NovelToon NovelToon
Terpikat Suami Sahabatku

Terpikat Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:48
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**

Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.

Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.

Satu malam nekat mengubah segalanya.

Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.

*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*

Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.

Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 002

Suami Sahabatku

Mobil berhenti di bawah kanopi menara kaca yang tadi membuat Laras mendongak sampai lehernya tegang.

Seorang petugas berseragam membukakan pintu. Laras buru-buru turun dan menarik koper sendiri sebelum ada yang menyentuhnya. Udara lobi dingin, wangi, dan begitu senyap hingga bunyi roda kopernya terdengar memalukan di atas lantai marmer.

“Laras!”

Tiara melambai dari depan lift. Rambutnya tersanggul rapi, bibirnya merah mengilap, seragam rumah sakit yang dikenakannya jatuh pas di tubuh. Ia memeluk Laras, lalu mundur untuk menatapnya dari kepala sampai kaki.

“Ya ampun, lo makin kurus. Wahyu ngasih lo makan nggak, sih?”

Laras tertawa kecil. “Kamu masih sama saja.”

“Masih cantik, maksudnya?”

Tiara menekan tombol lift sambil terkekeh. Di pergelangan tangannya melingkar jam yang Laras pernah lihat di etalase pusat perbelanjaan. Harganya cukup untuk membayar kontrakan Laras hampir setahun.

Pintu apartemen terbuka pada ruang tamu yang jauh lebih luas daripada seluruh rumah kontrakan Laras. Dinding kaca memperlihatkan gedung-gedung SCBD. Sofa berwarna krem menghadap televisi sebesar jendela rumahnya. Sepasang sepatu bermerek tergeletak di bawah meja, berdampingan dengan bungkus keripik dan dua gelas bekas.

“Jangan lihat berantakannya.” Tiara menendang satu bantal sofa ke sudut. “Gue seminggu ini shift terus. Bram juga kalau pulang cuma tahu mandi, makan, tidur.”

Itulah pertama kali nama suami Tiara terdengar jelas di telinga Laras.

“Bram?”

“Iya. Bramantyo. Lo belum pernah ketemu, kan?” Tiara membuka pintu sebuah kamar. “Ini kamar lo. Handuk ada di lemari. Kalau mau pakai apa pun, pakai aja.”

Kasur di kamar tamu tampak lebih empuk daripada kasur utama di rumah Laras. Sebotol air mineral impor menunggu di meja samping ranjang. Laras membaca label harganya yang masih menempel, lalu teringat botol empat ribu yang ia pilih di warung pagi tadi.

“Aku mandi sebentar, ya.”

“Santai. Gue harus balik ke rumah sakit.” Tiara mengeluarkan kotak bedak dan memperbaiki riasan di depan cermin. “Nanti malam kita ngobrol. Kangen banget gosip sama lo.”

Setelah Tiara pergi, apartemen itu mendadak sunyi.

Laras duduk di ujung kasur. Dari celah tasnya, dompet yang menyimpan foto rumah contoh terlihat. Ia mendorongnya lebih dalam, lalu bangkit. Rumah milik orang lain tidak seharusnya ia bandingkan dengan mimpi sendiri.

Namun setelah mandi dan berganti pakaian, Laras tidak tahan melihat ruang tamu yang berantakan.

Ia mengikat rambut, membuka gorden agar cahaya masuk, lalu mulai bekerja. Bungkus makanan masuk tempat sampah. Gelas kotor dibawa ke dapur. Remah keripik yang menempel di sofa dibersihkan dengan penyedot debu. Ia bahkan menemukan kaus kaki pria terselip di bawah kursi pijat elektrik.

Satu jam kemudian, keringat membasahi tengkuknya meski pendingin ruangan menyala.

Laras baru selesai mengepel dekat lorong ketika pintu utama berbunyi.

Seorang laki-laki masuk sambil membawa tas olahraga. Tank top hitam melekat pada dada dan bahunya yang lebar. Kulitnya lebih gelap daripada Tiara, rambutnya basah oleh keringat, dan tubuhnya begitu tinggi hingga lorong apartemen terasa menyempit.

Mata mereka bertemu.

Laki-laki itu berhenti. “Kamu siapa?”

Laras menggenggam gagang pel lebih erat. “Laras. Temannya Tiara.”

Tatapan laki-laki itu berpindah ke lantai mengilap, sofa yang sudah rapi, lalu kembali kepadanya.

“Oh.” Suaranya rendah. “Aku Bram.”

Suami Tiara.

Laras mengangguk cepat. “Tiara bilang dia harus kembali ke rumah sakit.”

“Aku tahu.” Bram meletakkan tasnya. “Dia kirim pesan.”

Tanpa bicara lagi, lelaki itu berjalan ke kamar utama. Aroma sabun, keringat, dan udara luar tertinggal sesaat di lorong. Laras menunduk pada pel di tangannya, kesal karena jantungnya sempat berdetak lebih cepat hanya akibat terkejut.

Ia membawa alat kebersihan ke area servis, lalu teringat pakaian kotornya masih tertinggal di kamar mandi tamu.

Pintu kamar mandi tidak terkunci.

Laras baru saja melepas blus ketika daun pintu terbuka.

Ia tersentak dan meraih handuk. Bram berdiri di ambang pintu, satu tangannya masih pada gagang. Mata lelaki itu jatuh sepersekian detik ke bahunya yang terbuka sebelum segera beralih ke lantai.

“Maaf.” Ia menarik pintu kembali. “Kukira Tiara.”

Pintu menutup.

Laras menempelkan telapak tangan pada dadanya. Jantungnya memukul begitu keras sampai ia takut bunyinya menembus pintu. Wajahnya panas, sementara alasan Bram terasa ganjil. Mengapa laki-laki itu mengira Tiara ada di kamar mandi tamu jika istrinya sudah mengirim pesan dari rumah sakit?

Ia mandi lebih cepat daripada biasanya.

Ketika keluar, Bram sudah tidak berada di ruang tamu. Laras mengenakan celana panjang dan kemeja longgar, kemudian menuju dapur. Tiara pasti pulang lapar. Di lemari hanya ada mi instan, biskuit, dan kopi kapsul.

Laras menanak beras yang ditemukannya di rak paling bawah. Untuk lauk, ia perlu turun membeli sayur dan telur dari minimarket gedung.

Baru di depan pintu, ia sadar lift penghuni memerlukan kartu akses.

Ia ragu beberapa detik sebelum mengetuk pintu kamar utama.

Tidak ada jawaban.

Ketukan kedua terdengar lebih keras. “Bram?”

Pintu kamar mandi di dalam terbuka. Langkah kaki mendekat, lalu pintu kamar utama hanya terkuak selebar satu telapak tangan.

Bram berdiri di baliknya dengan rambut menetes dan tubuh telanjang dari pinggang ke atas. Hanya sehelai celana pendek ketat menutupi bagian bawah tubuhnya. Ia mengulurkan kartu akses melalui celah pintu, sementara tatapannya menahan Laras di tempat.

“Cari ini?” tanyanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!