NovelToon NovelToon
My Ice CEO Is A Tante

My Ice CEO Is A Tante

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miko J

Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Secangkir Kopi di Meja Kerja

Ting.

Dentingan halus terdengar ketika lift VIP berhenti di lantai tertinggi gedung Chen Corp. Pintu lift terbuka perlahan, memperlihatkan area kerja manajemen yang jauh lebih tenang dan berwibawa dibandingkan lantai bawah.

Lantai ini dipenuhi dinding kaca, lantai marmer mengilap, serta deretan ruang kerja dengan pintu kayu berwarna gelap. Beberapa karyawan yang kebetulan melintas langsung menundukkan kepala dengan hormat begitu melihat sosok CEO mereka keluar dari lift.

Tiffany berjalan lebih dulu tanpa menunggu Gavin. Langkah kakinya terdengar tegas di atas lantai marmer.

Wajah yang sebelumnya sempat menunjukkan ekspresi santai ketika berada di area produksi kini kembali berubah menjadi dingin dan profesional.

Gavin yang berjalan beberapa langkah di belakangnya hanya tersenyum kecil.

Mode CEO-nya nyala lagi.

Pria itu mempercepat langkah agar tidak tertinggal, lalu mengikuti siluet kaku Tiffany menuju ruang kerja utama CEO.

Begitu pintu ruangan itu tertutup rapat, suasana langsung berubah kembali ke setelan pabrik.

Tiffany bertransisi instan menjadi CEO yang sibuk.

Dia bahkan tidak membuang waktu untuk duduk santai. Begitu memasuki ruangan, wanita itu langsung meletakkan beberapa berkas yang dibawanya ke atas meja, membuka laptop, memeriksa beberapa laporan, lalu memberikan instruksi melalui sambungan telepon.

Di atas meja kerja raksasa tersebut sudah menumpuk dokumen triwulan setinggi kurang lebih tiga puluh sentimeter.

Gavin hanya memandang tumpukan itu dengan ekspresi datar.

"Itu dokumen atau tembok?"

Tidak ada jawaban.

Tiffany bahkan tidak menoleh.

Gavin tahu diri. Dia tidak berniat mencampuri urusan manajemen bisnis yang memang tidak terlalu dia kuasai. Lagipula, sejak awal Tiffany sudah menjelaskan bahwa dia tidak perlu ikut campur dalam pekerjaannya selama tidak ada sesuatu yang benar-benar membutuhkan bantuannya.

Dengan langkah santai, Gavin berjalan menuju sofa kulit besar di sudut ruangan.

Bukannya duduk dengan anggun seperti seorang suami CEO pada umumnya, dia justru mengempaskan tubuh tegapnya ke sofa tersebut.

Bruk.

Gavin mengeluarkan ponselnya , membuka gim, kemudian mulai memainkan layar dengan ibu jarinya.

Sementara itu, Tiffany terus bekerja.

Klik.

Suara papan ketik terdengar teratur.

Klik, klik, klik.

Sesekali suara tersebut berhenti ketika Tiffany membaca laporan di monitor. Beberapa detik kemudian, jemarinya kembali bergerak cepat.

Tidak lama setelah itu, suara wanita tersebut terdengar memberikan instruksi melalui telepon.

"Revisi bagian proyeksi kuartal berikutnya. Jangan gunakan angka estimasi lama."

Jeda.

"Ya. Kirim ulang sebelum pukul tiga."

Jeda lagi.

"Dan minta bagian legal memeriksa kontraknya sekali lagi."

Telepon ditutup.

Lalu bekerja lagi.

Gavin yang semula serius memainkan gim mulai merasa bosan.

Satu pertandingan.

Dua pertandingan.

Tiga pertandingan.

Pada pertandingan keempat, dia sudah tidak benar-benar memperhatikan layar.

Dua jam berlalu seperti embusan angin.

Di sudut ruangan, Gavin akhirnya menurunkan ponselnya sedikit dan mengintip ke arah meja kerja di seberang sana.

Tiffany masih berada di tempat yang sama.

Wanita itu duduk tegak di balik meja kerjanya dengan rambut tertata rapi. Beberapa lembar dokumen kini sudah berpindah tempat, tetapi tumpukan lainnya justru terlihat semakin banyak.

Suara jemari Tiffany yang mengetik cepat di atas papan ketik komputer tanpa jeda berpadu dengan gumaman tegasnya saat memberikan instruksi kepada asisten pribadi.

Bagi Gavin, suara itu sudah berubah menjadi semacam musik latar.

Gavin menggelengkan kepalanya pelan.

Wanita ini benar-benar gila kerja.

Namun di saat yang sama, Gavin tidak bisa memungkiri sebuah fakta  dalam benaknya.

Aura serius Tiffany saat sedang fokus bekerja penuh dedikasi seperti itu justru membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih menawan dibandingkan saat dia sedang mengomel di apartemen.

Gavin buru-buru mengalihkan pandangan.

Dia kembali menatap ponselnya, tetapi pikirannya sudah tidak benar-benar tertuju pada gim.

Beberapa menit kemudian, asisten pribadi Tiffany keluar ruangan untuk memeriksa ruang rapat manajemen.

Tinggal mereka berdua.

Gavin bangkit berdiri dan meregangkan tubuhnya.

"Ahh..."

Dia menggerakkan bahu yang terasa kaku akibat duduk terlalu lama.

Tatapan matanya kemudian tidak sengaja tertuju pada meja Tiffany.

Di sana terdapat sebuah cangkir teh.

Gavin mengernyit.

Dia masih ingat melihat cangkir yang sama ketika mereka baru tiba pagi tadi.

Gavin melangkah mendekat.

Cairan di dalamnya sudah tidak lagi mengepulkan uap. Bahkan warnanya tampak sedikit lebih keruh karena sudah terlalu lama dibiarkan.

Yang lebih parah, posisinya nyaris tidak berubah.

Belum disentuh.

Gavin menatap cangkir tersebut, lalu melirik Tiffany.

Wanita itu masih sibuk membaca dokumen.

"Tante."

"Hmm?"

"Aku keluar sebentar, ya. Cari angin."

"Hmm."

Tiffany tetap mengetik.

Gavin menunggu.

Tidak ada kalimat lanjutan.

Dia mengangkat alis.

"Enggak ada pesan moral?"

Barulah Tiffany berhenti mengetik.

Tatapan dinginnya terangkat dari layar.

"Jangan lama-lama dan jangan membuat kekacauan di luar atau menggoda para staf wanita."

Gavin mendengus geli.

"Nah, itu baru Tante Chen yang aku kenal."

"Pergi."

"Siap, CEO."

Gavin berbalik sebelum Tiffany sempat melemparkan tatapan lebih tajam.

Setengah jam kemudian, pintu ruangan CEO kembali terbuka.

Tiffany mengira itu adalah asistennya yang membawa berkas baru.

"Letakkan di sebelah kanan."

Tidak ada jawaban.

Tiffany masih menatap monitor.

Sampai aroma harum kopi latte yang pekat dan wangi pastry hangat perlahan masuk ke dalam ruangan.

Alis Tiffany sedikit berkerut.

Aroma tersebut semakin jelas.

Barulah sebuah cup kopi berlogo kafe ternama mendarat tepat di atas dokumen yang sedang ia periksa.

Tiffany langsung mendongak.

Tatapan tajamnya bertemu dengan sepasang mata Gavin yang tampak sangat puas dengan dirinya sendiri.

"Gavin, apa yang kamu lakukan?"

Gavin tidak menjawab.

Dia justru menarik kursi kulit di depan meja Tiffany, kemudian duduk dengan gaya santai yang menyebalkan.

Tiffany menunjuk cup kopi tersebut.

"Singkirkan itu. Aku sedang sibuk."

"Sibuk sih sibuk, Tante Chen yang terhormat."

Gavin mendorong cup tersebut sedikit ke samping agar tidak menutupi dokumen.

"Tapi lihat itu."

Dia menunjuk cangkir teh dingin di sudut meja.

"Teh pagi saja belum berkurang ."

Tiffany melirik cangkir tersebut.

Gavin melanjutkan dengan wajah serius yang dibuat-buat.

"Sehebat apa pun CEO Chen Corp, kalau pingsan karena lupa makan dan minum, saham perusahaanmu bisa anjlok dalam waktu satu detik, tahu."

Tiffany langsung mengerutkan kening.

"Aku tidak akan pingsan."

"Optimisme yang luar biasa."

"Gavin."

"Iya, iya. Aku diam."

Gavin menahan tawa.

Dia kemudian mendorong sebuah kotak makanan kecil ke arah Tiffany. Ketika tutupnya dibuka, terlihat beberapa potong pastry dengan ukuran kecil dan rapi.

"Aku sengaja membelikan varian yang tidak terlalu manis."

Tiffany menatap makanan itu.

"Kenapa?"

"Karena seleramu kaku."

Alis Tiffany langsung terangkat.

Gavin buru-buru melanjutkan sebelum mendapat omelan.

"Maksudku, kamu kelihatannya lebih cocok dengan sesuatu yang tidak terlalu manis."

"Itu tetap terdengar seperti penghinaan."

"Kalau kamu mau menganggapnya penghinaan, silakan."

"Gavin."

"Oke. Makan."

Gavin menunjuk pastry tersebut, kemudian menunjuk kopi.

"Minum dulu, lalu makan kuenya. Perhatikan makan dan minummu. Jangan cuma tahu cara menghasilkan uang."

Tiffany terdiam.

Untuk sesaat, wanita itu tidak langsung membalas.

Tatapannya jatuh pada cup kopi hangat di hadapannya, lalu beralih pada kotak pastry.

Kemudian perlahan naik menuju wajah Gavin.

Di sana, Tiffany tidak menemukan bualan atau niat jahil seperti biasanya.

Mata pria itu tampak tulus.

Senyum usilnya memang masih ada, tetapi tidak ada maksud mengejek di baliknya.

Tiffany tertegun sesaat.

Biasanya, dia akan langsung menyingkirkan gangguan yang dianggap tidak efisien seperti ini dan kembali fokus bekerja.

Namun kali ini, entah karena alasan apa, logika bisnisnya gagal menolak.

Tatapannya kembali jatuh pada uap tipis yang mengepul dari cup kopi hangat di depannya.

"Kamu benar-benar merepotkan, Gavin," gumam Tiffany pelan.

Gavin hanya tersenyum lebar sambil menopang dagunya di atas meja.

"Tapi tetap diminum, kan?"

Tiffany tidak menjawab.

Dia meraih cup tersebut dengan kedua tangannya.

Hangatnya langsung terasa di telapak tangannya.

Tiffany mendekatkan cup itu ke bibir, kemudian menyesapnya perlahan.

Rasa kopi latte yang pahit dan lembut bercampur dengan sedikit rasa manis di lidahnya.

Tidak terlalu manis.

Persis seperti yang dikatakan Gavin.

Tiffany terdiam sejenak.

"Bagaimana?" tanya Gavin.

"Diam."

"Oh, berarti enak."

"Aku bilang diam."

Gavin terkekeh.

Tiffany kembali menatap layar monitor, tetapi kali ini jemarinya belum langsung mengetik.

Rasa hangat dari kopi perlahan menyebar, entah bagaimana berhasil mengikis sedikit rasa lelah yang sejak pagi menumpuk di kepalanya.

Di samping cup kopi itu, kotak pastry masih terbuka.

Tiffany mengambil satu potong.

Menggigit sedikit.

Gavin memperhatikannya dengan ekspresi puas.

"Kenapa melihatiku begitu?"

"Enggak kenapa-kenapa."

"Kalau begitu jangan lihat."

"Baik."

Gavin benar-benar mengalihkan pandangan.

Tiffany justru merasa sedikit aneh.

Pria ini...

Dia kembali membaca laporan.

Namun kali ini, pekerjaan yang sejak tadi terasa begitu menjemukan tidak lagi terasa seberat sebelumnya.

Selama ini, Tiffany selalu terbiasa memikul semua beban kerja dan mengurus semuanya seorang diri tanpa mengeluh. Baginya, pekerjaan adalah sesuatu yang harus diselesaikan. Tidak peduli lelah, lapar, atau bahkan sudah lewat jam makan.

Tidak ada alasan untuk berhenti.

Tidak ada alasan untuk bergantung pada orang lain.

Namun entah sejak kapan, keberadaan seseorang yang selalu mengganggunya dengan tingkah konyol mulai terasa berbeda di dalam kesehariannya.

Gavin memang menyebalkan.

Berisik.

Terlalu santai.

Dan sering kali tidak tahu kapan harus berhenti menggodanya.

Tetapi pria itu juga menjadi satu-satunya orang yang hari ini menyadari bahwa secangkir teh di mejanya sudah dingin sejak pagi.

Tiffany kembali menyesap kopinya.

Tatapannya diam-diam bergeser ke arah Gavin yang kini kembali memainkan ponselnya di kursi depan meja.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya , Tiffany menyadari satu hal sederhana.

Kehadiran sang suami kontrak ternyata tidak selalu menjadi gangguan.

Kadang-kadang...

justru secangkir kopi darinya adalah alasan kecil untuk berhenti sejenak dari kesibukan.

Dan anehnya, Tiffany tidak merasa keberatan sama sekali.

1
helena
ada batas teritorial nya🤣
helena
tante🤣
helena
kursi panas/Doge/
helena
jari jemari tim kevin /Proud/
Zed Analytical Number Nine
ngga bener nih, si Gavin
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
Lasa Hardianti
WKWKWK Gavin langsung semangat banget pas dengar kartu kredit tanpa limit🤣 Lanjut baca dulu ah, penasaran rumah tangga kontraknya bakal seseru apa🤣😍
white star ⭐: "Terima kasih kak, dah mampir 😆"
total 1 replies
Lasa Hardianti
Premisnya unik Kak. dari awal udah bikin penasaran gimana Gavin bisa berubah jadi TKI di Taiwan. Semangat update😁
Cilia
Lanjutin terus kak! Kepo sama kelanjutan cerita Gavinnn
white star ⭐: trimakasih kak, jadi semakin semangat buat nulis kelanjutan cerita ini
total 1 replies
helena
lanjut thorr💪
helena
😇
yugi chan 👧
lanjuuttt ....
white star ⭐: siap kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!