NovelToon NovelToon
KONTRAK LIMA MILIAR

KONTRAK LIMA MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32. PULANG MEMBAWA KENANGAN

BAB 32.Pulang Membawa Kenangan

Pagi itu udara pegunungan masih terasa dingin ketika Hagia dan Kalandra selesai menurunkan koper ke teras vila. Langit baru berubah menjadi biru pucat, sementara kabut tipis masih menggantung di sela-sela pepohonan.

Mobil yang akan membawa mereka belum tiba. Kalandra berdiri di dekat koper sambil memeriksa beberapa pesan di ponselnya. Di sisi lain, Hagia memandang pelataran vila dengan senyum tipis. Rasanya baru kemarin mereka datang, tetapi dua hari itu berlalu begitu cepat.

Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari arah jalan setapak. Pemilik vila datang lebih dulu sambil membawa dua keranjang rotan yang penuh berisi buah-buahan segar. Di belakangnya menyusul pemilik kebun stroberi, pemilik kebun jeruk, serta beberapa warga lain yang kemarin sempat mereka temui.

"Selamat pagi."

"Pagi, Bu."

Hagia buru-buru menghampiri.

"Ini apa? Banyak sekali."

Pemilik vila tersenyum lebar.

"Yang ini memang pesanan Pak Kalandra."

Ia menunjuk beberapa kardus yang sudah disusun rapi.

"Tapi sisanya oleh-oleh dari kami."

Hagia langsung menoleh kepada Kalandra.

"Sebanyak ini?"

"Kemarin panennya bagus," sahut salah seorang petani sambil terkekeh. "Lagian Mbak Hagia semangat sekali bantu petik buah. Kami jadi ikut senang."

"Anggap saja kenang-kenangan."

Hagia tampak sungkan.

"Terima kasih banyak. Apa tidak merepotkan."

"Jangan ditolak," ujar pemilik vila. "Kalau nanti kangen tempat ini, tinggal makan buahnya."

Semua tertawa kecil. Belum sempat percakapan berlanjut, beberapa anak kecil yang sejak kemarin akrab dengan Hagia datang berlarian dari arah belakang.

"Kak!"

Salah seorang bocah laki-laki menghentikan langkah tepat di depan Hagia. Dengan wajah malu-malu, ia mengeluarkan ponsel dari sakunya.

"Kak... boleh foto bareng?"

Hagia langsung tersenyum. "Boleh."

Anak-anak yang lain segera berkumpul di sekelilingnya. Hagia ikut berdiri di tengah mereka. Salah seorang anak sudah mengangkat ponselnya.

"Tiga... dua--"

"Tunggu."

Suara Kalandra membuat semuanya spontan menoleh. Ia berjalan santai mendekat.

"Dia istri saya."

Anak-anak itu saling berpandangan dengan wajah bingung.

"Kalau mau foto..." lanjut Kalandra dengan wajah setenang biasanya, "harus izin dulu sama suaminya."

Suasana mendadak hening selama beberapa detik. Pemilik vila sampai menepuk pelan lengan suaminya sambil mengerutkan kening.

Wajah Kalandra tetap datar.

"Prosedurnya memang begitu."

Bukannya bergeser, Kalandra justru melangkah masuk ke tengah kerumunan.

"Kalau mau foto..." Ia berdiri tepat di antara Hagia dan anak-anak.

"minimal ajak suaminya juga."

Tawa pun pecah. Hagia langsung menyikut lengan Kalandra sambil menggeleng. "Anda ini..."

"Baik, Pak!" sahut salah seorang bocah dengan semangat.

Akhirnya mereka bergantian mengambil foto. Kadang semua berdiri berjajar. Kadang anak-anak mengangkat keranjang stroberi hasil panen. Kadang Hagia diminta berjongkok agar sejajar dengan mereka. Bahkan salah seorang anak kecil bersikeras menyuruh Kalandra ikut mengangkat dua jempol ketika difoto. Meski wajahnya tetap datar, pria itu akhirnya menurut juga.

"Pak, jangan tegang. Senyum sedikit."

"Saya sedang senyum."

"Itu bukan senyum."

"Mungkin kameranya yang kurang bagus." Ia mengeluarkan ponselnya.

"Coba pakai yang ini."

Gelak tawa kembali memenuhi pelataran vila. Beberapa foto terakhir bahkan diambil oleh pemilik vila menggunakan ponsel Kalandra agar seluruh anak-anak, Hagia, dan Kalandra bisa masuk ke dalam satu bingkai.

Tak ada yang menyangka, perjalanan dua hari itu telah membuat orang-orang yang sebelumnya sama sekali tidak saling mengenal menjadi begitu akrab.

***

Mobil melaju perlahan meninggalkan kawasan vila. Jalanan pegunungan yang berkelok membelah hamparan kebun dan deretan pohon pinus yang semakin lama semakin menjauh di balik kaca belakang. Tidak ada lagi suara tawa anak-anak, aroma jagung bakar, ataupun udara dingin yang menyambut setiap kali pintu vila dibuka.

Kini hanya tersisa deru mesin mobil dan sesekali suara ban yang melintasi jalan berbatu. Hagia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Pandangannya tidak lepas dari jendela, mengikuti setiap sudut perbukitan yang perlahan menghilang. Belum genap satu jam perjalanan. Namun, entah mengapa, ia sudah mulai merindukan tempat itu.

Kalandra melirik sekilas ke arah wanita di sampingnya.

"Nanti kita ke sana lagi."

Hagia menoleh. "Ya, kapan-kapan."

Ajakan sederhana itu cukup membuat senyum kecil kembali menghiasi wajah Hagia.

"Tuan."

"Hm?"

"Terima kasih liburannya."

Kalandra tetap menatap jalan di depannya.

"Terima kasih juga."

Hagia mengernyit. "Untuk apa?"

"Sudah menemani perjalanan dinas saya."

Hagia langsung melirik dengan tatapan tidak percaya.

"Sudah ketahuan modus tapi tetap mau menyebutnya perjalanan dinas?"

Kalandra mengangguk sembari menggerakkan alisnya.

Hagia menggeleng lalu mengalihkan pandangan lurus ke depan

Suasana di dalam mobil kembali tenang. Namun, kali ini keheningan itu terasa jauh berbeda. Tidak lagi canggung. Tidak pula dipenuhi pikiran masing-masing. Sesekali keduanya saling melempar senyum kecil, lalu kembali menikmati pemandangan yang terus berganti di sepanjang perjalanan menuju Jakarta.

***

Entah berapa lama Hagia tertidur.

Dalam mimpinya, tawa anak-anak kembali memenuhi udara. Seseorang memanggilnya untuk mendekat, sementara beberapa tangan kecil melambai-lambaikan ponsel, mengajaknya berdiri bersama. Ia hanya sempat tersenyum sebelum cahaya putih memenuhi pandangannya.

Klik.

Bunyi rana kamera terdengar pelan.

Hagia perlahan membuka mata.

Beberapa kali ia berkedip sebelum kesadarannya benar-benar kembali. Senyum yang tadi masih tersisa di wajahnya perlahan memudar ketika pemandangan di luar jendela berubah menjadi deretan lampu basement penthouse. Ternyata... ia hanya bermimpi.

Kepalanya menoleh ke samping.

Kalandra duduk menyamping menghadap ke arahnya. Ponsel masih berada di tangannya, seolah sejak tadi hanya sedang memainkan sesuatu di layar.

"Anda sedang apa?"

"Menunggu."

"Nungguin saya?" Hagia berdecak. "Kenapa tidak langsung dibangunkan saja?"

Merasa tak enak karena membuat Kalandra menunggu, Hagia langsung bergegas ingin membuka pintu. Melihat hal itu, ​Kalandra menahan pergelangan tangan Hagia tepat saat jemari wanita itu menyentuh gagang pintu mobil. Pandangan Kalandra sendiri tak beralih, tetap terkunci pada layar ponsel di genggamannya.

​"Kenapa, Tuan?"

​"Diam dulu sebentar."

​Hagia mengernyit.

​"Minimal, rapikan rambutmu sebelum keluar."

​Wajah Kalandra kembali datar seperti papan tulis. Kehangatan dua hari terakhir di pegunungan menguap begitu saja, seolah tertinggal di dataran tinggi.

​Hagia mendesah pelan. Ia menarik pelindung matahari, membuka cermin kecilnya, lalu merapikan tatanan rambutnya yang mencolok kusam dan berantakan.

​"Sudah rapi." Tangannya kembali hinggap di gagang pintu. "Boleh turun sekarang?"

​Kalandra melirik sekilas. Hanya dua detik, lalu mengangguk tipis tanpa mengeluarkan suara. Bukan masalah rambut yang sudah dirapikan, dia hanya memastikan Hagia tidak keluar sebelum mengumpulkan kesadarannya.

Di sisi lain, Hagia terkekeh mendapati Kalandra yang sudah mulai tak banyak bicara. ​"Sudah kembali ke setelan pabrik rupanya." Dia bergumam sambil membuka pintu.

​Beberapa detik kemudian, pintu pengemudi ikut menyatu dengan udara luar. Kalandra turun. ​Di bagasi, suasana tak berubah banyak.

​"Buka bagasinya, Tuan."

​Tanpa bersuara, Kalandra menekan tombol di samping kemudi. Pintu bagasi terangkat perlahan. Hagia langsung mengulurkan tangan meraih kardus buah-buahan yang letaknya paling depan.

​"Jangan semuanya."

​"Kenapa?"

​"Terlalu banyak untuk dimakan berdua."

​"Lalu sisanya?"

​"Bawa ke kantor saja besok. Kamu bagikan."

​Sebelum Hagia sempat menjawab, Kalandra sudah mengangkat koper paling besar dengan satu tangan. Tangan satunya merebut kardus dari dekapan Hagia. Lalu, tanpa keraguan sedikit pun, diangkatnya kardus itu dan dipanggulnya di atas bahu.

​"Kamu bawa koper kecil."

​Hagia mematung. Matanya membulat sempurna. ​Seorang CEO, memanggul kardus buah di pundaknya. Langkahnya konstan tanpa beban.

​"Tuan," Hagia mengambil langkah cepat agar posisinya kembali sejajar. "Padahal bisa minta bantuan sekuriti atau panggil bellboy."

​"Atau, saya yang bawa juga bisa."

​Kalandra menoleh sesaat sebelum masuk ke dalam lift. "Kamu siapkan laporan saja,"

"Laporan apa?"

​Pintu lift menutup pelan. Keheningan langsung menyergap, menyisakan derak halus mesin yang bergerak naik.

​"Perjalanan dinas."

​Hagia mendengkus. "Itu lagi."

​"Atau... siapkan jawaban."

​Hagia menoleh penuh. "Jawaban?"

​"Teman kamu sekarang banyak. Besok mereka pasti nanya."

​Langkah pikiran Hagia mendadak terhenti. Bayangan wajah-wajah di kantor langsung bermunculan. Vanessa. Para sekretaris. Orang-orang yang beberapa hari lalu masih santai menculik dirinya untuk makan siang. ​Mereka pasti mencecar habis-habisan.

​Ting!

​Pintu lift terbuka. Kalandra melangkah keluar lebih dulu tanpa membuang waktu. Sementara Hagia masih sibuk memikirkan banyak kemungkinan.

​"Ayo."

​Hagia buru-buru menyusul. Langkahnya sedikit gelisah.

Next--->

1
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋"ASTI"•§͜¢•🦢🍒
makhluk langka mungkin Hagia 🤭
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋"ASTI"•§͜¢•🦢🍒
Hagia jadi penasaran
Nety
bukan kah mereka berangkat bawa mobil kan kalandra sendiri yg nyetir,, knp skrng jadi nunggu jemputan ?? d gondol maling kah😅
Nety
seru,, meskipun pernikahan mereka di awali dgn transaksional tapi akhir nya cinta tumbuh seiring berjalanya waktu,, perlakuan kalandra terhadap hagia yg tidak menuntut
perhatian" kecil kapada pasangan dan saling pengertian dari kedua nya membuat mereka nyaman menjalani bahtera rumah tangga..

d tunggu bab selanjut nya mbu' na 🤩🤩
Nety
😂😂😂 kejengkelan hagia d balas ke tenangan se orang paksu 😅😅 yg sbr ya my istri 😅
Nety
benih benih cembokur mulai tumbuh 😅😂
𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋"ASTI"•§͜¢•🦢🍒: kamu mulai cemburu kalandra
total 1 replies
Nety
aku ikut tegang, berasa ada d dalam novel🤭
Nety
apakh ini jebakan danu??
Nety
ke nya CEO kita ini lagi pura pura tidak tau tentang identitas hagia 😄
🫩¹
jreng jreng jreng... next.. lnjut lagi 👉
🫩¹
Xavier itu apanya Hagia thor? Daddy nya kah?... ahhhh aku penasaran 🙈
🫩¹
emang nama Xavier itu siapa? penasaran 🙈
🫩¹
nah kan ada sangkut pautnya Danu dengan kejadian Hagia... next mbu' 👉
🫩¹
aku curiga sama Danu dan ibu sambungnya 🫣
🫩¹
mbuna suka ngegantung ya /Facepalm/
🫩¹
aku sudah terlanjur curiga sama Danu 😅
🫩¹
ada yg sengaja gak ya nguncinya🫢
🫩¹
tunjukkan pesonamu Hagia🤭😅
🫩¹
mulai curiga 🤭
🫩¹
benih2 sudah mulai tumbuh 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!