NovelToon NovelToon
My Ashford Side

My Ashford Side

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.

Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.

Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.

Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.

Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.

Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#26

"Justru sebaliknya, Duke... Dorris sendiri yang mengirim penyusup ini kemari. Dan aku merasa sangat mustahil jika Dorris mengirim wanita ini hanya untuk mati konyol di tanganku... pasti ada alasan yang jauh lebih besar di balik kehadirannya."

Duke memiringkan kepalanya sedikit, menunduk untuk menatap wujud Bonna yang masih tertahan di atas pangkuannya. Ibu jarinya yang kasar terangkat, mencengkeram rahang Bonna seraya meneliti sepasang iris mata wanita itu dari jarak yang amat dekat.

"Mata ini..." gumam Duke pelan, napas beraroma alkohol dan tembakau menyapu kulit wajah Bonna. "Sekali lagi kutinggalkan penilaianku... matanya benar-benar indah. Sangat jernih untuk ukuran seorang tawanan yang membusuk di tempat ini."

Nolan, yang duduk dengan santai di seberang mereka sembari mengayunkan gelas wiskinya, menyahut tanpa beban. "Mengingat kau sedang sibuk mencari donor mata untuk istrimu... Adrian pernah mengatakan padaku bahwa ia berniat membedah dan memberikan mata wanita ini padamu."

Adrian—dokter berjas putih yang berdiri tegak di dekat sudut ruangan dengan ekspresi dingin—mengangguk pelan mengiyakan ucapan bosnya. Sorot matanya yang steril dan tanpa empati tampak menilai Bonna seolah-olah wanita itu hanyalah sebuah spesimen biologis yang siap dikuliti.

La Bonna memejamkan matanya rapat-rapat, menahan gemetar hebat yang menjalar dari tengkuk hingga ujung kakinya.

Di dalam benaknya, rasa miris dan mual bercampur menjadi satu. Hidupnya benar-benar terasa amat menyedihkan dan tragis. Di tempat terkutuk bernama Velvet Noir ini, eksistensinya sama sekali tidak dihargai sebagai manusia. Ia hanyalah sebuah barang—sebuah komoditas yang bisa ditawar, dipotong organ tubuhnya, atau ditendang keluar begitu saja saat dirasa sudah tidak lagi memiliki nilai guna.

Duke mengamati mata Bonna beberapa detik lagi sebelum akhirnya mendengus pelan dan menggelengkan kepalanya.

"Matanya memang sangat indah, Nolan... tapi aku menginginkan mata yang warnanya mirip dengan mata istriku," jawab Duke, suaranya berubah berat dan dipenuhi kepahitan. "Sayangnya kecelakaan sialan beberapa tahun lalu merenggut mata indah itu darinya. Kau tahu betul bukan, apa alasan awalku sampai jatuh cinta padanya? Karena matanya. Kau masih ingat warna mata istriku, bukan? Carikan aku mata yang persis seperti itu. Berikan padaku, dan aku akan membayar berapa pun nominal yang kau minta. Aku hanya ingin istriku bisa melihat dunia lagi."

Nolan menganggukkan kepalanya pelan, menyerap informasi itu tanpa minat yang berarti. "Jika kau tidak tertarik dengan matanya," pangkas Nolan enteng, menyandarkan punggung kekarnya pada sandaran sofa kulit, "kau boleh menidurinya malam ini. Aku tidak akan meminta bayaran sepeser pun darimu. Anggap saja wanita ini sebagai hadiah cuma-cuma atas keberhasilan kerja sama bisnis kita selama ini, Duke."

Dada La Bonna terasa semakin berdenyut nyeri mendengar kalimat tersebut. Bajingan bernama Nolan itu melempar dan menyerahkan tubuhnya secara gratis kepada pria lain hanya karena Bonna dianggap tidak laku dan tidak ada satu pun pelanggan di panggung bawah yang mau menyewanya hingga hari ini.

Antara rasa lega yang membuncah dan kepahitan yang menghujam jiwa, Bonna menyaksikan bagaimana reaksi Duke. Pria berambut dirty blonde itu justru menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menolak tawaran Nolan tanpa ragu sedikit pun.

"Aku memang seorang bajingan, Nolan," ujar Duke datar seraya terkekeh sinis. "Aku memang memproduksi obat-obatan legal maupun ilegal, dan aku berbisnis dengan orang-orang yang sama bajingannya dengan diriku. Tapi aku bukan tipe laki-laki yang tidak bisa setia pada satu wanita. Meskipun istriku buta dan tak berdaya sekarang, aku tidak akan pernah tergiur dengan tawaran wanita mana pun yang kau sodorkan."

Duke melepaskan cengkeraman tangannya dari pinggang La Bonna, membiarkan tubuh wanita itu bergeser dan turun bertumpu pada lantai dingin di samping sofanya.

Duke menatap Nolan lurus-lurus. "Tidur dengan istriku beratus-ratus kali jauh lebih mendebarkan dan memuaskan dibandingkan harus tidur dengan seluruh pelacur murah yang kau miliki di Velvet Noir ini. Dari semua sikap dan kejahatan burukku di dunia hitam ini... paling tidak aku masih punya satu sisi yang bisa kubanggakan pada diriku sendiri. Aku pria yang setia."

Nolan terkekeh pelan, senyuman mengejek terukir tajam di bibirnya. "Tapi justru karena hal itulah kau jadi punya kelemahan fatal, Duke. Aku tidak akan pernah lupa betapa berantakannya dirimu saat pertama kali mendengar kabar bahwa istrimu mengalami kecelakaan tragis itu. Kau bahkan harus menyembunyikan dan mengurung istrimu setiap saat dari dunia luar, hanya karena kau tahu betul semua musuhmu mengincar wanita itu hanya untuk membalas dendam atas segala kejahatan yang sudah kau lakukan."

Duke tidak membantah. Ia mengangguk pelan seraya mematikan puntung cerutunya ke dalam asbak kristal. "Kuakui itu memang sangat merepotkan dan menguras pikiran. Tapi percaya padaku, memiliki satu tempat untuk pulang tidak seburuk yang kau bayangkan. Lagipula... aku masih memiliki sedikit hati nurani jika dibandingkan dengan dirimu, Nolan. Hatimu sudah benar-benar mati dan membusuk. Kau membunuh manusia tanpa pandang bulu."

Duke menyandarkan tubuhnya, menyilangkan kaki seraya bersuara lebih dalam, "Sangat wajar jika di antara kita berdua, kaulah sosok yang paling dibenci dan ditakuti oleh semua orang di tanah Texas ini. Terlebih lagi Dorris dan para bajingan aliansinya... mereka sangat ingin melihatmu hancur berkeping-keping karena mereka merasa kau adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup mereka."

Sudut bibir Nolan terangkat semakin tinggi, membentuk sebuah seringai sinis yang teramat mengerikan.

"Tentu saja mereka takut dan sangat ingin menyingkirkanku," balas Nolan dingin, nada suaranya dipenuhi keangkuhan murni. "Aku memegang semua kartu as dan rahasia kotor yang mereka sembunyikan dengan rapat. Mereka selalu menganggapku iblis busuk hanya karena aku tidak berada di kubu 'suci' mereka. Padahal kenyataannya... mereka semua sama busuknya denganku."

Nolan meneguk sisa wiskinya hingga habis, lalu melanjutkan dengan nada mencemooh, "Mereka berpura-pura menjadi pahlawan yang menangkap kurir narkoba yang merugikan negara... padahal di belakang panggung, mereka sendiri yang mengedarkan kembali barang-barang sitaan yang mereka ambil dari para penyelundup. Mereka bahkan membiayai penculikan orang-orang miskin di pinggiran kota untuk dijual dan dijadikan pelacur di tempat-tempat rahasia. Lalu apa bedanya perbuatan mereka denganku? Mereka tak lebih dari sekelompok munafik bertopeng keadilan."

Nolan kemudian perlahan memalingkan wajahnya. Sorot matanya yang tajam dan tak bersahabat menembus lurus ke arah La Bonna yang masih merangkak pelan di dekat meja.

"Sama halnya seperti ayah dari wanita ini," tambah Nolan dengan nada bicara yang berubah penuh hinaan. "Aku sudah mengikis dan menyelidiki dari mana dia berasal. Ternyata... dia adalah putri dari mantan calon presiden. Nama ayahnya yang terhormat itu tercantum dengan sangat rapi di dalam daftar daftarku."

Dada Bonna mendadak bergemuruh kencang. Ia menahan napasnya saat nama ayahnya disebut-sebut oleh mulut beracun Nolan.

"Aku memegang rahasia terbesar ayahnya," tutur Nolan seraya terkekeh penuh kemenangan. "Tentang bagaimana pejabat tinggi itu memiliki anak haram dari seorang pelacur kelas bawah... dan bagaimana ayahnya menjadi langganan tetap setiap bulan untuk menikmati wanita-wanita hasil rampasan polisi. Namun sayang sekali... reputasi hebat keluarganya hancur berantakan hanya gara-gara satu tindakan bodoh yang dilakukan oleh putri keduanya sendiri. Dan ironisnya... si biang masalah itu sekarang justru berakhir menjadi seorang pelacur murahan di wilayah kekuasaanku."

Pria ini benar-benar sedang menghujat dan menghina harga diriku serta keluargaku tanpa ampun, batin La Bonna menjerit dalam hati. Tangannya mengepal erat di atas karpet, menahan amarah yang membakar dada dan air mata yang mendesak keluar dari pelupuk matanya.

Nolan tidak berhenti sampai di situ. Ia menatap Bonna dengan pandangan yang teramat merendahkan. "Dari seorang tuan putri kaya raya yang terpandang... kini merosot menjadi seorang pelacur yang tak laku. Dia bahkan tidak cukup mampu menggoda satu orang pria pun di panggung bawah untuk mau mengeluarkan uang hanya demi menaikinya. Benar-benar sangat menyedihkan."

Duke yang mendengar hal itu kembali terkekeh geli. "Tidak ada seorang pun pelanggan yang mau dengannya? Sayang sekali... tapi bukankah kau paling tidak suka jika ada barang di wilayahmu yang tidak berguna , Nolan?"

"Tentu saja," sahut Nolan datar. "Aku sampai bingung harus memperlakukannya seperti apa lagi, karena aku merasa amat rugi menampung dan memberinya makan di sini. Aku menawarkan matanya pada dirimu, kau menolaknya. Lalu aku menawarkan tubuhnya untuk kau tiduri secara gratis, kau juga menolak. Entah hal tidak berguna apa lagi yang harus kulakukan pada tubuh kurusnya ini!"

Kurus? batin Duke heran di dalam hatinya. Ia kembali melirik ke arah Bonna yang bersimpuh di lantai. Menilai dada Bonna yang membusung indah di balik gaun minimnya, Duke membatin sinis, Tubuh indah dan berisi seperti ini kau sebut kurus? Dada sepadat itu sangat pas untuk dicengkeram tanganmu, bajingan sialan.

Nolan mengetukkan jarinya ke meja glass, seolah-olah baru saja mendapatkan sebuah ide bagus. "Ah... mungkin wanita ini bisa menjadi samsak tinjuku untuk mengusir rasa bosan malam ini. Dia cukup ahli dalam menahan rasa sakit. Daripada aku harus melampiaskannya pada Seraphina—pelacur kesayanganku yang tidak boleh luka atau lecet sedikit pun karena dia sangat berharga untuk menjalankan misi-misi pentingku."

Duke tertawa keras mendengar kelakar kekejaman temannya itu. "Jangan terlalu sadis menjadikannya samsak tinju, Nolan. Aku khawatir dia langsung tewas begitu kau menggempurnya habis-habisan. Bercinta dengan mayat yang sudah tidak bernyawa itu tidak menyenangkan sama sekali."

Usai tawa Duke mereda, atmosfer di ruangan VIP itu mendadak berubah menjadi teramat tegang dan menekan.

Nolan perlahan memiringkan kepalanya, menatap lurus ke arah La Bonna. Bonna yang merasakan hawa membunuh itu secara refleks mendongak, membalas tatapan mata tajam milik pria mafia tersebut dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki.

Dengan sorot mata yang masih terkunci rapat pada Wajah Bonna, Nolan tiba-tiba membuka suara. Kalimatnya tidak ditujukan untuk Bonna, melainkan untuk dokter berjas putih yang berdiri di sudut ruangan.

"Kau tidak kembali ke laboratoriummu, Adrian?" ujar Nolan singkat namun dingin.

Namun, alih-alih Adrian yang bergerak kecanduan untuk keluar, Duke justru yang langsung menegakkan posisi duduknya. Pria berambut dirty blonde itu sangat paham dengan arah pembicaraan dan nada nada terselubung dari kalimat Nolan tersebut.

Nolan bukan sedang mengusir Adrian. Pria itu secara halus namun tegas sedang mengusir dirinya agar segera angkat kaki dari ruangan tersebut. Nolan ingin ditinggalkan berdua saja bersama tawanannya malam ini.

Duke menghela napas pendek seraya menyunggingkan senyum maklum. Ia bangkit berdiri dari sofanya, merapikan kancing jas mahalnya yang sempat kusut.

"Baiklah, sepertinya pembicaraan bisnis kita untuk malam ini sudah cukup, Nolan," ujar Duke santai seraya menepuk bahu kekar Nolan sepintas. "Aku tahu betul kapan saatnya seorang tamu harus mundur dan membiarkan sang tuan rumah menikmati 'mainan' barunya."

Duke melangkah menuju pintu keluar. Namun sebelum benar-benar melintasi ambang pintu, langkahnya terhenti sejenak. Pria itu menoleh kembali ke belakang, melirik Bonna yang masih berlutut membeku di atas lantai dingin.

"Semoga kau masih bernapas besok pagi, Bonna," bisik Duke dengan nada setengah bercanda namun tersirat peringatan bahaya, sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kayu yang tertutup rapat.

Dokter Adrian pun memberi penghormatan singkat dengan anggukan kepala yang kaku, lalu berbalik dan melangkah pergi menyusul Duke, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam ruang VIP yang luas tersebut.

Kini, di dalam ruangan yang temaram dan dipenuhi aroma pahit tembakau serta wiski mahal itu, hanya tersisa mereka berdua: Ezequiel Nolan Ashford dan La Bonna De luca.

Suara denting es batu dalam gelas yang digoyangkan perlahan oleh Nolan terdengar begitu menyayat di tengah kesunyian yang menekan. Bonna tetap berlutut di tempatnya, tidak berani menggerakkan satu pun otot di tubuhnya, walau jantung di dalam dadanya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan.

Nolan berdiri dari sofanya. Postur tubuhnya yang menjulang tinggi memancarkan aura intimidasi yang luar biasa, membuat bayangannya menutupi seluruh tubuh Bonna yang mungil di lantai. Pria itu mengayunkan kakinya perlahan, melangkah mengitari meja hingga berhenti tepat di hadapan Bonna.

Ujung sepatu kulit mahal milik Nolan menyentuh lutut Bonna yang bertelanjang.

"Berdiri," perintah Nolan singkat. Suaranya rendah, serak, dan tanpa emosi.

Bonna menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Dengan bertumpu pada kedua kakinya yang mendadak gemetar hebat, Bonna berusaha keras untuk bangkit berdiri. Ia menegakkan tubuhnya, berhadapan langsung dengan dada bidang Nolan yang terbungkus kemeja hitam melekat erat.

Nolan tidak langsung menyentuhnya. Pria itu hanya menatap Bonna dari atas ke bawah, seolah-olah sedang menginspeksi sebuah barang belanjaan yang hampir kedaluwarsa.

"Kau mendengar apa yang kukatakan pada Duke tadi, bukan?" bisik Nolan seraya melangkah maju satu garis, memangkas habis jarak di antara mereka hingga Bonna bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di keningnya.

"Ya...," sahut Bonna parau, suaranya hampir tak terdengar akibat tenggorokannya yang mendadak kering.

Nolan mengulurkan tangan kanannya. Jemari tangannya yang panjang dan dipenuhi bekas luka perkelahian bergerak menyusuri garis leher Bonna, merayap turun ke bahunya, lalu dengan kasar mencengkeram kain gaun tipis yang melekat di dada Bonna.

"Kau tidak laku di bawah," desis Nolan tepat di depan wajah Bonna, matanya menyipit berbahaya. "Kau tidak berhasil menghasilkan satu sen pun untukku selama ini. Kau membuat keberadaanmu di markas ini menjadi sangat sia-sia dan merugikanku."

Bonna bisa merasakan tekanan jari-jari Nolan yang mengeras di bahunya, mengancam akan meremukkan tulang selangkanya kapan saja. Namun alih-alih menangis atau memohon ampun seperti wanita pada umumnya, Bonna justru mengepalkan jemarinya di sisi tubuh, memberanikan diri untuk kembali menatap lurus ke dalam iris mata kelam milik sang iblis.

"Kalau begitu... jadikan aku berguna malam ini, Tuan," bisik Bonna berani. Suaranya gemetar, namun ada kilat keputusasaan yang tajam di matanya. "Jika tidak ada pria di bawah sana yang mau membayar untuk tubuhku... maka biarkan aku membayar utang keberadaanku padamu."

Nolan membeku sejenak. Senyuman miring yang teramat dingin dan licik perlahan terukir kembali di bibir pria itu.

"Kau benar-benar tidak punya rasa takut, ya?" gumam Nolan, suaranya terdengar seperti bisikan iblis dari neraka.

Tanpa peringatan, tangan Nolan yang mencengkeram bahu Bonna bergerak menyentak dengan kekuatan yang luar biasa. Pria itu menarik tubuh Bonna dengan kasar, melemparnya hingga tubuh wanita itu terhempas keras ke atas sofa kulit yang empuk di tengah ruangan.

Bonna meringis menahan sakit di punggungnya, namun sebelum ia sempat menegakkan posisi duduknya, tubuh kekar Nolan sudah memburu di atasnya, menindih kedua kakinya dan mengunci kedua pergelangan tangan Bonna ke atas kepala dengan satu genggaman tangannya yang seperti cengkeraman besi.

Cengkeraman itu begitu kuat hingga Bonna tak sanggup menggerakkan lengannya sedikit pun. Wajah Nolan berada hanya beberapa sentimeter di atas wajahnya, memancarkan hawa murni dari seorang predator yang siap mencabik-cabik mangsanya.

"Kau pikir bercinta denganku adalah jalan keluarmu agar bisa tetap bertahan hidup di tempat ini, La Bonna?" desis Nolan, ibu jarinya menekan keras bibir bawah Bonna yang pecah hingga terasa asin darah. "Kau pikir dengan bersikap tunduk dan menawarkan dirimu seperti ini, kau bisa melunakkan hatiku dan melupakan fakta bahwa kau adalah seorang penyusup yang dikirim oleh Dorris?"

Bonna menahan napasnya, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Nolan seraya menahan rasa sakit di pergelangan tangannya.

"Dengar baik-baik, tawanan," lanjut Nolan, suaranya berubah menjadi sangat dalam dan mengancam. "Malam ini... aku tidak akan menyentuhmu sebagai seorang wanita yang ingin kumanjakan. Kau menginginkan sebuah kesempatan untuk tetap hidup, bukan? Maka malam ini, kau akan merasakan bagaimana rasanya menjadi pelampiasan dari rasa bosanku."

Nolan merenggut gaun bagian atas Bonna hingga terdengar suara kain yang robek tajam. Bonna memejamkan matanya rapat-rapat, meremas seprai sofa di bawah punggungnya saat hawa dingin ruangan VIP menyapu kulit dadanya yang tersingkap.

Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya yang terpejam, Bonna berbisik tegas pada jiwanya yang hampir hancur: Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan padaku, Nolan... cambuk aku, siksa aku, atau gunakan tubuhku sekehendak hatimu malam ini. Selama jantungku masih berdetak esok hari... aku tidak akan pernah berhenti mencari cara untuk meruntuhkan kekuasaanmu.

1
Nita Nita
hahaha sama2 bingung jg🤔
Yusry Ajay
ditunggu updatenya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kaa🫶
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
nah lho gak semudah itu dariush di kalahkan🤣
Rosdianah 🌷: Hahahaha Pria iblis memang agak lain🤭🤣
total 1 replies
Nita Nita
brian gimana nasibnya 🤔
Nita Nita
pasti pd merinding sebadan2 😰
Rosdianah 🌷: wkwkwkw🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up trus ya Thor 💪💪🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳 siap kaa
total 1 replies
Debu Nakal
semenjak terpikir olehku akan ada adegan slow living tahu2 udah dibuat dari der dor sama othor 😵
Rosdianah 🌷: wkwkw semoga suka ya kaa🤭 boleh saran dan masukannya ya kaa, author terima🫠
total 1 replies
Asriani Rini
Lanjut 🙏🏻🙏🏻❤️
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Kok q jd kasihan sama duarius yaa,,, 🤔🤔🤔🤔
Rosdianah 🌷: Dariush butuh disemangati Kaa Readers 🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Astogeeee,,, duarius ikutan kabur! 😌
Nita Nita
makin panas ini,, lanjut kak😍💪
Rosdianah 🌷: Uhuuuuuiii siap kaa🥳
total 1 replies
Nita Nita
waduh waduh. apa lg lg ini 🤔
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪💪
Rosdianah 🌷: siap makasih ya kaa
total 1 replies
Yusry Ajay
deg...deg...bgt Thor 🤗
pika shu
next thor
Rosdianah 🌷: siap kaa
total 1 replies
Debu Nakal
next... next... next...
Rosdianah 🌷: siap kaa🫶
total 1 replies
Debu Nakal
ahhhh... jadi suka 🥰
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
brarti korban aslinya dariush dong korban konspirasi lucifer dll😭😭 dan nanti kalo bona punya kesempatan buat bunuh dariush pasti gak bakal bunuh sih 🤭
Rosdianah 🌷: Huhuhu Ditunggu kelanjutannya kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
alurnya seruu kak😭tp kasian nolan jg atau dariush😭
Rosdianah 🌷: Semoga suka kaa ya🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
sedih bangett kak jadi Bona 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!