Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.
Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:
Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.
Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.
Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.
Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelas Melukis dan Misteri Lukisan Bertema "Keluarga"
Senin pagi di St. Starling Academy berjalan jauh lebih tenang. Pengamanan di gerbang depan kini berlipat ganda, namun bagi kelas ‘Panda Merah’, hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu: Kelas Melukis Bebas bersama Guru Baru.
Ibu Siska, wanita muda bergaun krem yang ramah dan bersuara lembut, berdiri di depan kelas dengan papan lukis besar.
"Selamat pagi, anak-anak!" sapa Bu Siska manis. "Hari ini Ibu ingin kalian menggambar hal yang paling kalian cintai di dunia. Boleh menggambar rumah, hewan peliharaan, atau keluarga kalian!"
Anak-anak bersorak girang. Arka yang duduk di sebelah Lala langsung mengambil kuas dengan bersemangat. "Lala, aku mau gambar tank tempur papaku!"
Lala tertawa kecil sambil merapikan bando pandanya. "Tank tempur mana ada bulunya, Arka? Kalau Lala mau gambar Papa sama Bunda!"
Lala membuka kotak pensil panda raksasanya. Jemari mungilnya mengambil cat air dan kuas. Bagi otak ber-IQ 210 milik Subject 04, teknik melukis profesional seperti chiaroscuro atau perspektif tiga titik bisa ia lakukan hanya dalam sekali goresan. Namun, demi menjaga penyamarannya sebagai bocah empat tahun, Lala sengaja membuat goresannya sedikit meliuk-liuk khas anak kecil—tapi dengan detail rahasia yang sangat luar biasa.
Di atas kertas gambar putihnya, Lala mulai melukis tiga figur:
Papa (Chiko): Digambar mengenakan kacamata besar, tetapi di balik kacamata itu, Lala memberi sentuhan garis biru tipis yang membentuk pola Lensa Pintar Satelit.
Bunda (Mila): Digambar memakai gaun cantik berwarna merah, namun di balik lipatan gaunnya, Lala menyelipkan garis tipis melengkung menyerupai pisau titanium.
Lala sendiri: Berada di tengah-tengah, menggandeng tangan Papa dan Bunda sambil memegang kotak pensil panda yang memancarkan sinyal gelombang mikro berwarna kuning.
Di atas kepala mereka bertiga, Lala menambahkan bentuk atap rumah yang dilindungi oleh kubah transparan bercahaya.
Bu Siska berjalan berkeliling kelas, mengamati hasil karya murid-muridnya. Saat sampai di meja Lala, langkah kaki Bu Siska mendadak terhenti. Ia menunduk lekat-lekat menatap lukisan Lala.
"Wah... lukisan Lala bagus sekali," puji Bu Siska lembut, tetapi matanya menyipit tajam saat memperhatikan detail garis-garis di sekitar gambar Chiko dan Mila.
Sebagai mantan analis sandi visual yang kini menyamar sebagai guru, otak Bu Siska menangkap sesuatu yang tidak biasa. ‘Garis-garis geometris di gaun ibunya... dan pola frekuensi di kacamata ayahnya... Ini bukan sekadar coretan anak kecil. Ini mirip dengan pola pemetaan taktis militer!’
Bu Siska berlutut di samping meja Lala, mencoba menguji secara halus. "Lala sayang... kenapa baju Bunda ada garis-garis tajamnya? Terus kacamata Papa kenapa ada garis birunya?"
Lala mendongak, mengerjap-kerjakan mata bulatnya dengan wajah paling polos di dunia.
"Ooh! Itu garis keajaiban, Ibu Guru!" sahut Lala polos dengan suara cemprengnya. "Kata Papa, kacamata Papa bisa lihat bintang di siang hari! Terus kata Bunda, garis di bajunya itu silet potong kue kalau Lala ulang tahun!"
Bu Siska tertegun. Ia menatap wajah polos Lala yang tidak menunjukkan indikasi kebohongan sedikit pun.
‘Hah... aku pasti terlalu berlebihan,’ batin Bu Siska sambil menepuk dahinya pelan dalam hati. ‘Mana mungkin anak empat tahun paham pola sandi taktis. Ini pasti cuma imajinasi anak-anak gara-gara sering nonton kartun pahlawan super.’
Bu Siska tersenyum lega, mengusap puncak kepala Lala. "Imajinasi Lala hebat sekali. Nanti lukisan ini Ibu beri bintang lima ya!"
"Hore! Terima kasih, Bu Siska!" seru Lala riang.
‘Fiuh... untung Bu Siska gampang dibodohi,’ batin Lala tertawa cerdik di dalam hati. ‘Padahal kalau Bu Siska scan pakai sinar UV, di balik cat air ini ada peta lokasi markas rahasia Kucing Ninja yang kemarin!’
Siang harinya saat jam pulang sekolah, Chiko dan Mila sudah berdiri bersama di depan pagar St. Starling Academy. Chiko mengenakan kemeja rapi, sementara Mila tampak anggun dengan gaun kasualnya.
Saat pintu kelas terbuka, Lala berlari keluar sambil memamerkan kertas gambarnya yang berstempel lima bintang emas.
"Papa! Bunda! Lihat! Lukisan keluarga kita dapat bintang lima!" jerit Lala gembira, melompat ke dalam pelukan Chiko.
Chiko menerima kertas itu dan mengamatinya. Detik berikutnya, napas Chiko mendadak tertahan di tenggorokan. Matanya di balik kacamata menatap detail garis biru di kacamatanya dan garis tajam di gaun Mila.
‘I-ini... ini kan skema perangkat pelacak kuantumku?! Bagaimana Lala bisa menggambarnya?!’ batin Chiko histeris dalam diam.
Mila yang ikut mendekat untuk melihat gambar itu juga seketika membeku. Matanya melotot tipis saat melihat bentuk tajam di balik gaun lukisan tersebut.
‘Garis ini... ini kan bentuk pisau lempar buatan khusus Black Crimson?! Kenapa anak ini bisa melukisnya?!’ batin Mila panik luar biasa.
Chiko dan Mila perlahan saling pandang. Keduanya memaksakan senyum manis yang sangat kaku, mencoba menyembunyikan kepanikan masing-masing.
"I-ini... gambarnya bagus sekali, Sayang," bisik Chiko dengan suara yang sedikit bergetar. "Tapi... kenapa kacamata Papa ada garis birunya?"
"Iya, Sayang... kenapa baju Bunda ada garis tajamnya?" tambah Mila dengan rona wajah agak pucat.
Lala memeluk leher Chiko dan Mila sekaligus, tertawa renyah tanpa dosa.
"Kan Papa pahlawan kacamata ajaib, dan Bunda pahlawan pisau pemotong kue!" jawab Lala riang sambil mencium pipi mereka bergantian. "Ayo pulang, Papa! Bunda! Lala mau makan es krim sambil pamer gambar ini ke tetangga!"
Chiko dan Mila mengembuskan napas panjang secara bersamaan, merangkul putri kecil mereka dengan erat. Walaupun lukisan kecil itu hampir saja membocorkan rahasia terbesar mereka.
Bersambung..