NovelToon NovelToon
Separuh Jiwa Yang Pergi

Separuh Jiwa Yang Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Cintapertama
Popularitas:318
Nilai: 5
Nama Author: Zian Bachri

Danu, jatuh cinta pada seorang gadis cantik yang modis bernama Qiara. Ia menikahinya hanya karena rupa. Ia tak tau bahwa gadis tersebut berasal dari keluarga sederhana, Ia pun tak tau bahwa Qiara mau menikah dengannya hanya karena tergiur dengan harta kekayaan kedua orang tua Danu.
Danu tak mengindahkan nasehat kedua orang tuanya, hingga mereka memiliki dua orang anak, Danu dilanda kesulitan finansial akibat perusahaan tempatnya bekerja sedang pailit. Saat Danu sedang kesulitan ekonomi, Qiara justru bertemu dengan mantan kekasihnya. Disana lah terjadi pengkhiatan, Namun justru Qiara menuduh Danu yang mengkhianati pernikahan mereka, hingga membuat Qiara tega mengabaikan anak hasil pernikahannya dengan Danu, sebagai bentuk cara membalas pengkhiatan Danu padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zian Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konflik dengan Mertua

"Wah boleh tuh, kan cuma buat diporotin, wkwkwk" gadis teman Qiara itu tertawa lebar

"Dia punya showroom mobil bekas di jalan Ngagel, 'Rafasya showroom' namanya. Lu pura-pura aja datang kesana liat-liat mobil, ntar minta wa nya deh, gue nggak suka sama bininya. Dandanan udah kayak ustadzah aja, Katrok banget"

"Ah siappppp, lu kalau sukses gaet cowok tajir kudu bagi-bagi Qi.. biar kita kecipratan juga. Ya nggak guys?" iya bertanya pada teman-temannya yang lain.

Para wanita berpenampilan modis itu menghabiskan waktu mereka hingga sore menjelang, usai mentraktir semua teman-temannya, Qiara pun pulang. Ia merasakan badannya lemes dan pusing efek kehamilannya.

Waktu berjalan, tak terasa kehamilan Qiara kini telah memasuki usia empat bulan. Ia makin merasakan lemah akibat kehamilannya tersebut. Tak berselera makan dan selalu mual muntah.

"Yank, dibuat berdiri aja badanku rasanya gemeteran" rengek Qiara pada suaminya

"Terus gimana sayang? kamu masih kuat kerja?"

"Aku pengen berhenti kerja yank"

"Ya udah kalau kamu udah nggak kuat kerja, berhenti aja kerja. Kan ada aku yang bertanggung jawab mencari nafkah"

"Iya sayang, makasih ya" ucap Qiara.

Qiara pun memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Waktu berlalu, kehamilan Qiara sudah memasuki bulan kelima, ia merasa semakin kepayahan atas kehamilannya tersebut. Bahkan sekedar berdiri saja katanya tak lagi kuat. Ia hanya bisa berbaring di kamarnya. Bahkan untuk makan, bi Imah selalu mengantar ke dalam kamarnya, dan selesai makan bi Imah pula yang membereskan piring bekas makanannya tersebut.

Namun jika weekend tiba, kondisinya selalu membaik dan selalu mengajak Danu sekedar ngemall dan makan di resto favoritnya.

Hal itu sudah berlangsung satu bulan lamanya. Hari Senin hingga Sabtu, kondisinya selalu drop, tapi jika Sabtu sore kondisinya membaik saat Danu pulang kerja.

Pak Suryo sudah tak tahan melihat menantunya yang dia anggap hanya berpura-pura lemah itu.

"Halah itu hanya bersandiwara! Banyak wanita hamil, tapi nggak seperti istrinya si Danu itu" teriak pak Suryo pada istrinya.

"Sabar donk, Pa, bawaan tiap orang kan beda-beda" bu Suryo hanya berusaha menenangkan suaminya itu agar tidak terbawa emosi

"Kau dulu hamil tiga kali tapi tidak begitu kan, Ma? si Rania hamil tiga kali juga baik-baik aja tidak lebay macam Qiara itu? Alisa juga hamil dia nggak manja macam Qiara itu!!!" sungut pak Suryo

"Sudahlah, Pa. Jangan membandingkan Qiara dengan Alisa ataupun dengan Rania. Apalagi membandingkan dengan Mama. Jamannya aja udah beda kan? tiap wanita kondisi hormonnya beda-beda, Pa. Itu bawaan janin. Hamil itu emang berat Lo, Pa. Yang dikandungnya itu anak Danu Lo, cucu kita.

"Halahhhh!! persetan! dari awal dia sudah manja. Nggak mau ngaca sama asal usulnya. Kenapa lah si Danu itu bisa salah memilih istri macam dia"

"Paaa..jangan bawa-bawa status sosial, tidak baik itu, Pa. Manusia itu sama di mata Allah"

"Ya aku tau, kau tak usah khotbah, justru Qiara itu tidak taat menjalankan perintah Allah, tidak pernah aku melihatnya sholat!"

"Ya ibadah itu kan bukan untuk dipamerkan, Pa. Siapa tau dia sholat di dalam kamar, kan?"

"Mana? Sopan santunnya nggak ada, auratnya aja nggak ditutup. Pakaian terbuka. Beda jauh sama Rania dan Alisa. Udah miskin harta, miskin iman, gak punya adab"

"Astaghfirullah pa. Istigfar pa..!! Doakan sajalah Pa, yang terbaik untuk anak-anak kita. Namanya juga baru beberapa bulan nikah, nanti kedewasaan akan datang seiring bertambahnya usia. Qiara itu masih umur dua puluh tiga tahun"

Pranggggggggggggggggggggg...

"Suara apa itu?" pak Suryo dan istrinya yang lagi diruang keluarga saling bertatapan

Dari arah kamar Danu, terdengar suara piring jatuh. Bi Imah tampaknya sedang ke warung. Mau tak mau pak Suryo dan Bu Suryo berdiri dari duduknya dan menuju ke kamar Qiara untuk mengetahui apa yang terjadi.

Sebuah nampan yang berisi sarapan Qiara rupanya terjatuh ke lantai. Qiara yang tampak baru bangun dari tidurnya, mengucek-ngucek matanya. "Eh, Ma..Pa..maap Qia nggak sengaja nendang nampannya. Qia nggak tau kalau bi Imah naruh makanannya di kasur" ucapnya yang masih berada diatas kasur dengan posisi duduk bersandar pada headboard.

Tadi memang bi Imah mengantarkan makanan ke kamar Qiara dan rupanya tuan putri ini belum bangun hingga bi Imah meletakkan makanan tersebut di kasur.

Tampak pak Suryo menarik nafas panjang, ia berusaha menahan amarah, melihat piring dan makanan yang berserakan dilantai, dan menantunya itu tak berusaha untuk membereskannya.

"Memangnya tadi bi Imah nggak membangunkan kamu saat dia naruh makanan ini di kasur?" tanya pak Suryo dengan suara sedikit meninggi

"Nggak, Pa"

"Bi Imahhhhhhhhhhhhhhh" Pak Suryo berteriak memanggil pembantunya

"Bi Imahhhhhhhh" ia kembali berteriak karena tak ada respon dari si empunya nama.

Tak lama Bu Imah datang tergopoh-gopoh. "Iii-iiya, Pak. Maaf saya habis dari warung"

"Tadi bi Imah naruh makanan ini dikasur?" pak Suryo menunjuk piring pecah dan makanan yang sudah bersalaman dilantai.

"I-iya, Pak. Sa-saya yang naruh" jawabnya takut-takut.

"Kenapa nggak bangunin Qiara untuk segera memakannya, kenapa hanya menaruh saja?"

"Sudah, Pak. Saya sudah membangunkan non Qiara. Sudah saya suruh makan, Pak. Non Qiara juga tadi merespon dan bilang 'iya' makanya saya tinggal ke warung"

"Iya, Pa. Maap Qia ketiduran lagi barusan jadi kena tendang makanannya"

"Begini saja, saya sudah kehilangan kesabaran sama kamu. Lebih baik kamu dan suamimu tinggal terpisah dari kami. Males saya liat kelakuanmu, bereskan sendiri pecahan piring-piring itu. Kamu bukan tuan putri disini!" Suara tegas Pak Suryo sangat menusuk hati Qiara.

"Paaa..." Bu Suryo seolah ingin berkata pada suami agar tidak berkata seperti itu

"Nggak usah kamu bela terus-terusan menantu pemalas seperti dia. Mau makan saja harus diantar ke kamarnya. Liat piring jatuh bukannya segera dibereskan malah masih enak-enakan diatas kasur"

"Papa tahan amarahmu, Pa" Bu Suryo menatap suaminya memohon pada sang suami

Pak Suryo segera berlalu dari kamar, ia tampak mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja di ruang tengah.

Ia tampak sibuk memencet ponselnya "Halo.." ujurnya berbicara pada seseorang diserang telfon

"Carilah kontrakan, bawa pergi istri pemalasmu itu dari rumah ini. Papa sudah nggak tahan liat kelakuan istrimu" usai berbicara seperti itu, Pak Suryo segera mematikan ponsel dan ia duduk di sofa.

"Pa..sabarlah. Kasian mereka baru nikah lima bulanan ini, kenapa Papa sudah mengusir mereka, inget, Pa..Danu itu anak kita"

Bersambung

1
Zian Bachri🍁
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!