NovelToon NovelToon
Warisan DENDAM

Warisan DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:373
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.

Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.

Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.

Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cjapter 10 : Tidak melakukan hal sekeji itu

Keesokan harinya, ruang persidangan dipenuhi bisik-bisik pelan.

Deretan kursi di bagian belakang terisi penuh. Beberapa orang berdiri di sisi dinding, memaksakan diri untuk menyaksikan jalannya sidang. Di hadapan mereka, para wakil hakim telah duduk rapi termasuk Blair, yang berada di tengah dengan jas hitamnya terpasang sempurna.

Tatapan Blair tajam. Datar. Tidak memberi ruang untuk spekulasi.

Pintu samping terbuka.

Dua petugas kepolisian masuk, mengapit seorang pria mengenakan pakaian tahanan berwarna oranye. Kedua tangannya terborgol ke belakang. Langkahnya tertahan, wajahnya tegang.

Mata Blair menyipit sesaat saat pria itu dibawa mendekat.

Victor Rowe.

Ia didudukkan di kursi terdakwa. Rantai borgolnya beradu pelan saat ia menyesuaikan posisi duduk. Ruangan menjadi lebih hening dari sebelumnya.

“Sidang dinyatakan dibuka,” ucap Blair tenang.

Jaksa berdiri. Ia melangkah ke tengah ruangan dan mulai membuka berkas.

“Yang Mulia,” katanya, “kami akan memaparkan bukti-bukti kekerasan yang dialami korban.”

Layar di sisi ruangan menyala. Satu per satu foto ditampilkan. Leher dengan bekas cekikan. Lengan penuh memar. Paha dan perut dengan warna lebam yang belum sepenuhnya pudar. Serta punggung yang menampilkan bekas cambukan berulang.

Beberapa orang di kursi belakang menahan napas. Ada yang menatap layar dengan tidak percaya dan ada juga yang menunduk, karna tak sanggup melihat lebih lama.

“Korban telah beberapa kali memeriksakan diri ke dokter,” lanjut jaksa. “Dengan alasan jatuh, terpeleset, atau kecelakaan ringan.”

Ia berhenti sejenak.

“Namun pada pemeriksaan terakhir, korban mengakui bahwa luka-luka ini adalah akibat kekerasan dalam rumah tangga.”

Ruangan membeku.

Blair mengangguk pelan. Tatapannya beralih, kini tertuju langsung pada pria di hadapannya.

“Victor Rowe,” ucapnya jelas.

Victor mengangkat kepala.

“Apakah Anda mengakui telah melakukan penganiayaan terhadap istri Anda, Diana Hale?”

Victor terdiam. Beberapa detik berlalu sebelum ia menggeleng kuat.

“Tidak,” katanya cepat. “Saya tidak melakukannya.”

Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang nyaris berlebihan.

“Saya sangat menyayangi istri saya,” lanjutnya dengan suara bergetar. “Tidak mungkin saya melakukan hal sekeji itu padanya.”

Ia menunduk, bahunya sedikit bergetar, seolah menahan emosi.

“Lagipula,” tambahnya, “foto-foto itu hanya menunjukkan memar.”

Ia mengangkat kepala lagi.

“Itu tidak membuktikan siapa yang melakukannya. Bisa saja Diana mendapatkannya dari orang lain.”

Alis Blair terangkat tipis.

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Victor tanpa berkedip. Tatapannya tajam, bukan marah, bukan heran, melainkan menilai.

“Jadi menurut Anda,” katanya pelan namun jelas, “istri Anda mendapat luka-luka seperti itu… dari orang lain?”

Victor mengangguk, seolah menemukan pijakan. “Itu mungkin saja, Yang Mulia.”

Blair menautkan jarinya di atas meja.

“Menarik,” ucapnya singkat.

Ia sedikit condong ke depan.

“Kalau begitu, mari kita bicara bukan hanya tentang luka,” katanya, suaranya merendah,

“melainkan tentang apa yang terjadi… sebelum dan sesudahnya.”

Tatapan Blair tidak goyah.

Ruangan persidangan yang semula dipenuhi bisik-bisik perlahan tenggelam dalam diam. Bahkan suara hujan yang memukul jendela terdengar jauh.

“Foto-foto ini,” ucap Blair akhirnya, suaranya tenang namun datar, “memang hanya menunjukkan luka.”

Ia menggeser satu berkas ke depan, ujung jarinya berhenti tepat di atas gambar memar di lengan Diana.

“Tapi pengadilan tidak menilai luka sebagai peristiwa tunggal.”

Victor mengangkat wajahnya. Matanya berkilat, entah karena emosi atau kepanikan.

“Kami menilai rangkaian,” lanjut Blair.

“Apa yang terjadi sebelum luka itu muncul… dan apa yang terjadi setelahnya.”

Sejenak, Blair membiarkan kalimat itu menggantung.

1
Ibu'e Arfan Call
seru deh bacanya,👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!