Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.
**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.
Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:
*"Om… aku mencintaimu."*
*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*
Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?
Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.
Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22
Kondom di Lantai
Empat hari setelah Dinda menyeretku pulang dari klub, aku kembali ke Puri Cendana untuk mengambil sisa barang.
Setidaknya, itu alasan yang kusiapkan jika ada yang bertanya.
Sore tadi Mbok Nah mengirim pesan bahwa beberapa buku, partitur piano, dan jaket lamaku masih memenuhi lemari kamar. Akhir bulan sudah dekat. Aku menjawab akan datang saat rumah sepi karena tidak ingin bertemu Om Bram.
Namun sebelum berangkat, aku berhenti di sebuah apotek.
Aku berdiri terlalu lama di depan rak sampai seorang pegawai bertanya apakah aku membutuhkan bantuan. Wajahku panas. Aku mengambil satu kotak kondom, membayar bersama obat lambung dan air mineral, lalu memasukkannya ke bagian paling atas tas.
Kotaknya masih tersegel.
Aku tidak berniat menggunakannya dengan siapa pun. Bahkan Ipang tidak pernah menyentuhku selain menahan siku saat aku hampir jatuh. Semua yang kulakukan malam ini hanya rencana kekanak-kanakan untuk menunjukkan bahwa aku bukan lagi anak baik yang bisa Om Bram atur dari jauh.
Aku ingin melihat reaksinya.
Kalau dia marah, berarti dia masih peduli.
Kalau dia tidak marah, mungkin aku akhirnya bisa berhenti berharap.
Aku minum setengah kaleng bir sebelum memesan taksi. Tidak cukup untuk membuatku mabuk, hanya cukup untuk mengurangi rasa takut dan menambah keberanian palsu.
Pukul sebelas malam, rumah itu terlihat gelap kecuali ruang tamu.
Aku membuka pintu dengan kunci lama. Mbok Nah pasti sudah tidur. Aku melepas sepatu tanpa memakai sandal, lalu berjalan masuk sambil menahan napas.
Om Bram duduk di sofa.
Dia masih mengenakan kemeja kerja, tetapi dua kancing atas terbuka dan lengan bajunya digulung sampai siku. Wajahnya terlihat lebih kurus. Di meja ada kopi yang tidak disentuh, ponsel, dan ikat rambut hitam milikku.
Aku berhenti.
Dia berdiri perlahan. "Akhirnya kamu pulang."
"Aku cuma ambil barang."
"Empat hari lalu saya datang ke kos. Kamarmu kosong."
"Aku nggak minta Om datang."
"Sepuluh hari sebelumnya kamu menghilang dari rumah ini tengah malam."
Tanganku mengencang pada tali tas. Jadi dia tahu aku datang. Namun dia tetap tidak menjelaskan apa pun.
"Kenapa peduli?" tanyaku.
"Karena Fikri bilang kamu melewatkan kelas. Karena Dinda menolak menjawab di mana kamu berada. Karena tiga malam lalu seseorang melihatmu keluar dari klub dalam keadaan hampir tidak bisa berdiri."
"Lalu? Om mau menyeretku pulang?"
"Saya hampir melakukannya." Matanya tidak berkedip. "Saya datang ke kos dua kali. Malam pertama penjaga bilang kamu belum pulang. Malam kedua lampu kamarmu mati dan Dinda bilang kamu tidur di tempatnya. Saya menunggu di mobil sampai pagi karena tidak tahu apakah dia berkata jujur."
Aku membayangkan mobil hitam itu terparkir di seberang kos sementara aku bersembunyi di kamar Dinda. Sebagian kecil diriku ingin merasa lega. Bagian yang lebih besar marah karena perhatian itu datang terlambat, setelah dia membiarkan perempuan lain mengusirku dari hidupnya.
"Itu pilihan Om sendiri," kataku.
"Benar. Dan pilihanmu membuat semua orang yang menyayangimu ketakutan. Mbok Nah menelepon tiap pagi. Dinda bolos satu kelas untuk menjagamu. Jangan bertingkah seolah hanya saya yang terkena akibatnya."
Nama-nama itu mengenai bagian hati yang masih mampu merasa bersalah. Aku mengalihkan rasa sakit itu kembali menjadi kemarahan.
"Om menyuruh orang mengawasiku lagi?"
"Saya bertanya kepada orang yang tahu kamu masih hidup. Itu berbeda."
"Buatku sama saja."
Aku hendak naik ke lantai dua, tetapi Om Bram berdiri di depan tangga.
"Kamu dari mana malam ini?"
"Bukan urusan Om."
"Dengan siapa?"
"Bukan urusan Om."
"Sekar."
Nada itu dulu selalu membuatku berhenti. Sekarang aku justru tersenyum pahit.
"Mau tanya apa lagi? Aku minum apa? Pulang sama siapa? Tidur di mana? Om sudah bilang bukan waliku lagi."
Rahangnya mengeras. "Berhenti memakai kebebasanmu untuk menghukum tubuhmu sendiri."
"Tubuhku juga bukan urusan Om."
"Kamu baru sembuh."
"Nadia tahu aku baru sakit. Om cerita banyak tentangku kepadanya?"
Om Bram mengernyit. "Kenapa membawa Nadia?"
Pertanyaan itu terdengar begitu polos sampai aku ingin tertawa. Jadi mereka bahkan sepakat berpura-pura di depanku.
"Nggak penting. Aku mau ambil barang lalu pergi."
Aku masuk ke ruang tamu dan meletakkan tas di meja. Om Bram mengikutiku, tetapi menjaga jarak beberapa langkah.
"Keluarkan ponselmu," katanya.
"Untuk apa?"
"Telepon nomor saya."
"Aku nggak punya pulsa."
"Kamu memblokir saya."
Aku membuka tas dengan gerakan kasar. "Kalau sudah tahu, kenapa tanya?"
"Buka blokirnya. Setelah itu saya tidak akan menelepon kecuali keadaan darurat."
"Om selalu menganggap apa pun tentangku keadaan darurat."
"Karena kamu membuat pilihan seolah besok tidak penting."
Aku mengeluarkan dompet, kunci, lipstik, dan beberapa kertas, lalu menjatuhkannya ke meja.
"Mau periksa semuanya? Silakan. Lihat sendiri hidup seperti apa yang kupilih."
Aku membalik tas.
Isinya meluncur keluar. Sebuah pulpen jatuh lebih dulu, disusul pengisi daya, obat lambung, dan kotak kecil berwarna gelap.
Kotak kondom itu memantul di tepi meja, lalu jatuh tepat di dekat sepatu Om Bram.
POV Bram
Seluruh suara di ruangan seperti terputus.
Aku menatap kotak di lantai. Segelnya tidak terlihat dari tempatku berdiri. Yang kulihat hanya nama produk dan keterangan isi yang dicetak jelas.
Empat hari lalu Sekar berada di klub bersama seorang laki-laki bernama Ipang. Fikri hanya berhasil memastikan nama itu dan fakta bahwa mereka beberapa kali terlihat bersama. Aku memerintahkan dia berhenti mencari sebelum kegelisahanku berubah menjadi pelanggaran atas privasi Sekar.
Sekarang semua kemungkinan terburuk datang sekaligus.
"Itu punya siapa?" tanyaku.
Suaraku nyaris tidak terdengar.
Sekar menyilangkan tangan di dada. Wajahnya pucat, tetapi dagunya terangkat.
"Ada di tasku. Menurut Om punya siapa?"
Dadaku seperti dihantam benda berat. Aku ingin bertanya apakah seseorang memaksanya, apakah dia aman, apakah dia tahu cara menjaga diri. Di balik semua pertanyaan itu ada rasa sakit yang lebih egois dan tidak pantas kuucapkan.
Aku membayangkan laki-laki lain menyentuhnya.
Rasa takut berubah menjadi dingin.
Aku membungkuk, mengambil kotak itu, lalu meletakkannya di meja tanpa memeriksa segel. Jika aku melihat lebih lama, aku mungkin mengatakan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.
Di samping kotak itu ada obat lambung dan bukti pembayaran apotek dengan waktu tercetak kurang dari dua jam lalu. Aku melihatnya, tetapi pikiranku terlalu kacau untuk memahami arti sederhana bahwa semua barang mungkin baru dibeli bersamaan. Ketakutan memilih bukti yang paling menyakitkan dan mengabaikan sisanya.
"Itu hidupmu," kataku. "Om bukan siapa-siapa untuk melarang."
Wajah Sekar berubah.
Dia menunggu kemarahan, dan aku justru memberinya izin untuk pergi. Namun apa hakku menahannya setelah berbulan-bulan mengatakan bahwa cintanya salah? Aku tidak bisa menolak hatinya lalu menuntut tubuhnya tetap menungguku.
"Bukan siapa-siapa?" ulangnya.
"Kamu sudah dewasa. Selama tidak ada yang menyakitimu, keputusanmu milikmu."
"Jadi Om nggak peduli."
"Saya tidak bilang begitu."
"Tadi Om bilang bukan siapa-siapa."
"Karena itu kenyataannya."
Sekar berjalan mendekat. Matanya merah, napasnya cepat.
"Kalau memang nggak peduli, ngapain masih nungguin aku pulang setiap malam?! Ngapain masih di sini sekarang?!"
"Sekar, kecilkan suaramu. Mbok Nah sedang tidur."
"Biar dia bangun! Biar semua orang tahu Om cuma berani peduli kalau bisa menyebutnya tanggung jawab!"
"Kamu sedang minum?"
"Sedikit. Jangan ganti topik."
"Kita bicara saat kamu benar-benar sadar."
Aku hendak mundur, tetapi telapak tangannya lebih dulu menghantam pipiku.
Bunyi tamparan memecah ruangan.
Kepalaku berputar ke samping. Rasa panas langsung menyebar di pipi kiri. Sekar sendiri terlihat terkejut, seolah tangannya bergerak sebelum pikirannya memberi izin.
Dia menurunkan tangan dan memandang telapak tangannya. "Aku..."
Aku menghadapnya lagi. "Jangan minta maaf hanya karena takut saya marah."
"Aku memang marah."
"Saya tahu."
Aku tidak membalas sentuhannya, tidak meninggikan tangan, dan tidak melangkah mendekat. Tamparan itu salah, tetapi rasa sakit di pipi jauh lebih ringan daripada bayangan bahwa aku telah mendorongnya sampai percaya tubuhnya sendiri tidak berharga.
"Om selalu begitu," katanya dengan suara pecah. "Datang waktu aku jatuh, lalu pergi begitu aku berdiri. Om menyuruhku hidup sendiri, tapi setiap aku mencoba, Om marah. Om mau aku jadi apa?"
"Saya tidak pernah meminta kamu menghancurkan diri."
"Aku juga tidak pernah minta Om menyelamatkanku!"
Dia mengangkat tangan lagi, bukan untuk menampar, melainkan memukul dadanya sendiri dengan frustrasi. Aku menangkap pergelangan tangannya agar dia berhenti.
Sekar menarik diri. "Lepas!"
Aku seharusnya langsung melepaskan. Namun setelah berminggu-minggu hanya melihat namanya di layar tanpa jawaban, merasakan denyut hidupnya di bawah jemariku membuat pertahananku runtuh.
Aku menariknya satu langkah lebih dekat, lalu segera melonggarkan genggaman ketika dia meringis.
"Karena aku tidak bisa tidak peduli, Sekar," kataku.
Kata-kata itu keluar dengan suara yang tidak kukenal.
Dia berhenti melawan.
"Itu masalahnya," lanjutku. "Itu masalah aku dari dulu."
Kami berdiri terlalu dekat untuk berpura-pura bahwa kalimat itu hanya tentang tanggung jawab. Tanganku masih melingkari pergelangannya, tetapi tidak lagi menekan. Tangan satunya menggantung di sisi tubuh karena aku tidak berani menyentuhnya lebih jauh.
Air mata Sekar jatuh tanpa dia hapus.
"Kalau begitu kenapa Om terus menyuruhku pergi?"
Aku tidak punya jawaban yang tidak akan membuka semua ketakutanku.
Usia kami. Masa lalu sebagai wali dan anak angkat. Dunia yang akan menghakiminya lebih keras daripada aku. Kekhawatiran bahwa rasa aman yang kuberikan telah memengaruhi pilihannya. Semua alasan itu masih nyata, tetapi untuk pertama kalinya terdengar seperti dinding yang kubangun agar aku sendiri tidak perlu mengambil risiko.
Sekar menatapku, menunggu.
Aku menelan kalimat yang hampir keluar. Jemariku akhirnya bergerak sedikit, seolah hendak melepaskan, tetapi tidak satu pun dari kami benar-benar mundur.