NovelToon NovelToon
Takdir Baru di Malam Lamaran

Takdir Baru di Malam Lamaran

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23 - Bu Ratna Menjual Air Mata

Bu Ratna tidak pernah datang tanpa membawa alasan yang terlihat suci.

Kali ini, alasannya adalah kesehatan Bella.

Ia datang ke rumah kecil Raka menjelang sore, ketika Nadia sedang menjemur sarung bantal dan Raka membaca di ruang tamu. Bu Ratna tidak sendiri. Ia membawa Eyang Marni dan Pak Darto. Bella tidak ikut.

Dari wajah mereka, Nadia tahu ini bukan kunjungan biasa.

Ia membuka pintu, tapi tidak langsung mempersilakan masuk.

"Ada apa?"

Eyang Marni langsung kesal.

"Begitu caramu menyambut orang tua?"

"Kalau tamu datang memberi kabar, saya sambut. Kalau datang mengambil sesuatu, saya tanya dulu."

Pak Darto tampak malu.

Bu Ratna mengusap mata.

"Nadia, Ibu datang bukan untuk bertengkar."

"Bagus."

"Bella sejak semalam tidak berhenti menangis. Dia merasa sangat tertekan. Arman juga masih labil. Kalau keadaan terus begini, Ibu takut sesuatu yang buruk terjadi."

Nadia menatapnya.

"Lalu?"

Bu Ratna tersendat oleh jawaban pendek itu.

"Kamu kakaknya."

"Sekarang tantenya juga."

Eyang Marni memelotot.

"Jangan kurang ajar."

Raka muncul di belakang Nadia.

"Bu, Pak, Eyang, silakan duduk di teras. Nadia baru selesai beres-beres."

Nadia menoleh. Raka memberi tatapan kecil: di teras, bukan dalam rumah.

Nadia setuju.

Mereka duduk di teras. Nadia membuat teh, bukan karena ingin menyenangkan, tapi karena ia tidak mau rumahnya disebut tidak tahu adab. Namun ia hanya menyajikan teh dan pisang rebus. Tidak lebih.

Bu Ratna memulai lagi.

"Nadia, Ibu ingin kamu bicara dengan Pak Hendra."

"Tentang?"

"Agar akad Bella dan Arman dipercepat."

Nadia mengangkat cangkir.

"Tidak."

Eyang Marni hampir tersedak.

"Kamu bahkan belum mendengar selesai!"

"Sudah jelas."

Bu Ratna menahan napas.

"Nadia, kamu tahu posisi Bella sulit. Semakin lama akad ditunda, semakin banyak orang bicara. Kamu perempuan, harusnya paham."

Nadia meletakkan cangkir.

"Saya paham. Karena malam lamaran saya dulu juga dibicarakan orang."

Pak Darto menunduk.

Bu Ratna berkata lirih, "Karena itu Ibu minta kamu punya hati."

"Hati saya tidak dipakai untuk mempercepat pernikahan yang bahkan calon pengantinnya belum siap."

"Arman hanya takut."

"Bella juga takut."

"Mereka butuh kepastian."

"Mereka butuh kejujuran."

Bu Ratna menatap Nadia seperti tidak mengenalnya.

Nadia balas menatap.

Dulu, Bu Ratna bisa menggerakkan rumah dengan satu tangisan. Pak Darto akan panik. Eyang Marni akan membela. Bella akan mendapat apa yang ia mau. Nadia akan dipanggil tidak punya hati kalau menolak.

Sekarang tangisan itu menabrak pintu tertutup.

Eyang Marni menunjuk Raka.

"Raka, kamu sebagai suami harus menasihati Nadia. Perempuan kalau terlalu keras nanti rumah tangganya panas."

Raka duduk tenang.

"Menurut saya Nadia sedang bicara masuk akal."

"Kamu dibutakan istri."

"Kalau yang Eyang maksud buta karena tidak mau mengorbankan istri saya demi menutup kesalahan orang lain, saya terima."

Eyang Marni terdiam karena tidak menyangka Raka menjawab sepanjang itu.

Nadia menahan senyum.

Bu Ratna mengganti sasaran.

"Mas Raka, Bella itu masih muda. Dia memang salah, tapi kalau semua orang terus menghukumnya, dia bisa hancur."

Raka menatapnya.

"Bu Ratna, tidak semua akibat adalah hukuman."

Bu Ratna kehilangan kata.

Pak Darto akhirnya bicara.

"Nadia, Bapak tahu ini tidak adil untukmu. Tapi kalau kamu bisa membantu sedikit..."

Nadia menatap bapaknya.

"Pak, bantuan seperti apa yang Bapak minta?"

Pak Darto tampak bingung.

"Ya... bicara baik-baik. Pak Hendra mendengarkanmu sekarang."

"Kenapa Pak Hendra mendengarkanku?"

Pak Darto diam.

"Karena aku tidak berbohong," kata Nadia. "Karena aku tidak memutar cerita. Karena aku tidak datang membawa air mata untuk membeli keputusan."

Bu Ratna tersentak.

"Kamu menuduh Ibu?"

"Saya menggambarkan."

"Nadia!"

"Bu Ratna, kalau Bella sakit, bawa ke dokter. Kalau Bella takut, minta Arman memperbaiki sikap. Kalau kalian malu, itu bukan alasan untuk mengatur hidup orang lain."

Eyang Marni berdiri.

"Dasar anak tidak tahu balas budi. Siapa yang membesarkanmu?"

Nadia tertawa pelan.

"Panti asuhan."

Kalimat itu jatuh seperti batu.

Pak Darto menutup mata.

Bu Ratna memucat.

Eyang Marni tercekat, tapi tetap keras.

"Kami menjemputmu kembali."

"Setelah bertahun-tahun."

"Kami memberimu rumah."

"Rumah yang selalu meminta bayar dengan diam."

Raka menatap Nadia. Ia tidak memotong. Ia tahu ini luka yang harus keluar sendiri.

Bu Ratna mulai menangis sungguhan atau pura-pura, Nadia tidak peduli.

"Ibu salah kalau kamu merasa begitu."

"Bu, berhenti memakai kata merasa. Saya tidak merasa dikirim ke panti. Saya memang dikirim. Saya tidak merasa dibedakan. Saya memang dibedakan. Saya tidak merasa diminta mengalah. Saya memang selalu diminta mengalah."

Pak Darto mengusap wajah.

"Nadia, Bapak..."

"Pak, kalau Bapak ingin minta maaf, minta maaf. Jangan bungkus dengan permintaan membantu Bella."

Pak Darto terdiam.

Mulutnya terbuka sedikit. Lalu tertutup lagi.

Ia belum siap.

Nadia sudah menduga.

Bu Ratna berdiri.

"Baik. Kalau kamu tidak mau membantu, Ibu tidak akan memaksa."

"Terima kasih."

"Tapi ingat, kalau sesuatu terjadi pada Bella, kamu jangan menyesal."

Nadia menatapnya dingin.

"Kalau sesuatu terjadi pada Bella, orang pertama yang harus bertanggung jawab adalah Bella dan Arman. Bukan saya."

Bu Ratna pergi dengan mata merah.

Eyang Marni mengomel sepanjang jalan menuju pagar. Pak Darto berjalan paling belakang. Sebelum keluar, ia menoleh pada Nadia.

"Bapak pulang dulu."

Nadia mengangguk.

Tidak ada pelukan. Tidak ada kalimat manis. Tapi untuk pertama kalinya, Pak Darto tidak menyuruhnya menurut.

Setelah mereka pergi, Nadia mengangkat nampan teh.

Raka ikut membantu.

"Kamu baik-baik saja?"

"Iya."

"Tanganmu gemetar."

Nadia melihat tangannya. Benar.

Raka tidak mengambil alih nampan. Ia hanya memegang sisi satunya, membantunya membawa ke dapur.

"Marah tidak selalu berarti tidak kuat," katanya.

Nadia menatapnya.

"Aku tahu."

"Kadang tubuh hanya terlambat menyusul keputusan."

Nadia tersenyum kecil.

"Mas Raka makin pandai bicara."

"Saya belajar dari istriku."

Malam itu, kabar menyebar lagi. Bu Ratna menangis di depan beberapa tetangga, berkata Nadia sudah berubah sejak menikah dengan Raka. Katanya Nadia tidak peduli adik sendiri. Katanya Nadia lupa keluarga setelah masuk Wiratmaja.

Namun kali ini, cerita itu tidak mulus.

Pak Agus, tetangga yang melihat keributan tengah malam, berkata di warung bahwa Bella memang datang menangis ke rumah Nadia. Tukang sayur menambahkan cerita tentang Bu Ratna yang meminta seserahan. Sari juga tidak tinggal diam; ia berkata kepada pelanggan warung bahwa adiknya hanya menolak dijadikan penutup aib.

Air mata Bu Ratna masih laku.

Tapi harganya mulai turun.

Di rumah kecil, Nadia mendengar semua itu dari Sari lewat telepon.

"Kamu marah?" tanya Sari.

"Tidak."

"Tumben."

Nadia melihat Raka sedang menyapu ruang tamu, gerakannya pelan tapi tekun.

"Aku mulai paham. Orang yang menjual air mata akan panik saat pembeli mulai bertanya bukti."

Sari tertawa di seberang.

"Kamu ini..."

Setelah panggilan selesai, Nadia membantu Raka menyapu.

Di luar, langit gelap. Di dalam, rumah kecil mereka terang.

Bu Ratna boleh menangis di mana pun.

Tapi kali ini, Nadia tidak akan membeli.

Keesokan paginya, Sari datang membawa singkong rebus. Ia bilang itu dari Joko, bukan darinya.

"Mas Joko?" Nadia mengangkat alis.

Sari tersenyum malu.

"Katanya untuk Mas Raka. Biar ada teman teh."

Raka menerima dengan sopan, lalu berkata akan membalas dengan memperbaiki rak warung kalau tubuhnya cukup kuat. Sari langsung melarang, tapi wajahnya senang.

Setelah Raka masuk mengambil piring, Sari berbisik, "Nad, sejak kejadian Bu Ratna datang ke warung, Joko lebih sering tanya aku capek atau tidak."

"Bagus."

"Aku jadi aneh sendiri."

"Karena biasanya kita diajari senang sedikit saja harus curiga."

Sari terdiam, lalu mengangguk.

Nadia menggenggam tangan kakaknya sebentar. Kalau Joko berubah baik, mereka akan menerima. Kalau ia mundur lagi, mereka akan mengingatkan.

"Kita benar-benar boleh mengingatkan suami?" tanya Sari pelan.

Nadia menatapnya.

"Boleh. Suami bukan kepala sekolah."

Sari tertawa, lalu cepat menutup mulut karena Raka keluar membawa piring.

Raka pura-pura tidak mendengar, tapi sudut bibirnya bergerak.

"Saya setuju," katanya.

Sari makin malu. Nadia justru merasa pagi itu sedikit lebih ringan daripada kemarin.

1
Murni Sumiarti
Bingung
🤣🤣🤣
Endang Sulistia
di bab atas anak sari namanya Rani...trus mereka buka warung ..🤔🤔kok makin bingung ya thor🤦🤦
Endang Sulistia
bingung mbak Lilis apa Bu Lilis 🤦🤦
Endang Sulistia
Arman cucu pak Hendra,trus ortunya siapa ya..🤔🤔
Endang Sulistia
🤭🤣🤣🤣 biar hemat ya
Endang Sulistia
setajam silet ya nad
Endang Sulistia
oke Tante..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
🤪🤪🤪🤪
ria sopingi
gw bingung cerita ini, raka adik Hendra tp manggil lilis ibu sementara si Arman manggil ibu katanya keponakan raka hadohhhh
Yan Wui
Kok anaknya sari mana ya kak
chataleya
sakit jiwa nih Arman 🤭
Ari Peny
d sini rada bingung kok sari panggil kak k nadia dan aq penasaran raka kerjanya apa kok uangnya d pakai buat arman
chataleya
dasar Bella.... andalannya cuma tangisan...
chataleya
semestinya keluarga adalah tempat yang teraman bukan membuat rasa terancam. gimana sih pak Darto??!!!
chataleya
sebenarnya Nadia kehilangan. tapi kehilangan kesempatan masuk neraka rumah tangga bersamamu Arman. 🤣 dan kesempatan itu diambil Bella 🤭
chataleya
untung ada mbak sari....👍
chataleya
bagaimana Arman, apa kamu seperti merasa kehilangan sesuatu??? 🤭
chataleya
duar..duar..duar... Shok kan kaliannnn... 🤣🤣🤣 jantung aman kan Arman... Bella... 🙈
chataleya
detik-detik kemerdekaan Nadia 😍
chataleya
aku bacanya seperti sedang menonton film India 🤭 jadi agak greget gitu dengan kelakuan keluarga Nadia 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!