NovelToon NovelToon
Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO
Popularitas:298
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.

Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.

Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?

Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Hujan Kotor

"Makan siang. Ikut."

Liana yang baru masuk kembali ke kantor Renard berkedip. "Bapak memanggil saya untuk itu?"

"Sekalian bahas jadwal Bali."

Renard sudah mengambil ponsel dan jasnya. Seolah mengajak asisten makan siang merupakan keputusan paling biasa di dunia.

"Baik, Pak."

Mereka turun dengan lift privat. Di lobi, arus pegawai yang hendak makan siang terbelah saat Renard melintas. Liana berjalan setengah langkah di belakang sambil membaca agenda dari tablet.

"Pertemuan dengan tim resort bisa dipindah ke Jumat pagi. Pihak Bali mengusulkan makan malam dengan distributor pada hari pertama."

"Tolak makan malamnya."

"Alasannya?"

"Aku tidak suka mencampur negosiasi dan alkohol."

Liana mencatat. "Untuk makan siang hari ini, restoran di seberang sudah menyiapkan meja."

"Kamu sudah makan?"

Pertanyaan itu membuat langkahnya terlambat setengah detik. "Belum."

"Bagus."

"Bagus?"

"Tidak perlu memesan dua kali."

Liana menatap punggungnya. Ia belum sempat memutuskan apakah itu ajakan atau efisiensi anggaran ketika pintu kaca otomatis terbuka.

Panas lembap Jakarta menyambut mereka. Udara baru saja diguyur hujan pendek. Trotoar masih basah, dan genangan memantulkan fasad gedung Tan Group.

Seseorang menerobos barisan satpam.

"Renard Tan!"

Teriakan seorang perempuan membelah keramaian.

Liana menoleh. Seorang wanita paruh baya berlari dari sisi pilar sambil membawa ember plastik. Wajahnya basah oleh keringat dan air mata. Dua satpam mengejar dari belakang, tetapi jaraknya terlalu dekat.

Ember itu terangkat.

Liana melihat air keruh di dalamnya. Ia juga melihat Renard membeku.

Mysophobia.

Tubuhnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya.

Ia melangkah ke depan, memutar badan, dan membuka kedua lengan tanpa menyentuh Renard. Masih ada jarak beberapa sentimeter di antara punggungnya dan dada pria itu ketika air kotor menghantamnya.

Byur!

Dingin dan bau selokan menelan kepala sampai pinggangnya.

Tablet terlepas dari tangan. Teriakan pecah di sekitar mereka. Seseorang merekam. Seseorang lain memanggil satpam.

Liana terbatuk. Air menetes dari rambut ke mata dan bibirnya. Blus putihnya langsung melekat pada kulit.

Air itu terasa licin di wajah. Bau lumpur bercampur minyak membuat lambungnya berputar. Satu tetes masuk ke mata dan menimbulkan perih tajam. Namun hal pertama yang dilakukan Liana justru meraba udara di belakangnya.

Renard masih berdiri. Tidak terkena.

Baru setelah memastikan itu, lututnya terasa lemas.

"Anak saya mati gara-gara kamu!" Perempuan itu meronta saat satpam menangkap kedua lengannya. "Irene bunuh diri setelah kalian pecat! Kalian buang dia seperti sampah!"

Renard tidak melihat perempuan itu.

Ia menatap Liana.

"Kenapa kamu maju?"

Suaranya terlalu tenang.

Liana mengusap air dari mata. "Kalau kena Bapak, gejala Bapak bisa kambuh."

"Jadi kamu memilih terkena?"

"Tidak sempat memilih."

Renard mencabut jasnya. Gerakannya tajam, hampir marah. Ia menyampirkannya ke bahu Liana dan menarik kedua sisi kain hingga tubuhnya tertutup.

Liana tertegun.

Jas itu mahal, bersih, dan tadi bahkan tak dibiarkan menyentuh sandaran kursi lobi. Kini bagian dalamnya menempel pada pakaian Liana yang basah oleh air selokan.

Renard tidak tampak jijik.

Ia hanya tampak ingin menghancurkan sesuatu.

"Pak, jas Bapak..."

"Diam."

Tangannya menahan jas di bawah dagu Liana. Ujung jarinya menyentuh kulit lehernya tanpa ragu. Puluhan pegawai sedang melihat. Kamera ponsel terangkat dari berbagai arah.

"Bawa Ibu ke ruang keamanan," perintah Renard.

"Jangan sentuh saya!" perempuan itu menjerit. "Saya mau jawaban!"

Liana menangkap luka yang jauh lebih besar daripada amarah di wajahnya. Ia memegang lengan Renard sebelum pria itu sempat berbalik pergi.

"Tunggu, Pak."

Renard menunduk menatap tangan Liana di lengan bajunya. "Kamu masih mau membelanya?"

"Saya mau dia didengar."

Liana mendekati perempuan itu, masih dibungkus jas Renard. "Ibu Irene, nama Ibu siapa?"

Wanita itu terisak. "Saya ibunya Irene."

"Saya turut berduka. Tapi melempar air dan menerobos keamanan bisa membawa Ibu ke masalah hukum. Berikan semua bukti yang Ibu punya. Kami akan pastikan ada pemeriksaan ulang yang tercatat."

"Tercatat?" Ibu Irene tertawa di tengah tangis. "Anak saya sudah tiga kali mengadu. Katanya ada atasan yang menyuruh dia mengubah data pegawai. Waktu dia menolak, justru dia dituduh membocorkan dokumen. Kalian pecat dia. Dua minggu kemudian saya menemukan dia sudah tidak bernapas."

Kerumunan menjadi lebih sunyi.

Liana tidak tahu apakah tuduhan itu benar. Ia juga tahu rasa kehilangan tidak boleh dipakai untuk menebak fakta. "Siapa yang menerima pengaduannya?"

Perempuan itu menyebut satu nama dari divisi HR.

Renard menoleh kepada Rizal yang baru tiba. "Nonaktifkan akses orang itu sampai pemeriksaan selesai. Jangan hapus data apa pun."

"Baik, Pak."

"Dan hubungi auditor eksternal. Hari ini."

Perintah tersebut mengubah ekspresi Ibu Irene. Amarahnya belum hilang, tetapi untuk pertama kalinya ia menatap Renard alih-alih berteriak kepada bayangan konglomerat yang dibencinya.

"Kalian pasti tutupi lagi."

"Tidak," kata Renard dari belakang Liana.

Semua suara di sekitar mereka surut.

Renard memandang kepala keamanan. "Catat pengaduannya. Hubungi kuasa hukum keluarga jika Ibu mengizinkan. Berikan salinan hasil pemeriksaan internal dan tawarkan pendamping independen. Tidak ada tuntutan dari saya atas kejadian hari ini."

Ibu Irene berhenti meronta.

"Tapi," lanjut Renard, "setelah ini Ibu masuk lewat pintu dan membuat janji. Jangan pernah lagi menyerang pegawai saya."

Tatapannya jatuh pada Liana saat mengucapkan dua kata terakhir.

Pegawai saya.

Ada sesuatu yang jauh lebih pribadi daripada hubungan kerja di dalam nadanya.

Kepala keamanan mengangguk. Ibu Irene akhirnya membiarkan dirinya dibawa masuk, kali ini tanpa diseret. Ia menoleh sekali kepada Liana, bibirnya bergetar, lalu menghilang di balik pintu samping.

Kerumunan belum bubar.

Bisik-bisik sudah berubah menjadi notifikasi. Salah satu pegawai buru-buru menurunkan ponsel ketika Renard menyapu area dengan tatapan.

"Hapus semua rekaman yang memperlihatkan pakaian Mbak Liana," katanya kepada kepala komunikasi yang baru datang. "Kalau ada yang sudah mengunggahnya, minta turun. Jangan sentuh rekaman pengaduan Ibu Irene."

Perintah itu presisi. Melindungi martabat Liana tanpa menghapus suara seorang ibu yang berduka.

Seorang staf perempuan datang membawa handuk dan air mineral. Liana menerima handuk, tetapi sebelum sempat menggunakannya, Renard mengambil botol air.

"Tutup matamu."

"Kenapa?"

"Tadi kamu mengucek mata. Airnya kotor."

Ia menuangkan air ke saputangan bersih, lalu menyerahkannya tanpa menyentuh bagian basah. Liana menempelkan kain itu ke mata. Perihnya berkurang.

"Terima kasih."

"Kamu masih mengucapkan terima kasih setelah berdiri di depan ember untukku?"

"Saputangannya tetap milik Bapak."

"Buang."

"Tentu saja."

Untuk sepersekian detik, sudut bibir Renard bergerak. Ketegangan pecah cukup lama agar Liana dapat bernapas.

Liana baru menyadari tubuhnya gemetar. Udara panas terasa dingin di kulit yang basah.

Renard menunduk. "Bisa berjalan?"

"Bisa."

Ia baru mengambil satu langkah ketika sepatu licin membuatnya oleng. Tangan Renard langsung menahan siku dan pinggangnya. Tubuh Liana berhenti hanya beberapa sentimeter dari dadanya.

Tidak ada mual.

Tidak ada refleks menjauh.

Renard bahkan menariknya lebih dekat agar jas tidak terbuka.

"Pak Renard," bisik Rizal yang tiba dari lift bersama Bayu. Wajahnya pucat melihat keadaan Liana. "Mobil atau klinik?"

"Tidak perlu klinik," jawab Liana cepat. "Saya hanya basah."

"Bawa tas dan laptopnya ke ruang istirahatku," kata Renard. "Bayu, urus tablet yang jatuh. Rizal, hentikan orang yang masih merekam."

"Siap, Pak."

Renard membimbing Liana kembali ke lift. Tangannya tidak pernah lepas dari siku Liana.

Saat pintu hampir tertutup, Liana melihat Ibu Irene duduk di ruang tunggu keamanan, bukan di ruang tahanan. Seorang staf perempuan memberinya air minum dan formulir pengaduan. Kuasa hukum internal sedang menelepon pendamping independen.

Konflik itu belum selesai, tetapi tidak dibiarkan menggantung tanpa jalur.

Di dalam lift privat, pintu logam menutup semua tatapan.

Liana bersandar ke dinding. Bau air kotor bercampur aroma cedar dari jas Renard. "Bapak tidak mual?"

Renard menatapnya melalui pantulan pintu. "Haruskah aku mual?"

"Jas Bapak kotor. Tangan Bapak juga menyentuh saya."

"Kamu yang terkena air itu karena aku."

"Karena kondisi Bapak."

"Tetap karena aku."

Renard mengeluarkan saputangan kedua dari sakunya, ragu sesaat, lalu menyerahkannya. "Kalau matamu masih perih setelah mandi, kita ke klinik. Itu bukan usul."

"Kalau saya baik-baik saja?"

"Aku yang memastikan."

Pintu lift terbuka sebelum Liana sempat menanyakan sejak kapan seorang CEO memeriksa mata asistennya sendiri. Namun tangan di sikunya sudah lebih dulu menuntunnya keluar, hati-hati seolah lantai kantor dapat mengkhianatinya lagi.

Untuk pertama kali, Liana mendengar rasa bersalah yang telanjang di balik suara dinginnya.

Lift terbuka. Renard membawanya langsung ke ruang istirahat pribadi yang tersambung dengan kantor. Di sana ada kamar mandi, lemari, dan satu ranjang rapi yang tampaknya nyaris tak pernah digunakan.

"Mandi. Aku minta orang mengirim pakaian."

Liana mengangguk. Saat hendak melepas jas, Renard menahannya.

"Tunggu."

Matanya tertuju ke bagian depan blus Liana yang basah.

Kain putih itu melekat pada kulit. Di bawahnya, samar-samar terlihat tiga bekas merah di dekat dada dan satu bekas gigitan lebih rendah, jejak dari sesi pertama yang belum sepenuhnya memudar.

Wajah Renard menjadi kosong.

Kosong dengan cara yang paling berbahaya.

Tangannya yang memegang ujung jas menegang sampai buku-bukunya memutih.

"Berapa banyak bekas yang ditinggalkan laki-laki itu padamu?"

Pertanyaan itu menghapus sisa senyum di wajah Liana. Ia baru saja lolos dari satu kerumunan, tetapi tatapan Renard membuat kamar sunyi itu terasa jauh lebih sempit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!