Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.
Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.
Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - Ancaman
Matahari pagi merambat naik di atas pepohonan jati, namun tak ada kehangatan yang meresap ke dalam teras Warung Nasi Broto.
Debu tebal yang telah melingkupi papan-papan kayu selama setengah tahun kini mulai disapu kasar. Bunyi serakan sapu lidi di atas lantai semen terdengar riuh, beradu dengan suara derit papan jendela yang dipaksa terbuka setelah sekian lama terkunci rapat.
Di tengah kesibukan itu, sosok Bu Retno berdiri di ambang pintu penyekat warung.
Perubahan perangainya begitu drastis hingga menciptakan kejanggalan yang menusuk dada. Wanita yang selama 40 hari mengurung diri bagaikan mayat hidup itu kini melangkah ke sana kemari dengan sigap.
Tubuhnya memang masih tampak kurus dan kulitnya tetap pucat bagai kertas kusam, tetapi matanya tidak lagi sayu. Ada pendar cahaya yang terlalu tajam di manik matanya—pendar yang dingin, cekat, dan asing.
Yang paling mengerikan bagi Galang adalah ... bibir ibunya.
Sejak keluar dari kamar tadi pagi, Bu Retno tak pernah melepas ukiran senyum tipis di wajahnya. Bukan senyum hangat penuh kasih sayang yang biasa ia berikan pada anak-anaknya dahulu, melainkan sebuah senyuman simetris yang kaku.
Sudut-sudut bibirnya ditarik ke belakang dengan sudut yang konstan, seolah otot-otot wajahnya telah dipatok secara paksa dari dalam.
"Tiwi, lap meja yang di pojok itu sampai mengilap," perintah Bu Retno. "Warung kita harus terlihat bersih. Tamu-tamu suka kalau tempatnya bersih."
Pertiwi yang sedang memegang kain lap kusam tersentak pelan.
"Nggih, Bu ...," jawabnya ragu, melirik ketakutan ke arah ibunya yang kini mengusap permukaan kuali besar di area racik dengan jemari kurusnya.
Bayu yang berdiri di dekat pintu depan sambil memegang sapu, menyikut lengan Galang.
"Lang ... kamu ngerasa aneh nggak sih sama Ibu? Kemarin-kemarin ngomong aja nggak mau. Sekarang kok malah semangat banget begini? Malah senyum-senyum terus kayak orang lupa ingatan." Bayu berbisik sangat pelan dengan mata terus mengawasi Bu Retno.
Galang mengatupkan rahangnya kencang. Ia meremas gagang sapu di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ibu tidak lupa ingatan, batin Galang pahit. Ibu sedang menjalankan bagiannya dari Perjanjian.
"Jangan banyak tanya, Mas. Kerjakan saja dulu," sahut Galang rendah, menutupi kecemasan yang bergemuruh di dadanya.
Ia terus memperhatikan setiap gerak-gerik ibunya. Bu Retno melangkah ke sudut meja racik—tempat di mana malam-malam sebelumnya Galang menyaksikan gumpalan daging membusuk dalam sekejap dan cetakan kuku tajam tertancap di kayu jati.
Bu Retno mengusap alur bekas goresan kuku itu dengan ibu jarinya, lalu bibirnya yang tersenyum kaku itu bergumam tanpa suara.
Ketika Bu Retno berbalik menghadap ke arah mereka, Galang sempat menangkap kilatan hitam pekat yang menyelimuti seluruh bagian putih matanya sepersekian detik, sebelum kembali normal saat terkena pendar cahaya matahari yang menyusup dari atap seng.
"Galang," panggil Bu Retno. Senyum kaku itu terarah tepat ke wajahnya.
Galang mendatangi ibunya, menghentikan langkah dua meter di depan wanita itu.
"Iya, Bu?"
"Bantu Ibu bersihkan kuali utama di dapur belakang. Kita harus menyiapkan bumbu dasar sebelum besok belanja ke pasar," pinta Bu Retno. Tangannya terangkat, mengelus pipi Galang dengan ujung jarinya yang membeku.
Sentuhan itu membuat bulu kuduk Galang merinding seketika. Kulit jemari ibunya tidak memancarkan hawa tubuh manusia hidup—dinginnya menusuk, persis seperti rasa dingin dari kain kafan Pak Broto saat berada di dalam liang lahat yang amblas.
"Iya, Bu," jawab Galang singkat, menahan dorongan untuk menarik wajahnya mundur dari belai dingin tersebut.
Mereka berdua berjalan menuju dapur belakang. Di sana, kuali besi raksasa yang biasa dipakai untuk memasak kuah rawon tertutup oleh kain terpal kusam.
Saat Bu Retno menyibak kain terpal tersebut, bau apak bercampur aroma tanah liat basah langsung menguar memenuhi ruangan.
Di dasar kuali besi yang melengkung itu, tersisa kerak hitam mengering bekas masakan terakhir almarhum Pak Broto enam bulan lalu.
Anehnya, kerak hitam itu tidak ditumbuhi belatung atau serangga sama sekali. Kerak itu mengeras bagaikan lapisan tar yang lengket.
Bu Retno berlutut di samping kuali. Ia meraih sebuah pisau dapur kecil dan mulai mengikis kerak hitam itu dengan gerakan yang sangat rapi dan metodis.
"Ibu ... uang buat beli bahan masakan besok dari mana? Uang simpanan Bapak kan sudah habis." Galang memberanikan diri membuka suara seraya berlutut di sisi lain kuali.
Bu Retno menghentikan gesekan pisaunya sejenak. Ia tidak menatap Galang, melainkan menatap pantulan bayangan wajahnya sendiri di dasar kuali besi yang pekat.
"Ibu kan sudah bilang tadi pagi, Galang," bisik Bu Retno, suara renyahnya mendadak berubah menjadi pelan dan berat. "Ada yang akan datang membawa modal itu. Seseorang yang sangat paham ... bagaimana cara memelihara warung ini."
"Siapa, Bu? Jangan bikin Galang bingung! Apa orang ini ada hubungannya sama Bapak? Atau ... sama kain linen yang Ibu bakar malam itu? Atau mungkin keduanya?" cecar Galang, matanya menatap tajam ke arah ibunya.
Mendengar kata 'kain linen', gerakan tangan Bu Retno membeku total. Pisaunya tertancap diam di dasar kuali.
Ia perlahan-lahan mengangkat kepalanya. Senyum kaku di wajahnya kini mekar lebih lebar, memamerkan deretan giginya yang pucat.
Sudut matanya tidak ikut tersenyum—kedua matanya tetap terbuka lebar, dingin, dan menusuk bagaikan mata ular yang mengawasi mangsanya.
"Kamu anak yang cerdas, Galang," ucap Bu Retno dengan nada suara yang membuat dada Galang sesak. "Tapi kecerdasanmu bisa membahayakan adik-adikmu kalau kamu tidak tau kapan harus diam."
"Galang cuma mau melindungi mereka, Bu!" potong Galang penuh penekanan.
"Melindungi?" Bu Retno terkekeh pelan—sebuah tawa kering yang terdengar sangat menyeramkan dari tenggorokannya yang kurus. "Kamu tidak bisa melindungi siapa pun kalau perut mereka kosong, Galang. Kamu bukan bagian dari keluarga ini, kamu hanya ada di dalam rumah ini. Kalau kamu mau adik-adikmu tetap bernapas ... biarkan Ibu yang mengatur jalannya warung ini."
Bu Retno mengibaskan tangannya, mengisyaratkan agar Galang berhenti bertanya. Ia kembali mengikis kerak hitam kuali dengan gerakan konstan.
Sreek ... sreek ... sreek.
Galang mematung di tempatnya. Ancaman terselubung itu sangat jelas.
Diam, atau adik-adikmu yang akan menanggung akibatnya lebih cepat.
Siang berganti sore. Pembersihan warung selesai menjelang magrib. Papan-papan jendela kini telah terpasang kembali, namun ruangan warung yang bersih itu tidak terasa ramah. Justru, aroma minyak bunga melati yang disemprotkan Bu Retno di sudut-sudut ruangan beradu ganjil dengan bau kayu tua, menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada siapa saja yang melangkah masuk.
Malamnya, keluarga Broto berkumpul di ruang tengah untuk makan malam. Menu makan malam mereka masih sama pucatnya dengan hari-hari sebelumnya—nasi dan tempe rebus. Namun, perbedaannya ada pada Bu Retno.
Wanita itu kini duduk di kepala meja, ikut makan bersama mereka. Ia mengunyah nasinya dengan sangat lambat, tatapannya lurus menatap pintu depan yang tertutup rapat.
Setiap kali ada tetangga yang melintas di jalanan desa dan suara langkah kakinya terdengar samar, Bu Retno akan menegakkan punggungnya, memperlebar senyum kaku di bibirnya, seolah-olah sedang menanti pintu itu diketuk oleh sang tamu yang dijanjikannya.
"Bu ... kalau besok warung buka, Mia boleh minta uang buat beli buku tulis?" tanya Mia pelan dari sudut meja.
Bu Retni menoleh ke arah Mia. "Boleh, Nduk. Besok Mia bisa beli buku baru, baju baru ... apa saja yang Mia mau. Warung kita akan lebih ramai dari sebelumnya."
Mia tersenyum polos, merasa senang oleh janji ibunya, tanpa menyadari lirikan mata Galang yang dipenuhi penderitaan di balik remang pendar lampu minyak tanah.
Pukul sepuluh malam tiba. Seluruh rumah tenggelam dalam kegelapan dan keheningan. Adik-adiknya telah tertidur di kamar. Bayu berbaring meliuk di atas tikar ruang tengah, tertidur lelap akibat kelelahan membersihkan warung seharian.
Sementara di dekat dinding lorong, Galang tetap duduk bersandar memeluk lututnya. Matanya terus menatap pintu depan rumah yang terkunci oleh kait besi.
Di luar, angin malam Madiun bertiup kencang. Dedaunan pohon jati saling bergesekan, menimbulkan suara bagaikan bisikan berantai ribuan jiwa yang gelisah.
Tepat saat jam dinding kayu jati berdentang satu kali menandai pukul sebelas malam, sebuah suara mendesing lembut dari jalanan depan rumah.
Suara derum mesin mobil tua yang berat dan halus merambat mendekati teras warung. Cahaya sorot lampu kendaraan membiaskan bayangan garis-garis kusam dari balik celah papan jendela warung, memproyeksikan bayangan panjang di atas dinding tempat Galang bersandar.
Suara mesin mobil itu mendadak mati.
Diikuti oleh bunyi pintu mobil yang dibuka dan ditutup kembali dengan dentuman.
BUMM.
Langkah kaki seseorang bersepatu kulit mahal terdengar mantap menapak tanah keras teras warung, bergerak mendekati pintu depan rumah keluarga Broto. Langkah yang tenang, berwibawa, dan tanpa keraguan sedikit pun.
Dari dalam kamar utama, pintu kayu jati milik Bu Retno terbuka pelan tanpa suara. Wanita itu melangkah keluar menuju ruang tengah dengan gaun kebaya cokelat tuanya yang rapi. Senyum kaku di wajahnya memekar sempurna saat ia menatap pintu depan.
TOK ... TOK ... TOK.
Pintu depan diketuk tiga kali dari luar. Ketukan yang elegan, namun membawa hawa dominasi yang teramat dingin.
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.
Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .
Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
dan
Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya