NovelToon NovelToon
Ke Grep Dengan Preman Tengil

Ke Grep Dengan Preman Tengil

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Desas -Desus di gudang sepatu

Matahari merangkak semakin tinggi, memancarkan terik yang mulai membakar kulit dan menguapkan sisa-sisa kelembapan tanah Dukuh Parang. Pukul delapan pagi lewat sedikit, arus lalu lintas di jalan raya kecamatan tampak padat oleh lalu lalang kendaraan bermotor dan truk-truk pengangkut barang.

Di salah satu sudut area industri kecil kecamatan, berdiri sebuah bangunan beratap seng gelombang dengan dinding batako kusam, gudang penyimpanan milik PT Buana Raya, produsen sepatu lokal yang menjadi tempat Devi baru bekerja selama dua hari.

Aroma getah karet, lem kimia yang menyengat, serta bau kulit sintetis langsung menyergap hidung siapa saja yang melangkah masuk ke dalam area gudang. Di dalam ruangan luas yang remang-remang itu, belasan pekerja wanita bercelemek hijau sibuk memilah sol sepatu, menata kotak kemasan ke atas palet kayu, dan mencatat nomor seri barang masuk.

Namun pagi ini, ritme kerja yang biasanya sibuk dan bising oleh deru mesin conveyor berisik itu terasa agak berbeda. Di sudut rak penyimpanan bagian utara, tiga orang buruh wanita paruh baya tampak berdiri merapat di balik tumpukan kardus sepatu yang menggunung.

"Beneran, Bu Rini! Saya nggak bohong!" bisik Yani, buruh wanita berbadan agak subur seraya menengok ke kanan dan kiri dengan cemas. "Mbak saya yang tinggal di Dukuh Parang sendiri yang cerita! Katanya si Devi, anak baru yang bagian gudang barang itu, semalam digerebek warga di gubuk tengah sawah!"

Rini, wanita penyelia yang memegang papan jalan berdada besi, membelalakkan matanya yang memakai riasan celak tebal. "Gusti Allah! Si Devi yang pendiam dan kelihatan pemalu itu? Nggak salah dengar kamu, Yan?"

"Nggak salah lagi, Bu!" sahut Yuli, buruh lainnya yang ikut nimbrung sambil membawa sapu. "Malah katanya semalam langsung dinikahkan siri di balai desa! Yang bikin geger, suaminya itu preman bertato dari kota! Tatonya gila, naga melilit sampai ke muka! Penampilannya seram banget kayak orang bekas keluar dari penjara!"

"Astaghfirullahal'adzim ..." Bu Rini menggeleng-gelengkan kepalanya gemas, bibirnya yang berlipstik merah menyala mencibir tajam. "Pantesan pagi ini dia belum kelihatan hidungnya! Padahal baru kerja dua hari di sini. Masuk kerja pakai surat kelakuan baik dari desa, eh ternyata di luaran kelakuannya gatal begitu. Gubuk sawah kok dijadikan tempat aneh-aneh tengah malam!"

"Iya, Bu! Bikin malu nama gudang kita saja kalau sampai bos tahu!" tambah Yuli memanas-manasi.

Tepat pada saat rasan-rasan itu mencapai puncaknya, suara langkah kaki yang terseret pelan terdengar mendekati pintu besi gudang.

Tirai terpal hitam dipinggirkan. Devi melangkah masuk ke dalam gudang dengan gerakan serba canggung. Gadis itu mengenakan kemeja putih polos, celana kain hitam, dan jilbab bergo biru kusam seragam standar buruh harian lepas. Wajahnya yang pucat nampak lesu, matanya yang sembap dipaksakan menunduk menatap lantai semen yang berdebu.

Sebenarnya, Pak Suryo dan Bu Sumi sudah melarangnya berangkat kerja hari ini karena kondisi psikologisnya yang belum stabil. Namun Devi bersikeras. Ia sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk membantu membeli obat jantung ayahnya dan membayar cicilan utang keluarga. Ia tidak boleh kehilangan pekerjaan yang baru didapatkannya dengan susah payah ini.

Begitu sosok Devi membelah pintu masuk gudang, suasana riuh bisik-bisik seketika surut. Namun, keheningan yang menggantikannya justru jutaan kali lebih menyiksa.

Puluhan pasang mata buruh di dalam gudang serentak tertuju pada Devi. Tatapan mereka bukan lagi tatapan ramah sesama rekan kerja, melainkan tatapan cemooh, jijik, dan penuh tuduhan yang menyengat kulit. Beberapa pekerja wanita saling menyiku lengan temannya sambil berbisik-bisik di balik telapak tangan, lalu terkekeh sinis.

Devi memeluk erat tas kain lusuhnya di depan dada. Jantungnya berdegup kencang secara tak teratur, tenggorokannya serasa tercekat batu besar. Setiap inci langkah kakinya menuju meja presensi terasa bagaikan berjalan di atas hamparan duri yang tajam.

"Ehem!"

Bu Rini melangkah keluar dari balik tumpukan kardus, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan gaya menyebalkan. Tangannya memegang papan jalan, menatap Devi dari ujung rambut hingga ujung sepatu ketsnya yang kumal.

"Selamat pagi, Mbak Devi ..." sapa Bu Rini dengan nada suara yang sengaja diseret-seret sinis. "Luar biasa ya semangat kerjanya. Saya pikir pengantin baru hari ini mau libur dulu buat bulan madu di gubuk?"

Gerrr!

Gelak tawa tertahan langsung meledak dari beberapa sudut rak penyimpanan. Yuli dan Yani tertawa mengejek tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Pipi Devi seketika terasa panas membakar. Merah padam bercampur rasa malu yang teramat sangat menyergap seluruh jiwanya. Air mata yang sudah susah payah ditahannya sejak keluar dari rumah kini kembali menggenang di sudut matanya yang bening.

"M-maaf, Bu Rini ..." suara Devi keluar sangat kecil dan bergetar parau. "Saya ... saya tetap masuk kerja seperti biasa."

"Aduh, Mbak Devi ... Ndak usah sok polos begitu ah di depan kita!" cerocos Bu Rini seraya melangkah mendekat, matanya menatap tajam tanpa belas kasihan. "Di sini ini tempat kerja orang baik-baik, Mbak. Kita cari uang halal buat beri makan anak suami di rumah. Jangan sampai gara-gara ada buruh yang kelakuannya tidak benar dan bikin geger satu desa, nama baik gudang ini ikut tercoreng!"

"Saya tidak melakukan apa-apa yang dituduhkan warga, Bu ..." Devi mencoba membela diri, suaranya tercekat oleh tangis yang siap pecah. "Saya cuma berteduh dari hujan deras ..."

"Alasan!" potong Yuli dari balik rak dengan nada menyindir keras. "Mana ada orang berteduh di gubuk tengah sawah jam sebelas malam kalau tidak ada niat aneh-aneh?! Pakai bawa-bawa preman bertato segala lagi! Hiiy ... jangan-jangan kamu ini memang suka sama laki-laki liar begitu ya, Dev?"

Tawa ejekan kembali terdengar riuh. Devi hanya bisa menundukkan kepalanya makin dalam, meremas jemarinya sendiri hingga memutih. Rasa tertekannya sudah mencapai batas kemampuan jiwanya untuk menahan. Dunia rasanya begitu jahat dan tidak adil; tanpa pernah tahu kebenaran yang sesungguhnya, orang-orang begitu mudah melemparkan batu penghakiman dan menghancurkan harga dirinya hingga lumat.

"Sudah! Jangan banyak alasan!" bentak Bu Rini tegas, mengangkat papan jalannya tinggi-tinggi. "Hari ini kamu tidak usah pegang mesin presensi! Kamu pergi ke gudang belakang, bersihkan tumpukan kardus bekas dan palet kayu yang berjamur di sana! Jangan dekat-dekat sama buruh lain daripada nularin gosip tidak benar!"

Devi menggigit bibirnya erat-erat hingga terasa asin oleh rasa darahnya sendiri. Tanpa sanggup membalas sepatah kata pun, ia mengangguk pelan. "Baik, Bu Rini ..."

Dengan langkah gontai dan air mata yang akhirnya menetes membasahi pipinya, Devi berbalik arah berjalan menuju lorong gudang bagian belakang yang gelap dan berdebu.

Di belakang punggungnya, cemoohan dan tawa ejekan buruh-buruh wanita itu masih terdengar samar-samar, mengiringi penderitaan hatinya yang kian hancur.

Sementara itu, tak jauh dari area gudang penyimpanan PT Buana Raya, sebuah sepeda motor bebek tua berwarna hitam melaju tenang membelah jalanan aspal kecamatan.

Di atas jok motor tua itu, Devan berkendara dengan santai. Pria itu sudah berganti pakaian; ia mengenakan kemeja denim biru tua berdada bidang yang digulung hingga ke siku, memamerkan tato naga di lengan bawahnya, serta celana jins hitam yang rapi. Helm teropong tanpa kaca menutupi kepalanya, memperlihatkan garis rahang tegasnya yang diterpa sinar matahari pagi.

Devan menghentikan motornya tepat di tepi jalan raya, sekitar lima puluh meter dari gerbang masuk gudang tempat Devi bekerja. Pria itu menurunkan standar motornya, melepaskan helm, lalu menyapukan pandangan matanya yang tajam meneliti kawasan sekitar.

Meskipun di depan Pak Suryo tadi pagi ia tampak sangat santai dan jenaka, pikiran Devan sejujurnya tidak pernah benar-benar tenang. Sejak semalam, naluri keamanannya terus berdering. Ada banyak hal yang terasa tidak wajar dari peristiwa penggerebekan di gubuk tengah sawah tersebut.

Bagaimana mungkin rombongan warga desa yang dipimpin Pak RT bisa datang begitu cepat dan tepat sasaran hanya sepuluh menit setelah Devi memasuki gubuk? Kenapa ada warga yang seolah-olah sudah bersiap membawa obor dan kayu ronda di tengah hujan deras yang membabi buta? Siapa yang sebenarnya memprovokasi warga untuk memaksakan opsi pernikahan siri kilat tersebut?

Devan merogoh saku kemeja denimnya, mengeluarkan sebuah ponsel pintar berlayar sentuh dengan bodi hitam tebal yang terlihat sangat mahal, sangat jauh dari kesan ponsel milik seorang 'preman jalanan'. Ia menekan beberapa tombol di layarnya, lalu menempelkan benda itu ke telinga kanannya.

Panggilan itu hanya bernada sekali sebelum akhirnya diangkat oleh suara bariton pria lain di ujung telepon.

("Halo, Komandan,") suara di ujung telepon terdengar sangat cekatan dan formal.

("Laporan masuk. Kami sudah memantau pergerakan dari lokasi Anda.")

Devan menyipitkan matanya, menatap lurus ke arah papan nama gudang PT Buana Raya di kejauhan. Nada suaranya saat berbicara di telepon ini berubah total, tidak ada lagi kesan renyah, santai, atau kasar. Suaranya dingin, berwibawa, dan memancarkan kepemimpinan yang mutlak.

"Bagus, Hendra," jawab Devan pendek namun tegas. "Kirim dua personel intelijen berpakaian preman untuk memantau area sekitar rumah Pak Suryo di Dukuh Parang. Pastikan tidak ada warga atau pihak luar yang mencoba melakukan intimidasi pada keluarga itu."

("Siap, Komandan! Lalu bagaimana dengan investigasi Lahan Sektor Tiga?"? tanya suara bernama Hendra itu lagi.

Devan mengusap dagunya yang ditumbuhi cambang tipis, matanya berkilat penuh kilatan taktik. "Investigasi tetap berjalan. Tapi fokus utama kita sedikit bergeser. Penggerebekan semalam di gubuk sawah itu bukan murni kebetulan atau hukum adat warga yang berlebihan. Ada pihak tertentu yang sengaja memanfaatkan situasi itu atau bahkan memang sudah merancangnya."

("Maksud Komandan, ada orang dalam yang memprovokasi warga?")

"Tepat," bisik Devan, senyum tipis yang dingin mengulas di bibirnya. "Seseorang ingin menghancurkan reputasi gadis bernama Devi ini, atau sengaja ingin menyingkirkannya dari desa. Cari tahu siapa yang memanggil Pak RT semalam, dan periksa siapa saja orang di internal pabrik tempat Devi bekerja yang punya masalah dengannya."

("Laksanakan, Komandan! Laporan akan segera diperbarui dalam dua jam.")

"Satu hal lagi, Hendra," potong Devan sebelum telepon ditutup.

*"Siap, ada instruksi tambahan?"*

Devan terdiam sejenak, menatap gerbang gudang pabrik di mana ia tahu di dalam sana istrinya sedang berjuang sendirian menghadapi prasangka dunia.

"Pastikan keselamatan Devi di dalam gudang itu," ucap Devan dengan nada rendah yang sangat protektif dan tak boleh dibantah. "Kalau ada satu orang pun yang berani menyentuh atau mencelakainya ... beri mereka pelajaran dengan cara kita."

("Siap, Komandan! Dipahami!")

Devan mematikan sambungan teleponnya, lalu memasukkan ponsel mahal itu kembali ke dalam saku kemeja denimnya. Pria itu menyandarkan punggungnya di jok motor, menatap langit pagi yang makin terik dengan pandangan yang sarat akan teka-teki.

Topeng sang preman bertato yang dikenakannya hanyalah selapis kulit luar untuk menyembunyikan identitas aslinya yang jauh lebih berbahaya. Dan kini, siapa pun yang berani bermain-main dengan takdirnya dan mencoba menyakiti gadis polos yang baru saja menjadi istrinya itu, harus siap berhadapan dengan murka yang sesungguhnya.

1
tinie
anak kota kenapa selalu dikenal anak nakal,,
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
MayAyunda: tato identik nakal kak ..terutama kalau di desa 😄😄🙏
total 1 replies
tinie
wah tua juga baru lulus SMA 21 THN
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
MayAyunda: mf kak 😄🙏
total 1 replies
tinie
miris banget
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan

milih nikah aja
MayAyunda: masih kolot kak 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!