NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Ditinggalkannya

Rahasia Yang Ditinggalkannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: Momowen

Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.

Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.

Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertunangan

Silvia langsung bangkit dari duduknya, meraih tas di samping, lalu berlari menuruni tangga.

Adrian yang sedang duduk di ruang tamu menatapnya dengan wajah bingung ketika Silvia melintas begitu cepat di depannya. Ia meletakkan cangkir di tangannya. “Nona Silvia, sekarang sudah pukul sepuluh malam. Anda mau ke mana?”

“Ke rumah keluarga Pollis.”

Sambil mengenakan sepatu di area foyer, wajah Silvia sama sekali tidak menunjukkan ketenangan.

Di kepalanya terus terngiang dua kata yang dikirim Nelia lewat chat: Tolong aku.

Setiap detik berada di tempat itu membuat dadanya terasa semakin sesak, seolah ada jarum yang menusuk jantungnya.

“Aku antar kamu.” Adrian mengambil jaket, berdiri di samping Silvia, lalu cepat mengenakan sepatu.

Mercedes-Benz G-Class hitam itu melaju kencang menembus jalanan malam. Silvia duduk di kursi penumpang depan. Jari-jarinya tak berhenti mengetik di layar ponsel. Namun, tak satu pun pesan mendapat balasan. Tangannya menggenggam sabuk pengaman semakin erat. Napasnya perlahan menjadi tidak teratur.

“Nona Nelia pasti akan baik-baik saja.” Adrian diam-diam memperhatikan kegelisahan Silvia.

Ia tahu, Silvia baru saja kehilangan orang terpenting dalam hidupnya. Kini, satu-satunya sahabatnya juga tiba-tiba menghilang setelah pulang ke rumah keluarga Pollis. Siapa pun pasti akan panik menghadapi masalah seperti ini.

Kediaman Keluarga Pollis.

Begitu tiba, Silvia sama sekali tak memedulikan etika keluarga. Yang ada di pikirannya hanya satu: mencari Nelia.

Kepala pelayan keluarga Pollis langsung pucat saat melihat Silvia datang tiba-tiba. Ia buru-buru menghadang. “Non... Nona Silvia? Kenapa Anda pulang mendadak? Seharusnya Anda memberi tahu kami terlebih dahulu agar kami bisa menyiapkan kamar Anda.”

“Menyiapkan kamar?” Suara Adrian terdengar dari belakang Silvia. Ia bersandar santai di kusen pintu sambil tersenyum tipis. “Nona Silvia adalah putri kandung keluarga Pollis. Masa pulang ke rumah sendiri juga harus melapor dulu?”

Kepala pelayan menunduk dengan canggung. “Ini...”

Belum sempat suasana semakin kikuk, suara orang-orang dari ruang tengah terdengar. “Silvia.”

Di antara semua suara itu, satu suara perempuan terdengar paling ceria, Nelia Sillus.

Dengan wajah penuh senyum, ia segera menghampiri Silvia dan memeluk lengannya. “Akhirnya kamu datang.”

Tanpa malu-malu, Nelia langsung menyandarkan kepala di bahu Silvia. Hembusan napas hangatnya mengenai leher Silvia.

Meliana hari itu mengenakan sanggul rapi. Penampilannya tampak anggun dan lembut. Dengan senyum ramah, ia menggandeng tangan Silvia. “Silvia, kenapa kamu pulang selarut ini? Kamu bahkan tidak memberi kabar sedikit pun.”

Di depan Tuan dan Nyonya Sillus, Silvia tetap menjaga sikap sopannya. Ia menyelipkan rambut ke belakang telinga lalu tersenyum tipis. “Hari ini calon kakak iparku datang untuk membicarakan tanggal pertunangan. Sebagai adik, tentu saja aku harus hadir.”

Silvia lalu duduk di samping Kelvin. Kursi di sisi lainnya langsung ditempati Nelia, yang tetap memeluk lengan Silvia erat-erat. Saking fokusnya satu sama lain, mereka hampir melupakan Adrian yang masih berdiri di pintu.

“Ehem.” Batuk kecil itu membuat Silvia menoleh. Ia baru menyadari Adrian sedang memandangnya dengan tatapan kesal.

Silvia tersenyum canggung. “Nelia baik-baik saja. Adrian, kamu boleh pulang dulu. Terima kasih atas bantuan malam ini.”

Mendengar kalimat itu, Adrian hanya bisa mengepalkan tangan pelan.

Saat itulah Gordan Pollis yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. “Silvia, pria ini siapa?”

Silvia segera berdiri dengan sopan. “Ini Tuan Adrian Vale. Dia sahabat Chris, dulu sering berpergian bersama dengan kita. Malam ini Nelia tiba-tiba menghilang tanpa membalas pesanku, jadi aku panik dan meminta Tuan Adrian mengantarku kemari.”

Adrian ikut melangkah ke samping Silvia. Ia sedikit membungkuk. “Tuan Gordan, Tuan Victor, salam kenal.”

Kelvin terus mengamati Adrian dengan diam. Pria asing yang tiba-tiba muncul itu memang tampak berbeda dibanding kalangan elite Ibu Kota.

Rambut lurus menutupi dahi, sorot mata tajam, aura dingin. Semuanya membuatnya tampak mencolok.

Begitu mengetahui Adrian adalah sahabat Chris, Gordan langsung tersenyum hangat. “Jadi Anda teman Chris? Terima kasih sudah membantu menjaga Silvia beberapa hari ini.”

“Saya...”

“Ayah.” Silvia buru-buru memotong, “Sekarang sudah larut. Kalau terus ditahan, Tuan Adrian harus menyetir sendirian malam-malam.”

Nelia cepat menyahut, “Betul sekali, Om. Kalau ada yang ingin dibicarakan lagi, lain kali saja.”

Secara diam, mereka berdua memberi kode dengan mata kepada Adrian.

Adrian hanya tersenyum kecil. “Kalau begitu saya pamit dulu. Kita masih akan sering bertemu selanjutnya.”

Ia mengangguk pelan kepada Silvia dan Nelia, lalu meninggalkan rumah keluarga Pollis.

Setelah Adrian pergi, Kelvin tiba-tiba bertanya. “Kalian dekat dengan Tuan Adrian?” Wajahnya tetap datar, sulit ditebak apa yang dipikirkannya.

Silvia menjawab hati-hati. “Lumayan, dulu kenalnya waktu aku dan Chris liburan.”

Meliana langsung mengalihkan topik. “Nyonya Jane, ini sudah malam. Bagaimana kalau Anda dan Tuan Victor menginap di sini?”

Gordan ikut mengangguk. “Benar. Tuan Victor, Anda dan istri pasti sudah lelah. Menginaplah malam ini.”

Ayah Nelia, Victor Sillus, awalnya hendak menolak. Namun melihat keramahan tuan rumah, akhirnya ia tersenyum. “Baiklah, maaf merepotkan malam ini.”

Meliana segera memanggil kepala pelayan. “Tolong siapkan dua kamar tamu untuk Tuan dan Nyonya.”

“Tante Meliana,” Nelia langsung berdiri, tangannya tetap melingkar di lengan Silvia. “Tidak usah repot. Malam ini aku sekamar dengan Silvia saja.”

Sambil tersenyum sopan, ia kembali menyandarkan kepala ke bahu Silvia. Belum sempat Meliana menjawab, Nelia sudah menarik Silvia naik ke lantai dua.

Dengan hafal arah rumah, Nelia langsung membuka sebuah pintu kamar. Begitu masuk, ia menjatuhkan tubuh ke atas ranjang. “Capek...”

Tatapannya kosong menatap lampu gantung di langit-langit kamar. Ia menghela napas panjang. Silvia hanya memandangnya tanpa bertanya.

“Sil... kamu nggak tahu apa yang baru saja aku alami malam ini...” Ia duduk kembali, lalu mengeluh panjang. “Ibumu benar-benar punya cara berpikir luar biasa. Padahal pertunangan saja belum dilakukan, tapi dari tadi yang dibahas cuma nanti punya berapa anak... kebiasaan Kelvin... kesukaannya... sampai kehidupan setelah nikah.”

Nelia menopang tubuh dengan kedua tangan, sorot matanya mulai kehilangan semangat.

“Sil...”

“Kalau begini terus...”

“Nasibku ke depannya bakal gimana...”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!