NovelToon NovelToon
Luluh Ditangan Gadis Malam

Luluh Ditangan Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: daisysy

Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

di Pesisir Rotterdam

Sinar matahari pagi bulan September merayap lembut menembus celah-celah tirai beludru hitam di kamar tidur utama penthouse pribadi Victor Thorne di Rotterdam. Udara pagi kota pelabuhan itu terasa segar, berpadu dengan aroma kopi hitam panggang yang menguar tipis dari arah ruang tengah.

Freya Zivanka membuka matanya perlahan. Ia mengerjap beberapa kali, menyesuaikan cahaya matahari yang masuk menerobos jendela kaca raksasa setinggi lantai. Sisa-sisa kelelahan akibat penerbangan panjang kemarin malam seolah menguap begitu saja, digantikan oleh rasa hangat yang merayap di dadanya. Tempat tidur di sampingnya sudah kosong, namun kehangatan tubuh Victor masih menyisakan sedikit jejak di atas seprai sutra abu-abu arang tersebut.

Freya bangkit, merapikan piyamanya sejenak, lalu berjalan menuju kamar mandi pribadi untuk membersihkan diri. Setelah membasuh wajah dan menyikat gigi, ia mengenakan pakaian santai namun tetap terlihat elegan—sebuah sweter rajut krem lembut dipadukan dengan celana panjang katun putih dan syal tipis melingkar di lehernya. Di balik kerah bajunya, liontin batu zamrud hijau peninggalan sang ayah tergantung tenang, memancarkan pendar cahaya yang menenangkan.

Ia melangkah keluar kamar menuju ruang tengah yang luas. Victor berdiri di dekat pulau dapur marmer putih, mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan lengan digulung hingga siku, sedang menuangkan air panas ke dalam cangkir keramik. Pria itu tampak begitu memukau, memancarkan aura ketenangan dan kekuasaan yang natural.

Mendengar langkah kaki Freya, Victor menoleh. Senyuman tipis yang sangat jarang ia perlihatkan kepada dunia luar terukir di bibirnya.

"Selamat pagi, honey," sapa Victor dengan suara baritonnya yang berat namun lembut. "Tidur nyenyak?"

Freya berjalan mendekat, menyambut pelukan hangat dari tangan kokoh Victor yang langsung melingkar di pinggangnya. "Sangat nyenyak, Victor. Tempat ini... luar biasa nyaman."

Victor mengecup puncak kepala Freya penuh kasih sayang sebelum melepaskan pelukannya perlahan untuk menyajikan sarapan ringan. Sambil menikmati roti panggang dan segelas teh hangat, Freya memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan niatnya hari ini.

"Victor, mumpung hari ini cuaca di luar sangat cerah dan kau harus menyelesaikan beberapa dokumen terakhir kantor pusat, bolehkah aku meminta izin untuk berjalan-jalan keliling kota Rotterdam sebentar?" tanya Freya penuh harap. "Aku ingin menikmati suasana kota pelabuhan ini."

Victor menatap mata Freya sejenak, menimbang faktor keamanan di kepalanya. Mengingat ancaman tersembunyi dari Annelise yang bisa saja beroperasi di wilayah ini, kewaspadaan Victor tidak boleh turun. Namun, melihat binar antusias di mata gadis itu, ia tidak tega untuk menolak.

"Baiklah," jawab Victor akhirnya. "Kau boleh berkeliling kota. Tapi ingat, Markuz akan menugaskan dua pengawal tepercaya untuk mengikutimu dari jarak jauh secara diam-diam. Jangan pergi ke tempat sepi, dan hubungi aku jika terjadi sesuatu. Paham?"

Freya mengangguk mantap sambil tersenyum lebar. "Siap, Boss! Terima kasih, Victor."

Menjelang pukul sebelas siang, Freya sudah berjalan santai menyusuri trotoar batu paving kuno di kawasan distrik bersejarah Rotterdam. Suasana kota di siang hari tampak sangat hidup namun tertata rapi. Jajaran bangunan tua bergaya arsitektur klasik abad kesembilan belas berpadu harmonis dengan kafe-kafe outdoor modern yang dipenuhi oleh para pebisnis dan pelancong.

Freya menikmati setiap detik perjalanannya. Ia mengenakan kacamata hitam kecil untuk menghalau silau matahari, langkah kakinya membawanya mendekati area pelabuhan tua yang dikelilingi oleh galeri seni dan butik barang antik independen.

Karena terlalu asyik mengamati detail arsitektur bangunan di seberang jalan, Freya tanpa sengaja berjalan agak melenceng dari jalur pejalan kaki.

Brugh!

Ia menabrak seseorang yang berjalan dari arah berlawanan—seorang pria paruh baya bertubuh tegap berbalut mantel wol hitam elegan dengan syal kasmir abu-abu melingkar di lehernya. Tabrakan itu membuat beberapa berkas kertas di tangan pria tersebut nyaris terlepas dari genggamannya.

"Ah, maaf! Aku benar-benar tidak sengaja!" seru Freya buru-buru, membungkuk sedikit untuk membantu memungut beberapa lembar kertas yang berserakan di atas lantai batu.

Pria paruh baya itu—Sammuel Zefs Houten—ikut berjongkok untuk mengambil berkasnya. Namun, ketika tangannya bersentuhan dengan tangan Freya dan ia mendongakkan wajah untuk melihat siapa yang menabraknya, gerakan Sammuel mendadak terhenti seketika.

Warna dari dunia seolah memudar di sekeliling Sammuel. Napas pria tua itu tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak lebar, menatap lurus ke dalam wajah Freya dengan sorot mata yang dipenuhi oleh gelombang emosi yang luar biasa dahsyat—kejutan, ketidakpercayaan, kerinduan mendalam, dan rasa familier yang menghujam jantungnya tanpa ampun.

Wajah gadis di hadapannya... garis rahangnya, bentuk hidungnya, sorot mata cokelat jernihnya, bahkan cara gadis itu merapikan rambutnya... semuanya memantulkan bayangan yang sangat identik dengan wanita yang paling dicintainya di dunia ini: istrinya, Elena, serta mendiang putri kecil mereka, Freya, di masa kecil.

Sammuel tertegun kaku. Ia menatap Freya begitu lekat, begitu intens, seolah ia sedang melihat hantu dari masa lalu yang bangkit kembali ke dunia nyata. Bibirnya sedikit terbuka, mencoba mengatakan sesuatu, namun suaranya tertahan di kerongkongan.

Freya, yang merasa ditatap sedemikian rupa oleh seorang pria asing paruh baya berwibawa, merasakan bulu kuduknya merinding. Rasa gugup dan canggung menyelimuti dirinya.

"Uhm... Tuan? Apakah Anda baik-baik saja?" tanya Freya hati-hati, menyerahkan lembar kertas terakhir kepada Sammuel. "Sekali lagi saya minta maaf karena tidak melihat jalan."

Sammuel mengerjap beberapa kali, menarik napas panjang untuk menguasai kembali emosinya yang berantakan. Ia menerima berkas kertas itu dengan tangan yang sedikit bergemetar.

"Tidak... tidak apa-apa, Nak," suara Sammuel terdengar serak, sarat akan getaran emosional yang sulit ia sembunyikan. "Aku yang seharusnya lebih berhati-hati. Hati-hati di jalan, anak muda."

Freya mengangguk canggung, tersenyum tipis sebagai bentuk permohonan maaf, lalu segera berbalik dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu, tenggelam di antara kerumunan pejalan kaki.

Sammuel tetap berdiri mematung di atas trotoar batu, menatap punggung Freya yang semakin menjauh hingga sosok gadis itu hilang di tikungan jalan. Jantungnya berdegup kencang tidak karuan. Ada ikatan tak kasat mata yang menarik hatinya untuk mengejar gadis itu, menanyakan namanya, dan mencari tahu siapa asal-usulnya. Namun, akal sehatnya menahannya di tempat.

Setelah kejadian tabrakan yang cukup menghentak itu, Freya melanjutkan jalan-jalannya dengan perasaan yang sedikit diliputi kebingungan. Tatapan tajam dan penuh emosi dari pria paruh baya tadi masih meninggalkan bekas tanda tanya di kepalanya. Namun, ia segera menepis pikiran itu, memilih fokus pada tujuan awalnya.

Freya berhenti di depan sebuah toko barang antik klasik yang terletak di sudut jalan sempit berbatu. Papan nama kayu tua di atas pintu bertuliskan “Van Houten Antiques & Rare Jewels”. Tanpa pikir panjang, ia melangkah masuk ke dalam toko yang dipenuhi aroma kayu tua, buku-buku kusam, dan kilau perhiasan masa lalu.

Seorang pelayan toko tua berambut putih menyambutnya dengan ramah. Freya langsung merogoh saku mantelnya, mengeluarkan kalung zamrud hijau peninggalan ayahnya, lalu menunjukkannya kepada sang pemilik toko di atas meja etalase kaca.

"Permisi, Tuan," ucap Freya sopan. "Aku ingin bertanya... apakah Anda mengenali desain kalung ini? Siapa pengrajin atau toko perhiasan yang membuatnya di masa lalu?"

Pemilik toko tua itu mengenakan kacamata pembesarnya, membungkuk mendekati kalung zamrud tersebut, lalu mengamati setiap detail ukiran logam dan potongan batu mulia di bawah sorotan lampu meja. Ia membolak-balik liontin itu dengan hati-hati, mencari tanda atau inisial tersembunyi di balik bingkai perhiasan.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Freya menahan napasnya, menanti jawaban penuh harap.

Namun, pria tua itu akhirnya menggelengkan kepala perlahan sambil menghela napas. "Maafkan aku, Nona muda. Potongan zamrud murni ini sangat unik, dan ukiran logam di bagian belakangnya menggunakan teknik penempaan khusus bangsawan lama Eropa barat dari dekade lalu. Tapi aku tidak melihat cap pabrik komersial manapun di sini. Kalung ini adalah mahakarya kustom eksklusif—dibuat secara khusus oleh seorang pengrajin master rahasia untuk pesanan personal yang sangat terbatas. Tidak ada toko di Rotterdam atau Amsterdam yang mencatat riwayat pembuatannya."

Wajah Freya langsung merosot lesu. Binar harapan di matanya memudar seketika. "Begitu ya... terima kasih banyak, Tuan."

Tidak menyerah begitu saja, dalam dua jam berikutnya Freya mendatangi tiga butik perhiasan mewah lainnya di sepanjang kawasan perbelanjaan eksklusif Rotterdam. Ia menanyakan hal yang sama kepada para ahli permata profesional. Namun, hasilnya tetap nihil. Tidak satupun dari mereka yang mengenali asal-usul pembuatan kalung zamrud tersebut, selain mengakui bahwa batu mulia itu memiliki nilai intrinsik dan sejarah yang sangat tinggi.

Freya keluar dari butik terakhir dengan langkah berat. Hari menjelang sore, langit Rotterdam mulai diselimuti awan kelabu tipis. Wajahnya tampak begitu lesu, lelah, dan kecewa. Misteri mengenai siapa sebenarnya sang ayah dan mengapa kalung itu diberikan kepadanya seolah terkunci rapat di balik teka-teki waktu yang belum terpecahkan.

Di tengah rasa lelah dan kekecewaannya, ponsel pintar di dalam saku mantel Freya tiba-tiba bergetar nyaring.

Freya mengeluarkan ponselnya, melihat nama Victor tertera di layar. Ia segera menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan tersebut.

"Halo, Victor?" sapa Freya, suaranya terdengar sedikit lelah.

Di ujung seberang, suara bariton Victor yang tenang dan berwibawa langsung menyapa telinganya. "Maan, apa kau sudah selesai berkeliling kota? Di mana posisimu sekarang?"

"Aku baru saja keluar dari toko perhiasan di distrik utara, Victor," jawab Freya jujur, nada suaranya menyiratkan keletihan. "Hari ini cukup melelahkan, dan... yah, aku tidak mendapatkan apa yang kucari."

Di ujung sana, Victor terdiam sejenak, menangkap perubahan nada suara gadisnya. "Apakah ada masalah? Apakah ada yang mengganggumu di jalan?"

"Tidak ada masalah serius," jawab Freya cepat, berusaha tersenyum meski Victor tidak bisa melihatnya. "Hanya sedikit penat."

"Kalau begitu, keletihanmu hari ini akan segera terbayar," tukas Victor dengan nada suara yang sedikit melunak, menyisakan kehangatan di dalamnya. "Dengarkan aku, Maan. Selesaikan jalan-jalanmu, dan bersiaplah. Aku telah memesan meja khusus untuk kita berdua malam ini di De Zwaluw, restoran klasik paling terkenal dan eksklusif di pinggir kanal Rotterdam."

Mendengar nama restoran tersebut, mata Freya membelalak kecil. De Zwaluw adalah salah satu restoran berbintang Michelin yang legendaris di Netherlands—tempat di mana para menteri, duta besar, dan konglomerat papan atas harus memesan meja berbulan-bulan sebelumnya demi bisa menikmati hidangan di sana.

"De Zwaluw? Victor, tempat itu kan..." ucap Freya tertegun.

"Aku tidak menerima penolakan," potong Victor tegas namun penuh kelembutan. "Sopir pribadiku sudah menunggu di ujung jalan tempatmu berada sekarang. Masuklah ke dalam mobil, biarkan dia mengantarmu ke butik gaun malam pesananku di pusat kota untuk bersiap, dan kita akan bertemu di restoran malam ini. Paham?"

Freya tidak mampu menahan senyuman lebar yang kembali mengembang di bibirnya. Rasa penat dan lesu akibat pencarian kalung tadi siang seolah sirna dalam sekejap, tersapu oleh gelombang perhatian dan cinta yang diberikan oleh Victor.

"Baiklah, Boss. Aku akan menurut," jawab Freya riang.

"Good girl," balas Victor sebelum sambungan telepon ditutup.

Tanpa disadari oleh Freya maupun Victor, di seberang jalan raya dari tempat Freya berdiri saat menerima telepon, sebuah mobil sedan hitam sewaan terparkir di balik bayangan pohon besar.

Di dalam kabin mobil yang remang-remang, Annelise Van Der Bilt duduk menyilangkan kaki, memegang secangkir kopi kertas dengan jemari yang mengenakan sarung tangan kulit hitam. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah Freya melalui kaca jendela mobil yang sedikit terbuka.

Di samping Annelise, duduk seorang pria bayaran bertubuh kekar yang membawa sebuah koper kecil berisi botol-botol kecil berisikan cairan bening—zat kimia perangsang sintetis kelas berat yang ia pesan semalam.

"Nona Annelise," bisik pria bayaran itu hati-hati. "Semua persiapan sudah matang. Tim kita telah menyusup ke dalam staf pelayan malam di restoran De Zwaluw. Zat itu akan dicampurkan ke dalam gelas minuman Tuan Victor Thorne tepat pada jam makan malam."

Sebuah senyuman miring, dingin, dan mengerikan terukir di bibir merah Annelise. Ia menyesap kopinya perlahan, menikmati rasa kemenangan semu yang sudah berada di ujung tanduk.

"Bagus," desis Annelise tajam. "Pastikan dosisnya tepat. Jangan sampai membunuhnya, tapi pastikan kesadarannya hancur total dan ia dikuasai oleh gairah liar yang tak terkontrol begitu malam tiba. Dan ketika dia kehilangan kendali... pastikan aku menjadi satu-satunya wanita yang berdiri di sisinya di kamar hotel privat itu."

Badai malam di Rotterdam bersiap menerjang. Di balik kemewahan restoran berbintang Michelin dan gemerlap lampu kanal air, sebuah intrik kotor berbalut obsesi gila sedang menunggu waktu yang tepat untuk meledak, menguji ketulusan cinta antara Victor dan Freya hingga ke titik batas penghabisan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!