan tanpa ada yang menyadarinya."
"Kerja bagus." puji Lin Xiao melambaikan tangannya mengusir mereka.
"Pergilah sekarang dan mulai pergerakan kalian, aku tidak menerima laporan kegagalan dalam bentuk apa pun."
Kelima komandan itu segera membungkuk hormat dan berjalan mundur keluar dari kamar VIP tersebut dengan langkah cepat.
Kriet. Brak.
Pintu kembali ditutup, menyisakan Lin Xiao, Xue Mingyue, dan Meng Shan di dalam ruangan yang mewah itu.
Meng Shan yang sedari tadi diam akhirnya tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.
"Tuan Lin Xiao, jika arena itu meledak, bukankah Nona Yue yang sedang berada di sana juga akan ikut terkena bahayanya?" tanya pemuda raksasa itu mengkhawatirkan sang Putri Suci.
Lin Xiao berjalan kembali menuju balkon, menatap ke arah pusat distrik inti di mana Istana Bayangan Bulan menjulang tinggi menyentuh awan.
"Ledakan itu hanya pengalih perhatian, Meng Shan." jawab Lin Xiao dengan suara yang tiba-tiba terdengar sangat pelan.
"Tujuanku adalah menciptakan kekacauan sebesar mungkin agar para tetua sekte panik dan berpencar."
"Di saat mereka sibuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri, aku akan berjalan masuk ke tengah panggung dan menjemput pengantin wanitanya."
Xue Mingyue berjalan menyusul Lin Xiao dan berdiri di sampingnya, ikut menatap pemandangan kota raksasa di bawah mereka.
"Kau benar-benar berniat untuk menghancurkan seluruh pusat benua ini hanya demi menepati janji pada seorang wanita?" tanya Xue Mingyue melirik wajah profil samping Lin Xiao.
"Aku menghancurkan tatanan benua ini karena mereka menghalangi jalanku menuju takhta tertinggi, Xue'er." bantah Lin Xiao tanpa menoleh.
"Menyelamatkan Putri Suci hanyalah bonus tambahan untuk membuat cerita penaklukanku terdengar lebih dramatis."
Gadis es itu mendengus pelan, dia tahu bahwa Lin Xiao selalu berusaha menyembunyikan sisi pedulinya di balik topeng arogansi dan kekejaman.
"Kuharap Nona Yue itu menyadari betapa gilanya pria yang sedang berusaha menyelamatkannya ini." gumam Xue Mingyue menyandarkan lengannya di pagar balkon.
"Dia sudah tahu aku gila sejak hari pertama kita bertemu di pasar gelap." balas Lin Xiao dengan senyum tipis.
"Bersiaplah kalian berdua, kita akan meninggalkan paviliun ini nanti malam." perintah Lin Xiao mengubah topik pembicaraan.
"Kita harus menyusup secara pribadi ke dalam arena untuk memetakan rute pelarian kita."
Turnamen Empat Sekte Suci yang seharusnya menjadi ajang pamer kekuatan bagi para elit pusat benua kini telah diintai oleh bayangan mematikan.
Sebuah rencana kudeta berdarah telah disusun dengan sangat rapi, menunggu waktu yang tepat untuk meledak dan menghancurkan para dewa palsu.
Hari perhitungan bagi sekte-sekte suci yang arogan itu kini hanya tinggal menghitung jam.
Dan sang Kaisar Bayangan sudah tidak sabar untuk mendengarkan jeritan keputusasaan mereka bergema di seluruh penjuru kota.