Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.
Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.
Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.
Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.
Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27
Pindah ke Sebelah Calon Kakak Ipar
"Mama, aku cuma pindah lebih dekat ke rumah sakit."
Karina memegang kedua tangan Amaya. "Kamu pindah karena Selena?"
"Bukan cuma karena dia. Dari Pondok Indah aku harus berangkat sebelum pukul enam. Kalau pekerjaan selesai tengah malam, perjalanan pulang juga terlalu jauh."
"Mama bisa menyiapkan sopir."
"Jadwal klinis nggak tetap. Kasihan kalau orang harus menunggu seharian. Amerta punya unit kosong di The Sanctuary untuk dukungan proyek."
"Kamu tinggal sendiri?"
"Di seberang Koh Sebas."
Karina terdiam.
"Nathan dan Dokter Sebastian yang mengatur," lanjut Amaya. "Keamanan gedung bagus, dekat rumah sakit, dan aku cuma tinggal selama pekerjaan ini."
"Tinggal di seberang calon kakak ipar bisa jadi bahan bicara."
"Secara resmi itu fasilitas kerja. Aku juga punya unit sendiri."
"Kamu belum pernah tinggal sendiri."
"Aku bisa belajar."
"Kalau sakit? Kalau pulang terlalu malam?"
"Klinik dan rumah sakit dekat. Keamanan ada dua puluh empat jam. Mama bisa menelepon kapan pun."
Karina mengusap rambutnya. "Mama baru mendapatkanmu kembali, tapi rasanya kamu sudah tumbuh tanpa menunggu Mama."
Kalimat itu membuat dada Amaya menghangat. Pemilik tubuh ini memang tumbuh tanpa ibunya. Namun perempuan yang kini memegang tangannya masih punya kesempatan mengenal anak yang berdiri di depan mata, bukan hanya anak lima tahun dalam ingatan.
"Aku tumbuh supaya bisa kembali kepada Mama sebagai orang yang utuh. Bukan supaya pergi lagi."
Karina masih ragu. Amaya memeluknya lagi.
"Aku nggak sedang meninggalkan Mama. Aku pindah supaya bisa pulang ke rumah ini tanpa terus bertengkar."
"Mama takut kamu merasa rumah ini bukan milikmu."
"Rumah bukan kamar yang menghadap selatan. Selama Mama masih menungguku pulang, ini tetap rumahku."
Air mata Karina jatuh.
Amaya menyekanya. "Soal aku hilang waktu lima tahun, itu perbuatan orang jahat. Bukan karena Mama kurang menjaga atau kurang mencintaiku. Jangan hukum diri sendiri seumur hidup."
Karina menarik napas patah. "Mama cuma berpaling beberapa menit. Setelah itu semua orang bilang kalau Mama lebih hati-hati, kamu nggak akan hilang."
"Orang yang mengambil anak kecil adalah pelakunya. Mama korban juga."
"Tapi kamu yang menanggung semuanya."
"Sekarang kita bisa berhenti menanggungnya sendirian."
Karina memeluknya erat. Malam itu, ibu dan anak tidur di ranjang tamu yang sempit, saling berpegangan seperti sedang mengganti tahun-tahun yang hilang.
***
Pagi berikutnya, tiga koper sudah berjajar di ruang tamu.
Satu berisi pakaian kerja dan sepatu. Satu lagi membawa buku, laptop cadangan, serta dokumen yang berhasil dikeringkan. Koper ketiga dipenuhi barang kecil yang membuat tempat asing terasa milik sendiri, termasuk proyektor, selimut kuning susu, dan dua gantungan domba.
Karina telah meminta dapur membungkus makanan untuk tiga hari meski Amaya berkali-kali berkata apartemennya memiliki dapur dan layanan antar.
"Makanan aplikasi terlalu asin," katanya. "Minimal sarapan makan yang Mama kirim."
Amaya menerima seluruh kotak tanpa membantah.
Selena turun dengan pipi yang ditutup riasan tipis. "Ma, aku sudah berpikir. Aku akan mengosongkan kamar itu. Maya berhak memilikinya."
Ia menyampaikan pengorbanan tersebut di depan para pelayan, lengkap dengan senyum lelah.
Amaya menutup koper terakhir. "Nggak perlu, Ci. Kamar itu tetap untukmu."
Selena berkedip. "Bukannya semalam kamu memaksaku keluar?"
"Aku sedang marah. Sekarang aku pindah dekat rumah sakit. Sayang kalau kamar sebesar itu kosong."
"Jadi kamu menamparku hanya untuk pergi?"
"Aku sudah minta maaf soal tamparan."
Karina menatap Selena. "Maya mengalah agar rumah tenang. Jangan mulai lagi."
Selena baru mengerti.
Amaya tidak pernah benar-benar menginginkan kamar itu. Ia hanya memaksanya sampai marah, membuat Karina melihat wajah terburuknya, lalu pergi dengan murah hati. Sekarang jika Selena tetap tinggal, ia terlihat tidak tahu malu. Jika keluar, ia kehilangan kamar tanpa mendapat simpati.
"Tinggal di seberang kakak tunangan sendiri nggak enak didengar," katanya.
"Sudah dijelaskan itu fasilitas proyek," jawab Karina. "Kamu berhenti mencampuri urusan Maya."
Amaya melambaikan tangan. "Aku akan sering pulang, Ma."
Karina memeluknya sebelum pelayan membawa koper ke mobil.
Selena berdiri di tangga, menyaksikan Amaya keluar dengan tiga koper dan kemenangan yang tidak bisa ia sebutkan keras-keras.
***
Pukul sepuluh malam, Sebastian keluar dari lift lantai dua puluh tujuh The Sanctuary.
Hari operasi yang panjang membuat bahunya kaku. Ia ingin mandi, memeriksa satu laporan, lalu tidur.
Sesuatu tergantung di pintu unit 27-01.
Boneka domba kecil dengan senyum lebar bergoyang di gagang pintu. Di seberang koridor, pintu 27-02 memiliki gantungan yang sama.
Sebastian menyentuh telinga boneka itu.
Sebuah kertas kecil terikat di lehernya.
`Supaya pintu Koh Sebas nggak terlihat galak.`
Ia seharusnya mencopotnya. Aturan gedung melarang dekorasi berlebihan di koridor, dan domba dengan wajah bodoh itu sama sekali tidak cocok dengan pintunya.
Sebastian membiarkannya tetap di sana.
Koridor yang selama bertahun-tahun hanya berisi dua pintu polos kini terlihat berbeda. Ada kesan seseorang baru saja menyalakan lampu di ruang yang tidak ia sadari gelap.
Sebastian tidak menyukai perbandingan itu. Ia masuk dan menutup pintu lebih keras daripada perlu.
Unit 27-02 terdengar sunyi. Tidak ada musik, langkah, atau suara koper. Mungkin Amaya sudah tidur setelah hari panjang.
Ia masuk, mandi, lalu mengganti pakaian dengan kaus putih dan celana rumah abu-abu. Rambutnya masih setengah basah. Kacamata diletakkan di meja karena ia tidak perlu membaca.
Di dapur, kulkas hanya berisi air, telur, buah, dan makanan yang disiapkan staf. Sebastian mengambil air dingin, lalu mendengar bunyi kecil dari dinding seberang. Sebuah koper mungkin dibuka. Setelah itu ada musik sangat pelan, lalu sunyi lagi.
Ia membuka laporan di tablet tetapi membaca baris yang sama tiga kali.
Amaya benar-benar tinggal beberapa langkah dari pintunya.
Keputusan yang terdengar praktis di telepon kini terasa seperti mengundang gangguan ke dalam satu-satunya tempat yang selama ini steril dari orang lain.
Bel pintu berbunyi.
Sebastian melihat jam. Pukul sepuluh lewat sebelas.
Aturan ketiga bahkan belum bertahan satu malam.
Ia membuka pintu dengan wajah dingin.
Seorang pengantar makanan berdiri di luar membawa tiga kantong besar.
"Pesanan untuk Iblis Kecil," katanya. "Unit 27-01. Tambahan cabai dan jintan banyak."
Sebastian menatap tanda terima.
Nama akun `iblis kecil` tercetak jelas. Di kolom alamat, seseorang telah menulis 27-01, bukan 27-02.
Dari balik pintu seberang terdengar suara benda jatuh, disusul langkah tergesa. Sebastian memegang tiga kantong makanan itu dan menatap unit 27-02.
Penghuni baru tersebut bukan hanya melanggar aturan ketiga pada malam pertama.
Ia juga sudah mengirim makan malam ke rumahnya tanpa izin, seolah mereka telah tinggal bersama.