NovelToon NovelToon
Aku Tak Butuh Duitmu, Mas!

Aku Tak Butuh Duitmu, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:16.3k
Nilai: 5
Nama Author: eli_wi

Tit... Tit... Tit...

"Nih uang buat beli listrik. Dasar wanita benalu, bisanya cuma minta uang aja tapi dandan tidak bisa." teriak seorang laki-laki sambil melempar beberapa lembar uang ke arah wajah istrinya.

Mempunyai mertua yang baik, tapi anaknya selalu menguji kesabarannya. Pelit, suka membandingkan dengan perempuan lain, dan selingkuh. Namun selalu menyalahkan istrinya yang selama ini sabar mendampinginya. Dia adalah Aruna Fatihah yang harus diuji kesabarannya selama 3 tahun belakang dengan perubahan suaminya.

Akankah Aruna masih akan bersabar jika suaminya menjalin kasih dengan perempuan lain? Apakah Aruna akan memilih diam atau membalas perlakuan dari suaminya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teror

"Tadi ada yang melempar batu di jendela rumahnya Mbak Aruna," seru salah seorang warga yang melihat ada dua orang melempar batu ke arah jendela rumah Aruna.

"Sudah dikejar, Pak?" tanya Aruna dengan tatapan shocknya.

"Sudah. Tadi sama Pak Minto dan beberapa pemuda dikejar, Mbak." jawabnya.

Aruna hanya menganggukkan kepalanya kemudian berjalan mendekati rumahnya. Dia ditemani oleh beberapa warga mendekati rumah itu untuk mencari bukti. Kakinya gemetaran, tak menyangka kalau akan ada teror. Entah ini teror salah alamat atau memang sudah direncanakan. Beberapa warga menyisir area rumah Aruna dan melihat batu yang tadi dilempar oleh pelaku. Batu itu diambil oleh salah satu warga menggunakan plastik bening kemudian diberikan pada Aruna.

"Serahkan rumah ini," Batu itu dibungkus oleh sebuah kain putih dan ada kertas terselip. Di sana ada tulisan untuk menyerahkan rumah tersebut.

"Jangan-jangan..." Tangan Aruna mengepal erat saat membaca tulisan pada kertas itu. Pikiran Aruna langsung mengarah pada rekaman suara yang dikirimkan Isti. Tatapan mata Aruna kosong, tak bisa berpikir jernih.

"Mbak Aruna, apakah rumah ini bermasalah? Jika iya, mungkin itu dari orang yang ingin menguasai rumah ini. Tanyakan saja coba sama Ibu Salma juga. Soalnya kan tanah ini milik beliau," ucap Pak Karim, tetangganya yang ikut membaca surat dalam kertas itu.

"Mungkin hanya orang iseng, Pak."

Aruna nanti akan menyelidiki dan bertanya pada Ibu Salma. Apalagi dia sudah mengetahui siapa orang yang tengah mengincar rumah ini. Namun dia tak mau gegabah karena teror ini lewat oranglain. Jika asal menuduh Kafka sembarangan, pasti laki-laki itu akan curiga. Dia harus mencari bukti bahwa di balik semua ini memang Kafka. Setelah dibantu warga membersihkan pecahan kaca, Aruna pun pulang ke rumah Ibu Salma. Warga juga akan berjaga di sekitar rumah Aruna. Sedangkan warga yang mengejar pelaku teror, gagal. Mereka kehilangan jejak, tapi Aruna tidak masalah.

"Ada apa, Nak? Kok ramai banget. Benar rumah kamu yang kaca jendelanya pecah?" tanya Ibu Salma dengan raut wajah khawatirnya. Dia dan Nasya tidak keluar rumah sesuai perintah Aruna.

"Iya, Bu. Kayanya ada orang iseng," ucap Aruna dengan senyum paksanya.

"Untung kamu ada di sini. Kalau di rumah kan pasti bisa kena itu pecahan kaca," ucap Ibu Salma yang langsung mengunci pintu rumah.

"Di luar banyak warga ya, Aruna?" tanyanya saat melihat banyak warga berkeliling dan ada juga yang duduk di depan rumah Aruna.

"Iya. Mereka mau jaga malam, Bu. Khawatir ada orang kaya gitu lagi,"

Aruna menggendong Nasya yang sudah tertidur pulas. Nasya tadi ketakutan dan menangis. Karena kelelahan, malah sekarang tertidur pulas. Mereka akan tidur satu kamar untuk mengantisipasi sesuatu. Aruna dan Ibu Salma tidak bisa tidur. Keduanya malah menatap langit-langit atap kamar dengan saling diam. Aruna dan Ibu Salma memikirkan siapa orang iseng yang melakukan itu.

"Apa mungkin ini ulah Kafka, Aruna? Kayanya tidak mungkin kalau cuma orang iseng. Ibu sudah tinggal di sini puluhan tahun, baru tahu ada kaya begini. Jadi biar yang punya rumah ketakutan dan nggak betah kemudian ditinggalkan," ucap Ibu Salma mengatakan analisanya.

"Apalagi kamu punya bukti kalau Kafka memang tengah mengincar rumah itu," lanjutnya sambil menghela nafasnya kasar.

"Aruna juga berpikiran seperti itu. Tapi Aruna masih nggak nyangka lho, Mas Kafka sampai melakukan begitu. Padahal di sana tinggal anak dan istrinya," ucap Aruna sambil menggelengkan kepalanya.

"Ibu juga sudah tidak mengenal Kafka yang sekarang. Dia kaya nggak punya hati," ucap Ibu Salma yang kemudian menggenggam tangan Aruna.

Walaupun terlihat kuat, Ibu Salma tahu kalau Aruna juga hancur. Suami yang dicintainya ternyata berselingkuh, tidak bertanggungjawab, lupa akan anaknya, dan sekarang ingin membuatnya pergi dari rumah itu. Padahal Aruna sudah tidak mempunyai rumah. Dulu rumah orangtuanya dijual untuk dia kuliah. Hingga dia menikah, akhirnya bisa membangun rumah dengan uang tabungannya. Walaupun tanahnya adalah milik mertuanya.

"Setelah ini pasti bahagia yang tercipta. Jangan takut, orang baik pasti akan menemukan hal baik ke depannya. Walaupun jalannya berliku, tapi akan selalu mendapatkan bantuan dari sekitarnya." ucap Ibu Salma menenangkan menantunya.

"Iya, Bu." ucap Aruna sambil tersenyum. Aruna mencoba menekan gejolak emosinya yang sedang menggebu.

"Sertifikat rumahmu dan milik Ibu, besok kita simpan saja di bank. Biar Kafka tidak bisa menemukannya. Buat jaga-jaga kalau kita lengah dan Kafka menggeledah rumah ini," ucap Ibu Salma dengan keputusannya.

"Baik lah. Besok kita pergi sama-sama setelah Nasya pergi sekolah, Bu."

***

Sedangkan di tempat lain, dua orang tengah mengadakan pesta setelah rencana mereka berhasil. Rencana untuk mengirim teror kepada pemilik rumah agar segera pindah karena tidak betah. Walaupun belum sepenuhnya berhasil karena pemilik rumah itu tidak langsung keluar pergi. Dia adalah Kafka dan Silvy yang tengah makan cemilan hingga minuman keras di sebuah apartemen.

"Pasti istrimu ketakutan," ucap Silvy sambil tertawa mengejek.

"Iya. Tapi tumben dia nggak menghubungiku agar aku segera pulang. Padahal biasanya tuh istriku langsung telfon aku kalau ada apa-apa di rumah. Contohnya kaya kemarin token listrik habis. Spam telfon dan pesan sampai ratusan," ucap Kafka yang merasakan perubahan dari Aruna.

"Mungkin dia masih kesal karena kamu jarang mau balas chat atau panggilannya. Jadi kaya sia-sia dia menghubungimu," ucap Silvy menanggapinya dengan santai.

"Benar juga. Lagian malas banget aku sama Aruna. Dia udah nggak cantik. Penampilannya di rumah bikin sepet mata," ucap Kafka yang pandangannya mulai kabur dan ucapannya tidak jelas.

"Rasakan kamu, Aruna. Salah siapa mengambil gelang pemberian Mas Kafka. Maka kamu akan kehilangan rumah dan Mas Kafka. Aku akan membuat Mas Kafka membuangmu dengan hanya memakai pakaian di badanmu saja,"

"Kamu harus jadi milikku, Mas Kafka." gumam Silvy sambil menyeringai.

Silvy pun mengelus lembut pipi Kafka kemudian memeluknya dari samping. Keduanya tertawa, seakan semuanya sudah berada dalam genggaman. Padahal tanpa mereka tahu, semua percakapan itu terekam dan nanti akan dijadikan bukti di kantor polisi. Tidak hanya untuk menghukum Kafka, melainkan Silvy juga. Biar lah mereka bersenang-senang dahulu dan menderita selanjutnya.

"Ayo kita ke kamar, Mas Kafka." ajaknya pada Kafka yang sudah hampir tak sadarkan diri karena minuman laknat itu.

"Di sini saja, aku sudah tak bisa berjalan ke kamar." ucap Kafka membuat Silvy mendengus sebal.

"Terserah kamu saja lah. Biar pegal besok pagi dan kelabakan saat berangkat kerja," gerutu Silvy yang kemudian pergi ke kamarnya dengan langkah sempoyongan.

Kaya...

Dua rumah dijual. Aku jadi kaya raya,

1
sunaryati jarum
Lha Cerai saja baru proses kok sudah mau dijodohkan
Penulis Eli: Hanya bercanda itu, kak 🙈
total 1 replies
E F
lanjutt thor💪😍
aku
bu salma dan bu lala ini kyk e mudanya bar2 sekali ya 🤣🤣 ceplas ceplos jg 🤣🤣
sunaryati jarum: Kalau sudah ketemu teman sekolah,lupa umur.Termasuk emak dan teman - sekolah .
total 1 replies
aku
dua duanya aja. gongin sama anak. 😁
Suwastika
wah...bener² ad udang d balik bakwan BS pas bgt🥰🥰
Muft Smoker
waaaah duo bestie pda garcep niih ,, tp yg pling garcep yx bu Salma 🤭🤭🤣🤣
aku
mamer dorong mantunya kenceng bgt yakk 🤣🤣 keburu amat 🤣🤣 ketok palu ja blm itu mantu 🤣🤣
E F
lanjutt thor💪😄😍
Muft Smoker
bu Salma semangat banget mau jodohin menantu ny ,,
😁😁😁😁
sunaryati jarum
Nah gitu tegas, segera visum untuk bukti.Dsn bukti perselingkuhannya sekalian
sunaryati jarum
Langsung lapor yang berwenang itu sudah penganiayaan berat mengarah pembunuhan
Puspa Sella
benci cara pikiran Aruna ini
Muft Smoker
penjara kan saja si Kafka. bu ,,
Kafka mungkin ank kandung mu,,
tp jiwa ny bukan ,, dy cuma laki2 pengecut jelmaan Dari kodok sawah ,, 😒😒😒😒
uphet
aduuuhhh Bu Salma d sangka mabok abis makan kecubung🤣🤣🤣
E F
tq thor🙏😍
smangat sehat sll up byk2🤭😄💪
aku
kayak mana gk mlongo wong kalimatnya gitu 🤣🤣🤣 aduh nenek ini 🤣🤣
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,,
makin seruu cerita ny
E F
😄😄
tq thor🙏😍
smangatttt up byk2🤭💪
E F
lanjuttt thor💪😍
smangattt hempasssss cpttttt😄💪
INDRA
Ini Aruna sepupu Callie apa bkn Thor
Penulis Eli: bukan, kak. Cerita keluarga Roberto sudah selesai sampai Callie saja 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!