NovelToon NovelToon
Batas Dimensi Takdir

Batas Dimensi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.

Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.

Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.

Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?

Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.

Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.

“Kau... masih hidup?”

Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Jembatan Dimensi

Di dunia nyata, Alena akhirnya sampai di rumah Raka. Tangannya masih sedikit gemetar saat membuka pintu. Dia masuk, mengunci dari dalam, lalu menyandarkan punggung ke daun pintu sambil menghela napas panjang. Tasnya dia letakkan di sofa. Ponsel diperiksa—tidak ada pesan baru dari Raka. Hanya keheningan yang menyambutnya.

Alena berjalan pelan menuju dapur, menuang air minum, tapi gelas itu hanya digenggam tanpa diminum. Firasatnya tiba-tiba tidak tenang. Dada sesak, seolah ada sesuatu yang menekan. Dia menatap sekitar rumah yang kosong. Kursi di ruang tamu, meja, jendela… semuanya terasa sunyi sekali tanpa kehadiran Raka. “Ada apa ini…” gumamnya pelan.

Semakin lama, rasa gelisah itu semakin kuat. Bukan takut pada preman tadi. Bukan takut pada bayangan di cermin. Tapi sesuatu yang lebih dalam—seolah ada ikatan tak terlihat yang menariknya dan memberi tahu bahwa Raka sedang dalam bahaya. Alena menaruh gelas, lalu duduk di sofa. Dia memeluk lututnya, menatap pintu masuk dengan pandangan kosong. “Raka… kau di mana?” bisiknya. “Kenapa aku merasa… kau sedang terluka?”

Tidak ada jawaban. Hanya detak jam dinding yang terdengar semakin keras di tengah keheningan. Sementara itu, di dimensi lain... Kabut abadi bergolak hebat di sekitar jembatan pembatas waktu—sebuah struktur kuno yang menghubungkan Istana Bulan Emas dengan dunia manusia. Jembatan itu terbuat dari kristal keperakan yang kini retak di beberapa bagian, memancarkan cahaya tidak stabil.

Raka berdiri di tengah jembatan, pedang keemasannya masih terangkat. Tubuhnya penuh debu dan noda darah. Di lengannya yang kiri, sebuah goresan panjang baru saja terbuka—pedang musuh berhasil menyayatnya saat dia melindungi salah satu prajurit setia. Darah merah gelap menetes ke permukaan kristal, tapi Raka tidak mundur. “Tahan mereka!” teriaknya serak. “Jangan biarkan satu pun melewati jembatan ini!”

Sekelompok pemberontak menyerbu dari ujung jembatan. Raka bergerak cepat, mengayunkan pedangnya dengan presisi. Satu, dua, tiga lawan terjatuh. Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Seorang pemberontak bertubuh besar menerjang, mengayunkan pedang besar ke arah dada Raka. Dia berhasil menangkis, tapi kekuatan lawan membuatnya terdorong mundur. Goresan di lengannya semakin perih, darah mengalir lebih deras.

“Yang Mulia, mundur!” teriak seorang prajurit setia. “Luka Anda—”

“Tidak!” potong Raka. Matanya menyala keemasan, sama seperti cahaya di pedangnya. “Jika jembatan ini jatuh, retakan akan menelan dunia manusia. Alena… semua orang di sana akan terkena dampaknya.”

Dia menegakkan tubuh, mengabaikan rasa sakit yang menjalar dari lengan hingga bahu. Pedangnya diangkat lagi. “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”

Dengan teriakan perang, Raka kembali menerjang ke tengah barisan musuh. Setiap ayunan pedangnya melindungi jembatan pembatas waktu, meski tubuhnya semakin penuh luka. Darah menetes di kristal, bercampur dengan kabut yang semakin tebal.

Di kejauhan, tembok istana terus retak. Tapi Raka tetap bertarung, menahan garis pertahanan dengan sekuat tenaga. Di dunia manusia, Alena masih duduk di sofa, memeluk lututnya lebih erat. Firasatnya semakin kuat, seolah jantungnya berdetak seirama dengan sesuatu yang jauh di sana. Air matanya menetes tanpa sadar. “Raka… tolong… kembali dengan selamat.”

Beberapa saat kemudian, keheningan di rumah Raka pecah. Cermin besar di dinding ruang tamu tiba-tiba beriak hebat. Bayangan gelap terbentuk dengan cepat. Kali ini, sosok yang muncul bukan pria berjubah sebelumnya, melainkan seorang jenderal berzirah kusam. Wajahnya penuh luka dan goresan, darah masih mengering di pelipis dan bibirnya. Napasnya tersengal, seolah baru saja keluar dari medan perang.

“Yang Mulia Ratu…” suaranya serak, penuh urgensi. “Aku datang membawa kabar buruk.”

Alena langsung berdiri dari sofa, tubuhnya kaku. “Kau siapa? Apa yang kau inginkan?”

Jenderal itu menunduk hormat sejenak, meski gerakannya terlihat lemah. “Aku Jenderal Kael, pengawal pribadi Raja. Istana sedang dalam kekacauan. Raja Raka… terbaring akibat luka parah di tubuhnya. Beliau bertarung sendirian melindungi jembatan pembatas waktu hingga ambruk. Jika Yang Mulia tidak segera kembali… beliau mungkin tidak akan bertahan hingga fajar.”

Alena membeku. Nama itu… Raja Raka.

“Tidak,” gumamnya, menggeleng pelan. “Kau berbohong. Raka hanya… dia hanya bosku. Dia tidak mungkin—”

“Beliau adalah Raja Bulan Emas,” potong Jenderal Kael tegas, meski suaranya melemah. “Dan Yang Mulia adalah tunangan Anda yang dilindungi Anda di dunia manusia. Waktu tinggal sedikit. Kembalilah, Yang Mulia. Hanya darah ratu yang bisa menstabilkan segel dan menyelamatkan raja.”

Bayangan itu mulai pudar, seolah kekuatan yang menopangnya sudah habis. “Segera… sebelum terlambat…”

Cermin kembali normal. Hanya bayangan Alena sendiri yang tersisa. Alena berdiri gemetar. Jantungnya berdegup kencang. Raja Raka. Tunangan. Luka parah.

Dia tidak langsung percaya. Bisa saja ini tipuan dari istana untuk memaksanya kembali. Tapi firasat buruk yang sejak tadi menghantuinya… semakin kuat. Seolah membenarkan kata-kata jenderal itu. Alena mengepalkan tangan. Dia tidak bisa hanya duduk diam.

Dengan cepat, dia mengambil jaket dan ponsel, lalu keluar dari rumah Raka. Langkahnya terburu-buru di bawah cahaya lampu jalan. Pikirannya kacau. Dia harus mencari jalan keluar yang terbaik—cara untuk memastikan apakah Raka benar-benar dalam bahaya, tanpa langsung menyerahkan diri pada istana.

Di tikungan jalan yang sepi, tiba-tiba seorang wanita tua berkerudung gelap duduk di pinggir trotoar. Di depannya tergeletak beberapa kartu usang dan sebuah mangkuk kecil. Wanita itu mengangkat wajah keripilnya saat Alena lewat.

“Gadis…” suaranya parau, tapi jelas. “Langkahmu terburu-buru. Hati mu lebih kacau lagi.”

Alena berhenti, menatapnya waspada. “Saya tidak punya waktu.”

Peramal tua itu tersenyum tipis, seolah sudah tahu. “Tunanganmu sedang terbaring di antara hidup dan mati. Jika kau ingin melihatnya hidup… kau harus menyelamatkannya sendiri. Bukan orang lain. Bukan prajurit. Bukan utusan. Hanya kau.”

Alena membelalak. “Bagaimana kau—”

“Darah bulan sudah mulai memanggil,” lanjut wanita itu pelan. “Semakin lama kau menunda, semakin dalam luka di tubuhnya. Pergilah sebelum jembatan benar-benar runtuh.”

Alena berdiri kaku di tempat. Angin malam berembus, membawa kata-kata peramal itu semakin dalam ke telinganya.

Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Alena berbalik dan berjalan cepat. Kali ini arahnya lebih tegas—dia harus menemukan cara untuk mencapai Istana Bulan Emas, meski firasatnya bilang perjalanan itu tidak akan mudah. Di belakangnya, peramal tua itu menatap kepergiannya sambil bergumam pelan, “Akhirnya… ratu mulai berjalan kembali ke takdirnya.”

Alena kembali ke rumah Raka dengan langkah terburu-buru. Pintu ia tutup dan kunci dari dalam, napasnya masih belum stabil setelah pertemuan dengan peramal tua tadi.

Firasatnya terus berbisik... liontin dari pelelangan. Saat itu Raka bilang kalung itu bukan barang biasa. Sekarang, firasat Alena bilang benda itulah yang bisa membuka pintu dimensi. Tanpa membuang waktu, Alena menuju ruang kerja Raka di lantai bawah. Ruangan itu rapi dan minim barang. Meja kayu gelap, lemari arsip, rak buku, dan ada brankas kecil yang terletak di sudut ruangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!