Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.
Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.
Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.
Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Pukul tiga sore tepat, area parkiran belakang SMAN 1 mulai sepi. Angin berhembus kencang membawa aroma tanah basah dan daun kering yang bertumpuk di tepi pagar besi.
Langit di atas lapangan basket berubah menjadi abu-abu tua yang pekat.
Regina berdiri bersandar pada tiang kanopi parkiran, memeluk ransel abu-abunya di depan dada.
Ransel itu sengaja ia posisikan untuk menutupi bagian depan seragamnya yang mulai terasa dingin terkena tiupan angin sore.
Tuk. Tuk. Pyar!
Tetesan air hujan berukuran besar jatuh menghantam atap seng parkiran, disusul suara guruh pelan di kejauhan.
Hanya dalam hitungan detik, hujan deras menumpahkan air secara merata melingkupi area sekolah.
Brummm!
Motor sport hitam dengan bodi samping bergaris goresan itu mendekat.
Helga menghentikan motornya tepat di depan Regina. Ia mengenakan helm hitamnya yang pecah tipis di kaca bawah, sementara jaket jeans belelnya sudah tersimpan rapat di dalam bagasi motor.
Helga membuka jok motornya, menarik selembar jas hujan plastik ponco berwarna biru tua yang terlipat tidak rapi.
"Pakai," kata Helga singkat, menyodorkan jas hujan itu.
Regina menatap jas hujan biru itu tanpa mengulurkan tangan. "Kamu yang pakai. Ini motor kamu."
"Gua udah biasa hujan-hujanan," sahut Helga. "Seragam lu tipis. Cepetan pakai sebelum makin deras."
"Gue gak mau," jawab Regina tegas. "Gue bisa basah sedikit."
"Jangan keras kepala," kata Helga.
Helga tidak menunggu jawaban lagi.
Ia menghentakkan kakinya turun dari motor, melangkah satu pijakan mendekati Regina.
Tanpa meminta izin, Helga melebarkan lubang kepala jas hujan ponco plastik itu dan langsung mengalungkannya melewati kepala Regina dari atas.
Ssssh.
Plastik tipis itu menutupi kepala dan bahu Regina.
Regina terkejut, refleks mengangkat kedua tangannya untuk mendorong bagian dada jas hujan tersebut, tetapi jemari Helga sudah bergerak cepat merapikan bagian tudung di atas kepala Regina, mengencangkan tali pengikat di bawah dagunya dengan satu tarikan simetris.
"Duduk," perintah Helga pendek sambil menunjuk jok belakang motornya.
Napas Regina tertahan di tenggorokan.
Udara di dalam rongga ponco plastik itu mendadak terasa hangat bercampur bau plastik baru dan aroma kain kering.
Regina menelan ludah, menatap mata Helga dari balik tudung transparan.
"Mana tempat pensil gue?" tanya Regina, suaranya terdengar sedikit teredam oleh plastik ponco.
Helga menepuk saku celana depannya.
"Ada di dalam. Naik dulu, baru dapet."
Regina merapatkan bibirnya.
Ia memegang pinggiran ponco, memutar badan, lalu naik ke jok belakang motor sport itu dengan posisi duduk menyamping yang kaku.
Kedua tangannya mencengkeram besi pegangan belakang motor erat-erat, menyisakan jarak lebar di antara punggung Helga dan dadanya.
Brummm!
Helga memutar gas, menerobos deru hujan deras yang mengguyur jalanan luar sekolah.
Jalanan kota sore itu padat merayap.
Air hujan menyemprot dari ban kendaraan lain, membasahi kaki dan celana abu-abu Helga hingga kuyup.
Regina bertahan di belakang, badannya menegang setiap kali Helga membelah genangan air di tepi jalan.
Bzzzt... Bzzzt...
Di atas motor, Regina mulai merapatkan kedua lengannya ke samping tubuh.
Meskipun tubuh bagian atasnya terlindung dari siraman air langsung, tiupan angin kencang yang menembus celah bawah ponco membuat bahunya bergetar pelan.
Jemarinya yang memegang besi belakang motor mulai terasa dingin dan agak kaku.
Helga melirik spion kirinya yang tertutup titik-titik air hujan.
Dari pantulan kaca, ia melihat tudung ponco Regina bergoyang mengikuti ritme getaran bahunya. Helga melambatkan laju motornya, menepi ke bahu jalan di depan sebuah warung tenda bertuliskan 'Bakso Ayam Pak Kumis'.
Ssssh... Kletah!
Helga mematikan mesin, menyangga motornya dengan standar samping.
"Kenapa berhenti?" tanya Regina dari balik tudung ponco. Suaranya sedikit bergetar.
"Rumah gue masih lurus ke depan."
Helga melepas helmnya, mengibaskan rambutnya yang basah kuyup ke belakang.
"Mampir sebentar."
"Gue mau langsung pulang," potong Regina cepat.
"Badan lu gemeteran," kata Helga datar sambil melangkah menuju meja kayu di bawah tenda warung. "Turun."
"Gue gak lapar."
"Bang! Bakso ayam dua mangkok, kuahnya panasin, sambalnya pisah!" teriak Helga langsung ke arah penjual bakso tanpa menoleh lagi ke Regina.
Regina menatap punggung Helga yang basah kuyup oleh seragam putih yang menempel di kulitnya.
Regina menarik napas panjang, lalu perlahan menurunkan kakinya dari pegangan motor dan berjalan kaku menuju tenda.
Ia duduk di bangku kayu paling ujung, menyisakan jarak dua jengkal dari tempat Helga duduk.
Helga meraih satu tempat tisu di atas meja, mengambil tiga lembar, lalu mengelap sisa air hujan di wajah dan lehernya sampai kering.
Setelah itu, ia merogoh saku celana depannya yang basah dan mengeluarkan tempat pensil kain biru tua milik Regina.
Puk.
Helga meletakkannya di atas meja kayu, persis di antara mereka berdua.
"Tepat janji," kata Helga.
Regina langsung menyambar tempat pensil biru itu.
Ia membuka resletingnya memeriksa dua pulpen Pilot 0.38, pensil mekanik, penghapus stik, dan selembar pembatas buku di dalamnya. Semuanya utuh dan kering tanpa kena air sedikit pun.
"Terima kasih," ucap Regina pelan.
Ia menarik resletingnya kembali lalu memasukkan tempat pensil itu ke dalam lipatan paling dalam ranselnya di bawah jas hujan.
"Makan baksonya," ujar Helga saat penjual meletakkan dua mangkok bakso ayam yang masih mengeluarkan asap tebal ke atas meja.
Clang.
Suara mangkok beradu dengan meja kayu.
Regina menatap asap kuah bakso yang membumbung di hadapannya. Tenggorokannya yang dingin terasa merespons aroma kaldu gurih yang kuat.
"Gue gak bawa uang pas," kata Regina, matanya tetap menatap mangkok.
"Gua yang bayar," sahut Helga.
Ia mengambil sendok dan garpu, langsung mengaduk kuahnya tanpa menambah kecap atau saus.
"Gua gak mau disalahin mama lu gara-gara nganterin anaknya pulang dalam keadaan sakit."
Regina menyendok kuah panas itu sedikit, mendiamkannya dua detik, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Rasa hangat langsung menyebar dari lidah hingga ke dadanya.
Helga menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, mengunyah baksonya sambil memperhatikan Regina yang makan dengan gerakan yang sangat rapi dan lambat.
"Enak?" tanya Helga singkat.
Regina menelan kuahnya perlahan sebelum menjawab. "Bisa dimakan."
Helga terkekeh pelan tanpa suara, memiringkan kepalanya sedikit. "Susah banget bilang enak."
Hujan di luar tenda mulai mereda menjadi gerimis tipis.
Regina menghabiskan setengah dari kuah baksonya, merasa kehangatan mulai kembali ke jemari tangannya.
Helga merogoh dompet kulit kusamnya dari saku belakang celana, meletakkan selembar uang dua puluh ribuan di atas meja, lalu berdiri dari kursinya.
"Yuk. Sebelum hujannya deras lagi," kata Helga menyampirkan helm ke tangannya.
Regina berdiri, merapikan ponco plastiknya.
Saat ia melangkah keluar dari tenda menuju motor, sebuah mobil sedan hitam melintas lambat di jalan raya depan warung bakso.
Mobil itu berhenti sejenak di lampu merah yang berjarak sepuluh meter dari mereka.
Dari balik kaca jendela samping sedan hitam yang diturunkan separuh, Shinta sedang duduk di kursi penumpang depan bersama ibunya, dan matanya membelalak lebar menatap lurus ke arah Regina yang sedang bersiap naik ke atas motor sport milik Helga.