Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.
Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?
#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Ketika Bu Fatma memuji rumah mereka yang nyaman, Dimas tiba-tiba berkata, “Wajar nyaman. Fahri memang pandai membuat Tira bahagia.” Kalimat itu terdengar seperti pujian, tetapi nada suaranya membuat Tira tidak nyaman.
Fahri hanya tersenyum tipis dan melanjutkan makan. Beberapa menit kemudian, saat Bu Fatma bertanya sejak kapan mereka menikah, Dimas kembali menyelutuk, “Belum lama, Bu. Cepat sekali semuanya.”
Tira menahan napas. Ia tahu ada sesuatu di balik kalimat itu. Namun Fahri tetap tenang. Ia justru mengambilkan sup untuk Tira sebelum mengisi mangkuknya sendiri. Gerakan kecil itu membuat Tira merasa lega.
Dimas melihatnya, tetapi tidak berkata apa-apa lagi. Makan siang akhirnya berlangsung tanpa keributan. Tira berusaha menikmati hidangan di depannya dan melupakan bahwa lelaki yang pernah mengisi delapan tahun hidupnya kini duduk hanya beberapa kursi darinya.
Di sampingnya, Fahri tetap tenang, seolah keberadaan Dimas tidak mengubah apa pun. Namun Tira tahu, sejak pintu rumah itu terbuka, kehidupan mereka sebagai tetangga tidak akan pernah sesederhana yang ia bayangkan.
***
Acara jamuan makan siang itu akhirnya selesai. Setelah cukup lama berbincang, Bu Fatma mengajak ketiga anaknya berpamitan. Tira berdiri mengantar mereka sampai ke depan pintu, sementara Fahri berada tidak jauh di belakangnya.
“Terima kasih banyak, ya, Nak Tira. Masakannya enak sekali,” ujar Bu Fatma dengan wajah sumringah.
Tira tersenyum. “Sama-sama, Bu. Lain kali mampir lagi.”
Kedua adik Dimas ikut berpamitan dengan ramah. Hanya Dimas yang masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tertuju kepada Tira, seolah masih ada banyak hal yang ingin disampaikan. Ia berat meninggalkan rumah itu. Rumah yang seharusnya tidak pernah menjadi tempat Tira tinggal bersama laki-laki lain. Ada dorongan untuk menarik Tira kembali, bertanya mengapa semuanya bisa berakhir seperti ini, atau sekadar meminta kesempatan berbicara berdua. Namun setiap kali hendak membuka mulut, pandangannya bertemu dengan Fahri. Lelaki itu berdiri tenang di belakang istrinya. Tidak mengancam, tidak menunjukkan kemarahan, tetapi sorot matanya cukup jelas.
Fahri tidak akan membiarkan Dimas melewati batas. Ia adalah suami Tira. Jika Dimas nekat membuat keributan atau mencoba mengusik istrinya, Fahri siap berdiri paling depan. Dimas akhirnya mengurungkan niatnya.
“Ayo, Dim,” panggil Bu Fatma dari pagar.
Dimas masih sempat menatap Tira sekali lagi. “Terima kasih makanannya,” katanya pendek.
“Sama-sama,” jawab Tira tanpa menatap lama.
Dimas kemudian mengikuti ibu dan kedua adiknya menuju rumah mereka. Tira menutup pintu perlahan. Begitu pintu tertutup, ia mengembuskan napas panjang. Baru kali itu ia menyadari bahwa selama makan siang tadi, tubuhnya terus menegang setiap kali Dimas membuka mulut.
Fahri mendekat dan berdiri di sampingnya. “Capek?” tanyanya.
Tira mengangguk. “Sedikit.”
Fahri tersenyum kecil. “Kalau begitu, istirahat. Urusan dapur biar Abang yang bereskan.”
Tira menoleh kepadanya. Entah mengapa, melihat Fahri tetap tenang setelah berhadapan dengan masa lalu Tira membuat dadanya terasa hangat. Ia tidak perlu banyak bicara untuk membuat Tira merasa aman. Cukup dengan berdiri di sana, di sampingnya, Fahri seolah sedang mengatakan bahwa mulai sekarang Tira tidak sendirian lagi.
***
Setelah pintu tertutup, Tira masih berdiri di tempatnya. Pandangannya kosong mengarah ke halaman, seolah berharap keluarga Bu Fatma benar-benar sudah pergi jauh dan tidak akan kembali lagi dalam waktu dekat.
Fahri yang hendak membawa piring kotor ke dapur melirik istrinya.
Tira akhirnya bersuara, “Abang nggak mau ngomong apa pun?”
Fahri berhenti. “Apa?”
“Ya… apa gitu.”
Fahri meletakkan beberapa piring di meja, lalu menatapnya. “Kamu mau bilang apa, Sayang?”
Tira mengembuskan napas. “Kenapa sih harus dia yang jadi tetangga kita?”
Fahri terdiam sebentar sebelum menjawab jujur, “Abang juga nggak tahu.”
Jawaban itu justru membuat Tira ingin tertawa, tetapi yang keluar hanya helaan napas panjang. Ia kemudian duduk di sofa. Benar-benar tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa hidup akan membawanya sampai sejauh ini. Setelah bertahun-tahun mencintai Dimas, menunggu kepastian yang tidak kunjung datang, lalu melewati perpisahan yang menyakitkan, Tira akhirnya menikah dengan laki-laki lain. Ia sempat berpikir kisah hidupnya sudah menemukan akhir yang bahagia. Fahri adalah suami yang baik. Rumah mereka nyaman. Hari-hari mereka mulai dipenuhi hal-hal sederhana yang membuat Tira bahagia. Ia bahkan mulai bisa melupakan luka dari masa lalu. Namun rupanya hidup punya selera humor sendiri. Ketika Tira mengira cerita tentang Dimas sudah selesai, lelaki itu justru muncul lagi dalam bentuk yang paling tidak masuk akal. Bukan sebagai mantan yang tinggal jauh. Bukan sebagai seseorang yang sesekali mungkin ia temui tanpa sengaja. Tetapi sebagai tetangga sebelah rumah. Tira menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Dari sekian banyak rumah di Depok, kenapa harus rumah dia?” gumamnya.
Fahri yang masih berdiri di dekat meja menahan senyum. “Mungkin memang sudah takdirnya begitu.”
Tira langsung menatapnya tajam. “Abang jangan bilang takdir dulu. Aku belum siap.”
Fahri akhirnya tertawa kecil. Tira ikut tersenyum, meskipun dalam hati ia masih merasa heran. Ia pernah berpikir bahwa setelah menikah, hidupnya akan perlahan menjadi tenang. Ternyata masalah lama belum benar-benar pergi. Masalah itu hanya pindah alamat. Dan yang paling menyebalkan, alamat barunya tepat di sebelah rumah mereka.
***
Senin pagi datang seperti biasa. Setelah sarapan sederhana, Tira dan Fahri bersiap berangkat kerja. Fahri menyalakan motor di halaman, sementara Tira keluar beberapa saat kemudian dan langsung mengenakan helm yang sudah disiapkan suaminya. Mereka kemudian melaju menuju stasiun seperti hari-hari sebelumnya.
Namun ketika motor melewati rumah sebelah, Tira sempat melihat seseorang berdiri di teras. Dimas. Tatapannya mengikuti mereka sampai motor Fahri meninggalkan halaman. Tira tahu lelaki itu memperhatikannya.
Dulu mungkin tatapan seperti itu akan membuatnya gelisah. Sekarang tidak. Tira justru mendekatkan tubuhnya dan memeluk pinggang Fahri lebih erat. Bukan untuk sengaja membuat Dimas melihat, melainkan karena tiba-tiba ia ingin memastikan dirinya sendiri bahwa ia benar-benar sudah memilih jalan hidupnya.
Fahri yang merasakan pelukan itu sedikit menoleh. “Kenapa, Sayang?” tanyanya.
Tira tersenyum di balik helm. “Enggak apa-apa.” Ia menyandarkan kepala sebentar di punggung Fahri. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan. Semakin hari, ia semakin mengenal lelaki yang menjadi suaminya itu. Fahri mungkin bukan laki-laki yang pernah ia cintai selama delapan tahun, tetapi setiap perhatian kecilnya membuat hati Tira tumbuh perlahan-lahan. “Aku cuma ngerasa…” Tira berhenti sebentar, lalu tersenyum. “Aku nggak cuma jatuh cinta, tapi juga makin cinta sama kamu.”
Fahri terdiam beberapa saat. Motor tetap melaju di jalan pagi yang mulai ramai. Tira tidak bisa melihat wajahnya, tetapi ia bisa merasakan tubuh lelaki itu sedikit menegang. “Tiba-tiba banget,” gumam Fahri.