Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.
Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.
"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."
Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manja Sang Ratu Kecil
"Sayang, kamu di mana?" panggil Gabriel yang baru saja melangkah masuk ke dalam mansion, melepas jas hitamnya dan melemparnya sembarangan ke atas sofa.
Suasana mansion terasa begitu tenang. Sejak kabar kehamilan Amara merebak satu minggu yang lalu, mual dan muntah yang dialami istrinya justru makin menjadi-jadi. Kondisi itu sukses membuat pria paling berkuasa di kota ini kelimpungan dan memilih pulang lebih awal dari kantor setiap harinya.
"T-Tuan Gabriel..." panggil Bik Sum setengah berbisik dari arah area dapur, wajahnya menyiratkan rasa bersalah. "Nyonya ada di kamar mandi ruang bawah, Tuan. Dari tadi siang Nyonya tidak mau makan, mual-mual terus..."
Mendengar hal itu, langkah tegap Gabriel seketika berpacu cepat menaiki anak tangga menuju kamar utama. "Sayang?!"
Gabriel membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci. Di sana, Amara terduduk lemas di lantai marmer dekat wastafel, wajahnya yang pucat pasi nampak begitu kuyu dengan helai rambut lepek menempel di pelipisnya.
"Astaga, Amara!" pekik Gabriel panik. Pria itu langsung berlutut, merengkuh tubuh mungil istrinya ke dalam dekapan hangatnya. "Kenapa duduk di lantai dingin seperti ini, hm? Nanti kamu masuk angin, Sayang."
Amara mendongak dengan mata berkaca-kaca, air bening menggenang siap tumpah di sudut matanya. "G-Gabriel..." cicitnya rapuh, suaranya terdengar begitu serak dan manja. "...p-perutku mual sekali... s-sakit..."
Hati Gabriel rasanya bagai diiris-iris melihat penderitaan istrinya. Ia menggunakan ibu jarinya untuk menyapu air mata yang meluncur di pipi pucat Amara, lalu mengangkat tubuh ringkih itu ke dalam bopongannya dan membawanya kembali ke ranjang empuk mereka.
"Sshh... tidak apa-apa, Sayang. Aku di sini," bisik Gabriel penuh kelembutan seraya menyelimuti Amara hingga sebatas dada. Ia menyusupkan jemarinya ke sela-sela rambut Amara, mengusap kepalanya penuh kasih sayang. "Kata Bik Sum kamu belum makan sama sekali? Mau aku suapi sup hangat?"
Amara menggeleng pelan, makin menyusupkan wajahnya ke dada bidang Gabriel yang terasa hangat dan menenangkan. "N-tidak mau... m-bau makanan bikin mual..."
"Lalu mau apa, hm? Bilang sama aku, Sayang," bujuk Gabriel sabar, mendaratkan ciuman bertubi-tubi di kening dan pelipis istrinya. "Kamu mau buah? Mau jalan-jalan keluar? Apapun akan aku carikan asal kamu mau makan sedikit saja."
Amara meremas kemeja Gabriel, mengulum bibirnya yang pucat sebelum berbisik sangat pelan, "A-aku... cuma m-mau... G-Gabriel di sini..."
Gabriel tertegun sejenak, lalu tersenyum amat manis hingga rasa lelah akibat urusan kantor yang menumpuk sirna begitu saja.
"Aku tidak akan ke mana-mana, Ratu kecilku," bisik Gabriel penuh ketulusan. Ia ikut berbaring di samping Amara, menarik tubuh lembut istrinya makin merapat ke dalam pelukannya. "Hari ini dan seterusnya, aku akan bekerja dari rumah untuk menjagamu."
"G-Gabriel..."
"Iya, Sayang? Ada apa, hm?" sahut Gabriel lembut. Jemari kokohnya mengusap pelan punggung Amara yang masih bersandar lemas di dadanya, memberi kenyamanan ekstra untuk sang istri.
Amara mendongak perlahan. Manik mata indahnya menatap Gabriel dengan binar ragu sekaligus penuh harap. Pipinya yang tadi pucat kini sedikit merona karena rasa canggung.
"D-dari tadi... a-aku kepikiran ingin mangga," cicit Amara pelan, menyusupkan jemari mungilnya ke sela-sela kancing kemeja suaminya. "...t-tapi a-aku maunya kamu ambil sendiri dari pohonnya."
Gabriel sempat tertegun sejenak. Kedua alis tebalnya terangkat, menatap Amara seakan memastikan ia tidak salah mendengar permintaan terdekat istrinya itu.
"Mengambil dari pohonnya langsung, Sayang?" ulang Gabriel, memastikan.
Amara mengangguk pelan dengan raut polos. "I-iya... m-mangga muda... yang petik harus G-Gabriel... tidak boleh orang lain..."
Tawa renyah nan hangat seketika pecah dari bibir Gabriel. Rasa gemas meluap di dadanya melihat tingkah menggemaskan Amara yang sedang mengidam. Pria berkuasa yang biasanya selalu memerintah ribuan karyawan itu kini berlutut pasrah di hadapan keinginan kecil sang istri.
"Jadi anak kita mau ayahnya jadi pemanjat pohon hari ini, hm?" goda Gabriel seraya mengecup singkat ujung hidung Amara.
Amara mengulum senyum malu-malu, lalu menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Gabriel. "B-bukan anak kita... a-aku yang mau..." bisiknya sangat pelan.
"Baiklah, Ratu kecilku," ujar Gabriel mantap, melingkarkan lengan kokohnya dan mendaratkan ciuman hangat di pipi Amara. "Apapun untukmu dan calon bayi kita.jangankan memetik mangga, menumbangkan pohonnya pun akan aku lakukan asal kamu mau makan."
Amara terkikik pelan, suaranya terdengar begitu renyah dan bahagia. "J-jangan ditumbangkan... p-petik saja..."
Gabriel tertawa renyah, mengusap lembut perut datar Amara. "Siap, Ibunda. Aku akan cari pohon mangga terbaik sekarang juga."
"J-jangan mencurinya... k-kamu harus memintanya baik-baik pada pemiliknya," cicit Amara cepat, buru-buru menambahkan persyaratannya dengan raut wajah yang mendadak sangat serius dan menggemaskan.
Gabriel yang baru saja hendak beranjak berdiri seketika menghentikan gerakannya. Pria itu menatap istrinya dengan kening berkerut halus, lalu tawa renyah nan tampan kembali meluncur dari bibirnya.
"Mencuri?" Gabriel menggeleng-gelengkan kepala tak percaya, menangkup kedua pipi Amara yang makin merona. "Sayang, suamimu ini bisa membeli pohon mangga itu beserta tanah dan rumah pemiliknya sekalian dalam hitungan detik. Untuk apa aku mencuri?"
Amara menggeleng tegas, matanya membulat menatap Gabriel penuh penekanan. "T-tidak boleh dibeli! K-kamu... harus minta izin... b-bicara baik-baik..."
Gabriel terkekeh geli melihat kepolosan dan prinsip teguh istrinya. Seorang Gabriel, Presdir utama yang biasanya ditakuti oleh para pengusaha papan atas, kini ditantang untuk meminta izin secara sopan pada tetangga demi sebuah mangga muda.
"Baiklah, Sayangku. Apapun perintah Ratu," balas Gabriel mengalah penuh kehangatan. Ia menunduk, mengecup bibir Amara yang sedikit kerucut itu dengan gemas. "Aku akan minta izin sopan-sopan, lalu memetiknya sendiri khusus untukmu. Janji."
Amara akhirnya menyunggingkan senyum leganya yang amat cantik. Ia meraihkannya lengan Gabriel, menyandarkan pipinya di sana sejenak.
"T-terima kasih, Gabriel... J-jangan lupa bilang p-permisi ya..."
"Iya, Sayang," ujar Gabriel tertawa pelan, mengusap puncak kepala Amara dengan teramat lembut. "Kamu tunggu di kamar, ya. Biar Bik Sum menemani di sini. Aku tidak akan lama."
untung nyonya Eleanor cepat sadar yx ,, dn bnr2 berubah kepada Amara ,,