Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.
Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu! Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.
Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09 - Pesan dari Alam Lain
Langit di ufuk timur perlahan berubah warna dari biru pekat menjadi keunguan bertabur garis-garis tipis kemerahan.
Burung-burung gereja mulai mencicit merdu di dahan pohon angsana, menyambut fajar yang membawa kehangatan baru bagi Perumahan Asri Indah.
Di balik kaca tebal bus nomor 666 yang terparkir tak kasat mata di seberang blok C, puluhan pasang mata arwah tampak menempel ketat di jendela.
Rombongan hantu penumpang tur itu menahan napas gaib mereka, ikut menyaksikan momen penentuan dengan hening yang tak biasa.
"Aduh, anak muda zaman sekarang jam lima pagi belum bangun juga ya?" cetus hantu kakek-kakek yang menyandarkan kepalanya di pangkuannya sendiri agar posisinya lebih nyaman menatap keluar jendela.
"Sabar, Mbah. Laki-laki hidup itu biasanya bangun kalau cangkir kopinya udah dingin," sahut hantu bergaun putih di sampingnya.
Di panggung depan bus, Damar berdiri mengamati rumah nomor dua belas dengan cemas. Garis hitam di bawah matanya terlihat jelas akibat tidak tidur semalaman, namun rasa kantuknya menguap habis digantikan rasa penasaran yang memuncak.
Di sampingnya, Pak Tejo melayang kaku. Jemari arwah bapak tua itu bertautan erat, bibirnya tak henti-hentinya bergumam melafalkan doa-doa tak bersuara.
"Tenang, Pak Tejo," bisik Damar lembut, mencoba menenangkan. "Skenario yang kita susun semalam udah rapi banget. Tinggal tunggu Dimas keluar."
Madam Helga yang duduk anggun di kursi terdepan hanya menyesap teh mawarnya yang berasap tipis.
"Skenario manusia bisa saja gagal jika objeknya terlalu acuh, Damar. Kalau sampai anaknya tidak melihat pesan itu dalam waktu sepuluh menit ke depan, kita terpaksa lanjut ke destinasi berikutnya sesuai itinerary."
"Tapi Madam—"
"Tidak ada sanggahan," potong Madam Helga dingin. "Jadwal tur gaib tidak bisa ditawar hanya demi keputusasaan satu jiwa."
Damar mengepalkan tangannya, kembali menatap tajam ke arah rumah berwarna hijau muda itu.
"Ayo, Dimas ... bangun! Cek ruang tamu!" jerit Damar dalam hati.
Tepat saat matahari menyemburkan sinar pertamanya menembus ventilasi rumah, pintu depan rumah nomor dua belas perlahan terbuka dari dalam.
Dimas melangkah keluar ke teras dengan wajah sembap dan mata merah akibat kurang tidur. Pria tegap itu mengenakan kaos oblong lusuh dan celana pendek. Dia mengusap wajahnya berkali-kali, teringat kejadian mistis semalam yang membuatnya tidak berani memejamkan mata hingga subuh.
Dimas menghela napas panjang, berniat mengambil sapu di teras. Namun, saat tubuhnya berbalik di ambang pintu, pandangannya tak sengaja menerobos ke dalam ruang tamu yang diterangi cahaya pagi.
Di atas meja kaca, radio tua peninggalan almarhum ayahnya terpapar sinar matahari. Kompartemen kasetnya yang terbuka sedikit tampak memantulkan secercah pendar kuning—ujung kertas rapuh yang terhimpit bersama kunci kuningan kecil di dalamnya.
Dimas terpaku di ambang pintu.
"Itu dia! Dia ngeliat!" pekik hantu es dari dalam bus dengan heboh, sampai-sampai suhu di dalam armada mendadak drop tiga derajat.
"Sssshhh! Jangan berisik!" bentak Damar refleks sambil menoleh ke belakang, sebelum kembali menempelkan dadanya ke jendela.
Di rumahnya, Dimas melangkah lambat mendekati meja kaca. Tangannya yang agak bergetar terulur meraih radio tua tersebut. Matanya membelalak kaget ketika melihat gulungan kertas kuning dan kunci kuningan tua yang tersembunyi di dalam celah kaset.
"A-Apa ini ...?" gumam Dimas pelan.
Dengan hati-hati, Dimas menarik kertas rapuh tersebut. Kunci kuningan kecil jatuh gemerincing ke atas meja kaca, namun fokus Dimas sepenuhnya tertaut pada goresan tinta hitam di atas kertas bergaris itu.
Goresan tangan yang sangat dikenalnya. Tulisan tangan kaku dan tegas milik almarhum ayahnya.
Dimas mengeja tulisan berdebu itu dengan bibir bergetar.
Untuk Dimas, anakku .... Maafkan Bapak. Kunci brankas di ubin kamar bawah meja kerja.
Seketika, pertahanan pria berbadan tegap itu runtuh total. Lutut Dimas lemas. Dia terduduk begitu saja di atas lantai marmer dingin ruang tamunya, meremas kertas rapuh tersebut di dada kirinya.
"B-Bapak ...," bisik Dimas dengan suara tercekat. Air mata yang selama lima tahun ini tertahan rapat di dalam dadanya mendadak pecah tanpa bendungan. Pria itu menangis tersedu-sedu di tengah heningnya pagi, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Bapak ... maafin Dimas. Maafin Dimas, Pak."
Dari balik kaca bus, Pak Tejo menyaksikan pemandangan itu dengan dada bergemuruh. Hantu bapak-bapak berkumis tebal itu ikut berlutut melayang, mengulurkan tangannya yang transparan menembus udara pagi, seolah-olah sedang mengelus lembut kepala anak tunggalnya yang menangis di kejauhan.
"Dimas ... Bapak udah maafin kamu dari dulu, Nak," tangis Pak Tejo pecah kembali, namun kali ini bukan tangisan keputusasaan, melainkan tangisan lega yang teramat sangat. "Bapak yang harusnya minta maaf ... Bapak cuma mau kamu hidup bahagia."
Damar menatap pemandangan itu dengan mata berembun. Tenggorokannya terasa menyempit menahan haru. Rasa takut yang menggelayutinya sejak kemarin sirna sepenuhnya, tergantikan oleh sebuah kehangatan luar biasa yang menjalar di seluruh rongga dadanya.
Tidak ada sihir besar, tidak ada penampakan menakutkan. Hanya sebuah 'kebetulan' sederhana yang berhasil menyembuhkan luka batin dua manusia dari dua alam yang berbeda.
"Kerja yang tidak buruk, Damar." Suara tipis Madam Helga memecah keheningan di panggung depan.
Damar menoleh kaget. Madam Helga masih duduk bersedekap, pandangannya lurus menatap keluar jendela. Wajahnya yang anggun dan dingin tidak menunjukkan emosi berlebihan, tetapi ada kelembutan tersirat di balik mata indahnya.
"M-Makasih, Madam," jawab Damar dengan tawa canggung, mengusap sudut matanya yang basah dengan kemeja lusuhnya.
Di dalam rumah, Dimas menyapu air matanya. Dengan tangan gemetaran, dia memungut kunci kuningan di atas meja, membawanya lari menuju kamar belakang—tempat meja kerja almarhum ayahnya disimpan.
Beberapa menit kemudian, Dimas keluar lagi dari lorong kamar dengan menggenggam sebuah kotak besi tua berukuran sedang.
Saat penutup besi itu dibuka, tumpukan buku tabungan, berkas asuransi, dan beberapa logam mulia berkilauan diterpa sinar fajar. Di atas tumpukan uang itu, tergeletak sebuah foto kecil keluarga mereka sewaktu Dimas masih sekolah dasar.
Dimas memeluk kotak besi itu erat-erat, tersenyum kecil di antara sisa air matanya, menatap langit pagi dengan pandangan yang kini penuh harapan.
Di dalam bus, Pak Tejo perlahan berdiri tegak.
Pendar merah kehitaman dan aroma tanah basah yang semalam menyelimuti tubuhnya kini menghilang tanpa bekas. Sekujur wujud hantu bapak-bapak itu mendadak diselimuti oleh aura pendar cahaya putih keemasan yang sangat murni dan berkilau hangat.
Rombongan hantu di dalam bus bertepuk tangan riuh.
"Selamat ya, Pak Tejo!" seru hantu wanita bergaun putih gembira.
"Wah, mukanya jadi glowing gitu euy!" puji hantu pemuda berkulit biru.
Pak Tejo berbalik menghadap Damar dan Madam Helga. Senyum lebar terkembang di balik kumis tebalnya. Wajahnya tidak lagi terlihat menyeramkan atau pucat pasi, melainkan tampak seperti seorang ayah yang sangat berwibawa dan penuh kedamaian.
"Mas Damar ... Madam Helga ...," kata Pak Tejo dengan suara yang kini terdengar bergema merdu seperti simfoni angin. "Terima kasih banyak. Perjalanan saya ... akhirnya benar-benar selesai."
😂
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
tour kemana kita yakk
ngga ngompol di tempat
😂😂
serreemmm bgt