NovelToon NovelToon
Terjebak di Antara Si Kembar: Dosa Terlarangku

Terjebak di Antara Si Kembar: Dosa Terlarangku

Status: tamat
Genre:Wanita perkasa / Cinta Terlarang / Beda Usia / Satu wanita banyak pria / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: DulceSilencio

Valentina Mahendra tidak pernah benar-benar menjadi putri keluarga Mahendra. Ia dibesarkan sebagai pengganti Sofia, gadis yang mati meninggalkan luka di rumah itu, lalu dijadikan syarat dalam aliansi politik dengan keluarga Raharja. Ketika Sebastian Mahendra membakar surat penerimaannya dari Universitas Nasional dan memaksanya menikah, Valentina akhirnya melawan.
Namun kebebasan tidak datang tanpa harga. Di satu sisi ada Sebastian, pewaris dingin yang mengendalikan segalanya dengan rasa takut. Di sisi lain ada Satria, saudara kembarnya yang menawan, berbahaya, dan terlalu pandai membaca kelemahannya. Di luar mereka, Alexander Raharja menawarkan perlindungan yang terasa seperti jalan keluar, sementara Mateo Raharja datang dengan ketulusan yang justru membuat semuanya semakin rumit.
Di antara cinta terlarang, rahasia adopsi, permainan kekuasaan, dan kematian Sofia yang tidak pernah benar-benar selesai, Valentina harus memilih: tetap menjadi bidak yang diperebutkan, atau menghancurkan papan permainan yang sejak awal dibangun di atas hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DulceSilencio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2: Peluru yang Hilang

Valentina mengarahkan Beretta itu ke tengah dada Sebastian.

Ruang kerja membeku dalam sunyi. Bahkan api di perapian seperti tak berani berderak. Sebastian tidak bergerak dari kursinya, tidak mengangkat tangan, tidak membuka mulut. Ia hanya menatap Valentina. Matanya menyusuri wajah gadis itu, turun ke pistol, lalu kembali naik dengan ketenangan yang sama seperti saat ia memeriksa laporan keuangan.

"Pistol itu kosong," katanya.

Valentina mengeratkan jemari pada gagang pistol. Denyut nadinya menghantam pergelangan tangan, pelipis, pangkal tenggorokan. Telapak tangannya basah oleh keringat yang menempel pada logam.

"Aku tahu."

"Kalau begitu turunkan."

"Tidak."

Sebastian memiringkan kepala setengah sentimeter. Gerakan kecil, nyaris tak terlihat, tetapi Valentina telah menghabiskan delapan tahun belajar membaca setiap perubahan mikro di wajah itu. Itu bukan takut. Itu rasa ingin tahu.

"Kalau kamu punya kuasa," kata Sebastian, suaranya begitu tenang hingga ia bisa saja sedang memberi kuliah di ruang rapat, "senjata boleh saja kosong."

Kata-kata itu jatuh ke tubuh Valentina seperti air es. Sebastian tidak menganggapnya serius. Bahkan dengan pistol mengarah ke jantungnya, Sebastian tetap tidak menganggapnya serius. Bagi Sebastian, adegan ini bukan ancaman: ini tantrum. Anak panti bermain-main dengan benda orang dewasa.

Valentina menurunkan pistol.

Sebastian membentuk sesuatu yang belum sampai menjadi senyum. Bayangan kemenangan yang telah ia pastikan melintas di matanya.

Lalu Valentina maju selangkah, memasukkan tangan ke dalam jas Sebastian. Pria itu mendadak kaku, rahangnya terkunci. Dari saku dalam, Valentina menarik keluar sebuah magazen berisi tiga peluru.

Ia tahu benda itu ada di sana. Ia pernah melihatnya setiap kali kepala pelayan menggantung jas Sebastian di gantungan ruang kerja. Sebastian selalu membawa peluru terpisah dari pistolnya. Kebiasaan seorang pengendali: hak untuk menentukan kapan pistol itu hanya simbol dan kapan ia menjadi senjata.

Valentina memasukkan magazen ke dalam Beretta. Klik logamnya menggema dalam sunyi seperti tulang yang patah. Ia menarik slide. Satu peluru masuk ke kamar.

Ia mengangkat pistol itu lagi.

Sebastian tidak bergerak, tetapi sesuatu berubah pada posturnya. Bahunya menegang di balik jas. Tangannya, yang tadi tergeletak santai di lengan kursi, mengepal satu milimeter. Matanya menancap ke mata Valentina, dan untuk pertama kalinya, ia tidak menatap Valentina seperti benda.

"Valentina," katanya, dan itu pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama ia menyebut nama lengkap Valentina tanpa nada perintah.

"Diam."

Suara Valentina keluar serak, rendah, tanpa getar. Laras pistol mengarah ke bahu kanan Sebastian. Bukan jantung. Bukan kepala. Bahu. Karena Valentina tidak ingin membunuhnya. Ia ingin Sebastian tahu bahwa ia bisa melakukannya.

"Delapan tahun," katanya. "Delapan tahun kamu mengendalikanku. Kamu menentukan kapan aku bangun, kapan aku makan, kapan aku bicara, dengan siapa aku bicara. Kamu mengambil ponselku saat usiaku empat belas. Kamu melarangku keluar sendiri saat aku lima belas. Kamu mengurungku tiga hari di kamar saat aku berani bicara dengan tukang kebun. Dan sekarang kamu membakar satu-satunya hal yang kuraih sendiri, lalu menjualku kepada orang asing seperti perabot yang tidak lagi kamu butuhkan."

Sebastian tidak menjawab. Setetes keringat turun di pelipis kanannya. Valentina belum pernah melihat Sebastian berkeringat. Dalam delapan tahun, tidak saat rapat dewan paling tegang, tidak saat Pak Ricardo dirawat di rumah sakit, tidak saat pers menerbitkan rumor pencucian uang. Sebastian Mahendra tidak berkeringat. Sebastian Mahendra tidak kehilangan kendali.

Sampai sekarang.

"Kamu akan menembakku?" tanya Sebastian. Ada sesuatu yang baru dalam suaranya. Bukan takut. Lebih buruk daripada takut: ketertarikan.

"Aku akan melakukan sesuatu yang lebih baik." Valentina menurunkan senjata beberapa sentimeter, cukup agar Sebastian melihat bahwa ini bukan dorongan sesaat, bahwa ia sedang berpikir. "Aku akan menawarkan kesepakatan."

Sebastian mengangkat satu alis. Gerakan kecil. Tetapi itulah gestur yang dipakainya dalam negosiasi, saat pihak lain mengatakan sesuatu yang tidak ia duga.

"Beri aku satu bulan," kata Valentina.

"Apa?"

"Satu bulan. Tiga puluh hari. Kalau dalam satu bulan aku tidak menemukan cara membatalkan pernikahan itu tanpa merusak aliansi terkutukmu, aku akan menikah. Tanpa mengeluh. Tanpa melawan. Aku melakukan apa pun yang kamu mau."

Sebastian mempelajarinya dalam diam. Api perapian menyinari separuh wajahnya dan membiarkan separuh yang lain tenggelam dalam bayang.

"Dan kalau aku tidak menerima?"

Valentina memutar pergelangan tangan dan menempelkan laras pistol di bawah dagunya sendiri. Logam dingin itu menekan kulit lembut tenggorokannya. Perutnya mencengkeram oleh takut, tetapi ia tidak menurunkan tangan.

"Kalau begitu aku yang memilih bagaimana ini berakhir."

Ekspresi Sebastian retak. Hanya sekejap, sebuah celah yang melintas di wajahnya seperti kilat, lalu menghilang. Tetapi Valentina melihatnya. Ia melihat Sebastian mengatupkan gigi, menelan ludah, membuka jemari di lengan kursi seakan ingin berdiri tetapi tidak mengizinkan dirinya.

Sunyi berlangsung sepuluh detik. Dua puluh. Nyala perapian bergetar.

"Satu bulan," kata Sebastian. Ketenangan sempurna dalam suaranya tadi lenyap. Kini terdengar kasar, seolah kata-kata itu mahal baginya. "Tidak sehari pun lebih."

Valentina menjauhkan laras dari tenggorokannya. Bekas merah yang ditinggalkan logam itu menyengat seperti luka bakar.

"Satu bulan," ulangnya.

Ia mengarahkan Beretta ke lengan kanan Sebastian dan menembak.

Dentuman itu mengguncang ruang kerja. Kaca jendela besar bergetar. Sebuah lukisan lepas dari dinding. Selongsong memantul di lantai kayu dengan denting nyaring yang terasa berlangsung selamanya.

Peluru menyerempet bisep kanan Sebastian. Bukan tembakan tepat, bukan pula meleset: tembakan bedah, terukur untuk menandai tanpa menghancurkan. Kain jasnya terbuka dalam garis bersih. Di bawahnya, kemeja putih mulai diwarnai merah. Darah merambat perlahan, membasahi kain, melebar seperti tinta di atas kertas.

Sebastian tidak berteriak. Tidak menekan luka. Tidak bangkit dari kursinya. Ia menunduk ke lengan kanannya dan mengamati darah menyebar di lengan kemeja dengan ekspresi ganjil, hampir klinis, seolah luka itu milik orang lain. Kain putih berubah menjadi merah gelap, basah, berkilap di bawah cahaya perapian.

Saat ia mengangkat wajah ke arah Valentina, matanya telah berubah. Tak ada lagi ketidakpedulian, rasa ingin tahu, ataupun keunggulan beku yang selama ini ia kenakan seperti setelan yang dijahit pas. Ada sesuatu yang Valentina tidak punya nama untuk menjelaskannya. Sesuatu yang mirip detik pertama ketika seseorang mengenali orang yang selama ini ia kira sudah ia kenal.

Sebastian tidak mengatakan apa pun. Darah menetes dari jemarinya ke lengan kursi, jatuh ke kulit dengan irama lambat dan tetap.

Valentina meletakkan Beretta di atas meja. Benturan logam pada mahoni terdengar final. Tangannya gemetar. Lututnya gemetar. Bau mesiu memenuhi hidung dan tenggorokannya, logam, getir, mustahil diabaikan.

"Supaya kamu tidak lupa," kata Valentina, dan suaranya sendiri terdengar asing baginya, seolah datang dari tempat yang sangat jauh, "pistol ini tidak lagi kosong."

Ia berbalik dan berjalan menuju pintu. Setiap langkah adalah tindakan kehendak. Kakinya berat seperti terbuat dari timah. Ia merasakan tatapan Sebastian di punggungnya, tajam, panas, tetapi ia tidak mendengar suaranya. Sebastian tidak memanggil. Tidak menghentikan.

Valentina membuka pintu. Lorong kediaman itu gelap dan sejuk. Baunya seperti gardenia dari taman dalam dan lilin lantai.

Ia melangkah tiga kali keluar dari ruang kerja.

Menutup pintu di belakangnya.

Lalu kakinya berhenti menopangnya. Ia bersandar pada dinding lorong, merosot ke lantai, dan memeluk lutut. Tangannya gemetar begitu hebat sampai ia harus menyelipkannya di bawah paha untuk menahannya. Jantungnya berpacu liar, tak beraturan, seolah ingin keluar dari mulutnya.

Ia tidak menangis. Ia tidak bisa. Tubuhnya terlalu sibuk gemetar untuk menghasilkan air mata.

Ia baru saja menembak Sebastian Mahendra. Pria yang mengendalikan Grup Mahendra, yang menyimpan tiga senator dalam daftar kontak ponselnya, yang bisa membuat orang menghilang dengan satu panggilan.

Ia menempelkan pistol di dagunya sendiri dan berkata ia lebih memilih mati daripada menikah dengan orang asing.

Dan yang paling buruk, yang membuatnya gemetar lebih hebat daripada ingatan tentang tembakan, lebih hebat daripada bau mesiu yang masih membakar hidungnya, adalah bahwa ia tidak berbohong. Jika Sebastian berkata tidak, jika pria itu mengulurkan tangan untuk merebut pistol, Valentina tidak yakin apa yang akan terjadi. Dan itu membuatnya lebih takut daripada apa pun.

Ia mengatupkan gigi, menarik napas dalam sekali, dua kali, tiga kali, lalu memaksa diri berdiri. Lututnya gagal pada percobaan pertama. Pada yang kedua, ia berhasil tegak dengan bantuan dinding. Ia mengusap telapak tangan yang basah pada jinsnya dan mulai berjalan menyusuri lorong.

Tiga puluh hari. Jamnya sudah mulai berjalan.

Ia tidak punya uang. Tidak punya sekutu. Tidak punya rencana. Yang ia punya hanya satu peluru lebih sedikit di dalam magazen dan kepastian bahwa Sebastian Mahendra, untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, telah menatapnya seperti manusia.

Bekas merah di tenggorokannya berdenyut mengikuti irama jantung. Besok akan menjadi memar. Lusa, noda kekuningan yang perlahan memudar. Tetapi bekas di lengan Sebastian tidak akan menghilang.

Itu yang ia butuhkan. Sebuah tanda yang tidak bisa Sebastian abaikan setiap kali melihat cermin. Pengingat, terukir di kulitnya, bahwa Valentina Mahendra telah berhenti menjadi perabot.

Ia tidak menoleh lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!