NovelToon NovelToon
Menantu yang Diremehkan

Menantu yang Diremehkan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.

Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.

Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.

*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*

Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.

Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31: Wanita Maserati

Irene Tanuwijaya mengganti Maserati peraknya.

Kali ini, ia datang dengan Maserati GranTurismo hitam gelap, berhenti di depan kafe privat di kawasan Menteng seperti bayangan yang memakai mesin mahal. Surya tiba lebih dulu. Namun, tetap merasa seolah ia yang datang terlambat ketika Irene masuk.

Maya sudah duduk di sudut dengan kursi roda ringan. Kaki kirinya masih dipasang penyangga. Namun mulutnya tetap tajam.

"Akhirnya pria paling sibuk di Karawang datang juga."

Surya duduk. "Pabrik tidak bisa dibela di pengadilan kalau mesinnya mogok."

Irene tersenyum kecil. "Bagus. Kamu mulai memahami bahwa aset yang hidup lebih sulit daripada aset di atas kertas."

Di meja, Irene meletakkan tablet. Layarnya menampilkan beberapa nama perusahaan yang tidak pernah tampil bersama di berita: pengembang aplikasi pembayaran gaya hidup, platform reservasi restoran, rantai kafe kecil, jaringan cloud kitchen, dan beberapa entitas investasi yang memakai nominee director.

"Ini semua milik Anda?" tanya Surya.

"Tidak langsung. Sebagian saya pegang lewat proxy legal, sebagian lewat saham minoritas dengan hak veto tertentu, sebagian hanya opsi beli."

Ia membuka satu folder lagi. Di sana ada laporan bulanan aplikasi pesan antar makanan yang sedang naik, data kunjungan restoran, dan ringkasan laba jaringan kafe yang tampak kecil tetapi tersebar di banyak kota. Tidak ada logo besar bertuliskan nama Irene. Tidak ada foto dirinya di majalah bisnis.

"Saya tidak suka orang tahu saya datang," kata Irene. "Kalau orang tahu siapa pemilik pintu, mereka akan pura-pura sopan di depan pintu itu. Saya lebih suka mendengar suara mereka sebelum mereka tahu ada yang mendengar."

Surya menatap angka-angka itu. Nilainya tidak sebesar Lintang Group, cara Irene menyusunnya membuatnya lebih berbahaya daripada sekadar kekayaan turun-temurun. Ini uang yang bisa bergerak diam-diam.

"Jadi bukan sekadar gadis kaya yang mengendarai Maserati."

Irene menatapnya. "Kamu pikir aku cuma gadis kaya yang mengendarai Maserati? Aku lebih dari itu, Surya."

Kalimat itu tidak diucapkan dengan sombong.

Justru seperti peringatan agar Surya tidak meremehkan papan catur yang sedang ia pijak.

Irene menggeser layar ke dokumen lain.

PT Runda Perkasa.

Surya langsung teringat map Ratna yang belum ia ketahui, foto Maserati, dan nama yang mulai bergerak di belakang layar.

"Perusahaan ini punya Anda?"

"Salah satu kendaraan investasi saya."

Di bawah dokumen itu, terdapat akta perubahan pemegang saham Permata Kreasi. Setelah krisis kontrak, penalti, dan utang vendor, perusahaan Nadia membutuhkan suntikan dana atau mati. Melalui beberapa jalur restrukturisasi, PT Runda Perkasa masuk sebagai investor strategis.

Nilainya Rp 200 miliar.

Surya membaca angka itu dua kali.

"Anda memasukkan dua ratus miliar ke perusahaan Nadia?"

Maya tertawa kering. "Kalau dikatakan begitu, terdengar seperti Irene kehilangan akal."

Irene tidak tertawa. "Saya membeli kendali saat dia tidak punya pilihan. Dana itu masuk dengan syarat restrukturisasi utang, pergantian direksi operasional, dan hak veto terhadap keputusan besar. Nadia tidak lagi memegang kemudi."

"Kenapa membantu menghancurkan perusahaan Nadia?"

Irene memandang cangkir kopinya. "Saya tidak peduli pada Nadia sebesar itu."

Jawaban itu membuat Surya diam.

"Target Anda Kevin."

"Dan keluarga yang membiarkannya menjadi seperti sekarang."

Maya mengetuk meja. "Nadia cuma pintu samping. Kevin selalu meninggalkan jejak lewat perempuan yang dia pakai. Permata Kreasi pernah hidup dari uang dan koneksinya. Kalau pintu itu kita pegang, kita bisa mendengar langkah yang lewat."

Surya menatap Irene dengan rasa yang sulit ia namai. Kagum, waspada, dan sedikit ngeri.

"Anda sudah merencanakan ini sejak sebelum Nadia masuk penjara?"

"Sejak dia menjerit di depan pengadilan bahwa semuanya belum selesai." Irene tersenyum tipis. "Orang seperti Nadia selalu punya satu kesalahan: dia mengira dendamnya membuatnya unik. Padahal dendam hanya membuatnya mudah diprediksi."

"Ini legal?"

"Sah. Mahal, rapi, dan sangat membosankan jika dibaca notaris."

"Tapi efeknya tidak membosankan."

"Hukum perusahaan memang begitu. Di atas kertas hanya perubahan saham. Di dunia nyata, orang kehilangan kendali atas hidup yang mereka kira milik mereka."

Surya terdiam. Ia pernah kehilangan hidupnya karena dokumen palsu. Sekarang ia melihat dokumen sah bisa menjadi senjata yang jauh lebih dingin dan sulit dibantah di ruang pengadilan.

Maya membuka ponsel dan menunjukkan laporan dari kontaknya.

"Nadia sudah tahu ada investor baru di Permata Kreasi. Di Lapas Pondok Bambu, dia ngamuk ke salah satu pengunjung lama, bilang ada orang ingin mengambil hidupnya lagi."

Surya membaca transkrip singkat.

Ada orang yang ingin menghancurkanku... tapi aku akan balas.

Di laporan itu, Nadia digambarkan duduk di ruang kunjungan dengan seragam tahanan, wajah lebih kurus, mata lebih tajam. Pengunjungnya adalah bekas staf Permata Kreasi yang datang membawa kabar bahwa rapat pemegang saham luar biasa sudah menunjuk direksi operasional baru. Nadia memukul meja sampai petugas menegur.

"Perusahaanku tidak bisa diambil begitu saja!" katanya.

Bekas staf itu hanya menunduk. "Bu, dokumennya sah. Utang perusahaan terlalu besar. Kalau tidak ada investor, Permata Kreasi sudah pailit."

Nadia menjawab dengan suara rendah yang membuat pengunjung itu takut.

"Kalau aku keluar, aku akan ambil semuanya kembali."

"Dia belum tahu Runda milik Anda?"

"Belum," kata Irene. "Biarkan dia menebak. Orang yang menebak biasanya melukai sekutunya sendiri lebih cepat."

Surya menyandarkan punggung. "Dan Ratna?"

Irene akhirnya menatapnya penuh. "Ratna pasti akan bergerak. Dia lebih pintar daripada Nadia dan lebih sabar daripada Kevin. Karena itu saya ingin kamu tahu sebagian gambar, bukan seluruhnya."

"Kenapa tidak seluruhnya?"

"Karena kalau kamu tertangkap, kamu tidak bisa membocorkan yang tidak kamu tahu."

Maya berdecak. "Romantis sekali."

"Ini bukan romansa," kata Irene.

Namun Surya mendengar sesuatu yang lebih dalam dari dinginnya kalimat itu. Irene sudah terlalu lama hidup dengan keselamatan orang lain sebagai beban. Ia tidak memberi kepercayaan seperti orang memberi hadiah. Ia memberinya seperti orang memberi pisau: hanya saat yakin penerimanya tidak akan menusuk diri sendiri.

Setelah pertemuan selesai, Surya keluar lebih dulu bersama Maya. Di pintu kafe, Maya menatapnya.

"Jangan takut pada Irene."

"Saya tidak takut."

"Bohong. Tapi tidak apa-apa. Sedikit takut membuat orang sopan."

Surya hampir tertawa.

Di dalam ruang privat, Irene tetap duduk sendiri. Ia membuka foto lama Danau Biru di ponselnya: air keruh, ambulans, remaja laki-laki basah kuyup yang tidak tahu hidup siapa saja yang ia ubah.

Sebuah notifikasi muncul di atas foto.

FD.

Rencana perubahan personel internal Sentana sudah siap.

Irene menatap kalimat itu, lalu menghapus pesan dari layar pratinjau.

Ia mengetik balasan pendek.

Jalankan perlahan. Jangan biarkan Surya melihat semua pintu sekaligus.

Irene tahu pintu yang terbuka terlalu cepat bisa melukai orang yang ingin ia lindungi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!