NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri / Transmigrasi / Healing / Antagonis Jahat / Tamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31: Jatuh ke Pelukan

Tubuh Karina terlempar ke depan.

Ia bahkan belum sempat berteriak ketika sebuah tangan meraih pinggangnya dari samping. Cangkir tebal terlepas dari jemarinya, jatuh di atas karpet lorong dengan bunyi tumpul, lalu menggelinding pendek. Air hangat tumpah membentuk bercak gelap, tetapi cangkir itu tidak pecah.

Sebastian baru saja keluar dari ruang kerja setelah mendengar langkahnya tersendat. Ia berhasil menangkap Karina, tetapi tubuh perempuan itu telanjur membawa dorongan yang kuat. Tumitnya sendiri bergeser di tepi karpet basah.

Mereka terhuyung melewati pintu ruang kerja yang masih terbuka.

Sebastian memutar tubuh agar Karina tidak membentur sisi meja. Punggungnya jatuh lebih dahulu ke sofa dekat pintu, disusul Karina yang mendarat tepat di atasnya.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.

Kedua telapak tangan Karina menekan dada Sebastian. Satu lengan laki-laki itu masih melingkari pinggangnya, menahan tubuh mereka agar tidak ikut meluncur dari sofa. Wajah Karina berada begitu dekat dengan rahangnya sampai ia dapat merasakan hangat napas Sebastian di pelipisnya.

Di bawah telapak tangannya, jantung Sebastian berdetak keras.

Atau mungkin itu jantungnya sendiri.

Karina mengangkat wajah perlahan. Tatapan mereka bertemu dalam jarak yang terlalu dekat untuk disebut wajar. Ia dapat melihat garis lelah tipis di bawah mata Sebastian, juga perubahan kecil di pupilnya saat menyadari posisi mereka.

"Kamu..." Suara Sebastian terdengar lebih rendah daripada biasanya. "Nggak apa-apa?"

Pertanyaan itu memecahkan kebekuan.

"Aku nggak apa-apa." Karina buru-buru menarik sebelah tangannya. "Maaf. Aku tadi nggak lihat anak tangganya."

Ia berusaha bangkit, tetapi telapak kakinya belum menemukan pijakan yang mantap. Tubuhnya kehilangan keseimbangan sekali lagi. Lututnya turun keras ke sisi paha Sebastian, tepat di atas bagian kaki yang pernah ia kompres beberapa hari lalu.

Sebastian mengembuskan napas tertahan. Wajahnya menegang sesaat.

Karina langsung membeku. "Astaga, maaf. Aku nggak sengaja. Sakit, ya? Sini aku lihat."

"Karina, cuma tertekan sedikit."

"Kamu sampai meringis."

Ia tidak menunggu bantahan berikutnya. Kali ini Karina memindahkan tubuh dengan hati-hati, lalu duduk di sisi sofa. Sebastian belum sempat menurunkan tangan dari pinggangnya ketika ia sudah membungkuk ke arah kaki yang cedera.

"Yang ini, kan?"

"Iya, tapi tidak perlu diperiksa."

Karina mendongak. "Kalau ternyata bengkak lagi, siapa yang bakal susah jalan besok?"

Tanpa menunggu jawabannya, ia menggulung ujung celana Sebastian sampai bekas luka lama itu terlihat. Cahaya lampu ruang kerja jatuh di atas jaringan parut yang tidak rata. Tidak ada warna merah baru, tidak ada bengkak, dan suhu kulit di sekitarnya terasa normal saat disentuh.

Karina menghela napas lega.

"Coba gerakkan pergelangan kaki."

Sebastian menurut, meski sorot matanya tidak beranjak dari wajah Karina. Pergelangan kakinya dapat bergerak dengan baik. Karina lalu menekan sangat pelan di sekitar bekas luka, memastikan tidak ada satu titik yang menimbulkan nyeri tajam.

"Sakit di sini?"

"Tidak."

"Kalau di sini?"

"Tidak juga."

Ujung jarinya menyentuh bagian tengah bekas luka. Kulit di sana terasa lebih dingin dan kaku daripada bagian lain. Tiba-tiba Karina teringat pada malam hujan, ketika Sebastian akhirnya menceritakan sedikit tentang luka yang selama ini ia sembunyikan. Tentang seorang anak yang dipaksa menahan sakit, tentang orang dewasa yang semestinya melindungi tetapi justru meninggalkan ketakutan.

Rasa bersalah karena baru saja menekan luka itu bercampur dengan sesuatu yang lebih lembut.

Tanpa sadar, ibu jarinya mengusap bekas luka tersebut dua kali. Gerakannya ringan, hampir seperti hendak menghapus sisa sakit yang sudah tertinggal bertahun-tahun.

Napas Sebastian terhenti sepersekian detik.

Karina belum menyadarinya. Ia masih menunduk, alisnya berkerut saat memperhatikan kaki itu dengan sungguh-sungguh. Beberapa helai rambut jatuh dari belakang telinganya dan menutupi sisi wajah.

Sebastian mengangkat tangan.

Jemarinya menyentuh rambut Karina, lalu menyelipkannya perlahan ke belakang telinga. Gerakan itu begitu alami seolah tangannya sudah hafal apa yang harus dilakukan sebelum pikirannya sempat melarang.

Karina berhenti bernapas.

Ujung jari Sebastian masih berada dekat telinganya. Jarak mereka kembali menyempit karena Karina duduk membungkuk di sisi kakinya. Ruangan itu mendadak terasa terlalu sunyi. Tidak ada suara anak-anak berlarian karena Nathan dan Lucas sudah tidur. Tidak ada dering telepon, tidak ada suara Bi Asih dari lorong.

Hanya detak jantung yang tidak jelas milik siapa.

Karina perlahan mengangkat kepala. Tatapan Sebastian turun kepadanya, tidak lagi setajam ketika sedang memeriksa kebohongan, juga tidak sedingin saat membahas urusan keluarga. Ada kebingungan di sana, tetapi ada pula kehangatan yang membuat dada Karina sesak.

Tangan Sebastian belum menjauh.

Karina baru menyadari bahwa jarinya sendiri masih menyentuh bekas luka di kaki laki-laki itu.

Ia segera menarik tangan dan menegakkan tubuh. "Sudah nggak apa-apa, deh, kayaknya. Aku... aku balik kamar dulu."

"Karina."

"Cangkirnya juga nggak pecah. Besok aku minta tolong dibersihkan. Eh, bukan, sekarang juga harus dibersihkan karena karpetnya basah. Aku panggil Bi Asih dulu."

"Karpet itu bisa menunggu."

"Benar. Tapi kalau didiamkan bisa bau."

Karina bahkan tidak tahu lagi apa yang sedang ia jelaskan. Ia berdiri terlalu cepat, lalu segera memegang sandaran sofa agar tidak kehilangan keseimbangan untuk ketiga kalinya.

Sebastian ikut bergerak, tetapi Karina sudah mengangkat satu telapak tangan.

"Aku bisa jalan sendiri. Kakimu jangan dipaksa dulu."

"Kakiku baik-baik saja."

"Bagus. Jadi, aku pergi dulu. Selamat malam."

Ia melangkah ke pintu dengan punggung terlalu tegak. Di lorong, cangkir tergeletak utuh di sisi karpet yang basah. Karina memungutnya, lalu berjalan menuju kamarnya tanpa sekali pun menoleh.

Sebastian tetap duduk di sofa.

Kakinya memang sempat berdenyut saat tertekan, tetapi rasa itu sudah mereda. Justru sensasi halus dari jari Karina di bekas lukanya yang masih tertinggal, seolah kulit yang lama mati rasa itu baru saja mengingat sentuhan.

Ia menatap tangannya sendiri.

Jari-jari itu tadi menyentuh rambut Karina tanpa perintah, tanpa perhitungan, bahkan tanpa kecurigaan. Sebastian tidak pernah melakukan gerakan seintim itu kepada siapa pun dengan begitu mudah.

Sudut bibirnya terangkat tipis.

Saat menyadarinya, ia segera merapatkan bibir dan menurunkan tangan. Namun kehangatan asing itu telanjur menetap di dadanya.

Di kamar, Karina menutup pintu lalu bersandar di sana. Lututnya perlahan melemas hingga ia meluncur duduk di lantai. Cangkir diletakkan di samping, sementara kedua tangannya menutupi wajah yang masih panas.

Ia sudah berulang kali mengingatkan diri bahwa rumah ini bukan tempat yang aman untuk menaruh harapan. Rencana membuka kedai bagi Tante Mei juga merupakan bagian dari jalan keluarnya. Namun satu sentuhan singkat Sebastian barusan telah membuat semua batas yang susah payah ia susun terasa kabur.

"Ini kenapa jantungku nggak bisa diajak kompromi?"

Ponselnya mendadak bergetar dari atas meja.

Karina menoleh. Sebuah pengingat menyala di layar: besok pagi, melihat ruko di BSD seorang diri.

1
awesome moment
pelakor ternuata tu jess jess
awesome moment
vincent dan sebastian punya rahasia p n
awesome moment
udh makin cinta kn
awesome moment
cinta yg tumbuh perlahan
awesome moment
lucas pernah ke sana
awesome moment
vincent c kuman
awesome moment
sebastian lahir dri kekejian herman thd elina
awesome moment
sebastian dan karina sama2 hidup kembali
awesome moment
ratih n lbh jahat dri dajjal. tega dgn anak kecil. demi harta
awesome moment
sabrina n wujud dajjal
awesome moment
banyak tangan yg mau menjaga nabil dan rafi. smg mrk ttp terlindungi dri org2 dws yg hnya melihat uang
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
awesome moment
kasihan anak2. sejarah adopsi nabil dan rafi penuh cerita keknya
awesome moment
mmg membangun mental yg hampir runtuh butuh perjuangan dan kejujuran
awesome moment
kasihan 2 bocil.
awesome moment
smua butuh proses
awesome moment
sll d yg bemar di lautan kesalahan
awesome moment
s7 bgts dgn alya.
awesome moment
siapa yg bantu raka dan alya. d pemain lain n
awesome moment
alya brubah. demi nabil dan rafi. smg sm author, alya g dibalikin lg ke dunia nyata. tar nabil sm rafi oleng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!