NovelToon NovelToon
Pengasuh Hebat Kesayangan CEO Dingin

Pengasuh Hebat Kesayangan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / Pengasuh / Penyesalan Keluarga
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Stellune

Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Arkan datang lagi tiga hari kemudian.

Kali ini tanpa pemberitahuan.

Mobilnya masuk halaman pukul enam lewat dua puluh, saat Naura sedang membantu Pak Aditya memilih berita yang tidak membuat tekanan darahnya naik. Bu Marini di sebelah mereka sedang memegang tablet, menonton ulang video senam lansia yang direkam salah satu temannya.

Pak Jaya masuk dari foyer.

"Mas Arkan datang."

Bu Marini langsung mematikan tablet.

"Kenapa tidak bilang dari tadi? Naura, makan malam cukup?"

"Cukup, Bu. Saya memang masak lebih karena kaldu ayamnya baru jadi."

"Bagus. Jangan sampai cucu saya makan nasi kotak lagi."

Pak Aditya mendengus. "Dia sudah besar. Kalau lapar bisa beli sendiri."

"Justru karena sudah besar, makin tidak benar makannya."

Arkan masuk ketika kalimat itu selesai.

Ia masih memakai pakaian kerja. Lengan kemejanya digulung sampai siku, dasinya sudah longgar, wajahnya terlihat lelah tapi tetap dingin. Orang seperti Arkan bahkan saat kelelahan pun tampak seperti hendak memimpin rapat.

"Nek. Kek."

Ia mencium tangan keduanya.

Bu Marini memegang wajahnya dengan dua tangan. "Kurus."

"Tidak."

"Mata kamu cekung."

"Lampu di sini terlalu terang."

Pak Aditya tertawa.

Naura berdiri sedikit di belakang, menunggu sampai keluarga itu selesai menyapa.

Arkan menoleh padanya.

"Mbak Naura."

"Pak Arkan."

Bu Marini melirik keduanya, lalu tersenyum aneh.

"Makan dulu. Naura bikin sup buntut."

Arkan berhenti.

Reaksi sekecil itu tidak luput dari Naura.

Bu Marini menunjuknya. "Lihat. Dia suka. Tapi tidak mau bilang."

Arkan menarik kursi. "Saya hanya lapar."

"Kamu selalu lapar kalau Naura masak."

"Nek."

Nada Arkan datar, tetapi telinganya mulai merah.

Naura menunduk mengambil mangkuk.

Ia sudah belajar dari rumah ini: telinga merah Arkan lebih jujur daripada mulutnya.

Makan malam berjalan lebih ramai dari sebelumnya. Bu Marini bercerita panjang tentang senam lansia. Pak Aditya menambahkan komentar sinis. Arkan mendengarkan sambil makan. Ia jarang menimpali, tetapi tidak membuka ponsel sama sekali.

Naura memperhatikan dari jarak aman.

Untuk keluarga sesibuk dan sekaya ini, meletakkan ponsel saat makan mungkin bentuk kasih sayang yang cukup besar.

Ketika Naura hendak mengangkat piring kosong, Arkan ikut berdiri.

"Biar saya bawa."

Bu Marini langsung menjerit kecil. "Jangan!"

Pak Aditya menutup koran ke wajah, bahunya bergetar.

Arkan membeku.

Naura juga berhenti.

Bu Marini sadar reaksinya terlalu cepat. Ia berdeham.

"Maksud Nenek, kamu tamu. Duduk saja."

"Saya cucu."

"Cucu yang menghancurkan gelas."

Arkan menatap neneknya.

Naura menggigit bagian dalam pipi agar tidak tertawa.

Arkan mengambil satu piring dengan sangat hati-hati. Seperti piring itu bom.

Naura berkata lembut, "Pegang bagian bawahnya, Pak. Jangan hanya pinggir."

Arkan mengikuti.

"Pelan-pelan saja."

Ia berjalan ke dapur. Piring selamat sampai meja cuci.

Bu Marini bertepuk tangan sekali.

"Hebat. Cucu Nenek sudah bisa mengantar piring."

"Nenek," suara Arkan turun satu tingkat.

Pak Aditya akhirnya tertawa terang-terangan.

Naura mengambil sisa piring.

Di dapur, Arkan berdiri kaku, seolah tidak tahu harus ke mana setelah berhasil menyelesaikan tugas hidup yang besar.

"Terima kasih, Pak," kata Naura.

"Saya bisa membantu."

Naura melihat jas mahal yang digantung di kursi, jam tangan di pergelangan, dan wajah seriusnya.

"Bisa. Tapi mungkin jangan mulai dari mencuci panci."

Arkan menatap wastafel. Di sana ada panci besar bekas sup buntut.

"Itu sulit?"

"Tidak sulit. Tapi licin dan berat."

"Saya bisa angkat beban."

Naura hampir tersenyum. "Panci berminyak tidak peduli Bapak bisa angkat beban atau tidak."

Arkan diam.

Lalu ia berkata, sangat serius, "Masuk akal."

Kali ini Naura gagal menahan senyum.

Arkan melihatnya.

Senyum itu hanya sebentar, tetapi cukup membuat wajah dinginnya kehilangan fokus.

Naura segera menunduk dan mulai mencuci piring.

"Pak Arkan bisa kembali ke ruang keluarga. Nanti Bu Marini mencari."

"Dia lebih senang bicara denganmu."

Gerakan tangan Naura melambat.

"Bu Marini hanya butuh teman bicara, Pak."

"Saya tahu."

"Bapak bisa sering pulang."

Kalimat itu keluar terlalu langsung.

Naura sadar posisinya dan segera menambahkan, "Maaf, saya tidak bermaksud mengatur."

Arkan tidak marah.

Ia justru bersandar ringan pada meja dapur, menjaga jarak agar tidak mengganggu.

"Saya jarang punya waktu."

"Waktu tidak muncul sendiri, Pak. Biasanya harus dibuat."

Arkan menatapnya.

Orang lain mungkin akan menganggap ucapan itu lancang. Tapi Naura tidak sedang menyindir. Ia hanya mengatakan sesuatu yang pernah ia pelajari dengan mahal.

Di kehidupan lalu, ia juga selalu berkata tidak punya waktu.

Sampai waktunya benar-benar habis.

"Kamu bicara seperti orang yang pernah kehilangan waktu," kata Arkan.

Naura menghentikan keran.

Air menetes dari piring ke wastafel.

"Semua orang pernah, Pak."

Arkan tidak mengejar.

Itu membuat Naura sedikit lega.

Dari ruang keluarga, Bu Marini memanggil.

"Arkan! Jangan ganggu Naura kerja!"

Arkan menjawab, "Saya tidak mengganggu."

Bu Marini muncul di pintu dapur dengan walker. "Kamu berdiri di situ saja sudah mengganggu. Badanmu besar, dapur jadi sempit."

Naura menunduk cepat.

Arkan menatap neneknya tanpa ekspresi.

"Dapur ini lebih luas dari apartemen banyak orang."

"Tapi auramu menekan."

Pak Aditya dari belakang menambahkan, "Benar."

Arkan menghela napas.

Naura merasa rumah itu benar-benar berbeda dari Mahardika. Di sana, orang takut pada orang berkuasa. Di sini, CEO dingin itu dikeroyok dua lansia tanpa ampun.

Setelah makan malam, Bu Marini memaksa Arkan tinggal minum teh.

Naura membuat teh melati ringan dan puding gula aren.

Arkan mencicipi puding. Sekali. Lalu sekali lagi.

Bu Marini memperhatikan dengan mata tajam.

"Katanya tidak suka manis."

"Ini tidak terlalu manis."

"Berarti suka."

"Saya tidak bilang begitu."

"Tapi piringmu hampir kosong."

Arkan meletakkan sendok.

Naura pura-pura tidak mendengar.

Malam semakin larut. Arkan akhirnya berdiri untuk pulang. Bu Marini mengantar sampai foyer, mengeluh karena ia tidak mau menginap.

"Besok pagi ada rapat."

"Rapat lagi. Kalau kamu sakit karena kerja, jangan harap Nenek kasihan."

"Nenek pasti kasihan."

"Tidak."

"Pasti."

Bu Marini memukul lengannya pelan. "Kurang ajar."

Wajah Arkan melunak.

Naura berdiri di belakang Pak Jaya. Ia melihat momen itu diam-diam. Di balik wajah dingin dan kalimat pendek, Arkan bukan cucu yang tidak peduli. Ia hanya tidak tahu cara tinggal.

Sebelum masuk mobil, Arkan menoleh ke arah Naura.

"Mbak Naura."

"Iya, Pak?"

"Kalau Nenek memaksa senam lebih dari batas, kabari saya."

Bu Marini langsung protes. "Pengkhianat! Kamu mau menjadikan Naura mata-mata?"

Arkan mengabaikan protes itu.

Naura menjawab, "Saya akan kabari Pak Jaya lebih dulu."

"Kabari saya juga."

Nada itu masih datar.

Tapi permintaannya jelas.

Naura mengangguk. "Baik, Pak."

Mobil hitam itu pergi meninggalkan halaman.

Bu Marini berdiri cukup lama memandang gerbang.

"Dia anak baik," katanya tiba-tiba.

Naura tidak menjawab.

"Hanya terlalu lama diajari bahwa perasaan tidak boleh mengganggu pekerjaan."

Kalimat itu menampar Naura lebih keras daripada yang seharusnya.

Bu Marini menoleh dan tersenyum kecil.

"Kamu juga begitu, ya?"

Naura menggenggam nampan lebih erat.

"Mungkin, Bu."

"Kalau begitu, kalian berdua sama-sama perlu belajar."

"Belajar apa?"

Bu Marini berjalan kembali ke dalam rumah dengan bantuan walker.

"Belajar pulang sebelum terlambat."

Naura berdiri di foyer, mendengar suara langkah Bu Marini menjauh.

Di luar, gerbang sudah tertutup.

Tetapi entah kenapa, rumah itu terasa lebih ramai setelah Arkan pergi.

Seolah laki-laki itu meninggalkan sesuatu yang belum selesai di udara.

1
Rahman Hayati
mantul lanjut terus
jgn setengah 2 ya
Lili Inggrid
ceritanya bagus
Yusar bin ajo
cerita yg sangat bagus sekali
Yusar bin ajo
semangat ya author ceritanya sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!