"Dimana Papaku, Ma?"
Pertanyaan seorang bocah cilik bernama Arka Daru Hutama itu membuat wanita dewasa bagaikan tersambar petir. Raut wajah perempuan bernama Ariska Sandra Hutami seketika pucat karena mendengar pertanyaan sederhana itu. Pada akhirnya pertanyaan itu takkan pernah mendapatkan jawaban pasti sampai takdir kembali mempertemukan Ariska dengan sosok seorang laki-laki yang mirip dengan Arka.
Siapakah sosok laki-laki itu? Apakah pertemuan mereka itu bisa menguak cerita masa lalu yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabotase?
"Arka, kamu lagi apa?" tanya Ariska pada anaknya yang sedang fokus dengan laptopnya.
"Sudah malam, ayo tidur." ajaknya pada sang anak.
Frans dan Carlo memutuskan untuk tidur di hotel dekat rumah Ariska. Di kota itu, ada villa milik orangtua Frans tapi jaraknya lumayan jauh dengan rumah Ariska. Sedangkan Frans ingin berada di dekat Arka. Jika terjadi sesuatu, akan sangat mudah nanti untuk dirinya langsung datang. Walaupun pengawal dari Papa Bayu masih standby di sana, tapi ada rasa cemas dalam hati Frans ketika berjauhan dengan anaknya.
Setelah kepergian Frans dan Carlo, Arka langsung masuk kamar dan duduk di depan laptopnya. Entah apa yang dikerjakannya, Ariska juga bingung. Pasalnya dia tidak paham dengan berbagai huruf dan angka yang muncul pada laptop itu. Setelah melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Ariska meminta Arka menghentikan kegiatan bermain di laptopnya. Namun Arka tak menggubris teguran dari Ariska.
"Arka sayang... Kok Mama dicuekin sih? Kamu lagi main apa? Mama pusing lihat itu huruf dan angka banyak sekali," tanya Ariska pada anaknya.
"Mama, jangan ganggu dulu. Ini demi nyawa kita dan pelusahaan Papa. Nanti Papa bangklut, kita juga yang susah." tegur Arka pada Ariska yang mengganggu pekerjaannya.
"Astaga... Kok Mama jadi takut sih, Arka. Jangan nakut-nakutin dong," ucap Ariska dengan raut wajah panik. Apalagi melihat raut wajah Arka yang begitu tegang dan fokus dengan laptopnya.
"Alka ndak nakut-nakutin, ini selius. Pokoknya Mama diam dulu, jangan ganggu Alka." ucap Arka dengan yakin. Alhasil Ariska memilih untuk duduk di samping Arka, menemani bocah cilik itu walaupun tidak mengerti.
"Kulang asem ini olang," serunya tiba-tiba.
"Arka, kamu ngagetin Mama." tegur Ariska sambil mengelus dadanya. Apalagi Arka langsung berteriak setelah melihat sebuah video.
"Itu Dokter Wawan kan?" tanyanya pada sang anak.
"Mama, ayo antal Alka ke pengawalnya Opa."
Arka sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Ariska. Kedua tangannya merentang ke arah Ariska, meminta digendong. Padahal Ariska sangat penasaran dengan video rekaman yang ada pada laptop Arka. Namun dia menuruti apa yang diinginkan oleh Arka. Padahal dia tidak tahu pengawal Papa Bayu itu ada dimana. Selama ini, Ariska memang tidak tahu jika pengawal Papa Bayu berada di sekitar rumah.
"Emang pengawalnya Opa ada dimana?" tanya Ariska pada Arka.
"Lho... Mama ndak tahu kalau pengawal Opa Bayu itu ada di sekital lumah?" tanya Arka pada Mamanya. Padahal dia sendiri tahu walaupun mereka berpakaian seperti warga biasa.
"Nggak tahu lah. Memangnya mana? Mama nggak pernah lihat ada orang pakai pakaian hitam-hitam," tanya Ariska yang berpikir bahwa pengawal itu menggunakan pakaian serba hitam.
"Astaga... Mama ini lho polos sekali. Pantas saja gampang dikibulin sama si bakwan," ceplos Arka membuat Ariska terkekeh pelan. Dia pun tak tahu apa yang dimaksud oleh Arka sampai dibohongi oleh Dokter Wawan.
"Mama ndak ada nomolnya Papa kan?" tanyanya lagi pada sang Mama dan dijawab gelengan kepala.
Om sungai Nil,
Eh...
Ariska sampai terkejut mendengar seruan dari Arka memanggil seseorang yang tengah duduk si bawah pohon. Bahkan penampilannya seperti pemuda biasa yang tengah galau sehingga duduk di bawah pohon ketika malam hari. Laki-laki itu yang melihat Arka mendekat pun langsung berdiri. Padahal namanya Niel bukan Nil jadi tadi dia awalnya tidak merasa. Namun saat melihat Arka yang mendekatinya membuat dia tahu siapa yang dipanggil.
"Nama saya Niel, Tuan Arka." ucap Niel mengenalkan diri.
"Lebih gampang panggilnya Om sungai Nil," jawab Arka sambil cengengesan.
"Om, telfonin Papa dong. Tadi Alka lupa ndak minta nomolnya Papa atau Om calo tiket. Mau cali nomolnya lewat laptop kok malas sekali," lanjutnya.
"Baik, Tuan Arka." ucap Niel sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sampai asisten dari Frans saja diganti juga namanya. Sepertinya dia harus bisa menerima dengan legowo.
"Ini sudah tersambung, Tuan Arka." Niel pun menyerahkan ponselnya kepada Arka untuk berbicara pada Frans.
"Papa, ini Alka. Cepat sekalang Papa dan Om calo tiket ke lumah sakit Halapan Kasih. Si bakwan mau sabotase obat yang dikilim ke lumah sakit saat nanti sudah sampai sana," seru Arka dengan cepat.
"Hubungi Alka di nomol Mama. Alka akan pantau dan hubungi Papa lewat sana," lanjutnya.
Panggilan pun langsung dimatikan oleh Arka. Bahkan Arka tak bersedia menjelaskan apapun pada Papanya. Arka meminta Ariska untuk pulang kembali ke rumah setelah mengirim nomor Mamanya pada Frans lewat pesan. Padahal Ariska sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi. Sabotase? Om bakwan? Dokter Wawan? Sudah hampir tengah malam begini tapi malah disuruh memikirkan hal yang berat. Bahkan Niel pun hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Pak Niel, kalau capek bisa istirahat di teras rumah saja atau depan toko. Maaf saya tidak bisa meminta untuk tidur di dalam karena penghuninya kebanyakan perempuan. Khawatir kalau ada omongan tak enak," ucap Ariska sebelum pergi.
"Saya di sini saja, Nona." ucap Niel yang tak mau merepotkan Ariska. Lagi pula memang tugasnya menjaga mereka di luar rumah.
***
"Ada apa, Tuan Frans? Saya cuma pakai kolor ini masa langsung disuruh pergi ke rumah sakit," seru Carlo yang tampak kebingungan saat Frans menarik tangannya dari kamar dan meminta untuk pergi ke rumah sakit.
"Nggak penting. Ada hal yang lebih penting dari kolormu itu. Untung kolormu nggak molor seperti temannya Arka," ceplos Frans tak peduli dengan protes dari Carlo.
Carlo pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit Harapan Kasih. Padahal Carlo hanya menggunakan celana kolor dan kaos karena memang tadi hendak tidur. Belum juga merebahkan badannya, langsung dia ditarik seenaknya saja oleh Frans. Bahkan mungkin pintu kamarnya juga tak tertutup. Frans meminta pengawasan di rumah Ariska diperketat. Khawatirnya ini hanya lah tipuan semata agar dia dan Carlo fokus pada rumah sakit. Sehingga rumah Ariska lengah penjagaannya dan dimanfaatkan oleh seseorang.
"Ada orang yang mau menyabotase pengiriman obat kita ke rumah sakit Harapan Kasih. Arka yang kasih tahu tadi," ucap Frans membuat Carlo semakin memacu kendaraannya.
"Siapa, Tuan Frans? Bukannya pengiriman kita sudah dikawal oleh beberapa pengawal. Seharusnya kita tidak terlalu khawatir," tanya Carlo dengan raut wajah bingungnya.
"Iya. Di perjalanan memang dikawal, tapi nanti saat masuk gudang kan sudah tidak ada pengawalan. Khawatirnya nanti ada sabotase di dalam gudang dan membuat nama baik perusahaan jadi hancur," ucap Frans menjelaskan.
"Lewat pintu samping aja ini kata, Arka." Carlo pun membelokkan mobil ke arah samping rumah sakit. Keduanya segera turun dari mobil kemudian berjalan mengendap-endap untuk masuk lewat pintu darurat rumah sakit.