Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.
Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.
Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Pintu Kantor Hukum Adiwangsa
Pukul tujuh lima puluh delapan, Alexander Wijaya berdiri di depan pintu kaca Kantor Hukum Adiwangsa.
Kartu akses sementara dari Gunawan Kusuma terasa tipis di tangannya, tetapi cukup untuk membuka pintu yang kemarin hanya bisa ia datangi sebagai tamu. Di layar ponselnya, tagihan SPP Nathan Wijaya masih belum berubah. Ia menatap angka itu sekali, lalu mengunci layar.
Hari ini ia tidak punya waktu untuk merasa miskin.
Pintu terbuka.
Resepsionis yang kemarin menemuinya langsung berdiri. "Selamat pagi, Pak Alexander. Pak Gunawan sudah memberi instruksi. Bapak diminta ke ruang rapat kecil dulu."
"Terima kasih."
Tiga staf junior yang berdiri di dekat mesin kopi menoleh. Salah satunya, pria muda dengan kemeja mahal dan dasi terlalu mencolok, menatap kartu sementara di dada Alexander.
"Oh, ini yang kasus restoran itu?" bisiknya, tidak cukup pelan.
Yang lain tertawa kecil. "Cepat juga naik kelas. Dari Polres langsung masuk Adiwangsa."
Alexander mendengar semuanya. Ia hanya berjalan melewati mereka.
Di ruang rapat kecil, Gunawan sudah menunggu dengan satu map tebal.
"Tepat waktu," kata Gunawan.
"Bapak bilang jangan telat."
"Bagus. Di sini orang yang pintar tapi terlambat tetap menyusahkan." Gunawan mendorong map itu ke arah Alexander. "Sebelum bicara soal kontrak magang, kerjakan ini."
Alexander membuka map.
Berkas sengketa wanprestasi sederhana. Klien kecil menagih pembayaran jasa desain interior dari sebuah kafe premium. Nilainya tidak besar untuk ukuran firma besar, tetapi berkasnya berantakan: kronologi meloncat, bukti transfer tercampur, tangkapan pesan tanpa tanggal jelas, dan draf somasi yang lebih mirip curahan hati daripada dokumen hukum.
"Tugasmu," kata Gunawan, "rapikan kronologi, pisahkan bukti, dan buat draf somasi baru. Empat puluh menit."
Alexander mengangkat mata. "Empat puluh menit?"
"Terlalu lama?"
"Cukup."
Gunawan menahan senyum. "Mejamu di luar. Pojok dekat rak arsip."
Meja itu benar-benar di pojok.
Lebarnya tidak sampai satu meter, kursinya agak rendah, dan rak arsip di belakangnya membuat ruang gerak sempit. Di sebelahnya ada printer lama yang kerap berbunyi kasar. Staf junior berdasi mahal tadi lewat sambil membawa kopi.
"Kalau butuh bantuan format, tanya saja," katanya. "Tapi biasanya anak baru mulai dari scan dokumen, bukan langsung somasi."
Alexander menyalakan komputer. "Terima kasih. Saya mulai dari membaca dulu."
"Wah, idealis."
Pria itu pergi dengan tawa kecil.
Alexander membuka dokumen kosong.
Panel Status muncul tipis di sudut pandangannya.
Penyusunan Dokumen Hukum aktif.
Basis Data Hukum aktif.
Logika Hukum aktif.
Ia tidak membiarkan Sistem menulis untuknya. Sistem hanya membuat rak di kepalanya menjadi terang. Tanggal, bukti, kewajiban kontraktual, somasi pertama, opsi mediasi, batas waktu pembayaran, ancaman gugatan perdata. Semua berpindah dari tumpukan kacau menjadi urutan yang bisa dipakai.
Menit kesepuluh, ia sudah memisahkan bukti menjadi tiga folder.
Menit kedua puluh, kronologi satu halaman selesai.
Menit ketiga puluh lima, draf somasi tercetak.
Printer tua menggeram panjang, lalu mengeluarkan empat lembar kertas.
Staf junior berdasi mahal berhenti di belakangnya. Senyumnya hilang ketika melihat struktur dokumen itu: identitas para pihak, dasar hubungan hukum, uraian kewajiban, bukti pembayaran parsial, wanprestasi, tuntutan pembayaran, tenggat tujuh hari kerja, dan pilihan mediasi sebelum gugatan.
"Itu... sudah selesai?"
Alexander mengambil kertas dari printer. "Belum. Saya perlu cek salah ketik."
"Pak Gunawan minta empat puluh menit."
"Masih ada tiga menit."
Pria itu tidak menjawab.
Alexander masuk kembali ke ruang rapat tepat saat jarum jam menyentuh batas waktu. Gunawan membaca draf somasi tanpa komentar selama beberapa menit. Ruangan terasa sunyi, tetapi tidak kosong. Ada tekanan, dan tekanan itu punya arah.
Akhirnya Gunawan meletakkan kertas.
"Siapa yang mengajarimu menyusun bagian tuntutan seperti ini?"
"Berkas perkara kecil. Banyak contoh buruk. Saya belajar dari membetulkannya."
"Kau tidak langsung mengancam gugatan. Kau beri ruang mediasi dulu."
"Klien kecil butuh uangnya kembali, Pak. Kalau langsung gugatan, biaya dan waktu bisa memakan nilai tagihannya."
Gunawan menatapnya lebih lama.
Pintu ruang rapat terbuka. Staf junior berdasi mahal masuk bersama seorang advokat senior perempuan yang membawa tablet.
"Pak Gunawan," kata perempuan itu, "saya dengar anak baru sudah diberi berkas Kafe Lavanta?"
"Sudah selesai," jawab Gunawan.
Perempuan itu mengangkat alis. "Empat puluh menit?"
Gunawan menyerahkan draf ke tangannya. "Tiga puluh tujuh."
Staf junior itu menunduk pura-pura melihat tablet.
Perempuan senior membaca cepat. Pada halaman kedua, ia berhenti. "Bagian bukti transfer dipisah dari chat. Bagus. Di berkas lama, paralegal kita mencampurnya."
Gunawan menoleh kepada staf junior. "Siapa yang menyusun berkas lama?"
Wajah pria itu menegang. "Saya, Pak. Tapi datanya memang berantakan dari klien."
"Data berantakan adalah alasan klien membayar firma hukum, bukan alasan kita menyerahkan berkas berantakan." Suara Gunawan tetap datar. Justru itu membuatnya lebih berat.
Alexander tidak ikut menatap. Ia tahu kapan kemenangan perlu diumumkan dan kapan cukup dibiarkan terlihat.
Perempuan senior mengembalikan kertas. "Draf ini bisa dipakai setelah revisi kecil."
Gunawan mengangguk. "Alexander, mulai hari ini statusmu Advokat Magang di Kantor Hukum Adiwangsa. Meja pojok itu milikmu sampai kau membuktikan perlu meja yang lebih besar."
"Baik, Pak Gunawan."
"Gajimu belum besar." Gunawan membuka map lain. "Tapi cukup untuk tidak membuatmu memilih antara uang kos dan SPP adikmu."
Alexander terdiam sepersekian detik.
Kalimat itu tidak terdengar seperti belas kasihan. Lebih seperti seseorang meletakkan batu pijakan pertama di sungai deras.
"Terima kasih, Pak."
"Administrasi akan memproses uang transport bulan pertama hari ini," lanjut Gunawan. "Bukan hadiah. Itu hak pegawai magang yang resmi mulai bekerja."
Ponsel Alexander bergetar tidak lama setelah staf administrasi memotret KTP dan kartu advokat magangnya. Notifikasi masuk. Jumlahnya tidak besar, tetapi cukup untuk satu tindakan yang sejak kemarin tertunda.
Alexander membuka aplikasi bank, memasukkan nomor virtual account sekolah Nathan, lalu menekan bayar.
Berhasil.
Beberapa detik kemudian, pesan Nathan masuk.
Bang, SPP sudah masuk. Makasih. Aku janji nilai ujianku aman.
Alexander menutup layar sebelum siapa pun melihat wajahnya melunak.
"Jangan berterima kasih dengan kata-kata. Besok pagi kau ikut sidang kecil di Pengadilan Negeri Kota Cahaya. Kasus sederhana, tapi lawan akan meremehkanmu. Aku ingin lihat apakah tulisanmu bisa bertahan ketika dibantah langsung."
Panel Status berkedip.
Tugas profesional baru terdeteksi.
Penyusunan Dokumen Hukum meningkat.
Persiapan Debat Persidangan terbuka.
Di luar ruang rapat, beberapa staf yang tadi berbisik sudah tidak tertawa. Kartu akses sementara di dada Alexander masih sama. Meja pojoknya juga masih sempit.
Tetapi ketika ia kembali duduk di sana, printer tua di sebelahnya tidak lagi terdengar seperti barang rusak.
Ia terdengar seperti mesin pertama di medan perang.